Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
RIUH SENYAP
2
Suka
869
Dibaca

Langit sore selalu punya cara yang sama untuk mengingatkan mereka pada masa kecil, warna jingga yang lembut, seperti pelukan yang tidak pernah benar-benar pergi.

Di sebuah gang kecil yang dipenuhi suara anak-anak dan aroma gorengan dari ujung jalan, dua anak perempuan pernah tumbuh bersama tanpa tahu arti “perpisahan.”

“Aku duluan sampai!”

“Eh curang! Kamu lari!”

Tawa itu pecah lagi. Selalu begitu.

Jena dan Vela.

Dua nama yang hampir selalu disebut bersamaan, seolah dunia memang menciptakan mereka sebagai satu paket kebahagiaan. Mereka bukan sekadar teman. Mereka adalah rumah satu sama lain, tempat pulang setelah hari yang melelahkan, tempat menyimpan rahasia kecil yang bahkan tidak berani mereka tulis di buku harian.

Sejak kecil, semuanya selalu dilakukan berdua.

Berangkat sekolah bareng.

Duduk di bangku yang sama.

Bahkan membeli jajanan pun harus dibagi dua, walau kadang yang satu diam-diam mengambil lebih banyak, lalu pura-pura tidak tahu saat yang lain protes.

“Aku nanti mau jadi apa ya?” tanya Vela suatu sore, sambil menggambar sesuatu di tanah dengan ranting kecil.

Jena berpikir sebentar, lalu menjawab santai, “Apa aja. Yang penting kita tetap bareng.”

Vela tersenyum. Jawaban yang sederhana, tapi entah kenapa terasa cukup untuk saat itu.

Mereka percaya satu hal yang sama:

tidak ada yang bisa memisahkan mereka.

Waktu berjalan seperti biasa, tanpa terasa.

Masa kecil yang penuh lumpur dan tawa berubah menjadi masa remaja yang sedikit lebih rumit. Seragam berubah, cara bicara berubah, dunia mereka mulai melebar.

Tapi satu hal tetap sama.

Mereka masih bersama.

Di bangku sekolah menengah, mereka masih duduk berdampingan. Masih saling tukar cerita, tentang guru yang menyebalkan, tugas yang tidak ada habisnya, sampai hal-hal kecil yang hanya mereka berdua yang mengerti.

“Jen,” panggil Vela suatu hari, suaranya sedikit berbeda dari biasanya.

“Hm?”

“Kamu pernah gak sih… suka sama seseorang?”

Jena berhenti menulis. Ia melirik Vela, lalu tersenyum kecil.

“Kenapa tiba-tiba nanya gitu?”

Vela mengangkat bahu, mencoba terlihat santai.

“Gak apa-apa. Cuma nanya aja.”

Jena menggeleng pelan, lalu kembali menulis.

“Belum. Ribet kayaknya.”

Vela tertawa kecil, lalu menyenggol lengan Jena pelan.

“Udah ah, lanjut nulis. Nanti dimarahin.”

Jena ikut tertawa, kembali menatap bukunya.

Percakapan itu berakhir begitu saja—

ringan, tanpa makna yang perlu dipikirkan lebih jauh.

Kelas kembali berjalan seperti biasa.

Suara guru, coretan pena, dan sesekali tawa kecil dari bangku belakang menjadi latar yang akrab bagi mereka.

Tidak ada yang berubah.

Tidak ada yang berbeda.

Hanya dua sahabat

yang masih menjalani hari-hari mereka seperti biasanya, bersama.

Keesokan harinya datang tanpa banyak peringatan, seperti hari-hari lain yang selalu mereka jalani bersama.

“Jen, jangan lama-lama! Aku udah di depan gang!” teriak Vela dari luar, suaranya cukup keras sampai tetangga sebelah ikut nengok.

Jena yang masih di dalam rumah langsung panik.

“Iya, bentar! Aku belum nemu jilbab yang matching!” balasnya.

“KE GRAMEDIA, BUKAN KE FASHION SHOW!” sahut Vela tanpa jeda.

Beberapa detik kemudian, pintu rumah terbuka. Jena keluar dengan napas sedikit terengah, tas selempang menggantung di bahunya.

Vela menatapnya dari ujung kepala sampai kaki.

“Ini… kamu mau beli buku atau mau ketemu jodoh di rak novel?”

Jena mendengus.

“Siapa tau jodohku lagi diskon 50%.”

Vela langsung tertawa keras.

“Kalau gitu aku ke bagian self improvement, siapa tau bisa upgrade kepribadian gratis.”

Mereka berjalan berdampingan, langkah santai, obrolan yang tidak pernah kehabisan bahan.

Perjalanan ke Gramedia selalu terasa seperti ritual kecil bagi mereka. Tempat di mana mereka bisa menghilang sejenak dari dunia, lalu tenggelam di antara rak-rak buku dan pendingin ruangan yang terlalu dingin.

Begitu sampai, pintu otomatis terbuka.

“Ah… ini dia surgaku,” kata Jena dramatis, membuka tangan lebar-lebar.

Vela menepuk bahunya.

“Surga katanya, tapi ujung-ujungnya cuma baca sinopsis terus ditaruh lagi.”

Jena langsung menoleh.

“Eh, itu strategi hemat!”

Mereka mulai berkeliling. Jena langsung menuju rak novel, sementara Vela berjalan santai di belakangnya, sesekali mengambil buku lalu membacanya sekilas.

“Vel, sini deh!” panggil Jena tiba-tiba.

Vela mendekat.

“Kenapa?”

Jena menunjukkan sebuah buku.

“Coba lihat ini, judulnya ‘Cara Move On dalam 7 Hari’.”

Vela mengangkat alis.

“Cepet banget. Itu move on atau pindah kos?”

Jena tertawa.

“Siapa tau kamu butuh.”

Vela langsung menyipitkan mata.

“Lah, aku aja belum punya pacar. Move on dari siapa? Dari kamu?”

Jena pura-pura terharu.

“Ya ampun, akhirnya kamu jujur juga.”

Vela mengambil buku itu dan menepuk pelan kepala Jena.

“Haluuu, sadar, kamu bukan mantanku.”

Mereka kembali tertawa, suara mereka cukup keras sampai seorang pengunjung di dekat mereka melirik.

“Eh, pelan dikit, nanti kita diusir,” bisik Jena.

Vela langsung menegakkan badan, pura-pura jadi kalem.

“Oh iya, maaf. Kita harus elegan.”

Beberapa detik hening.

“Jen, menurut kamu aku lebih cocok jadi orang sukses atau orang kaya?” tanya Vela tiba-tiba dengan nada serius.

Jena berhenti melangkah, menatapnya datar.

“…kamu cocok jadi orang yang sadar diri dulu.”

Vela langsung menutup mulut, lalu ngakak sambil menepuk rak buku.

“Jahat banget sih kamu!”

“Realistis, bukan jahat,” balas Jena santai.

Mereka berhenti di satu sudut, duduk lesehan di antara rak, kebiasaan lama yang tidak pernah berubah.

Jena membuka satu buku, membacanya dengan serius.

Vela melirik, lalu ikut melihat.

Beberapa detik hening.

“Jen…”

“Hm?”

