Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
Rumah yang Tidak Boleh Kutinggali 2
1
Suka
377
Dibaca

Aku hampir menemukan rumah pada seorang perempuan bernama Nara.

Tutur katanya lembut. Senyumnya selalu datang pada waktu yang tidak terduga. Tatapannya entah bagaimana mampu membuat beban yang selama ini kupikul terasa sedikit lebih ringan. Aku tidak tahu apakah aku yang mengidealkan Nara atau memang benar-benar jatuh cinta kepadanya.

Mungkin keduanya.

Sejak pertama melihatnya, ia sudah berbeda di mataku. Nara tidak pernah berusaha membuatku merasa istimewa. Justru karena itulah aku merasa istimewa ketika berada di dekatnya.

Di rumah, aku semakin sering merasa seperti seseorang yang kebetulan tinggal di sana. Istriku masih melayaniku seperti biasa. Ia menyiapkan sarapan, mengingatkanku membawa bekal, menanyakan kapan aku pulang, bahkan masih menyisihkan makanan untukku ketika aku terlambat.

Ia tidak pernah berhenti menjalankan perannya sebagai istri. Tetapi entah sejak kapan, aku berhenti merasa menjadi seorang suami yang benar-benar dilihat.

Ketika aku bercerita tentang pekerjaan, ia hanya menjawab seperlunya.

Ketika aku mengatakan sedang lelah, ia akan berkata, “Semua orang juga capek.”

Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada kebencian yang terang-terangan.

Hanya ada jarak yang tumbuh perlahan, begitu halus sampai aku sendiri tidak tahu kapan terakhir kali kami benar-benar berbicara sebagai dua orang yang saling memahami.

Kemudian Nara datang.

Ia tidak pernah menyuruhku bercerita. Ia hanya mendengarkan.

Ketika aku sedang diam, ia tidak memaksaku bicara. Ketika aku bercanda, ia tertawa. Ketika aku sedang tidak baik-baik saja, entah bagaimana ia selalu tahu. Mungkin itu yang membuatku mulai salah mengartikan kenyamanan sebagai cinta.

Atau mungkin memang cinta.

Aku tidak tahu.

Yang kutahu, pagi itu aku memutuskan untuk berbicara dengannya.

“Jujur saja, Ra. Selama ini aku mengagumimu.”

Nara terdiam. Aku masih ingat wajahnya ketika mendengar kalimat itu. Ada kaget di sana. Ada takut. Dan mungkin sedikit penyesalan.

Aku tidak pernah menyangka bahwa perkataan yang keluar dari mulutku akan menjadi jerat yang menyiksanya.

“Aku juga nyaman sama Mas,” katanya pelan.

Kalimat itu membuatku bahagia.

Aku tahu seharusnya tidak.

Aku seorang suami.

Aku seorang ayah.

Ada rumah yang menungguku pulang. Ada seorang perempuan yang sudah tiga tahun hidup bersamaku. Ada seorang anak yang memanggilku Ayah. Tetapi saat itu aku hanya ingin percaya bahwa perasaan tidak pernah bisa dikendalikan. Aku lupa bahwa perasaan mungkin tidak bisa dipilih, tetapi tindakan selalu punya pilihan.

Setelah pengakuan itu, aku semakin sering mencari Nara. Kadang hanya untuk bercanda. Kadang untuk mengirim sesuatu yang sebenarnya tidak penting. Kadang aku sengaja mencari alasan agar bisa duduk di dekatnya.

Orang-orang di kantor mulai memperhatikan.

“Kamu ada hubungan apa sama Arga, Ra?”

“Bercandaan dia nggak serius, kan?”

“Dia sering banget bercanda begitu.”

Aku tahu percakapan itu ada, tetapi aku tidak terlalu peduli. Bagiku, mereka tidak mengerti. Mereka tidak tahu bagaimana rasanya menemukan seseorang yang membuatmu tidak perlu menjelaskan terlalu banyak tentang dirimu sendiri. Sampai suatu hari Nara memberitahuku bahwa orang-orang mulai menganggapnya sebagai perempuan yang menginginkan suami orang.

“Orang-orang pikir aku mau sama suami orang, Mas.”

Aku menghela napas.

