Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Dua bola mata yang membulat menatap ke atas, memperhatikan awan-awan putih yang bergelantungan di langit biru yang luas. Tata bentuk langit yang sempurna diciptakan penuh cinta pada untuk penghuni rumah besar yang bernama bumi.
Salah satu penghuni rumah itu adalah aku. Sosok yang diciptakan untuk menjadi pelengkap alam semesta. Mungkin mereka bilang keberadaanku tidak penting. Tapi aku percaya apa pun yang Tuhan hadirkan pasti ada kepentingannya masing-masing. Termasuk dengan adanya aku di sini, hari ini.
Aku menarik napas panjang menikmati harmoni yang dimainkan oleh dedaunan dengan riang. Memang tak ada tempak yang lebih menyenangkan selain rumah yang asri. Angin sepoy-sepoy bertiup lembut. Aku duduk santai di dahan mulai merasakan ngantuk yang menyerang.
“YUHHHHHHUUUUUUU....” terdengar suara dari belakangku.
Puk... sebuah pukulan lembut mengenai pundakku bersamaan dengan angin yang bergerak lebih kencang dari sisi kiriku. Yang kemudian disambung dengan tawa ceria dari temanku yang memang tidak pernah kelihatan murung. Dia bermain-main dengan akar gantung yang tumbuh di sebelah pohon dimana aku duduk. Apalah namanya itu. Aku dengar mereka menyebutnya sebagai curtin fig.
Aku yang tadinya ingin menikmati tidur siang, gagal. Malah kedistrak akan hadirnya dia. Ada perasaan kesal. Tapi melihat senyu ceria di wajahnya. Kekesalanku hilang begitu saja. Terlebih saat dia meraih pergelangan tanganku. Dan, kami pun bergelantungan bersama sambil tertawa lepas.
Setelah puas bergelantungan dari satu pohon ke satu pohon lainnya kami berdua memilih turun ke anak sungai. Sambil terus bercanda kami melompat dari dahan pohon yang berada tepat di atas aliran sungai. Air sungai memercikkan ke pinggiran menerima badan kami yang cukup berat. Hal itu kami lakukan berkali-kali.
Tawa kami menggelengar memenuhi ruang luas rumah kami yang indah. Bahkan langit biru pun ikut tersenyum. Pohon-pohon yang berdiri kokoh sebagai tiang rumah pun memperhatikan ulah kami. Rumah yang menyenangkan dan memberikan rasa aman, tidak sekedar khayalan.
Namun kebahagian kami terganggu dengan suara lapar dari perut. Aku menatap temanku. Dia pun menatapku. Hingga kami berdua tertawa bersama. Sudah saatnya panggilan perut minta di isi. Dengan sigap kami nai ke dahan pohon terdekat. Ada buah manggis yang telah ranum. Manis berbaur nikmat dengan sedikit asam menyebar di seluruh permukaan lidah bahkan pada gigitan pertama.
Sempurna. Tak ada satu kurang pun yang pernah dirasa. Rumah yang sungguh lengkap dengan semua yang tersedia. Keluarga, pangan, kasih sayang, keamanan, menjadi anugerah yang terbaik dari Tuhan.
Hari yang tenang ternyata tidak selamanya. Berubah tanpa pemberitahuan. Entah apa yang terjadi. Kami kaum yang asik di rumah tanpa pernah keluar mendapati binatang-binatang dari spesies yang berbeda hadir di teras. Berteriak-teriak datang. Berlagak bagai pemilik rumah besar kami yang sekali pun tidak ada dia dalam daftar yang menjaga.
Manggis yang aku makan bersama teman pun berubah kelat. Saat para orang tua kami berteriak. Aku menatap temanku yang tubuhnya gemetaran di penuhi rasa takut.
“Kita bagaimana?” tanyanya padaku.
Aku pun hanya diam saja. Bagaimana mungkin seekor monyet sepertiku bisa berpikir di waktu-waktu darurat. Kemudian aku mengelengkan seraya berkata, “Aku juga tidak tahu.” Mataku berkaca-kaca. Pikiranku telah melayang-layang memikirkan nasib kami yang tadinya bahagia, jadi tak ada kepastian.