“Kalau kita punya banyak uang nanti, kita buka toko buku aja yuk.”

Jena menoleh, sedikit tersenyum.

“Terus?”

“Terus… kita gak usah bayar kalau mau baca.”

Jena mengangguk pelan.

“Pintar. Tapi itu berarti kita bangkrut dalam seminggu.”

Vela berpikir sebentar.

“…ya juga sih.”

Mereka tertawa lagi.

Di tengah tumpukan buku, pendingin ruangan yang dingin, dan suara halaman yang dibalik pelan, mereka tetap sama seperti dulu.

Sederhana.

Kocak.

Dan selalu menemukan cara untuk tertawa, bahkan dari hal yang tidak penting sekalipun.

Malam turun pelan-pelan saat mereka keluar dari Gramedia.

Lampu-lampu jalan mulai menyala, dan udara terasa sedikit lebih dingin dari biasanya.

“Laper gak?” tanya Vela sambil mengusap perutnya yang sebenarnya tidak berbunyi.

Jena melirik.

“Barusan kamu makan donat dua.”

Vela mengangkat dua jari.

“Pertama, itu kecil. Kedua, itu buat pembuka.”

Jena menggeleng.

“Pembuka apaan, ceramah?”

Vela tidak menjawab. Matanya justru berbinar melihat sesuatu di kejauhan.

“JENAAAAA!”

“Kenapa lagi?”

“Itu… pasar malam!”

Jena mengikuti arah pandang Vela. Di ujung jalan, lampu warna-warni berkelap-kelip, suara musik dangdut samar terdengar bercampur dengan teriakan pedagang.

“Yuk mampir bentar,” ajak Vela, sudah setengah menarik tangan Jena.

“Bentar aja ya. Jangan sampai kita pulang tengah malam,” kata Jena, meskipun langkahnya tetap mengikuti.

Begitu masuk, suasana langsung berubah.

Aroma jajanan, suara tawa, anak-anak berlarian, dan lampu yang berpendar membuat tempat itu terasa hidup.

“Ini baru namanya hidup,” kata Vela sambil menarik napas dalam-dalam.

Jena menatapnya.

“Yang hidup itu kamu, yang dompetku sekarat.”

Vela pura-pura tidak dengar.

“Jen, kita naik itu yuk!”

Jena mengikuti arah telunjuk Vela. Sebuah wahana putar dengan kursi-kursi yang berayun.

Jena langsung mengerutkan dahi.

“Kayaknya itu bisa bikin aku tobat seketika.”

Vela tertawa.

“Ah lebay. Sekali-sekali seru.”

“Terakhir kali aku ‘seru’, aku hampir muntah di sepatu orang.”

“Pengalaman membentuk karakter, Jen.”

“Karakter mual?”

Vela sudah menarik tangannya lagi.

“Udah, ayo! Jangan banyak alasan.”

Mereka berjalan mendekati wahana itu, masih saling adu argumen kecil yang sebenarnya lebih banyak berisi tawa daripada protes.

Dan tepat saat mereka hendak naik—

“Jena?”

Langkah Jena terhenti.

Ia menoleh pelan, sedikit bingung karena namanya dipanggil dengan nada yang… tidak asing.

Di sana, berdiri seorang laki-laki dengan ekspresi setengah ragu, setengah memastikan.

Jena menyipitkan mata, mencoba mengingat.

Beberapa detik hening.

“...Raka?” ucapnya pelan, seperti memastikan kembali ingatannya sendiri.

Wajah laki-laki itu langsung berubah cerah.

“Iya! Jena, kan?”

Vela yang berdiri di samping langsung melirik Jena, lalu ke laki-laki itu, lalu kembali ke Jena dengan ekspresi penuh arti.

“Wah,” bisik Vela pelan, tapi cukup terdengar, “langsung ketemu masa lalu di wahana masa depan.”

Jena menyikut lengannya.

“Diam deh.”

Raka tertawa kecil.

“Gak nyangka banget ketemu di sini. Kamu… masih sama ya.”

Jena mengernyit.

“Sama gimana?”

Raka berpikir sebentar.

“Ya… masih Jena yang dulu.”

Vela langsung menutup mulut, menahan tawa.

“Deskripsi paling aman yang pernah aku dengar.”

Jena menatap tajam ke arah Vela.

“Kamu mau aku tinggal di sini?”

Vela langsung pura-pura serius.

“Maaf, saya hanya penonton.”

Raka ikut tertawa, suasana jadi terasa ringan.

“Kalian mau naik ini?” tanya Raka, menunjuk wahana di belakang mereka.

Vela langsung menjawab cepat,

“Iya! Tapi Jena lagi mencari keberanian hidupnya.”

“Bukan,” potong Jena, “aku lagi mempertimbangkan masa depan.”

Raka tersenyum.

“Kalau gitu… aku temenin? Biar lebih berani.”

Vela langsung menoleh cepat ke Jena, matanya berbinar penuh godaan.

“Wah, dapat bonus keberanian,” bisiknya.

Jena menarik napas pelan, sedikit salah tingkah, tapi mencoba tetap santai.

“Ya… gak apa-apa sih.”

“Serius?” tanya Vela, pura-pura kaget.

“Barusan katanya mau tobat.”

“Kalau bareng orang, mungkin tobatnya ditunda,” jawab Jena cepat.

“Wih, fleksibel juga ya prinsip hidupmu.”

Mereka bertiga akhirnya berdiri di antrean wahana.

Lampu berputar di atas mereka, suara musik semakin keras, dan tawa-tawa kecil terus mengalir di antara percakapan yang tidak lagi terasa canggung.

Vela sedikit mundur, memperhatikan Jena yang kini mulai berbicara lebih banyak dengan Raka.

Lalu, pelan-pelan, ia tersenyum sendiri.

“Menarik,” gumamnya pelan.

Dan malam itu,

di antara lampu pasar malam dan suara riuh yang tidak pernah diam,

sebuah pertemuan lama kembali menemukan jalannya.

Tanpa ada yang tahu,

bahwa hal kecil seperti ini…

bisa menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Pagi datang dengan cara yang biasa, matahari masuk dari sela tirai, suara kendaraan dari luar, dan notifikasi ponsel yang bergetar pelan di atas meja.

Jena mengerjap pelan, meraih ponselnya dengan mata masih setengah terpejam.

Satu notifikasi.

Instagram.

Ia membuka layar, masih belum benar-benar sadar.

matanya berhenti.

raka_* mengirim pesan.

Jena langsung terduduk sedikit lebih tegak. Rasa kantuknya seperti ditarik paksa pergi.

“...hah?”

Ia menatap layar beberapa detik, memastikan itu bukan salah lihat.

Pesannya sederhana.

“Hai, Jena. Ini Raka… yang kemarin di pasar malam 😅”

Jena mengedip sekali. Lalu sekali lagi.

Dan entah kenapa, justru bukan isi pesannya yang membuatnya bingung,

tapi satu hal lain.

Dia tahu Instagram-ku?

Alis Jena sedikit mengernyit.

Ia menarik selimutnya sedikit, bersandar ke dinding, matanya masih terpaku pada layar.

Gimana caranya dia nemuin akun aku?

