Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Horor
Bronze
Ruko Terlarang
3
Suka
6,003
Dibaca

Bab 1 – Ruko Tiga Pintu

Angin malam di pinggiran kota terasa dingin dan membawa aroma lembab dari tanah basah. Empat bayangan remaja melangkah ragu, namun dengan adrenalin membuncah, menuju sebuah bangunan yang menjulang sendirian di tengah kegelapan, tersembunyi di balik semak belukar yang menjulang dan pagar besi berkarat. Ruko itu, dengan tiga pintu identik yang tertutup rapat, tampak seperti mulut raksasa yang siap menelan apa saja yang berani mendekat.

Reno, dengan jaket jeans usang dan rambut gondrong yang sedikit berantakan, berjalan paling depan. Sorot matanya yang tajam menyapu sekeliling, mencari celah untuk menembus ke dalam. Dia adalah pemimpin tak resmi kelompok itu, seorang yang skeptis parah dan percaya bahwa semua kisah horor hanyalah bualan untuk menakut-nakuti anak kecil. Baginya, uji nyali ini adalah pembuktian: tidak ada hantu, hanya imajinasi dan sugesti. "Santai aja, guys. Ini cuma ruko tua. Nggak ada apa-apa," katanya, suaranya sedikit lebih keras dari yang seharusnya, seolah meyakinkan dirinya sendiri.

Di belakangnya, Dinda bergerak lincah, kamera mirrorless di tangannya tak pernah lepas. Matanya berbinar, bukan karena takut, melainkan karena ambisi. Konten horor ekstrem adalah tiketnya menuju popularitas yang diimpikannya. Akun YouTube-nya, "GhostHunters ID," stagnan di angka ribuan. Ini, ruko angker yang pernah jadi lokasi pembantaian brutal tahun '98, adalah kesempatan emas untuk jutaan views. "Ren, ini beneran lokasi pembantaian, kan? Udah double check info kita?" tanyanya, nada suaranya bersemangat, melupakan bahwa mereka akan masuk ke tempat paling menakutkan di kota itu.

Tegar, si pembawa suasana, berjalan canggung di samping Dinda. Perutnya terasa mulas, tapi dia mencoba menutupinya dengan lelucon garing. "Kalau tiba-tiba ada pocong bilang 'assalamualaikum', gue lari duluan ya, nggak peduli kalian!" ucapnya, berusaha mencairkan ketegangan yang mulai merayap. Ia membawa tas punggung berisi snack dan minuman, juga senter cadangan. Tubuhnya yang bongsor dan sikapnya yang periang kontras dengan rasa takut yang memilin perutnya. Dia ikut hanya karena tidak enak menolak ajakan Reno.

Yang paling belakang adalah Ayu. Gadis itu berjalan paling lambat, matanya terus-menerus menatap sekeliling, bukan dengan rasa ingin tahu, melainkan dengan kegelisahan. Sejak mereka tiba di jalanan sepi menuju ruko ini, bulu kuduknya sudah merinding. Ayu, dengan intuisinya yang kuat dan kepekaan spiritual yang tak bisa dijelaskan, merasakan aura yang sangat kelam memancar dari ruko itu, seperti lubang hitam yang siap menyedot semua kebahagiaan. "Aku kok ngerasa nggak enak ya, Ren," bisiknya, suaranya nyaris hilang ditelan angin.

Reno menoleh sekilas, senyum skeptis terlukis di bibirnya. "Perasaan kamu doang, Yu. Kebanyakan nonton film horor," sahutnya, menganggapnya enteng.

Mereka telah mendengar berbagai cerita tentang ruko itu. Penduduk sekitar menghindari membahasnya, seolah nama ruko itu sendiri adalah kutukan. Seorang pemilik warun...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp10.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Cerpen
Bronze
Ruko Terlarang
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Pulang
Freya
Novel
Bronze
Koma Karmila
Herman Siem
Skrip Film
NGIDAM
Herman Siem
Cerpen
Bronze
Selamat Tidur
Rere Valencia
Novel
Bronze
Hizib
Topan We
Novel
Gold
Hell City
Noura Publishing
Cerpen
Bronze
Suster Aluna
Novita Ledo
Flash
Peternakan Nenek
aleu
Skrip Film
Teater
Muhammad Hendryan Alfarabi
Flash
Orang-Orang Mengerikan
Kosong/Satu
Cerpen
MURDER OF STEPBROTHER
indahitusenja
Flash
Residu
Jasma Ryadi
Novel
SAMAR
Dewie Sudarsh
Novel
SUMPAH IBLIS
Donny Sixx
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Ruko Terlarang
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Aku Tidak Sakit
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Goresan Kuas Bermakna
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Lonceng Berdentang
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Aku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Jurnal Kosong
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Dari Aku Untukku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kamera Tua
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Teror
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kabut Asap Pelabuhan
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Luka Di Kota Tua
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
19:00
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kakek Memanggil
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kutukan Merapi Tua
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Retak
Christian Shonda Benyamin