Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Rumah yang Menunggu Lampunya Menyala
0
Suka
20
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Hujan turun pelan ketika kereta terakhir berhenti di Stasiun Waringin.

Alya turun sambil menggenggam tas ransel yang mulai pudar warnanya. Sudah sembilan tahun ia tidak menginjakkan kaki di kota kecil itu. Kota yang menyimpan terlalu banyak kenangan, juga terlalu banyak penyesalan.

Ponselnya bergetar.

Sebuah pesan singkat dari nomor yang sudah ia hafal sejak kecil.

"Ayah masih menunggumu."

Tak ada nama pengirim.

Ia tahu itu dari Bu Sari, tetangga rumah yang selama ini merawat ayahnya.

Alya menghela napas panjang.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi terasa lebih berat daripada koper yang ia seret.

Di luar stasiun, hujan masih turun. Becak, ojek, dan pedagang kaki lima masih memenuhi halaman seperti dulu. Seolah waktu berjalan lambat di kota ini.

Namun Alya merasa dirinya yang berubah terlalu jauh.

Ia menaiki ojek menuju rumah.

Sepanjang perjalanan, setiap sudut jalan mengembalikan potongan-potongan masa lalu.

Warung tempat ayah biasa membelikannya mi ayam setiap hari Minggu.

Lapangan tempat ia belajar naik sepeda.

Sekolah dasar yang pernah dipenuhi tawa.

Semuanya masih ada.

Hanya keluarganya yang tak lagi utuh.

---

Rumah itu berdiri di ujung gang.

Cat dindingnya mulai mengelupas.

Pagar besi berkarat.

Pohon mangga di halaman tumbuh semakin tinggi.

Alya berdiri cukup lama di depan gerbang.

Rumah itu tampak lebih kecil dibandingkan yang ada di ingatannya.

Padahal dulu, rumah itu terasa seperti seluruh dunia.

Perlahan ia membuka pagar.

Suara engsel yang berdecit membuat seorang perempuan paruh baya keluar dari dapur.

"Alya..."

Perempuan itu menutup mulutnya sendiri.

Air matanya langsung mengalir.

"Bu Sari..."

Alya memeluk perempuan yang sudah dianggap seperti bibinya sendiri.

"Kamu benar-benar pulang."

"Ayah... bagaimana?"

Bu Sari menatap ke arah kamar paling depan.

"Beliau banyak diam sekarang."

"Sejak kena stroke dua tahun lalu, tubuhnya memang membaik sedikit. Tapi..."

"Tapi?"

"Beliau sering duduk di dekat jendela."

"Menunggu."

"Menunggu siapa?"

Bu Sari tersenyum sedih.

"Kamu."

---

Alya melangkah pelan menuju kamar.

Pintu kayu itu sedikit terbuka.

Di dalam, seorang pria tua duduk di kursi roda menghadap jendela.

Rambutnya memutih.

Tubuhnya jauh lebih kurus.

Lelaki yang dulu mampu mengangkat karung beras seorang diri itu kini kesulitan mengangkat secangkir teh.

"Yah..."

Suara Alya bergetar.

Pria tua itu perlahan menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

Selama beberapa detik, tak ada yang berbicara.

Lalu mata lelaki itu mulai berkaca-kaca.

Tangannya yang gemetar terangkat perlahan.

Alya langsung berlutut di hadapannya.

"Maaf..."

Hanya satu kata itu yang mampu keluar.

Air mata mengalir tanpa bisa ditahan.

Sembilan tahun lalu, Alya pergi dari rumah setelah bertengkar hebat dengan ayahnya.

Ia mendapat beasiswa kuliah di luar kota.

Ayahnya menolak.

Bukan karena tidak sayang.

Melainkan karena tak sanggup membiayai kehidupan Alya di kota besar.

Namun Alya menganggap ayahnya menghalangi impiannya.

Malam itu mereka bertengkar.

Untuk pertama kalinya ayah membentaknya.

Dan Alya memilih pergi.

Sejak saat itu hubungan mereka terputus.

Tak ada telepon.

Tak ada surat.

Tak ada kabar.

Hingga tiga minggu lalu, Bu Sari menghubunginya.

Memberi tahu bahwa ayahnya mungkin tak memiliki banyak waktu lagi.

---

Ayah menggenggam tangan Alya.

Genggamannya lemah.

Tetapi hangat.