Perasaan aku gak pernah bilang…

kemarin juga gak sempat tukeran apa-apa…

Ia mulai mengingat kembali kejadian semalam.

Wahana.

Tawa Vela.

Percakapan singkat.

Nama.

Nama.

Jena menghela napas pelan.

Apa dia… nyari?

Serius?

Segitunya?

Ia menggigit bibir bawahnya pelan, setengah tidak percaya.

Atau jangan-jangan… dari dulu dia masih ingat?

Pikiran itu datang begitu saja, lalu membuatnya diam beberapa detik.

Enggak mungkin juga sih…

itu kan waktu SD…

Jena menatap kembali username itu.

Ada sesuatu yang terasa aneh—bukan dalam arti buruk, tapi… asing.

Seperti membuka kembali halaman lama yang seharusnya sudah lama tertutup.

Tangannya menggantung di atas layar, ragu untuk membalas.

Balas gak ya…

Kalau gak dibalas, nanti dikira sombong.

Kalau dibalas… nanti jadi panjang.

Ia mendesah pelan, menjatuhkan kepalanya ke dinding.

“Kenapa sih harus ketemu lagi…” gumamnya pelan.

Tapi sudut bibirnya, tanpa ia sadari, sedikit terangkat.

Ponsel itu masih di tangannya.

Pesan itu masih terbuka.

Dan Jena… masih belum memutuskan.

Siang hari datang dengan matahari yang cukup terik, jenis panas yang membuat orang waras memilih di rumah… atau setidaknya tidak keluar tanpa alasan penting.

Sayangnya, Vela bukan orang waras dalam hal itu.

“Jen, keluar. Sekarang.”

Pesan itu masuk sekitar pukul sebelas siang.

Jena yang sedang rebahan langsung membalas.

“Kenapa?”

“Aku lagi menikmati hidup.”

Balasan Vela datang cepat.

“Hidup itu dinikmati di luar, bukan di kasur.”

“Cepet, aku udah di jalan.”

Jena menatap layar dengan ekspresi datar.

“…aku gak pernah ngajak,” gumamnya.

Dua puluh menit kemudian, entah bagaimana, Jena sudah duduk di sebuah kafe, di hadapan Vela yang terlihat sangat puas dengan pencapaiannya hari itu.

“Ini namanya keputusan yang tepat,” kata Vela sambil menyeruput minumannya.

Jena menatap meja.

“Ini namanya pemaksaan yang dibungkus ajakan.”

Mereka duduk di sebuah sudut kafe yang cukup nyaman, AC dingin, musik pelan, dan aroma kopi yang memenuhi ruangan. Tempat yang sebenarnya cocok untuk istirahat… kalau saja bukan Vela yang mengajak.

“Pesen apa kamu?” tanya Vela.

Jena menunjuk minumannya.

“Air putih.”

Vela berhenti minum. Menatap Jena lama.

“…kamu serius?”

“Serius. Gratis.”

Vela meletakkan gelasnya pelan.

“Aku ajak kamu ke kafe, bukan ke galon isi ulang.”

Jena mengangkat bahu santai.

“Intinya sama, minum.”

Vela langsung menggeleng, lalu memanggil pelayan.

“Mas, satu lagi es kopi susu. Yang manis, soalnya temen saya pahit hidupnya.”

Jena langsung menyikut lengannya.

“Eh!”

Pelayan itu berusaha menahan senyum, lalu pergi.

Jena menatap Vela dengan kesal yang dibuat-buat.

“Kamu ya, tiap hari harus banget keluarin uang?”

Vela mengangguk mantap.

“Jelas. Itu bentuk kontribusi aku untuk perputaran ekonomi negara.”

Jena mendengus.

“Negara gak butuh kamu segitunya.”

“Negara gak bilang, tapi aku peka.”

Jena menggeleng, tapi akhirnya ikut tertawa.

Beberapa detik hening.

Vela menyipitkan mata, menatap Jena dengan ekspresi curiga.

“Jen…”

“Hm?”

“Kamu kenapa dari tadi megang HP terus?”

Jena langsung refleks menaruh ponselnya di meja.

“Enggak kok.”

Vela langsung mendekatkan wajahnya sedikit.

“Enggak kok apanya? Dari tadi kamu kayak nunggu chat penting.”

Jena pura-pura santai.

“Ya emang lagi nunggu.”

“Nunggu apa?”

“…info beasiswa.”

Vela langsung mengangguk pelan.

“Oh gitu…”

Hening.

Dua detik.

Tiga detik.

Vela tiba-tiba mendekat lagi, lebih dekat.

“Dari Raka ya?”

Jena langsung tersedak minumannya sendiri.

“HUH?!”

Beberapa orang di sekitar mereka menoleh.

“Pelan dikit!” bisik Vela, tapi wajahnya penuh kemenangan.

Jena batuk kecil, menatap Vela dengan mata melebar.

“Kok kamu bisa—”

“Insting,” potong Vela cepat.

“Dan kamu gampang banget dibaca.”

Jena menutup wajahnya sebentar.

“Ya ampun…”

Vela menyandarkan badan, tersenyum lebar.

“Jadi? Chat apa dia?”

Jena ragu sebentar, lalu mendorong ponselnya ke arah Vela.

“Nih baca sendiri.”

Vela langsung mengambilnya dengan antusias.

“Wah, akhirnya ada bahan gosip.”

Beberapa detik membaca.

“Cuma ‘hai’ doang?”

“Iya.”

“Ya ampun, aku kira langsung ngajak nikah.”

Jena langsung mengambil kembali ponselnya.

“Gak semua orang kayak kamu, Vel.”

Vela menunjuk dirinya sendiri.

“Aku tuh efisien. Gak suka basa-basi.”

Jena menggeleng sambil tersenyum kecil.

Vela menatapnya lagi, kali ini sedikit lebih lembut, tapi masih dengan nada santai.

“Terus kamu balas gak?”

Jena terdiam sebentar.

“…belum.”

Vela langsung menghela napas panjang, dramatis.

“Jena… Jena…”

“Apa sih?”

“Kamu ini ya, dikasih peluang malah bengong.”

Jena menyipitkan mata.

“Peluang apaan?”

Vela tersenyum miring.

“Ya… siapa tau seru.”

Jena tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap ponselnya sebentar, lalu menghela napas pelan.

Di meja kecil itu

di antara es kopi yang mulai mencair dan tawa yang masih tersisa,

sesuatu yang kecil mulai bergerak pelan.

Masih ringan.

Masih belum berarti apa-apa.

Tapi cukup… untuk membuat hari mereka sedikit berbeda dari biasanya.

Sore mulai merayap pelan, tapi Jena masih memegang ponselnya seperti benda itu menyimpan jawaban hidupnya.

Vela sudah bersandar santai di kursi, menatap Jena dengan ekspresi campuran antara gemas dan tidak sabar.

“Jen,”

“Hm?”

“Kalau kamu nunggu sampai ilham turun dari langit, itu chat bisa basi.”

Jena melirik kesal.

“Ini bukan nasi goreng.”

“Ya terus? Mau nunggu expired baru dibalas?”

Jena menghela napas panjang.

“Bingung tau gak sih…”

Vela langsung mencondongkan badan.