Kami berdua tergamam. Kaku dan diam di tempat. Di dahan pohon manggis yang rindang. Duduk dalam keheningan dibalik tebalnya daun-daun. Dari sana dengan jelas kami dapat menatap kedatangan sekelompok manusia itu dengan peralatan dari besi yang sangat besar. Entah apa namanya. Aku pun tidak tahu.
Manusia itu punya apa saja untuk melakukan apa pun. Tidak seperti kami yang hanya memiliki dua tangan dan dua kaki untuk mencari makanan yang lezat. Rumah kami dengan fasilitas makanan yang lengkap dapat aku lihat mulai tumbang.
Tanpa ampun mereka menjatuhkan pohon-pohon yang bahkan telah ada sebelum aku atau pun mereka lahir. Pohon-pohon berumur ratusan tahun itu terdengar menjerit kesakitan. Jeritan mereka memekakkan telinga para hewan. Aku dan mereka menutup telinga. Rasa takut dan duka menyerang tubuh kami.
“Dal, ayo kita pergi,” temanku menoleh padaku.
“Huh?” aku masih tenggelam dalam pikiranku.
“Itu ibuku.”
Dia menunjuk seorang ibu monyet yang mengendong anaknya yang masih bayi. Dengan cekatan temanku itu terjun dari dahan pohon dan segera meraih dahan terdekat. Dia mengejar kemana ibunya bergerak. Meninggalkan aku sendirian yang masih duduk dalam kekakuan yang menjalar seluruh tubuh.
“Aku harus bagaimana?” bisikku pada diriku sendiri.
Aroma kambium dari batang pohon yang telah rebah tercium menyengat oleh hidungku. Baunya sungguh sangat kuat. Yang tidak aku mengerti membuat mataku terasa perih. Hingga akhirnya bulir-bulir air jatuh dari pelupuk mataku. Tidak deras. Hanya setes dua tetes saja. Tapi sungguh terasa perih.
Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Tidak ingin rasanya melihat apa yang terjadi. Mimpi buruk di siang bolong yang benar-benar buruk. Tubuhku bergetar hebat sampai-sampai membuat daun-daun manggis yang lebar memeluk tubuhku. Tanaman besar itu mencoba menenangkanku.
“Sudah jangan takut, anak manis,” bisiknya.
Aku menurunkan kedua tanganku yang menutup mata. Aku melihat batang pohon manggis yang menatap mataku yang sayu. Aku semakin kencang menangis. “Aku takut...” ucapku di antara isakan tangisku.
“Tenang sayangku, alam akan memberikan jalan yang berbeda.” pohon manggis lagi-lagi coba menenangkanku.
Aku mengerti itu hanya kata-kata penghiburan untuk dirinya dan juga diriku. Kami tak tahu kapan nasib kami akan usai. Hari ini atau besok di tangan makhluk yang katanya memiliki logika. Tapi tidak mengerti pentingnya keseimbangan.
“Sudahi tangismu, nanti mereka akan mendengar suaramu. Tenanglah dan bersembunyilah dalam dekapanku,” kembali pohon manggis berucap dengan nada suara yang lembut namun terdengar bergetar.
Dengan lembut selembar daun manggis menyeka air mataku yang membasahi dua bagian dari pipiku yang dipenuhi rambut-rambut yang berwarna cokelat. Sungguh aku masih ingin menangis menumpahkan semua air yang rasa masih banyak di kantung mataku. Namun upaya dari pohon manggis membuatku air itu berhenti keluar dari mataku.
“Bagaimana rasanya mati itu?” Aku melemparkan pertanyaan yang mungkin akan menangis manusia bila mendengarnya.
Pohon manggis tersenyum, “tidak tahu. Tidak ada yang mati di sini, jadi tidak tahu rasanya seperti apa?” sahutnya.
“Sepertinya sakit,” gumamku lagi sambil melihat pohon-pohon lain yang di pinggiran sana yang telah tumbang.
“Atau bisa jadi jauh lebih menyenangkan,” pohon manggis kembali berbisik.
“Menyenangkan bagaimana?”
“Bukankah menyenangkan kalau kita bertemu dengan pencipta kita. Tak akan lagi ketakutan dan kepedihan itu. Dia yang maha kuasa pasti akan mendekap kita dengan hangat.”
Aku melihat pohon manggis meneteskan air mata saat mengatakan itu. Membuat aku dengan tangan mungilku makin kuat mendekap bagian rantingnya yang penuhi daun yang tadi menyeka air mataku.