Bibirnya bergerak pelan.

Maaf.

Hanya itu yang terdengar.

Alya menangis semakin keras.

"Harusnya aku yang minta maaf."

"Aku terlalu keras kepala."

"Aku pikir Ayah nggak pernah percaya sama aku."

Ayah menggeleng pelan.

Air matanya ikut jatuh.

Tak ada lagi kata-kata.

Hanya dua orang yang dipisahkan oleh sembilan tahun penyesalan.

---

Malam itu listrik padam.

Bu Sari menyalakan lampu minyak tua yang masih disimpan di lemari.

Cahayanya redup, tetapi cukup menerangi ruang tamu.

Alya duduk sendirian sambil memandangi foto-foto lama di dinding.

Foto ibunya yang meninggal saat Alya masih SMP.

Foto ulang tahun ketujuh belas.

Foto ayah yang tersenyum lebar sambil memegang sepeda pertama yang dibelinya dengan hasil bekerja lembur selama berbulan-bulan.

Di sudut lemari terdapat sebuah kotak kayu kecil.

Kotak itu belum pernah ia lihat sebelumnya.

Ketika dibuka, isinya puluhan amplop.

Semuanya ditujukan kepada dirinya.

Untuk Alya.

Satu per satu.

Dengan tanggal yang berbeda.

Selama sembilan tahun.

Tangannya bergetar saat membuka surat pertama.

Tulisan tangan ayah masih rapi.

"Alya, hari ini Ayah melihat anak tetangga diwisuda. Ayah jadi membayangkan kamu juga memakai toga. Semoga kamu sehat di sana. Ayah tidak tahu alamatmu, jadi surat ini Ayah simpan dulu."

Alya membuka surat berikutnya.

"Hari ini hujan deras. Pohon mangga kita akhirnya berbuah lagi. Ayah sengaja tidak memetik semuanya. Siapa tahu suatu hari kamu pulang dan ingin memakannya."

Surat berikutnya.

"Ayah belajar menggunakan telepon pintar dari Pak RT. Tapi tetap tidak tahu bagaimana menemukanmu. Kalau suatu hari kamu membaca surat ini, jangan marah lagi sama Ayah, ya."

Alya tak sanggup melanjutkan.

Ia memeluk kotak kayu itu erat-erat.

Selama ini ia mengira ayahnya melupakannya.

Ternyata setiap tahun...

Setiap ulang tahunnya...

Setiap hari raya...

Ayah tetap menulis surat.

Meski tak pernah tahu ke mana harus mengirimkannya.

---

Menjelang tengah malam, Bu Sari menghampiri Alya.

"Ayahmu tidak pernah berhenti percaya kamu akan pulang."

Alya mengusap air matanya.

"Kenapa Bibi tidak pernah memberi tahu?"

"Karena Ayahmu melarang."

"Beliau bilang... kalau kamu pulang nanti, beliau ingin menjelaskannya sendiri."

Alya menatap kamar ayah yang pintunya sedikit terbuka.

Ia baru menyadari satu hal.

Selama sembilan tahun, yang paling berat bukanlah jarak.

Melainkan kata-kata yang tidak pernah sempat diucapkan.

Dan kini...

Ia bertekad untuk mengembalikan cahaya ke rumah yang selama bertahun-tahun hanya menunggu lampunya menyala kembali.

Pagi pertama di rumah itu terasa asing sekaligus akrab.

Suara ayam berkokok membangunkan Alya sebelum matahari benar-benar muncul. Dari dapur tercium aroma nasi hangat dan sayur bening yang dimasak Bu Sari. Semua terasa seperti masa kecilnya, seolah sembilan tahun terakhir hanyalah mimpi yang terlalu panjang.

Ayah sudah duduk di kursi rodanya di teras. Secangkir teh hangat berada di atas meja kecil di sampingnya. Ketika melihat Alya keluar, lelaki tua itu tersenyum pelan.

Senyum yang sederhana.

Namun cukup untuk membuat dada Alya kembali sesak.

"Ayah sudah sarapan?" tanyanya.

Ayah mengangguk.

Kemampuan bicaranya belum pulih sepenuhnya setelah stroke. Ia hanya mampu mengucapkan beberapa kata pendek. Selebihnya, ia lebih sering menyampaikan perasaan melalui tatapan dan gerakan tangan.

Alya mendorong kursi roda itu menuju halaman.