“Bingung apanya? Dia cuma bilang ‘hai’. Kamu tinggal bilang ‘hai’ balik. Gak disuruh ceramah tujuh halaman.”

Jena terdiam sebentar.

“…iya juga sih.”

Ia menatap layar lagi.

Pesan itu masih di sana.

Sederhana.

Tapi entah kenapa terasa… berat untuk dibalas.

Tangannya mulai mengetik.

“Hai juga…”

Berhenti.

Dihapus.

Ketik lagi.

“Hai, Rak.”

Berhenti lagi.

“Hadeh…” Jena menjatuhkan ponselnya ke meja.

“Kenapa sih kayak ujian hidup…”

Vela langsung menyambar ponselnya.

“Sini aku aja!”

“Eh jangan!” Jena langsung panik.

Terlambat.

Vela sudah mengetik cepat.

“Hai juga, Raka 😄”

“VELA!”

“Udah kukirim.”

Jena membeku.

“…aku gak siap.”

Vela santai, menyeruput minumannya.

“Kamu gak pernah siap, makanya aku bantu.”

Beberapa detik hening.

ting.

Notifikasi masuk.

Keduanya langsung menatap layar.

Raka membalas.

“Wah dibalas 😄 kirain gak bakal direspon”

Vela langsung nyengir lebar.

“Dia insecure juga ternyata.”

Jena menatap layar, sedikit tersenyum tanpa sadar.

“Hehe enggak kok, tadi lagi sibuk aja”

“Bohong banget,” bisik Vela.

Jena menyikutnya pelan, tapi tetap lanjut mengetik.

Balasan datang lagi.

“Kemarin seru ya 😄 gak nyangka ketemu lagi setelah lama banget”

Jena berhenti sejenak.

Bayangan semalam lewat cepat di kepalanya, lampu pasar malam, tawa, dan momen canggung yang ternyata tidak terlalu canggung.

Ia mengetik pelan.

“Iya, kebetulan banget sih. Kamu masih ingat aku juga ternyata”

Kali ini balasannya sedikit lebih lama.

Beberapa detik.

Sepuluh detik.

Vela mulai ikut tegang.

“Ini kenapa lama? Lagi mikir skripsi apa gimana?”

“Diam deh,” bisik Jena.

ting.

“Ingat lah. Kamu yang dulu suka nangis gara-gara pensil hilang, kan?”

Jena langsung membelalakkan mata.

“APAAN SIH?!” bisiknya panik.

Vela langsung tertawa keras.

“HAHAHA itu kamu banget sih!”

Jena cepat mengetik, sedikit kesal tapi juga malu.

“Itu SD, Rak 😭 jangan diungkit dong”

Balasan datang cepat.

“Maaf maaf wkwk tapi lucu soalnya 😆”

Vela masih tertawa.

“Gak nyangka ya, image kamu hancur dalam 3 chat.”

Jena menutup wajahnya sebentar.

“Aku harus mengakhiri ini sebelum makin parah.”

“Terlambat,” jawab Vela santai.

Jena menatap layar lagi, lalu mengetik dengan sedikit lebih santai.

“Sekarang aku udah gak nangis gara-gara pensil kok 😌”

“Upgrade ya 😄 sekarang nangisnya karena apa?”

Jena berhenti.

Vela langsung mendekat lagi.

“Jawab: karena kamu.”

“Gak!” Jena langsung menolak.

Ia berpikir sebentar, lalu mengetik:

“Karena tugas sih lebih tepatnya 😔”

Balasan datang lagi.

“Relate banget 😭”

Dan begitu saja—

percakapan itu mulai mengalir.

Ringan.

Tidak canggung.

Sesekali lucu.

Jena yang tadi ragu, sekarang mulai tersenyum sendiri melihat layar.

Vela memperhatikan itu, lalu menyipitkan mata.

“Wah…” gumamnya pelan.

“Apa?” tanya Jena.

Vela menyandarkan badan, senyum tipis muncul.

“Gak apa-apa.”

Ia mengambil minumannya lagi.

“Cuma… menarik aja.”

Jena mengernyit.

“Apanya?”

Vela menatapnya sebentar, lalu mengalihkan pandangan.

“Kayaknya… liburan kamu bakal jadi lebih mahal dari biasanya.”

Jena langsung menatapnya datar.

“Ini semua salah kamu.”

Vela mengangkat bahu santai.

“Sama-sama.”

Dan di antara tawa kecil itu—

percakapan di layar terus berjalan.

Pelan.

Ringan.

Tapi cukup untuk membuka kembali sesuatu

yang dulu sempat hilang oleh waktu

Hari ini terasa begitu cepat dan bel pulang sekolah berbunyi seperti biasa, riuh, sedikit chaos, dan penuh semangat kebebasan.

Jena menutup bukunya lebih cepat dari biasanya. Tangannya langsung meraih ponsel, matanya sekilas mengecek layar.

Vela yang melihat itu langsung menyipitkan mata.

“Wah… gercep banget.”

“Apa sih,” jawab Jena cepat, meskipun tidak benar-benar menatap Vela.

Mereka berjalan keluar kelas bersama, menyusuri koridor yang ramai.

Biasanya, langkah mereka santai.

Biasanya, obrolan mereka panjang.

Tapi hari ini, Jena terlihat sedikit… terburu-buru.

“Jen,” panggil Vela.

“Hm?”

“Gue nemu tempat baru nih.”

Jena akhirnya menoleh.

“Apaan?”

“Kafe baru, katanya lucu banget. Ada dessert aneh-aneh gitu. Kita coba yuk.”

Biasanya, tanpa pikir panjang, Jena akan langsung jawab, “ayo.”

Tapi kali ini—

“…eh, Vel…”

Langkah Jena sedikit melambat.

Vela langsung sadar ada yang berbeda.

“Kenapa?”

Jena menggaruk pelan bagian belakang lehernya.

“Kayaknya aku gak bisa deh hari ini.”

Vela berhenti jalan.

“Lah, kenapa?”

Jena ragu sebentar.

“…aku ada janji.”

“Janji sama siapa?” tanya Vela, nadanya masih santai.

Jena menarik napas kecil.

“…Raka.”

Hening.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu Vela mengangguk pelan.

“Oh.”

Ekspresinya tetap biasa.

“Ngapain?”

“Ya… cuma ketemu aja sih. Katanya mau ngobrol.”

Vela tersenyum kecil.

“Wih. Cepet juga ya progresnya.”

Jena langsung menggeleng.

“Eh, gak gitu. Ini cuma… ya biasa aja.”

“Iya, ‘biasa’,” ulang Vela, nada suaranya sedikit menggoda.

Jena mendengus.

“Beneran.”

Vela mengangkat kedua tangan, menyerah.

“Oke, oke. Santai.”

Mereka kembali berjalan, meskipun ritmenya tidak persis sama seperti tadi.

“Yaudah sana,” lanjut Vela.

“Jangan telat. Nanti image kamu jelek.”

Jena menoleh, sedikit kaget.

“Serius gak apa-apa?”

Vela langsung menatapnya datar.

“Kenapa? Kamu kira aku bakal nangis di pojokan?”

Jena tertawa kecil.

“Ya gak gitu juga…”

Vela menyenggol bahunya pelan.