“Orang-orang nggak seharusnya ikut campur sama urusan kita, Ra. Kalaupun kita ada hubungan, itu bukan urusan mereka.”

Nara menatapku lama.

“Aku tahu, Mas. Tapi aku nggak mau dinilai jadi perusak rumah tangga orang.”

“Kita kan nggak ada hubungan apa-apa.”

“Masalahnya kalau orang sudah berpikir seperti itu berarti kedekatan kita sudah melewati batas, Mas!”

Aku tidak bisa menjawab. Untuk pertama kalinya aku melihat putus asa di matanya. Dan aku merasakannya juga di dadaku.

Malam itu aku pulang lebih larut dari biasanya. Anakku sudah tidur. Istriku masih terjaga di ruang makan.

“Sudah makan?” tanyanya.

Aku menggeleng.

Ia bangkit dan mengambilkan makanan yang sudah ia siapkan. Aku menatap punggungnya ketika ia berjalan ke dapur.

Perempuan itu masih mengingat bagaimana aku menyukai telur yang dimasak terlalu matang. Masih tahu kopi yang biasa kuminum. Masih tahu obat apa yang harus kuminum ketika kepalaku sakit.

Tiga tahun bersamanya, dan ada begitu banyak hal tentang diriku yang ia tahu. Lalu mengapa aku merasa tidak dikenal? Pertanyaan itu membuatku tidak nyaman.

Mungkin masalahnya bukan karena ia tidak mengenalku.

Mungkin aku yang sudah berhenti membiarkannya mengenalku.

Malam itu aku menyadari bahwa rumahku tidak benar-benar kosong. Aku saja yang terlalu sibuk mencari rumah lain. Beberapa hari setelahnya, Nara semakin menjauh. Pesanku dibalas singkat. Candaan-candaanku tidak lagi ditanggapi. Ketika aku mencoba duduk di dekatnya, ia mencari alasan untuk pergi.

Aku tahu ia sedang berusaha menghilang dari hidupku. Dan aku tidak siap kehilangan satu-satunya orang yang membuatku merasa dipahami.

Aku mengirim sebuah video lagu kepadanya. Tidak ada pesan panjang. Hanya tautan.

Dengar ini. Aku ingat kamu.

Tidak ada balasan. Aku mengirim lagi beberapa hari kemudian. Tetap tidak ada. Sampai akhirnya semua pesanku tidak terkirim.

Aku diblokir.

Aku menatap layar ponsel cukup lama. Aku seharusnya berhenti. Tetapi malam itu aku membuat kesalahan yang lebih besar. Aku menghubunginya menggunakan nomor lain. Hanya satu pesan.

Aku cuma ingin tahu kamu baik-baik saja.

Pesan itu terbaca.

Tidak ada balasan.

Beberapa hari kemudian, aku kembali mengirim pesan. Kali ini aku mengirim video lagu yang pernah kami dengarkan bersama. Aku tahu itu salah. Tetapi aku terus meyakinkan diriku bahwa aku hanya ingin berbicara. Padahal sebenarnya aku ingin mendapatkan kembali sesuatu yang sudah dengan jelas ia lepaskan.

Suatu sore, aku bahkan meneleponnya. Tidak diangkat.

Aku menyanyikan lagu yang pernah membuatnya tertawa ketika kami masih sering berbicara. Suaraku buruk. Aku tahu. Dulu ia selalu mengejek suaraku ketika bernyanyi. Sekarang tidak ada yang menertawakan.

Telepon itu tidak pernah tersambung.

Mungkin untuk pertama kalinya aku benar-benar mengerti.

Aku bukan sedang memperjuangkan cinta.

Aku sedang memaksa seseorang membuka pintu yang sudah ia tutup.

Malam itu istriku menemukan percakapanku dengan Nara.

“Nara siapa?”

Aku terdiam.

“Teman,” jawabku.

“Teman apa yang chatnya seperti ini?”

Aku menatap layar ponsel.

Tidak ada satu pun kalimat yang bisa membuktikan bahwa aku berselingkuh. Tetapi ada cukup banyak hal yang bisa membuktikan bahwa aku telah memberikan sebagian diriku kepada perempuan lain.

“Aku nggak pernah macam-macam,” kataku.