Pohon mangga yang pernah ditanam ayah dan ibunya kini menjulang tinggi. Beberapa buah matang bergelantungan di antara dedaunan.

Ayah menunjuk pohon itu.

"Lihat..."

Alya mengangguk sambil tersenyum.

"Masih hidup."

Ayah kembali mengangguk pelan.

Entah mengapa, Alya merasa ayah tidak sedang berbicara tentang pohon itu.

---

Hari-hari berikutnya diisi dengan rutinitas sederhana.

Pagi, Alya membantu Bu Sari memasak.

Siang, ia menemani ayah menjalani terapi di puskesmas.

Sore, mereka duduk bersama di teras sambil menikmati angin yang membawa aroma sawah.

Tak banyak percakapan.

Namun keheningan di antara mereka kini tidak lagi terasa canggung.

Suatu sore, seorang pria datang mengendarai sepeda motor tua.

Usianya sekitar tiga puluh lima tahun.

"Wah, akhirnya pulang juga."

Alya mengernyit sebelum mengenali wajah itu.

"Rian?"

Pria itu tertawa.

"Kamu masih ingat."

Rian adalah sahabat masa kecilnya. Dulu mereka selalu pulang sekolah bersama sebelum akhirnya Alya pergi meninggalkan kota.

Mereka berbincang cukup lama.

Rian kini mengajar di sekolah dasar tempat mereka dulu belajar.

"Pak Guru sekarang?" tanya Alya sambil tersenyum.

"Iya. Ternyata cita-cita waktu kecil masih bertahan."

Rian lalu menatap ayah Alya.

"Pak, saya pinjam Alya sebentar besok, ya. Anak-anak di sekolah pasti senang kalau ada yang mau berbagi pengalaman."

Ayah mengangguk sambil tersenyum.

---

Keesokan harinya, Alya berdiri di depan kelas yang dipenuhi wajah-wajah kecil penuh rasa ingin tahu.

"Apa Kakak pernah gagal?" tanya seorang murid.

Alya terdiam sejenak.

"Pernah."

"Sering malah."

"Terus gimana?"

Alya tersenyum.

"Kegagalan itu bukan yang paling menyakitkan."

"Yang paling menyakitkan adalah saat kita membiarkan penyesalan tinggal terlalu lama."

Kalimat itu keluar begitu saja.

Namun sesaat setelah mengucapkannya, Alya sadar bahwa ia sedang berbicara tentang dirinya sendiri.

---

Sepulang dari sekolah, Bu Sari menyerahkan sebuah buku tua bersampul cokelat.

"Ini buku tabungan ayahmu."

Alya membukanya perlahan.

Di dalamnya hanya tersisa saldo yang tidak seberapa.

Namun yang membuatnya terpaku adalah riwayat penarikannya.

Hampir setiap beberapa bulan sekali.

Dengan jumlah yang sama.

"Ini untuk apa?"

Bu Sari menarik napas panjang.

"Untuk biaya kuliahmu."

Alya mengernyit.

"Tapi aku mendapat beasiswa."

"Benar."

"Tapi ayahmu tidak pernah tahu semua kebutuhanmu ditanggung."

"Beliau mengira kamu masih membutuhkan uang."

"Setiap bulan beliau menyisihkan hasil kerja di bengkel."

"Katanya, kalau suatu hari kamu menghubungi, uang itu sudah siap dikirim."

Air mata Alya kembali jatuh.

Selama ini ia hidup dengan keyakinan bahwa ayahnya tidak mendukung mimpinya.

Padahal diam-diam lelaki itu telah berjuang sesuai kemampuannya.

---

Malam itu Alya duduk di samping tempat tidur ayah.

"Ayah..."

"Aku banyak salah."

Ayah menggeleng pelan.

Alya menggenggam tangannya.

"Aku nggak bisa mengembalikan sembilan tahun yang hilang."

"Tapi kalau Ayah mengizinkan..."

"Aku ingin tinggal lebih lama."

Untuk pertama kalinya sejak ia pulang, ayah mengucapkan kalimat yang cukup panjang.

"Pulang... tidak... pernah... terlambat."

Kalimat itu terdengar patah-patah.

Namun maknanya utuh.

Alya menangis sambil memeluk ayahnya.

---

Beberapa hari kemudian, sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah.

Seorang pria berpakaian rapi turun sambil membawa map.

"Selamat sore. Apakah benar ini rumah Bapak Surya?"