“Udah sana. Aku juga bisa hidup sendiri kok.”

“Yakin?”

“Yakin. Paling nanti aku ngajak orang lain.”

Jena langsung berhenti.

“Siapa?”

Vela pura-pura mikir.

“Hm… siapapun yang mau bayarin aku makan.”

Jena langsung menggeleng.

“Dasar.”

Mereka sampai di gerbang sekolah.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama,

arah mereka berbeda.

“Chat aku ya nanti,” kata Vela santai.

“Iya.”

“Jangan lupa, kalau dia aneh, kabur.”

Jena tertawa.

“Siap.”

Vela melambaikan tangan.

“Good luck, Jena yang dulu nangis gara-gara pensil.”

“VELA!”

“Bye!”

Vela pergi lebih dulu, langkahnya tetap ringan seperti biasa.

Jena berdiri sebentar, lalu melihat ponselnya.

Ada pesan masuk.

Dari Raka.

“Udah pulang? Aku tunggu di depan taman ya.”

Jena menarik napas kecil.

Lalu tersenyum.

Dan tanpa sadar—

ia melangkah ke arah yang berbeda dari biasanya.

Di sisi lain—

Vela berjalan sendirian di trotoar, tangan dimasukkan ke saku jaketnya.

Ia menghembuskan napas pelan.

“Wah…” gumamnya.

Lalu tersenyum kecil, menggeleng.

“Seru juga ya.”

Ia mengeluarkan ponselnya, membuka kamera depan.

“Yaudah,” katanya pada dirinya sendiri,

“hari ini… self date.”

Beberapa detik ia menatap pantulan wajahnya. Lalu menambahkan pelan,

“…gapapa kok.”

Dan ia tetap berjalan.

Keesokan harinya,

matahari datang lebih cepat dari rasa malas yang masih menggantung.

Kelas belum sepenuhnya ramai saat Jena sudah duduk di bangkunya. Ia membuka buku, meski belum benar-benar membaca. Tak lama, suara langkah yang ia kenal berhenti di sampingnya.

“Jen! JEN!” Vela datang dengan semangat.

“Ada bazar di Gramedia!”

Jena yang lagi duduk langsung nengok.

“Serius?”

“Serius! Diskon, buku, jajanan, kita ke sana ya pulang sekolah!”

Jena ragu sebentar.

“…Vel, aku juga udah diajak ke sana.”

“Siapa?”

“…Raka.”

Vela diam sebentar, lalu angkat bahu santai.

“Yaudah, kita bertiga aja.”

Sore itu, mereka bertemu di depan Gramedia.

Awalnya masih biasa.

Vela tetap bercanda.

Jena masih ikut ketawa.

Raka sesekali nyambung.

“Ini buku cocok buat kamu, Vel ‘Cara Kaya Tanpa Usaha’,” kata Jena.

Vela langsung angkat buku itu.

“Aku merasa diserang.”

Mereka tertawa.

Masih terasa seperti dulu.

Tapi pelan-pelan…

Jena mulai lebih lama ngobrol sama Raka.

Dari buku, pindah ke cerita lain.

Tertawa lagi.

Lebih lama.

Vela berdiri di samping, awalnya santai.

Lalu mulai diam.

Sesekali lihat mereka.

Biasanya, Jena bakal manggil,

“Vel, sini deh!”

Tapi kali ini

enggak.

Vela akhirnya nyoba mendekat.

“Eh, lihat ini!”

“Eh serius?” Jena malah tertawa ke arah Raka.

Kalimat Vela berhenti di tengah.

“…oh.”

Ia mundur lagi pelan.

Ambil buku lain.

Buka. Tutup.

Padahal gak benar-benar dibaca.

Beberapa menit kemudian,

“Vel!” panggil Jena.

“Iya?” Vela cepat nengok.

“Kamu ke mana sih?”

Vela angkat buku di tangannya.

“Ini… lagi cari jati diri.”

Raka ketawa kecil.

“Ketemu belum?”

“Masih diskon,” jawab Vela santai.

Jena senyum sebentar, lalu...

“Oh iya, Rak yang tadi”

Dan ia kembali fokus ke Raka.

Vela diam lagi.

Ia menatap mereka sebentar.

Lalu senyum kecil.

“…gapapa,” gumamnya pelan.

Dan untuk pertama kalinya—

di tempat yang biasanya penuh tawa mereka berdua,

Vela berdiri…

sendirian.

Malam itu, hujan turun tiba-tiba.

Deras.

Seolah langit menjatuhkan semuanya sekaligus.

“Lari, Jen!” teriak Vela sambil menarik tangan Jena.

“Ini bukan lari, ini uji nyali!” balas Jena, setengah panik, setengah ketawa.

Mereka berdua berlari di bawah hujan, tas dipakai buat nutup kepala yang sebenarnya percuma.

“Vel, rambutku pasti jadi tragedi!”

“Tenang, dari awal juga udah tragedi!”

“VELAAAA!”

Tawa mereka pecah di tengah jalan yang basah.

Malam itu, masih terasa seperti dulu.

Paginya berbeda.

Vela tidak masuk sekolah.

Jena baru sadar saat bangku di sebelahnya kosong.

Ia langsung membuka ponsel.

“Vel, kamu ke mana?”

Balasan datang beberapa menit kemudian.

“Demam 😭 hujan semalam efeknya ke jiwa raga”

Jena langsung mengernyit.

“Serius? Udah minum obat belum?”

“Udah, tapi aku butuh yang lebih ampuh”

“Apa?”

“Temen yang bawain makanan 🙂”

Jena tersenyum kecil tanpa sadar.

“Yaudah nanti aku ke sana”

“Beneran??”

“Iya”

Sore harinya, Jena datang ke rumah Vela.

Pintu dibuka pelan.

Vela muncul dengan wajah lemas, rambut agak berantakan, tapi masih sempat nyengir.

“Wah… akhirnya kamu inget aku juga,” katanya dramatis.

Jena masuk sambil membawa plastik makanan.

“Lebay. Ini aku bawain makan.”

Vela langsung duduk lagi di sofa.

“Kalau tiap sakit dapat beginian, aku siap sakit tiap minggu.”

Jena duduk di sampingnya.

“Jangan aneh-aneh.”

Mereka ngobrol sebentar.

Tentang sekolah.

Tentang guru.

Tentang hal-hal kecil.

Tertawa juga, meskipun tidak sekencang biasanya.

Vela melirik Jena.

“Tumben kamu gak ribut hari ini.”

Jena tersenyum kecil.

“Kamu lagi sakit, masa aku jahatin.”

“Padahal biasanya kamu jahat tiap hari.”

“Karena kamu kuat.”

Vela tertawa pelan, lalu terdiam sejenak.

Rasanya… hangat.

Seperti dulu.

Tapi tidak lama.

Jena melirik jam di ponselnya.

Sekali.

Lalu lagi.

Tangannya mulai gelisah.

Vela memperhatikan.

“Jen…”

“Hm?”

“Kamu buru-buru ya?”

Jena sedikit kaget.

“…enggak kok.”

Vela menatapnya, tidak langsung percaya.

“Terus dari tadi liatin jam mulu kenapa?”