Istriku tersenyum tipis.

“Aku nggak tanya kamu macam-macam atau tidak.”

Aku menatapnya.

“Aku cuma tanya, Nara siapa?”

Untuk pertama kalinya, aku tidak punya jawaban. Bukan karena aku tidak tahu siapa Nara. Aku tahu persis siapa dia. Ia adalah seseorang yang membuatku merasa didengar ketika aku merasa tidak didengar. Seseorang yang membuatku merasa dipahami ketika aku merasa tidak dipahami. Seseorang yang hampir kujadikan alasan untuk meninggalkan rumahku sendiri. Tetapi malam itu aku mengerti sesuatu.

Mungkin Nara memang pernah terasa seperti rumah. Namun rumah bukan sekadar tempat seseorang membuat kita nyaman. Rumah adalah tempat yang harus kita jaga, bahkan ketika ada tempat lain yang terasa lebih indah untuk disinggahi.

Nara pernah menjadi tempat yang ingin kutuju. Tetapi ia tidak pernah menjadi tempat yang berhak kutinggali. Dan mungkin kesalahanku selama ini bukan karena aku mencintainya.

Kesalahanku adalah mengira bahwa mencintai seseorang memberiku hak untuk terus mengetuk pintunya. Padahal ia sudah berkali-kali mengatakan tidak.

Malam itu aku menghapus nomor yang baru saja kubuat untuk menghubunginya.

Untuk pertama kalinya, aku tidak mengirim lagu.

Tidak mengirim pesan.

Tidak mencari cara lain untuk menemukannya.

Aku hanya pulang.

Istriku masih di ruang makan.

Ia mengangkat wajah ketika melihatku.

“Sudah makan?”

Aku menggeleng.

Ia berdiri dan mengambilkan makanan.

Aku duduk di kursi yang biasa kududuki selama tiga tahun terakhir.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak mencari rumah lain.

Aku hanya mencoba belajar kembali bagaimana caranya pulang.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Flash
Sebuah Pohon Sebuah Hidup
Hans Wysiwyg
Cerpen
Rumah yang Tidak Boleh Kutinggali 2
Sekar Kinanthi
Novel
Laurie Grayson
Nia ernawati
Skrip Film
The Infinite Love Jilid II
Evita Fitria Sukma
Novel
ME (menemukanmu. Menangisimu. Mencintaimu)
Frasyahira
Novel
Alkanaka
abida liya🌙
Novel
Bronze
ALEA
Audhy R.H
Komik
Suddenly, Became a Female Lead In My Novel
Nur Alfi Wardani
Flash
Bronze
Isyarat Cinta
Afri Meldam
Novel
Orion X Onion
Orion Lumira
Cerpen
Bronze
Levanter 2
Tantan
Cerpen
Sagara Elang: Milikku malam ini dan selamanya
Dear An
Novel
Bronze
Lintang Waktu
Inya Sidhyadahayu
Novel
Quin&King Wedding Organation
Rasmanja
Novel
SIRIUS
RANNY FITRIA MUSTIKA SAIMURI
Rekomendasi
Cerpen
Rumah yang Tidak Boleh Kutinggali 2
Sekar Kinanthi
Flash
Jiwa yang Dikucilkan
Sekar Kinanthi
Flash
Jebakan Cinta Sang Pewaris
Sekar Kinanthi
Flash
Hati yang Ingin Pulang
Sekar Kinanthi
Flash
Tirai Merah
Sekar Kinanthi
Flash
Keadilan Terakhir
Sekar Kinanthi
Flash
Keluargaku di Garis Takdir Lain
Sekar Kinanthi
Flash
If I Saw You In Heaven
Sekar Kinanthi
Flash
Ternyata, Aku Cuma Punya Tuhan
Sekar Kinanthi
Flash
Hadiah dari Bumi
Sekar Kinanthi
Flash
Rumah yang Tidak Boleh Kutinggali
Sekar Kinanthi
Flash
Teduh yang Tak Pernah Kupilih
Sekar Kinanthi
Cerpen
Basement In Heaven
Sekar Kinanthi
Flash
Raga Milik Bumi
Sekar Kinanthi
Flash
Rumah yang Retak
Sekar Kinanthi