"Iya," jawab Alya.

"Saya dari pihak bank."

"Kami ingin membicarakan tunggakan pinjaman."

Wajah Alya berubah.

"Pinjaman?"

Pria itu membuka map.

"Rumah ini dijadikan jaminan tiga tahun lalu."

"Jika dalam waktu satu bulan tidak dilunasi..."

"...rumah ini akan disita."

Alya menoleh ke arah ayahnya.

Lelaki tua itu hanya menundukkan kepala.

Untuk pertama kalinya Alya menyadari...

Bukan hanya waktu yang telah hilang dari keluarganya.

Tetapi juga rumah yang selama ini menunggu kepulangannya.

Malam itu, hujan kembali turun.

Tetes air memukul atap seng dengan irama yang pelan, tetapi cukup untuk membuat suasana rumah terasa semakin sunyi. Alya duduk di ruang tamu, memandangi map berisi dokumen pinjaman yang diberikan petugas bank.

Jumlah tunggakan itu jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.

Tabungan yang dimilikinya di kota tidak akan cukup untuk melunasinya.

"Ayah..."

Alya menatap lelaki tua yang duduk di kursi roda.

"Kenapa Ayah tidak pernah cerita?"

Ayah hanya menghela napas.

Dengan tangan yang masih gemetar, ia menunjuk sebuah lemari kayu di sudut ruang tamu.

Di dalamnya terdapat sebuah kotak besi kecil.

Alya membukanya perlahan.

Di dalamnya tersimpan kuitansi rumah sakit, nota pembelian obat, dan surat-surat lama.

Bu Sari yang berdiri di sampingnya akhirnya angkat bicara.

"Setelah kamu pergi, ayahmu bekerja lebih keras."

"Lalu dua tahun lalu beliau terkena stroke saat sedang memperbaiki mesin di bengkel."

"Biaya rumah sakit cukup besar."

"Karena tidak ingin menjual rumah, beliau memilih meminjam uang."

Alya menggigit bibirnya.

Dadanya dipenuhi rasa bersalah.

Selama bertahun-tahun ia mengejar karier, sibuk dengan hidupnya sendiri, sementara ayahnya berjuang sendirian.

---

Keesokan harinya, Alya menghubungi perusahaan tempatnya bekerja.

Ia mengajukan pengunduran diri.

"Pikirkan lagi, Alya," kata atasannya melalui sambungan telepon.

"Kamu baru saja dipromosikan."

Alya tersenyum tipis.

"Dulu saya mengejar pekerjaan karena ingin membanggakan keluarga."

"Sekarang saya sadar... keluarga itu sendiri yang harus saya jaga."

Ia menutup telepon dengan hati yang mantap.

---

Sore harinya, Rian datang membawa beberapa murid sekolah.

Mereka membawa sapu, cat, dan peralatan kebersihan.

"Kami mau membantu memperbaiki rumah."

Alya terkejut.

"Siapa yang mengajak kalian?"

Seorang anak kecil mengangkat tangan.

"Pak Rian bilang, kalau rumah ini tetap berdiri, nanti Kak Alya bisa mengajar kami menulis."

Ucapan polos itu membuat Alya tersenyum untuk pertama kalinya sejak kabar penyitaan rumah datang.

Selama dua hari berikutnya, warga kampung berdatangan.

Ada yang memperbaiki pagar.

Ada yang mengganti genting bocor.

Ada yang mengecat dinding.

Tidak ada yang meminta bayaran.

Mereka hanya berkata,

"Dulu ayahmu sering membantu kami."

"Sekarang giliran kami membantu."

Alya baru menyadari bahwa kebaikan ayahnya selama ini telah tumbuh diam-diam di hati banyak orang.

---

Meski rumah mulai kembali rapi, masalah utama belum selesai.

Utang itu tetap harus dibayar.

Suatu malam, Alya membuka laptopnya.

Ia membaca kembali naskah novel yang selama bertahun-tahun hanya tersimpan sebagai dokumen.

Cerita itu terinspirasi dari surat-surat ayah yang tak pernah terkirim.

Ia mengirimkan naskah tersebut ke sebuah penerbit yang pernah menghubunginya beberapa bulan lalu.

Tanpa berharap banyak.

---

Seminggu kemudian, teleponnya berdering.

"Halo, apakah benar dengan Ibu Alya?"

"Benar."