Jena terdiam sebentar.

“…aku habis ini mau keluar.”

“Mau ke mana?”

Jeda.

Satu detik yang terasa lebih lama dari biasanya.

“…antar mama,” jawab Jena akhirnya.

Vela mengangguk pelan.

“Oh…”

Ia tersenyum kecil.

“Yaudah, hati-hati ya.”

“Iya.”

Jena berdiri, merapikan tasnya.

“Cepet sembuh ya,” katanya.

“Kalau aku gak sembuh, kamu bakal jenguk lagi gak?” tanya Vela setengah bercanda.

Jena tersenyum.

“Ya iyalah.”

“Janji?”

“Janji.”

Mereka saling pandang sebentar.

Lalu Jena pergi.

Di sisi lain...

Vela masih duduk di sofa.

Mangkuk makanan di tangannya belum habis.

Ia menatap pintu yang tadi ditutup.

Sunyi.

Tidak ada tawa.

Tidak ada suara Jena.

Ia menarik napas pelan. Lalu bergumam kecil...

“…tumben cepet banget.”

Vela menunduk, memainkan sendok di tangannya.

Entah kenapa,

hari itu terasa lebih sepi dari biasanya.

Padahal—

tadi mereka masih duduk berdampingan.

Keesokan harinya, Vela sudah kembali ke sekolah.

Masih sedikit lemas, tapi seperti biasa, ia tidak mau terlihat terlalu “sakit”.

“Vel, udah sembuh?” tanya salah satu teman sekelasnya saat ia duduk.

“Setengah,” jawab Vela santai.

“Setengah lagi nunggu disuapin.”

Temannya tertawa kecil.

“Yaelah.”

Beberapa menit berlalu, obrolan kelas mulai ramai seperti biasa.

“Eh Vel,” panggil temannya lagi, nada suaranya agak penasaran.

“Kemarin aku lihat Jena loh.”

Vela langsung menoleh.

“Hah? Di mana?”

“Di jalan deket taman itu… yang sering rame sore-sore.”

Vela mengernyit sedikit.

“Oh…”

Ia masih santai.

“Mungkin habis nganter mamanya.”

Temannya menggeleng.

“Enggak deh kayaknya.”

“Kenapa?”

“Soalnya dia gak sendirian.”

Vela diam.

“Dia sama cowok,” lanjut temannya.

“Lumayan lama juga mereka di situ.”

Ada jeda kecil.

Vela mencoba tetap biasa.

“…oh ya?”

“Iya. Aku kira kamu juga ada, makanya aku gak nyapa.”

Vela memaksakan senyum kecil.

“Enggak, aku di rumah.”

Temannya berpikir sebentar.

“Eh, tapi itu sekitar… jam empat atau lima gitu deh.”

Vela berhenti.

Jam.

Ia mengingat.

Waktu yang sama—

saat Jena berdiri di depan pintu rumahnya,

tersenyum,

lalu bilang—

“aku habis ini mau antar mama.”

Vela tidak langsung bicara.

Hanya diam.

“Vel?” temannya melambai kecil di depan wajahnya.

“Kamu kenapa?”

Vela tersadar, lalu cepat menggeleng.

“Enggak kok.”

“Yakin?”

“Iya. Mungkin kamu salah lihat.”

Temannya mengangkat bahu.

“Bisa jadi sih.”

Obrolan itu berhenti di sana.

Tapi...

tidak dengan pikiran Vela.

Sepanjang pelajaran, Vela tidak benar-benar fokus.

Matanya ke depan,

tapi pikirannya berputar di tempat lain.

Dia bilang antar mama…

Terus itu siapa?

Kenapa gak bilang aja…?

Tangannya menggenggam pulpen sedikit lebih erat.

Ia menarik napas pelan.

Mencoba menenangkan diri.

Mungkin… memang kebetulan.

Mungkin bukan dia.

Tapi… waktunya sama.

Ia menunduk sebentar.

Ada sesuatu yang terasa aneh di dadanya,

bukan marah sepenuhnya,

bukan sedih sepenuhnya.

Campur.

Tidak nyaman.

Sore itu, Vela sampai di rumah lebih cepat.

Tasnya diletakkan sembarangan, lalu ia duduk diam di ruang tamu.

Sepi.

Ponselnya bergetar.

Jena.

Vela menatap sebentar, lalu mengangkatnya.

“Vel, kamu besok kosong gak?” suara Jena terdengar ceria.

“Kenapa?”

“Aku mau ngajak kamu ke kafe baru itu… yang kemarin kamu ceritain.”

Vela diam sejenak.

“…aku udah ke sana.”

“Hah? Kapan?”

“Kemarin.”

“Oh… sama siapa?”

Vela tersenyum tipis.

“Sendiri.”

Hening.

“Yaudah… nanti kita ke tempat lain aja ya,” kata Jena.

“Iya,” jawab Vela singkat.

Percakapan itu selesai lebih cepat dari biasanya.

Malamnya, Vela membuka galeri ponselnya.

Foto-foto lama—

dirinya dan Jena.

Tertawa.

Konyol.

Vela tersenyum kecil.

Lalu pelan-pelan menghilang.

Dulu kamu pasti ngajak aku duluan…

kenapa sekarang gak cerita?

Ia menghela napas.

Hari-hari berikutnya terasa berbeda.

Masih duduk bersebelahan,

tapi tidak benar-benar bersama.

“Vel, lihat ini—”

“Hmm.”

“Vel, nanti pulang—”

“Aku ada urusan.”

Jawaban Vela singkat.

Tidak kasar,

tapi cukup menciptakan jarak.

“Vel, kamu kenapa?” tanya Jena suatu hari.

Vela menoleh sebentar.

“Enggak kok. Biasa aja.”

Vela mulai sering sendiri.

Ke kantin sendiri.

Pulang duluan.

Bukan karena ingin menjauh,

tapi karena tidak tahu harus tetap seperti dulu.

Suatu sore, ia berhenti di depan kafe itu.

Menatap pintunya sebentar.

“…harusnya kita ke sini bareng ya,” gumamnya.

Ia tersenyum kecil.

Tapi kali ini, tidak ada yang menjawab.

Suasana sekolah menyambut kembali dan hari ini, Jena dan Vela berada dalam satu kelompok.

Biasanya, mereka yang paling ribut.

Paling banyak ide.

Paling sering bercanda di tengah diskusi.

Tapi sekarang...

“Jadi, bagian ini kita bagi aja ya,” kata Jena, mencoba memulai.

Vela hanya mengangguk.

“Iya.”

Singkat.

Jena melirik.

“…Vel, kamu mau ambil yang mana?”

“Terserah.”

Jena mengernyit.

“Kok terserah?”

“Ya terserah aja,” jawab Vela datar, matanya tetap ke buku.

Beberapa teman lain saling pandang, suasana jadi sedikit canggung.

Jena mencoba tertawa kecil.

“Yaudah… aku ambil ini, kamu yang itu ya?”

“Iya.”

Lagi-lagi singkat.

Tidak ada tambahan.

Tidak ada candaan.

Jena diam sebentar.

Ini kenapa sih…?

Diskusi selesai lebih cepat dari biasanya, bukan karena lancar, tapi karena… sepi.

