Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Rumah Harapan
1
Suka
438
Dibaca

Sewaktu aku bertanya,”Bu, dua puluh tahun yang akan datang rumah kita akan menjadi seperti apa, ya?” ibu hanya mengangkat bahu sambil terus membaca koran.

“Tentu saja akan menjadi milikmu.”

Aku membenahi pemikiran ibu,”Bukan itu maksudku, Bu. Maksudku, akan seperti apa rupanya? Apa bangunan joglo ini akan berubah? Apakah halaman depan yang sekarang penuh pohon buah itu akan hilang menjadi rumah juga?”

“Itu terserah kamu, Nduk1. Waktu itu kau yang punya rumah.”

Aku memandang rumah kami yang berbentuk joglo. Terlintas semua hal menyenangkan yang dapat kulakukan di setiap sudutnya.

Aku memikirkan rumah yang akan kubangun di masa depan, saat umurku 30 tahun, tepat 20 tahun yang akan datang. Aku tidak menginginkan perubahan apa pun. Tidak dengan rumah yang lebih modern. Tidak juga tentang halamannya.

Ibu menoleh padaku,”Bagaimana? Kau sudah punya bayangan?”

“Apa Ibu akan mewariskan rumah ini padaku?”

“Tentu saja. Kau anak anak tunggal ibu dan bapak.”

Aku mengerutkan kening,”Apa aku tidak akan punya adik?”

Seketika raut wajah ibu menjadi sedih. Oh, tidak! Mengapa aku harus mengungkit ini? Ibu selalu sedih saat kutanya tentang adik. Aku tidak tahu mengapa dan tidak sanggup untuk melanjutkan pertanyaan.

Aku mengalihkan pembicaraan dengan nada riang,”Senangnya jadi anak tunggal ibu dan bapak. Aku pasti akan menjaga rumah ini dengan baik, Bu!”

Perlahan ibu tersenyum dan mengelus puncak kepalaku. Aku meghembuskan nafas lega. Terkadang aku terlalu imajinatif untuk usiaku yang baru 10 tahun. Waktu itu.

Lima tahun kemudian, bapak membuatku menangis selama beberapa hari. Aku harus kehilangan dua pohon favoritku.

“Kita harus membangun garasi untuk mobil baru kita, Nduk,” begitu alasan bapak.

Pohon mangga dan pohon rambutan. Mereka bukan pohon biasa. Mereka hidup. Ya, semua orang tahu, mereka bernafas, berkembang biak, dan tumbuh. Namun tidak hanya hidup yang seperti itu maksudku. Mereka tumbuh bersamaku, mereka ditanam di tahun kelahiranku. Lima belas tahun berlalu, selama itu pula aku bersaudara dengan mereka. Aku menunjukkan raporku pada mereka. Aku meminta ijin saat mengambil buah mereka. Aku bercerita tentang segala hal kepada mereka.

Saat melihat mereka tumbang, seakan setengah jiwaku terbang. Bapak dan ibu berusaha keras menghiburku,”Nanti kita beli tabulampot2 manga dan rambutan, Nduk. Kita beli yang lebih besar dan manis buahnya.”

Ini bukan soal buah mereka, tidakkah kalian mengerti?! Teriakku dalam hati. Aku tidak bisa menjelaskan alasan yang sebenarnya pada bapak dan ibu. Waktu telah membawaku ke usia 15 tahun, alasan sentimentalku hanya akan membuat mereka tertawa. Untung saja aku masih punya foto kedua pohon tersebut, sehingga kerinduanku dapat sedikit terobati.

Butuh waktu lama sebelum aku bisa memasuki mobil dengan perasaan lapang. Mobil itu memang menjadi penanda kenaikan status masyarakat keluargaku, tapi aku tidak akan pernah lupa benda itulah yang merebut dua saudaraku.