"Kami dari Pustaka Langit."

"Kami sudah membaca naskah Anda."

Jantung Alya berdegup kencang.

"Kami ingin menerbitkannya."

Alya menutup mulutnya sendiri.

Air matanya menetes.

"Selain itu," lanjut suara di telepon.

"Kami ingin membeli hak terbit pertama dengan pembayaran di muka."

Jumlah yang disebutkan membuat Alya terdiam.

Nilainya hampir cukup untuk melunasi seluruh utang rumah.

Ia menatap ayah yang sedang tertidur di kursi.

Dalam hati ia berbisik,

"Semua ini berawal dari surat-surat Ayah."

---

Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama.

Malam harinya, kondisi ayah mendadak memburuk.

Beliau sesak napas.

Tubuhnya lemas.

Alya dan Rian segera membawanya ke rumah sakit.

Dokter keluar hampir satu jam kemudian.

"Kondisinya cukup kritis."

"Kami akan berusaha semaksimal mungkin."

Alya terduduk di kursi lorong rumah sakit.

Tangannya menggenggam erat amplop berisi kontrak penerbitan.

Rumah itu mungkin bisa diselamatkan.

Tetapi ia mulai takut kehilangan orang yang selama ini menjadi alasan rumah itu tetap terasa sebagai rumah.

Ia menundukkan kepala.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia menyadari bahwa tidak semua hal bisa dibayar dengan uang.

Di balik pintu ruang perawatan, mesin monitor terus berbunyi pelan.

Alya hanya mampu berdoa agar ia masih diberi kesempatan.

Kesempatan untuk benar-benar menjadi seorang anak.

Fajar baru saja menyingsing ketika dokter kembali keluar dari ruang perawatan.

Alya berdiri begitu cepat hingga kursi yang didudukinya bergeser.

"Dok... bagaimana keadaan ayah saya?"

Dokter melepas masker dan tersenyum tipis.

"Kondisinya sudah lebih stabil."

"Tapi beliau harus banyak beristirahat."

Kalimat itu membuat lutut Alya hampir lemas karena lega. Air mata yang sejak semalam ia tahan akhirnya jatuh tanpa bisa dicegah.

Beberapa menit kemudian, ia diizinkan masuk.

Ayah terbaring dengan selang infus di tangannya. Wajahnya masih pucat, tetapi ketika melihat Alya, ia kembali menunjukkan senyum kecil yang selalu berhasil menenangkan hati putrinya.

Alya duduk di samping tempat tidur.

"Jangan bikin aku takut lagi, Yah."

Ayah menggenggam tangannya pelan.

Dengan suara lirih yang masih terbata-bata, beliau berkata,

"Maaf..."

Alya segera menggeleng.

"Jangan minta maaf."

"Mulai sekarang kita nggak akan saling menyimpan maaf lagi."

"Kita akan saling bercerita."

Ayah mengangguk perlahan.

---

Dua minggu kemudian, ayah diperbolehkan pulang.

Di hari yang sama, uang muka dari penerbit resmi masuk ke rekening Alya.

Tanpa menunda, ia melunasi seluruh pinjaman rumah.

Petugas bank datang kembali ke rumah.

Namun kali ini bukan untuk membawa surat penyitaan.

Melainkan surat pelunasan.

Ketika petugas itu pergi, Alya memandang halaman rumah yang mulai hijau kembali.

Ia tersenyum.

Rumah itu akhirnya benar-benar menjadi milik keluarganya lagi.

---

Beberapa bulan berlalu.

Buku karya Alya yang berjudul "Surat yang Tidak Pernah Dikirim" terbit dan mendapat sambutan hangat dari para pembaca.

Banyak orang mengaku menangis setelah membacanya.

Mereka merasa diingatkan untuk pulang, meminta maaf, atau sekadar menelepon orang tua yang sudah lama tidak mereka sapa.

Namun bagi Alya, pencapaian terbesar bukanlah angka penjualan buku.

Melainkan setiap sore ketika ia bisa duduk di teras bersama ayah.

Mereka menikmati teh hangat sambil memandangi anak-anak yang bermain di gang.

Tanpa sadar, kebahagiaan ternyata sesederhana itu.

---

Rian datang suatu sore membawa kabar gembira.

"Perpustakaan desa akhirnya mendapat bantuan."

"Bagus sekali."

"Dan mereka meminta seseorang untuk mengelolanya."