“Kala kita mati hari ini, kita akan mati bersama di atas rumah kita yang beratap langit ini. Kemudian kita bersama mendekap kehadiran yang maha pencipta.” tuturku yang kali ini mencoba menenangkan pohon manggis. Kami bergantian. Saling menenangkan. Walau jauh di lubuk hati terdalam rasa takut itu tidak pernah hilang kadarnya sedikit pun. Tapi setidaknya keyakinan dan harapan itu tidak akan hilang.
**
Seorang laki-laki yang bertubuh cenderung kurus namun memiliki tinggi yang lumayan, sekitar seratus tujuh puluhan, berlari dengan kencang. Kakinya itu telah bergerak cepat menapaki sejak telinganya mendengar kalau saja orang-orang dari perusahaan akan menjalankan keinginan atasan.
“Bagaimana mungkin hutan adat dengan amdal yang tidak jelas mereka bisa bergerak semaunya?” tanya dia tak percaya saat mendengar warga yang bicara tentang banyaknya barang berat yang bergerak menuju hutan.
Sejak itu dia berlari layaknya cheetah menuju tempat yang dimaksud. Langkahnya sempat diperlambat. Namun kemudian kembali kencang. Tekadnya tak dapat menghentikan langkahnya saat banyak aparat yang juga hadir di sana. Tak satu pun orang kampungnya terlihat di sana.
Laki-laki itu bergerak menuju laki-laki yang juga tampak muda dengan perawakan tubuh yang lebih berisi. Pria itu berdiri mengawasi sambil memberikan perintah pada bawahan yang siap melakukan apa saja. Laki-laki yang berlaki kencang itu mendekat.
“Pak, saya dan seluruh warga desa sudah mengingatkan jangan pernah menyentuh hutan ini,” dengan tegas dia berkata pada pria yang mengenakan kemeja biru muda itu. “Bahaya jika larangan itu dilanggar.”
“EH, perusahaan kami punya ijin resmi dari pemerintah. Tidak asal-asalan saja. Kamu lihat sendiri ada berbagai instansi di sini yang diwakili orang-orang ini, lengkap semua. Kamu itu yang siapa berani-beraninya mengusik.”
Tubuh laki-laki itu didorong ke belakang. Hingga memuat tubuhnya terjerembab di tanah. Namun tak membuatnya gusar. Dia segera bangkit lagi menatap pria yang berdiri dengan kesombongan yang menguasainya.
“Ini hutan adat. Hutan yang telah dijaga oleh leluhur kami bahkan sebelum negara ini terbentuk. Yang benar saja kalian tidak mengerti hal itu, yang bahkan seekor monyet tahu hal itu,” laki-laki muda itu menunjukkan jari telunjuknya tepat di depan hidung pria yang punya ijin.
“Apa kamu bilang?” wajah pria itu memerah penuh amarah. “Kamu bilang monyet,” dia mencengkram kerah baju dari laki-laki muda itu dengan sangat kasar.
Orang-orang yang berada di situ mulai memperhatikan pertengkaran kedua pria itu. Ada di antara mereka yang mendekati keduanya. Ada pula yang malah tak peduli dengan apa yang terjadi. Bahkan ada yang melirik sekilas kemudian kembali lagi fokus pada tugasnya, memenggal tubuh-tubuh pohon.
Laki-laki yang berbadan kurus terdesak. Kondisinya hanya dia sendirian di sana. Mereka yang ada hanyalah sekelompok orang yang tidak berda di pihaknya. Namun bisa diacungi jempol mentalnya tidak kalah. Dia dengan berani menepis tangan pria yang mencengkram kerah bajunya sekuat tenaga. Tanpa ada aba-aba dia kembali menguasai dengan mendorong pria itu, sehingga dia mundur beberapa langkah.
“Buka telingamu, dan dengarkan baik-baik perkataanku.” Ucapnya dengan tatapan yang sengit. “Aku tidak pernah bilang kamu monyet. Tapi aku bilang bahkan monyet saja tahu. Sebenarnya tidak hanya monyet, pepohonan di sini pun tahu. Satu-satu yang tidak tahu atau bisa jadi pura-pura tidak tahu, itu hanya kalian. Aku di sini hanya coba membantu kalian untuk menghilangkan era buta dalam hidup kalian.”
“Buta?”
