Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Bilamana Tuan sedang mencari sosok pertiwi, mendekatlah sebentar. Benar, ikuti jalan kecil itu. Hati-hati Tuan, tanah kuning di sini kerap becek dan berlumpur yang tentu membuat sepatu Anda kotor. Tak mengapa, Tuan. Pengetahuan dan kebudayaan lebih bernilai daripada itu. Nah di sana, ada gerbang dengan atap dua tingkat dan dua pancang tiang berukiran manusia serta dedaunan. Tiang itu berpola seperti pada rumah lamin kebanyakan.
Kita sampai, Tuan. Di depan Anda, bentangan rimba dengan pondasi kokoh meranti, ulin, serta keruing, itulah pertiwi. Kami sebut ibu di sini, Hutan Lindung Wehea yang tetap berusaha mengasuh kita melalui kidung napas semesta.
Hutan ini terletak di Desa Nihas Liang Bing, Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur. Luas hutannya 38.000 hektare, itu seperti 2 kota Jakarta atau setengah Singapura. Menakjubkan, bukan? Dan mungkin dalam benak Tuan menyangka, hutan seluas itu akan dijaga oleh ratusan pecinta lingkungan. Maaf, Tuan, kita harus membuka kepala mengenai ini. Kelompok pejuang Petkuq Mehuey (1), faktanya tak lebih 40 orang. Dan kian ke sini, kelompok itu hanya berisi sekitar 7 orang saja yang bertahan.
Ironis Tuan, sosok ibu yang berkasih untuk kita kian hari terasa parau saja tangis dan jeritnya. Setiap jengkal tanahnya rawan pengerukan, kayunya tumbang ditebang pembalak liar, dan satwa-satwa tak berdosa itu hampir tiap waktu diburu peluru. Sejenak, jadilah Tuan mata dan hatiku. Dan mari menggiring bersama langkah para pejuang untuk merawat luka dari lenguhan duka sang ibu.
*
Di...