Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Rumah apa yang paling kau inginkan? Di pedesaan berkawan sepoi angin dan pepohonan rindang, lantas tetangga menyambangi kekusutan waktu pagimu dengan senyuman? Mereka menggotong susah payahmu bersama-sama, lalu kau bagikan senangmu tanpa pamrih. Jika malam bertandang, kunang-kunang di rerimbunan sawah melakukan pesta cahaya, sementara riak sungai jauh dari sampah-sampah. Pasti harapanmu begitu! Kau tak akan pernah bermimpi memiliki rumah susun di emper sungai kotor dengan tanah-tanah kumuh selepas hujan. Apalagi sampai memiliki tetangga tak ingat namamu.
Aku bermimpi memiliki rumah dengan dua pohon kersen di halamannya, lalu di antara mereka ada ayunan dari ban bekas yang digantung tambang. Kemudian burung prenjak berkicau di kabel-kabel menikmati sentuhan lembut sinar matahari. Di hari minggu akan aku angkut teman-teman sekolahku bermain ke rumah, menonton serial kartun Doraemon sambil menikmati ampas tebu. Jika lelah, teman-teman kuinapkan di kamar, meski sempit tapi nyaman karena tak ada gaduh lalu lalang kendaraan modern. Atau setidaknya tidak dihantui perasaan was-was sepanjang malam, bukan—tepatnya sepanjang detik.
Harusnya rumah tempat berteduh ketika lelah menjelma lelap, juga tempat menampung rindu kelakar bersama ibu dan bapak. Rumah adalah tempat pamit pergi dan penampung oleh-oleh dari perantauan. Rumah menenangkan jiwa-jiwa bising dari keporak-porandakan kesibukan di luar sana. Bagaimanapun juga rumah akan tepat dijadikan sebagai penyekap ketakutan dari gangguan-gangguan alam luar, baik berupa lelah maupun perasaan resah.
"Pak, kenapa kita tidak pindah rumah saja?" tanyaku sambil mengusap dadaku karena kaget. Ada benturan keras disertai jeritan-jeritan amarah dari luar rumah.
"Apa tempat lahir akan selalu menjadi kenangan? Seperti kakakmu yang lupa pulang misalnya” Bapak memandang jendela dengan sari-sari kehidupan yang hilang. Bola matanya seolah hendak mengembalikan kenangan lampau yang telah terbang di langit entah.
Rumahku—enggan sekali aku menyebutnya. Ia tegak dan kokoh. Melindungi ketika hujan meratap-ratap di atas atap. Ia menghangatkan dari pelukan-pelukan angin malam. Hanya saja ia menyendiri, tak ada tetangga yang mau berhimpitan dengannya. Tak ada orang mau lama-lama mampir, bahkan sekadar ucap sapa.
Rumahku diburu waktu, seperti selalu dikejar-kejar kesibukan. Tak ada penghijauan di teras. Tanah depan pintu dikeramik supaya hujan tak menjadikan tanah lembek. Halamannya hanya sepanjang setengah meter kemudian dibentengi pagar tralis setinggi dua meter. Jaga-jaga jika ada kendaraan oleng, supaya tidak langsung mengenai badan pintu dan wajah jendela.
Meski seperti dipenjara, rumahku tetap memiliki ruang lengkap, ada kamar tidur, kamar mandi, dapur, pun ruang tamu juga ruang makan. Rumahku cukup dikatakan ideal sebagaimana rumah lainnya. Hanya saja— aku tak nyaman berada di dalamnya. Bukan hanya aku saja, pun demikian dengan kedua orangtuaku.
Dua kakakku telah lama menggendong ransel ke tanah orang. Mereka pulang setiap tahunnya, tentu apabila ingat. Lebih sering kirim uang dan ucap rindu berperantara usapan layar. Tinggallah aku yang mangkrak di sini bersama kericuhan. Ya, karena di atap ini malamku jarang gelap. Telingaku tidak mengenal istilah sepi dan sunyi. Keramaian-keramain yang diciptakan lingkungan rumah sangat menghantui pikiranku. Klakson seringkali membuat jantung berdetak hebat, apalagi jika ocehan meluncur. Aku khawatir akan ada segerombol polisi yang menumpang teras rumah untuk menawarkan penyelesaian masalah dengan jalan damai.