“Iya buta,” angguknya segera. “Sudah tahu aturan terpampang nyata, masih pura-pura tidak tahu. Hingga ditabrak begitu saja. Itu apa namanya kalau bukan buta?”
“Kamu ini lancang sekali,” dia mengerutu dan kembali ingin menguasai keadaan. “Tidak tahu terima kasih. Desamu ini bakal jadi desa paling maju karena tanganku ini.” Dia memperlihatkan dua tangannya ke depan wajah sang lawan bicaranya.
“Maju dalam perspektif kalian. Bukan maju dari angle yang kami pandang. Jadi apalah artinya?”
“Dasar orang udik.” Dia mengumpat.
“Oh begitu ya, manusia futuristik?” Laki-laki itu berucap sambil tersenyum mengolok-olok pria yang di depannya.
“Lihat saja nanti siapa yang tertawa melihat hasil dari kerja keras kami hari ini. Dan apakah saat itu kamu masih bisa menyalahkan.”
Laki-laki desa itu malah tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tentu kalian yang tertawa senang saat itu. Karena desa ini sudah tenggelam, entah oleh air bah atau pun tanah yang longsor.” Dia terdiam sejenak kemudian kembali melanjutkan perkataannya. “Kamu boleh saja bilang seperti itu kalau aku ini berusia lima tahun dan masih berada di bangku TK. Jangan kocak deh.”
Wajah sang lawan bicara berubah warna menjadi merah karena amarah yang menguasai dirinya. Tindakan yang sok kuasa langsung menyelimuti hatinya. Sehingga tanpa malu-malu dia berteriak lantang.
“Tangkap orang ini dan pastikan dia tidak pernah lagi muncul di hadapanku.”
Lawan bicara yang sepertinya sudah akrab dengan ketakutan, masih berdiri tegak. Dia tidak kedistrak oleh apa pun. Kali ini dia dengan santainya malah menyilangkan tangan di dadanya, dengan mata yang terus menatap tajam pada orang yang berada di depannya.
“Lakukan apa yang mau kamu lakukan.” Ucapnya tampak tak peduli.
Pengabdi uang pun segera bertindak sesuai instruksi yang diperintahkan. Mereka menyergap laki-laki mudah yang hanya berdiri santai. Tubuh orang itu disergap dan dengan kasar di dorong menjauh dari pria yang memerintahkan.
Pria berkemeja biru itu tersenyum melihat lawannya dibawa pergi. Dengan tubuh gempalnnya dia berjalan mendekati arah hutan. Berjalan terus menuju hutan dan masuk diantara pohon yang masih berdiri kokoh.
**
“DALLLLLL......”
Sebuah teriakan yang nyaring terdengar. Tubuhku masih berada dalam dekapan pohon manggis dengan dedaunnya yang menutup bereaksi.
“Sepeti suara ibuku,” bisikku pada pohon manggis. “Apa yang terjadi pada ibuku?” tubuhku kembali bergetar.
“DALLLLL LARIIIIII.....” kembali terdengar suara teriakan ibuku yang terdengar histeris.
Aku menatap pohon manggis. “Benar, itu suara ibuku,” Bisikku dengan nada suara yang lemah.
Aku bisa merasakan perempuan yang telah melahirkan aku ke atas dunia ini sedang dalam kesulitan. Walau aku tidak tahu pasti apa yang sedang terjadi padanya. Namun bayangan buruk hadir di benakku. Bayangan tentang makhluk yang disebut manusia itu menyergapnya dengan kejam.
Segera aku pejamkan mataku. Tak sanggup rasanya membayangkannya. Ketakutan semakin terasa menyerang sistem otakku. Aku menggelengkan kepalaku, berharap bayangan itu hilang dari pikiranku.
“Berdoalah. Minta pada Pencipta kita yang maha besar untuk menjaga ibumu.” Bisik pohon manggis dengan lembut. “Memang tidak ada yang bisa dilakukan hamba yang lemah seperti kita selain berdoa.”
Aku menganggukkan kepalaku.
“Aku akan mencari dimana keberadaan ibumu.”
Lagi-lagi aku hanya mengangguk. Kemudian aku larut dalam doa yang penuh harap supaya ibuku bisa selamat.