Rian tersenyum.

"Aku sudah mengusulkan namamu."

Alya tertawa kecil.

"Berarti aku harus benar-benar menetap di sini."

"Memangnya kamu masih ingin pergi?" tanya Rian.

Alya menoleh ke arah ayah yang sedang menyiram tanaman dengan bantuan tongkat.

"Tidak."

"Rumah ini sudah terlalu lama menungguku."

---

Setahun kemudian, perpustakaan kecil itu berubah menjadi tempat yang ramai.

Anak-anak datang setiap sore untuk membaca dan menulis.

Di salah satu sudut ruangan, Alya menyimpan kotak kayu berisi surat-surat ayah.

Bukan lagi sebagai pengingat penyesalan.

Melainkan sebagai pengingat bahwa cinta terkadang hadir dalam bentuk yang paling sunyi.

Suatu hari, seorang anak bertanya,

"Kak Alya, kenapa Kakak suka sekali mengajarkan kami menulis surat?"

Alya tersenyum.

"Karena ada perasaan yang kadang terlalu sulit diucapkan."

"Kalau begitu, tuliskan."

"Jangan menunggu sampai terlambat."

---

Sore itu, langit berwarna keemasan.

Lampu-lampu rumah di sepanjang gang mulai menyala satu per satu.

Ayah duduk di teras sambil memandangi jalan.

Kali ini beliau tidak sedang menunggu.

Karena orang yang selama ini dinantikannya sudah pulang.

Alya keluar membawa dua cangkir teh hangat.

Mereka duduk berdampingan dalam diam.

Tidak ada lagi jarak sembilan tahun.

Tidak ada lagi amarah yang tersisa.

Hanya ada rasa syukur karena waktu masih memberi mereka kesempatan untuk saling memaafkan.

Saat azan magrib berkumandang, Ayah menatap rumah itu lalu berbisik pelan,

"Terang..."

Alya mengikuti arah pandangnya.

Lampu ruang tamu yang dulu sering padam kini menyala hangat, menerangi jendela yang menghadap ke jalan.

Rumah itu akhirnya tidak lagi menunggu.

Karena lampunya telah menyala.

Dan begitu pula hati orang-orang yang tinggal di dalamnya.

TAMAT

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Cerpen
Rumah yang Menunggu Lampunya Menyala
Penulis N
Skrip Film
Aku Butuh Ayah
riri puspa
Flash
Letih Terbelenggu Sepi
pelantunkata
Flash
Bronze
Cincin di Kala Hampa
verlit ivana
Novel
Bumi Tanpa Langit
fotta
Novel
CALL YOU MINE
Fadila Damayanti
Novel
Bronze
Dokter dan Chef
Maria Goreti
Novel
30 Day's for Love
Ayuningsih
Novel
Aku Tak Pernah Bersedih
zaky irsyad
Novel
Bronze
Menatap Awan Menggapai Bintang
Rival Ardiles
Novel
Bronze
Portrait of Yesterday
Febriyanti Putri Ruspandi
Novel
Gold
Sohib Never Dies
Mizan Publishing
Flash
Bronze
Dating with Thousand Guys
Silvarani
Cerpen
Bronze
Pok Ame-Ame Julia Orang Gila
Autami Anita
Cerpen
Bronze
Pernikahan Adinda Pratiwi (Tiwi)
AdisCill20
Rekomendasi
Cerpen
Rumah yang Menunggu Lampunya Menyala
Penulis N
Cerpen
Bayangan Terakhir di Black Harbor
Penulis N
Cerpen
Kos-Kosan Nomor 7 Tidak Pernah Sepi
Penulis N
Flash
Satu Persen Setiap Pagi
Penulis N
Flash
LANGIT SETELAH HUJAN
Penulis N
Novel
Kanvas Hati
Penulis N
Novel
Ruang Kosong di Meja Nomor 9
Penulis N
Novel
Lelaki Berpayung Merah
Penulis N
Cerpen
Alamat yang Tak Pernah Ada
Penulis N
Novel
Veil of Roses
Penulis N
Cerpen
Melati dari Suroboyo
Penulis N
Cerpen
Pencuri Waktu (V)
Penulis N
Cerpen
Pembisik di Atap
Penulis N
Novel
Kisah Protokol X
Penulis N
Cerpen
Operasi Phantom: Jejak di Tengah Bayangan
Penulis N