Pada akhirnya, aku dapat merelakan kepergian kedua pohon itu dengan melukis batang pohon di lantai garasi dimana mereka tumbuh. Kalau mobil keluar dari garasi, aku akan duduk di atas lukisanku. Lalu bercerita tentang segala hal. Ini seperti kamu mengunjungi makam orang tersayang dan bercerita tentang kehidupanmu. Cukup melegakan. Waktu itu.

Detik-detik merah yang selalu kita benci saat di lampu merah, dengan sederhana membawaku dengan cepat ke usia 20 tahun. Lima tahun kepergian pohon-pohon tersayang. Aku masih menjadi anak tunggal. Perlu 20 tahun bagiku untuk tahu, bahwa rahim ibu sudah diangkat, sehingga tidak mungkin aku punya adik. Jadi, memang akulah pewaris tunggal aset orang tuaku.

Aku pergi ke jalan depan rumah untuk memfoto rumahku. Seminggu lagi, akan ada tambahan rumah di depan. Orang tuaku akan membangun kios untuk disewakan. Jalan depan rumahku telah menjadi jalan utama, jadi sayang kalau hanya ditanami pohon-pohon. Aku tidak lagi sesentimental dulu. Sedih memang, tapi aku sudah dapat mengontrol perasaanku.

Pohon-pohon bertumbangan dengan cepat. Butuh waktu bertahun-tahun bagi mereka untuk tumbuh memberi manfaat. Hanya butuh waktu kurang dari sehari untuk menumbangkan mereka. Aku meminta penebang untuk menyisakan lapis tipis potongan batang tiap pohon. Aku memelitur sisa-sisa kehidupan mereka, berharap untuk dapat selalu mengenang.

Aku menghela nafas, merasa kasihan pada anak-anakku kelak. Dimana mereka akan berlarian, memanjat, dan mengerti tentang kehidupan?

Rumahku tidak lagi sama. Tidak ada lagi halaman luas yang teduh. Tidak ada pula ada anak kecil yang melempari orang lewat dengan buah dari atas pohon.

“Sepi, ya? Tidak ada anak-anak yang bermain di halaman rumah,” keluh bapak berkali-kali saat menikmati teh di teras rumah.

“Ibu-ibu juga tidak ada lagi yang mampir meminta jambu atau belimbing,” tambah ibu sedih.

Aku hanya geleng-geleng kepala mendengar penyesalan mereka.

“Ya, uang ternyata tidak bisa menggantikan keceriaan di rumah ini ya, Bune3?” simpul bapak.

“Sekarang kalau mau makan buah, kita harus beli, Pak.”

Lalu bapak menganggguk-angguk. “Yah, mau bagaimana lagi. Waktu telah berubah. Kita tak mungkin membiarkan lahan kita yang strategis ini hanya ditanami pohon.”

Waktu tidak pernah berubah, Pak, Bu. Definisi detik, jam, dan hari masih sama.

“Penyewa kios nomor 3 belum bayar, lho, Pak,”celetuk ibu mengingatkan.

“Benarkah? Nanti akan kutagih. Kelihatannya aku harus lebih keras. Mereka sudah menunggak 2 kali, bukan?” tanya bapak memastikan.

“Iya, Pak. Kita harus memastikan mereka membayar kali ini.”

Kalau pembicaraan sudah mulai mengarah ke penagihan hutang seperti ini, aku bangkit dan beranjak pergi. Aku kembali ke kamar dan memandang ke luar lewat jendela. Jendela itu kini berteralis dan tidak lagi dapat mengantarkan aroma buah-buahan segar. Bahkan lebih sering kututup karena hanya mengantarkan debu jalanan dan aroma sampah kios. Terutama, aku tidak ingin mendapat pemandangan membosankan dinding kios.

Aku merindukan pemandangan lama, pohon-pohon dengan daun-daun tertiup angin. Cabang-cabang pohon yang bergoyang hebat karena anak-anak menaikinya. Burung-burung yang meloncat lincah dari pohon satu ke pohon yang lain, dari dahan satu ke dahan yang lain, kadang menetap di salah satu dahan dan membuat sarang di sana.