Pohon manggis mencondongkan dahan-dahannya. Dia menggunakan mata miliknya yang berada di banyak titik pada batang tubuh untuk mencari sosok monyet dewasa yang berteriak histeris. Ibu dari anak yang sedang dia dekap dari balik daun-daunnya. Pohon manggis berhenti sejenak saat mata pada dahannya yang berada di bagian yang lebih tinggi.
Seorang manusia yang mengenakan kemeja biru sedang menarik tangan seekor monyet dewasa. Pohon manggis melepaskan daun-daun yang mulai menguning pada ujung-ujung rantingnya. Makhluk hidup yang sudah hidup lama di rumah beratap langit perihatin dengan apa yang dia lihat.
Kebingungan bagaimana cara menyampaikan ke anak dari monyet yang dia dekap. Jeritan kembali terdengar kali ini terdengar lebih meratap dan penuh luka. Tampaknya manusia itu lepas kendali. Dia menjinjing tubuh makhluk berbulu itu dengan kejamnya.
“Apakah itu benar suara ibuku?” tanyaku dengan suara yang semakin bergetar.
Pohon manggis terdiam. Dia tak menjawab sama sekali. Kebingungan harus berkata apa pada anak yang masih terlalu dini menerima kenyataan yang ada.
“Ibumu disergap oleh manusia bejat yang selalu saja mengganggu,” seekor tupai kecil yang baru saja melompat dari pohon belimbing darah yang tumbuh di samping pohon manggis. “Mungkin nasib ibumu akan sama seperti nasib ibu, ayah dan saudaraku yang lain. Berakhir di tangan manusia.”
Aku yang masih didekap oleh ranting dari pohon manggis menoleh. Aku melihat wajah sedih tupai sering dipanggil draculla oleh seantero isi hutan. Karena hanya mereka yang mampu memang mengonsumsi darah segar.
“Jangan bicara seperti itu,” protes pohon manggis pada tupai yang duduk santai di ujung dahannya.
Tupai itu tersenyum, “sekali pun fakta itu menyakitkan, tapi layak diketahui.” Tupai membantah pohon manggis dengan segera, “mereka terlalu banyak untuk dilawan. Jadi sebaiknya kamu lari menjauh saat bertemu dengan mereka.”
Pohon manggis terdiam. Aku pun semakin ketakutan menghadapi kenyataan yang memang sangat kelam itu.
Tupai kembali membuka mulutnya. “Lihat kami, entah hanya beberapa ekor saja kaum kami yang masih hidup. Itu pun kami harus hidup dalam persembunyian. Padahal tempat ini adalah rumah kita semua.”
Dengan wajah sedih aku meminta pendapat tupai. “Tapi itu ibuku. Bagaimana aku bisa hidup tanpa ibuku?” Air tumpah dari mataku. Membayangkan tidur tanpa pelukan ibu rasanya seperti mimpi buruk. “Aku tidak bisa,” aku menggelengkan kepala.
Aku melepaskan dekapan pohon manggis yang erat dan melompat. Satu demi pohon aku lewati. Bergerak dan terus bergerak menuju suara dimana ibuku berasal. Teriakan dari pohon manggis yang khawatir dengan keselamatanku, tidak aku perdulikan. Hanya satu yang aku pahami, hidup atau mati aku harus bersama ibuku.
Pohon manggis juga terdengar mengumpat tupai yang melesat meninggalkan dahannya. Tupai itu melompat lebih cepat dan cermat dariku. Dia berhasil mengejarku.
“Jangan gegabah. Bersembunyilah!” seru tupai itu padaku.
Aku yang menyadari kemunculan tupai menoleh sejenak. Kemudian kembali fokus pada tujuan seraya menggelengkan kepalaku, menolak usulannya. Aku sudah yakin dengan keputusanku. “Tidak.” ucapku yakin.
Tupai itu mendahuliku sambil berseru, “ikut aku!”
“Kemana?”
“Menyelamatkan ibumu.”
Sementara nun jauh di bawah kami yang bergerak dari dahan ke dahan lainnya, tampak seorang laki-laki muda yang diapit aparat menoleh mendengar suara jeritan keras dari makhluk yang dia tahu itu bukan manusia. Dengan jelas dia dapat melihat orang berkemeja biru itu menarik-narik tubuh seekor monyet yang merupakan penghuni hutan.