Karena lokasi rumahku, aku sering datang terlambat ke sekolah juga ke tempatku kerja. Aku dipaksa tidak mengalphakan menit barang sedetik, karena jika telat lampu hijau menyala dan kata tunggu akan membuatku bosan berkali lipat. Langkah ini bisa keluar rumah ketika lampu merah menyala. Kau paham bukan? Sejak zaman tali pusarku masih di dalam kandungan, sampai nenekku pindah ke alam barzah, rumahku berdiri tegak di depan Apill biasa kau panggil Traffic Light. Tak ada halaman luas seperti rumah di pedesaan. Batas terasku menyatu langsung dengan aspal. Ironi sekali. Mengenaskannya lagi terdapat jurang di punggung rumah. Jalan raya depan rumahku terbilang jauh dari kesunyian, sebab ia merupakan jalan provinsi. Bus-bus besar melintas sepanjang malam. Truk-truk pengangkut pasir, bahkan truk pengantar bahan bakar.
Mengerikannya jika ada berandal yang mengendarai sepeda motor asal, lampu merah diterjang, salip kendaraan semau diri, kemudian klakson berdengung nyaring di malam yang pantasnya hening. Mimpi indahku bersama gadis idaman lenyap seketika. Aku muntab-muntab sembari mengintip dari balik jendela kamar. Itu baru satu kejadian. Padahal banyak amarah yang direkam oleh badan rumah bercat debu kusamku.
Pernah ada kecelakaan beruntun yang mengakibatkan tiga pengendara sepeda motor tewas, salah satu mayatnya ditidurkan di teras rumah. Aku melihat dengan mata langsung, kepalanya remuk, tangannya terpisah, dan tulang kakinya mencuat keluar. Mayat itu ditutup daun pisang. Aish! Kecelakaan tragis itu disebabkan karena sopir bus mabuk. Juga pernah di siang yang wajar di kota-kota lain lengang, sebab waktu istirahat melambai-lambai di dahan-dahan pohon perindang jalan, sayup-sayup pedagang asongan menguapkan kantuk, tatkala itu sepeda motor menghantam pagar tralis rumah hingga patah. Aku yang semula berada di ruang tamu dibuat jantungan tak sembuh-sembuh.
Aku tidak betah tinggal di sini, tapi tak ada juga alasan kuat yang mampu menumbangkan keputusan bapak menetap. Aku penunggu paling setia lampu merah sementara sepatuku bertugas sebagai peluntur cat zebra cross.
"Kenapa bapak memilih lokasi ini ketika membangun rumah?"
"Ini tanah warisan kakekmu! Seharusnya kau berpikir puluhan rumah yang telah dibuang ke jurang-jurang belakang rumah kita! Tahukah kau maksudnya?" Alis bapak diangkat sementara matanya tajam menusuk pandanganku. "Maksudnya dulu kita tidak sendirian! Ada warga lain yang ditulis sejarah, hanya saja mereka telah menghilang!"
"Hilang?"
"Ya Tuhan! Bicara denganmu membuatku kesal. Kau ingat dulu halaman rumahmu seluas apa?"
Aku menggeleng tidak mengerti dengan hal yang dibicarakan bapak.
"Tentunya kau tidak akan tahu, dahulu kau masih menyusu di dalam perut!"
Aish, bapak suka marah-marah usai insiden kecelakaan beruntun dahulu. Sementara ibu—ibu memilih menyibukkan diri di dapur, menyiapkan makan sambil mendengarkan lagu-lagu kuno. Bahkan ibu pun uring-uringan jika lampu menyala hijau sementara dirinya buru-buru pergi ke pasar.
Keharmonisan keluargaku dicuri kebisingan jalan raya. Kami lebih senang menutup telinga dari pada mendiskusikan lauk esok nanti.
"Melalui karyanya pelukis hendak ungkap protes! Ayo pulang! Malam ini aku nginap di apartemenmu!" Agung membuyarkan lamunan imajinasiku.
Kesadaranku disedot paksa ke dalam lukisan sebuah rumah di depan lampu lalu lintas. Pameran telah usai satu jam yang lalu, namun aku masih betah memandangi lukisan-lukisan di dinding.
"Kuharap tak pernah ada rumah seperti itu—horor rasanya." Komentarku sambil melangkah keluar dari sanggar budaya.
Titin Widyawati, wanita asal Magelang. Lahir untuk belajar bersama anak-anak kecil dan alam sekitar.