Saat bel pulang berbunyi, Vela langsung merapikan barangnya.

“Vel, bentar—” panggil Jena.

“Duluan ya,” potong Vela cepat.

Dan tanpa menunggu...

ia pergi.

Begitu saja.

Jena berdiri di tempatnya.

“…Vel?”

Tapi Vela sudah menghilang di antara keramaian.

Siang pulang sekolah—

Jena berdiri di depan rumah Vela.

Tangannya sempat ragu untuk mengetuk.

tok tok tok.

Beberapa detik.

Pintu terbuka.

Vela muncul, sedikit kaget.

“Jen?”

Jena menatapnya, napasnya sedikit tidak teratur.

“Kamu kenapa sih?”

Langsung.

Tanpa basa-basi.

Vela terdiam.

“…kenapa?”

“Kamu berubah,” lanjut Jena.

“Di sekolah tadi… terus kamu pulang duluan…”

“Aku capek,” potong Vela pelan.

“Capek kenapa?” tanya Jena cepat.

“Aku ada salah ya?”

Hening.

Vela menatap Jena beberapa detik.

Ada banyak hal di kepalanya,

tapi tidak semuanya mudah diucapkan.

“Aku gak apa-apa, Jen,” katanya akhirnya.

Jena menggeleng.

“Enggak. Ini gak ‘gak apa-apa’.”

Suaranya mulai pelan, tapi terasa.

“Kamu sekarang beda… sama aku.”

Kalimat itu menggantung.

Vela menarik napas pelan.

“…beda gimana?”

“Kamu jadi jauh,” jawab Jena.

“Kamu gak pernah cerita lagi… kamu juga kayak menghindar.”

Vela tertawa kecil.

Pendek.

Tipis.

“Yang jauh itu… aku?”

Jena terdiam.

Nada itu...

tidak seperti biasanya.

Vela menatapnya, matanya tidak lagi sepenuhnya santai.

“Jen…” suaranya pelan,

“kamu yakin aku yang menjauh?”

Hening.

Angin sore lewat di antara mereka.

Jena tidak langsung menjawab.

Dan untuk pertama kalinya—

percakapan mereka tidak terasa ringan lagi.

Hening menggantung di antara mereka.

Vela masih berdiri di ambang pintu.

Jena di depannya, dengan pertanyaan yang belum selesai.

“Jen…” suara Vela pelan, tapi kali ini tegas.

“kemarin kamu ke mana?”

Jena mengernyit.

“Yang mana?”

“Yang kamu bilang mau antar mama.”

Jena diam sebentar.

“…iya. Aku antar mama.”

Vela menatapnya lurus.

“Terus… sebelum itu?”

Jena sedikit kaget.

“Kenapa?”

“Jawab aja,” potong Vela.

Ada sesuatu di nada suaranya,

bukan marah yang meledak, tapi… tertahan.

Jena menarik napas kecil.

“…aku sempat ketemu Raka.”

Hening.

Akhirnya keluar juga.

Vela mengangguk pelan.

“Di taman?”

Jena langsung menatapnya.

“Kamu tahu?”

“Dari temen,” jawab Vela singkat.

Jena terdiam.

Beberapa detik terasa panjang.

“Kenapa gak bilang?” tanya Vela.

Langsung.

Tanpa putaran.

Jena mengalihkan pandangan sebentar.

“Karena… gak penting, Vel.”

Kalimat itu jatuh,

pelan, tapi berat.

Vela tersenyum kecil.

Bukan karena lucu.

“…gak penting?”

Jena mengangguk pelan.

“Iya. Cuma bentar kok. Dia cuma mau kasih makanan titipan dari mamanya. Habis itu aku tetap nganter mama.”

Ia mencoba menjelaskan, cepat.

“Jadi bukan yang gimana-gimana. Makanya aku gak cerita—”

“Tapi kamu bohong,” potong Vela.

Sunyi.

Jena langsung menatapnya.

“…aku gak bermaksud bohong.”

“Terus itu apa?” tanya Vela, suaranya masih pelan, tapi mulai bergetar.

“Kamu bilang ke aku mau antar mama. Padahal kamu ketemu dia dulu.”

“Itu cuma urutan waktu aja, Vel—”

“Bukan soal urutan!” suara Vela sedikit naik.

Ia menahan napas, mencoba tetap tenang.

“Ini soal… kenapa kamu gak cerita.”

Jena terdiam.

Vela melanjutkan, lebih pelan—

“Dulu… hal sekecil apa pun kita ceritain.”

Matanya mulai berkaca, tapi ia tetap berdiri tegak.

“Bahkan yang gak penting sekalipun.”

Jena menelan pelan.

“Aku pikir… ini gak perlu dibesar-besarin,” katanya hati-hati.

“Buat kamu mungkin,” jawab Vela cepat.

Hening lagi.

Kali ini lebih berat.

Vela menatap Jena, matanya penuh sesuatu yang sulit dijelaskan—

bukan hanya marah, tapi juga… kecewa.

“Aku tuh bukan marah karena kamu ketemu dia, Jen,” lanjutnya pelan.

“aku marah karena kamu ngerasa… gak perlu cerita ke aku.”

Jena tidak langsung menjawab.

Tangannya mengepal kecil.

“Aku gak maksud ngejauh, Vel…”

“Tapi kamu udah,” potong Vela.

Kalimat itu pelan.

Tapi tepat.

Jena terdiam.

Semua pembelaan yang tadi ada di kepalanya,

seolah berhenti.

Vela menghela napas panjang.

“Aku capek nebak-nebak,” katanya.

“capek pura-pura semuanya biasa aja.”

Ia tersenyum tipis.

“Padahal… rasanya gak.”

Sunyi.

Angin sore kembali lewat.

Jena menunduk.

Baru kali ini...

ia benar-benar menyadari.

Bukan soal Raka.

Bukan soal pertemuan itu.

Tapi soal… apa yang tidak ia ceritakan.

Dan bagaimana itu berarti bagi seseorang sahabat

yang selalu ada sejak awal.

Jena berdiri diam beberapa detik.

“…Vel,” panggilnya pelan.

Vela masih di tempatnya, bersandar di pintu.

“Iya?”

Jena menarik napas sebentar.

“Maaf.”

Singkat.

Tapi kali ini gak asal.

Vela gak langsung jawab.

Jena lanjut, agak buru-buru—

“Aku gak kepikiran kalau itu bakal jadi masalah. Aku pikir ya… cuma ketemu bentar doang, jadi gak perlu cerita.”

Vela mengangguk pelan.

“Dan kamu mutusin itu sendiri.”

Jena terdiam.

“Iya…” jawabnya akhirnya.

Hening sebentar.

“Aku gak marah kamu ketemu Raka,” lanjut Vela.

“Serius. Itu bukan masalahnya.”

“Terus?” tanya Jena pelan.

“Masalahnya… kamu gak bilang.”

Nada suaranya masih tenang, tapi jelas.

“Dulu kita apa-apa cerita. Sekarang kamu mulai milih mana yang mau kamu simpan sendiri.”

Jena menunduk.

“Aku gak ada niat kayak gitu, Vel…”

“Tapi itu yang kerasa,” potong Vela.