Tanpa berpikir panjang, dia mendorong tubuh aparat yang berada di kanan dan kirinya dengan menggunakan siku. Mereka yang tidak siap dengan serangan tiba-tiba itu terjerembab. Cepat dia berlari menuju arah monyet yang mulai disiksa pria berbadan tambun itu. Lagi-lagi dia mendorong tubuh pria itu dengan tubuhnya dengan sekuat tenaga.
Pria itu pun terjatuh, monyet dewasa itu berhasil lepas darinya. Makhluk berbulu itu pun tampak terkejut dengan apa yang terjadi. Dia yang sedari tadi menjerit-jerit menjadi diam. Mata bulatnya menatap laki-laki muda itu dengan ketakukan.
“LARILAH...” teriak laki-laki itu padanya.
Monyet yang tak mengerti sama sekali bahasa manusia terdiam sesaat. Tapi saat dia menyadari tubuhnya telah lepas dari cengkraman pria tadi, perlahan dia mundur beberapa langkah sambil terus memperhatikan laki-laki yang menolongnya.
“LARI...”
Pria yang bertubuh tambun bangun dari jatuhnya. Amarah tergambar jelas di sorot matanya. Dia bangkit dan mengambil sesuatu dari dalam pakaiannya.
“LARI...” Lagi orang itu berteriak pada monyet sambil membalikkan tubuhnya. Menutupi keberadaan monyet dari balik punggungnya.
“IBU LARI...” aku yang baru tiba bersama tupai di dahan pohon yang paling dekat dengan keberadaan ibu berteriak.
“Berteriaklah yang kencang,” tupai memberikan instruksi. “Supaya ibumu mendengar ada kamu di sini.”
Aku menganggukkan kepala. “IBUUUUU LARIIIIII, AKU DI SINIIIII....” aku berteriak semampuku.
Benar saja ibuku yang berdiri dibalik manusia yang melepaskannya, bereaksi. Ibu mengejar bergerak dengan cepat melompat dahan pohon. Bersamaan saat terdengar suara letupan yang nyaring terdengar. Tubuh manusia yang masih berdiri membelakangi hutan pun rubuh seketika.
Aku yang duduk bersama tupai benar-benar terkejut melihat peristiwa yang terjadi. Aku melihat ibuku menoleh sebentar ke manusia yang telah terbaring itu. Dan kemudian dia melompat ke dahan pohon terdekat. Dia terus bergerak menuju arah dimana aku masih berteriak dengan kencang.
Sedangkan tupai draculla di sampingku terduduk saja. Aku melihat air mata jatuh dari sudut matanya. Tak hanya dia, pohon ping’an tempat kami bersembunyi pun tampak menangis. Tak hanya mereka berdua, bahkan semut-semut yang bersembunyi di balik kulit kayu yang terbuka pun keluar dan ikut menangis. satu persatu terdengar suara isak tangis dari seisi rumah kami yang beratap langit.
Ibuku yang akhirnya muncul menemui aku. Dia segera memelukku dengan tangisnya yang tumpah. Aku mengira ibuku menangis bahagia karena selamat. Makhluk-makhluk hutan juga menangisi hal yang sama. Hingga aku juga ikut menangis.
“Ibu, jangan menangis” bisikku. “Ibu sudah selamat.”
Tapi ibuku malah semakin kencang tangisnya. “Dia mati, sayangku. Dia mati untuk kita semua,” bisik ibu dengan lirih.
Kalimat itu membuat aku mengerti. Tadinya aku menangis karena senang ibuku kembali, berubah menangisi manusia baik yang dikirim Tuhan untuk kami. Namun manusia itu juga sama tak berdayanya seperti kami.
Langit yang menjadi atap rumah kami perlahan berubah. Warna birunya yang terang kini dipenuhi dengan awan gelap yang tiba-tiba saja muncul. Langit yang ikut kehilangan penghuni bumi ikut menangis.
Manusia yang tampak ramai di bawah sana tampak berlarian. Tak menyangka hujan akan turun dengan lebatnya. Peralatan yang mereka bawa di tinggalkan begitu saja. Ada yang mencoba berlindung di bawah pepohonan. Namun langit menujukkan amarahnya dengan mengirimkan petir yang menggelengar. Mengusir mereka tanpa ampun.
Di antara air mata yang masih tak berhenti. Penghuni hutan hanya menatap tubuh kaku pria yang berbaring damai di atas bumi. Darah yang mengalir dari luka manusia itu membuat aliran baru hingga menganak sungai.
-the END-