Aku tahu aku konvensional. Tidak revolusioner. Tidak berpikiran maju. Tidak kreatif. Aku menerima semua sebutan itu. Namun, aku mengambil hak asasiku, bahwa setiap orang berhak atas kemerdekaan pikiran dan hati nurani sesuai UUD 1945 pasal 28I. Waktu yang terus berlalu sama sekali tidak mengubah pikiranku tentang rumah. Waktu itu.

Ketika aku berusia 25 tahun, aku masih tetap sama, walau rumahku telah sama sekali berbeda. Rumah joglo kami telah dijual. Hasil penjualannya digunakan untuk membangun rumah modern biasa. Beberapa tahun yang lalu, aku masih dapat menggambar lukisan batang di lantai garasi, atau menyimpan potongan kayu. Kini, aku tak bisa menyimpan apapun selain foto, karena segalanya telah dirombak besar-besaran. Bahkan, garasi yang menjadi kenangan itu pun telah lenyap.

“Mengapa kalian semangat sekali membangun rumah?” tanyaku suatu waktu.

“Karena ini akan menjadi peninggalan kami untukmu, Nduk,” jawab mereka dengan tersenyum bangga.

Aku mencelos. Jadi, semua perubahan ini untukku? Aku tidak bisa berbuat banyak pada orang tua yang begitu sayang padaku. Waktu itu.

Waktu bergulir dengan tepat sampai di usiaku 30 tahun. Tepat pula kapan gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,2 mengubah rumahku yang begitu modern itu menjadi bongkahan-bongkahan kejam yang mengantar kedua orangtuaku pergi menghadap Sang Pemilik Waktu.

Kau tahu, harapanku dua puluh tahun yang lalu, telah tercapai. Aku membangun rumah kembali dengan desain persis seperti rumah lamaku. Tidak ada garasi, tidak ada kios, dan tidak modern. Aku menanam pohon-pohon dengan jenis yang sama tepat di bekas pohon-pohonku dahulu, tepat di tahun kelahiran anak pertamaku. Namun, ini tetap bukan rumahku. Rumahku yang sebenarnya, seluruhnya, telah pergi.

Keterangan:

1.     Nduk               : panggilan untuk anak perempuan di Jawa

2.     Tabulampot    : akronim dari tanaman buah dalam pot

3.     Bune               : penyebutan suami kepada istri, yang diartikan sebagai ibu dari anak-anak. 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Rumah Harapan
Binti Uti
Cerpen
Bronze
Simetris
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Takdir Berbalik
Shinta Larasati Hardjono
Cerpen
Bronze
Nujum
Muram Batu
Cerpen
Bronze
Pelajaran dari Ban
Nuel Lubis
Cerpen
Bronze
Lukisan Kucing Berseragam Perwira
Sri Wintala Achmad
Cerpen
Teror Guna-guna Tetangga Belakang Rumah
Indahhikma
Cerpen
Goodbye, My Cats
May Marisa
Cerpen
Liburan Juga Bermanfaat
LISANDA
Cerpen
Jawaban Tuhan
spacekantor
Cerpen
Dari Ketinggian - Aku Mengerti Aku Tidak Mengerti
Firlia Prames Widari
Cerpen
Bronze
Rindu Gaharu
Nisa Dewi Kartika
Cerpen
Suara Butala
bloomingssy
Cerpen
99.99% Headshot
Veron Fang
Cerpen
Bronze
1: Kopi dan Para Pemikir
Nana Mangoenmihardjo
Rekomendasi
Cerpen
Rumah Harapan
Binti Uti
Flash
Ajo Sidi Setelah Kakek Meninggal
Binti Uti
Novel
Hanya Mimpi
Binti Uti
Cerpen
Gulali Puma
Binti Uti