Jena menggigit bibirnya sebentar.

“Iya… aku salah.”

Ia menatap Vela lagi.

“Aku kebiasaan mikir sendiri, penting atau enggak. Padahal… harusnya aku tetap cerita aja ke kamu.”

Vela menghela napas pelan.

“Kadang yang menurut kamu gak penting… justru penting buat aku.”

Jena mengangguk.

“Iya. Sekarang aku ngerti.”

Hening lagi.

Jena geser sedikit lebih dekat.

“Kalau aku mulai lagi… cerita semuanya kayak dulu,” katanya hati-hati,

“kamu masih mau dengerin gak?”

Vela menatapnya beberapa detik.

“…aku gak pernah berhenti dengerin, Jen.”

Jena sedikit lega, tapi masih ragu.

“Tapi aku masih kesel,” tambah Vela jujur.

Jena langsung angkat tangan kecil.

“Gapapa. Aku terima.”

Vela nyengir tipis.

“Bagus.”

Suasana sedikit mencair.

Jena menghembuskan napas.

“Jadi… kita gak aneh-aneh lagi ya?”

Vela mengangkat bahu.

“Gak janji langsung normal. Tapi… ya jalanin aja.”

Jena tersenyum kecil.

“Yaudah. Aku usahain gak bikin kamu kesel lagi.”

“Usahain?” Vela menaikkan alis.

“Ya… manusia kan banyak salah.”

Vela langsung menggeleng sambil senyum.

“Alasan.”

Jena ikut ketawa pelan.

Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa hari,

percakapan mereka terasa… lebih ringan.

Belum sepenuhnya balik.

Tapi sudah mulai.

Sore itu, langit di pantai berwarna lembut—jingga yang pelan-pelan turun, seperti hari yang tidak ingin buru-buru selesai.

Jena dan Vela duduk di atas pasir, sepatu mereka dibiarkan begitu saja di samping.

Angin laut berhembus pelan.

Beberapa detik—hening.

“Vel,” panggil Jena.

“Hm?”

“Kita kenapa kemarin bisa kayak sinetron sih?”

Vela langsung menoleh.

“Kamu yang dramanya tinggi, aku cuma korban.”

Jena menganga.

“HAH? Aku korban keadaan!”

“Keadaan siapa? Raka?” jawab Vela cepat.

Jena langsung nyenggol bahunya.

“Eh, jangan bawa-bawa dia terus!”

Vela tertawa.

“Nah itu, mulai sensi.”

Jena mendengus, tapi senyum mulai muncul lagi.

“Ya ampun… kita sempat aneh banget ya,” katanya pelan.

Vela mengangguk.

“Iya. Kayak… orang gak kenal.”

“Padahal dulu kita ribut aja bisa ketawa.”

“Sekarang ribut… beneran ribut,” balas Vela.

Mereka sama-sama diam sebentar.

Lalu—

tertawa.

Ringan.

Seperti dulu.

Vela mengambil segenggam pasir, lalu melempar pelan ke arah Jena.

“Eh!”

“Biar sadar.”

Jena langsung balas, melempar lebih banyak.

“INI BARU SADAR!”

“WOI MATAKU!”

Mereka berdua tertawa keras, tidak peduli orang di sekitar.

Pasir menempel di baju, rambut berantakan, tapi—

justru itu yang terasa benar.

Seperti mereka.

Tidak rapi.

Tidak selalu benar.

Tapi nyata.

Beberapa saat kemudian, mereka kembali duduk.

Menghadap laut.

“Oke,” kata Vela tiba-tiba.

“Mulai sekarang, aturan baru.”

Jena melirik.

“Apa lagi?”

“Kalau ada apa-apa—cerita.”

“Iya.”

“Walaupun menurut kamu gak penting.”

Jena mengangguk.

“Siap.”

“Kalau kamu bohong lagi…”

Jena menatapnya.

“…kenapa?”

Vela berpikir sebentar, lalu jawab santai—

“aku sebar aib kamu waktu SD.”

Jena langsung panik.

“JANGAN! Itu masa lalu!”

“Justru itu senjata paling kuat.”

Mereka tertawa lagi.

Angin sore lewat.

Langit mulai berubah lebih gelap.

Jena menatap laut, lalu berkata pelan

“Vel…”

“Hm?”

“Makasih ya… masih mau ada.”

Vela tidak langsung menoleh.

Ia hanya tersenyum kecil.

“Ya masa aku pergi,” jawabnya ringan.

“aku kan belum nemu temen se-ribet kamu.”

Jena tertawa.

“Kurang ajar.”

Di antara suara ombak yang datang dan pergi,

mereka duduk berdampingan,

tidak sempurna,

tidak selalu sejalan,

tapi tetap memilih untuk kembali.

Karena ternyata, persahabatan bukan tentang tidak pernah retak,

melainkan tentang siapa yang tetap tinggal saat retakan itu muncul.

Dan mungkin, untuk siapa pun yang membaca kisah ini,

akan selalu ada satu orang dalam hidupmu

yang tahu versi paling konyolmu,

paling menyebalkanmu,

bahkan versi dirimu yang ingin kamu sembunyikan.

Kalau orang itu masih ada, jangan tunggu semuanya hancur dulu untuk kembali berbicara.

 “Jen,” kata Vela tiba-tiba.

“Apa?”

“Kita jajan gak?”

Jena langsung berdiri.

“NAH INI YANG AKU TUNGGU DARI TADI!”

Vela ikut berdiri sambil geleng-geleng.

“Ujung-ujungnya makan.”

“Karena persahabatan yang sehat itu… butuh asupan.”

“Alasan.”

Mereka berjalan menjauh dari bibir Pantai,

masih saling dorong, masih saling ejek.

Dan di belakang mereka,

ombak terus datang dan pergi,

seperti hari-hari yang mungkin tidak selalu sama,

tapi selalu bisa dimulai lagi.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
RIUH SENYAP
se
Cerpen
Bronze
Mbah Rus
Bonari Nabonenar
Cerpen
Kisah Untuk Eko
MHD Yasir ramadhan
Cerpen
Idjah
Rahma Roshadi
Cerpen
Bronze
UANG IURAN KELUARGA
N. HIDAYAH
Cerpen
Obrolan di Malam Hari
Hai Ra
Cerpen
Bronze
Memecat Bos
Ravistara
Cerpen
Bronze
Apakah yang Kita Harapkan dari Hujan?
Habel Rajavani
Cerpen
Bronze
Sejakartanya Jakarta
Muram Batu
Cerpen
Cerita Calon Koruptor
Galang Gelar Taqwa
Cerpen
Bronze
TRAM TO 2037
IGN Indra
Cerpen
Luka di Lutut Alberto & Kisah Monogusha Taro yang Ganjil
Galang Gelar Taqwa
Cerpen
Bronze
Permainan (Part 1)
Geovania Loppies
Cerpen
Mekarnya Mahkota Anggrek Larat
Angelica Eleyda Hitjahubessy
Cerpen
Bronze
BOY BEHIND THE VEIL
glowedy
Rekomendasi
Cerpen
RIUH SENYAP
se
Cerpen
ETER
se
Cerpen
SENANDIKA MERAH
se
Cerpen
KALA TIPIS
se