Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
Risalah Hati
0
Suka
8
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Sore di kedai kopi beratap kaca itu terasa merambat lambat. Suara berdenting dari cangkir porselen dan aroma biji kopi yang disangrai melayang di udara, beradu dengan suara hujan gerimis yang mengetuk kaca jendela luar.

Di meja pojok dekat jendela, Kirana menopang dagunya. Matanya menatap kosong ke arah genangan air di luar. Jemari tangannya yang kurus tanpa sadar mengusir bulir busa cappuccinonya yang sudah berjam-jam mendingin.

"Dia bahkan nggak blas balik pesan aku yang semalam, Sat," bisik Kirana. Suaranya serak, tenggelam di antara musik jazz lembut yang diputar kafe. "Aku udah beliin dia tiket konser yang dia mau dari tiga bulan lalu. Aku bela-belain bangun jam tiga pagi cuma buat war tiket itu. Dan tau apa tanggapannya pas aku kasih tahu?"

Satria yang duduk di seberangnya tidak langsung menjawab. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi kayu, meraih cangkir amerikanonya yang tersisa separuh, lalu menyesapnya perlahan.

"Dia bilang apa?" tanya Satria tenang.

"Dia bilang, 'Wah, makasih ya, Na! Nanti aku ajak Vanya nonton deh.'" Kirana tertawa getir, meski ada sudut matanya yang mendadak berair. "Dia pikir aku calo tiket apa? Dia bahkan nggak kepikiran kalau aku beli dua tiket itu supaya bisa nonton bareng dia."

Satria menarik napas panjang. Ada rasa hangat yang membakar dadanya—campuran antara empati yang mendalam dan rasa getir yang sudah terbiasa ia telan bulat-bulat selama dua tahun terakhir.

Ironis.

Di depan matanya, perempuan yang paling ia kagumi sedang menguraikan patah hatinya karena pria lain—pria yang bahkan tidak pernah benar-benar menganggap Kirana ada. Sementara Satria, di tempat yang sama, selalu menjadi tempat penampungan sampah emosi Kirana. Ia adalah benteng pertahanan terakhir yang dicari Kirana setiap kali harapannya digulung kekecewaan.

"Kenapa sih kamu nggak nyerah aja, Na?" tanya Satria pelan, matanya menatap lurus ke dalam iris mata Kirana. "Udah berapa kali kamu nangis di meja ini untuk alasan yang sama?"

Kirana menyeka sudut matanya dengan tisu. "Aku nggak tahu, Sat. Aku cuma merasa... kalau aku terus ada, kalau aku makin perhatian, suatu hari nanti dia bakal sadar. Dia bakal paham kalau nggak ada perempuan lain yang bisa meratukan dia seperti aku."

"Itu bukan cinta, Na. Itu taruhan," potong Satria halus. "Kamu mempertaruhkan hatimu buat seseorang yang bahkan nggak sudi pasang taruhan balik."

Kirana menunduk. "Lalu aku harus gimana? Kamu enak cuma bisa ngomong. Kamu nggak tahu rasanya jatuh cinta setengah mati sama orang yang matanya cuma memandang ke arah lain."

Satria tersenyum tipis. Sebuah senyuman pahit yang langsung hilang diterpa angin AC ruangan.

Kamu salah besar, Na, batin Satria. Aku tahu persis rasanya. Karena setiap kali kamu melihat dia, aku sedang melihatmu.

Minggu-minggu berikutnya menjadi periode tersulit bagi Kirana. Pria yang selama ini ia kejar akhirnya resmi berpacaran dengan perempuan lain. Kirana ambruk. Hari-harinya dipenuhi siluet kesedihan. Ia mengurung diri di apartemen kecilnya, mematikan lampu kamar, dan membiarkan dirinya ditelan sepi.

Namun, di tengah kegelapan itu, Satria tidak pernah membiarkan pintu apartemen Kirana benar-benar terkunci dari luar.

Satria tidak hadir seperti pahlawan yang membawa klise kata-kata bijak. Ia hadir secara nyata, membumi, dan tak menuntut balasan.

Suatu Selasa malam, hujan deras mengguyur kota. Satria mengetuk pintu apartemen Kirana. Ketika pintu terbuka, Kirana berdiri dengan mata sembap, kaus kebesaran yang kusut, dan wajah pucat.

Tanpa banyak bicara, Satria masuk. Ia meletakkan kantong plastik berisi bubur ayam hangat langganan Kirana di meja makan, lalu berjalan ke dapur untuk menyeduh teh chamomile.

"Aku nggak nafsu makan, Sat," ujar Kirana pelan sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.

"Nggak usah dimakan semua," jawab Satria santai seraya menyerahkan cangkir teh hangat. "Tiga sendok aja. Biar lambungmu nggak protes. Kamu udah nggak masuk kerja dua hari, Na. Bosmu tadi nanya ke aku."

Kirana memeluk cangkir teh itu, merasakan kehangatan yang merambat ke telapak tangannya. "Kenapa sih kamu selalu repot-repot begini?"

"Karena aku mau."

"Aku ini beban, Sat. Aku lagi hancur. Kenapa kamu nggak tinggalin aku aja kayak yang lain? Kenapa kamu rela kehujanan cuma buat bawain bubur yang bahkan mungkin nggak aku makan?" Kirana mulai terisak lagi. Emosinya yang tidak stabil membuatnya meluapkan ketidakberdayaannya pada Satria.

Satria tidak marah. Ia duduk di lantai, tepat di samping sofa tempat Kirana bersandar. Pria itu menatap lurus ke depan, mendengarkan suara hujan yang menghantam kaca jendela apartemen.

"Kamu tahu, Na?" Satria membuka suara, nadanya sedatar dan setenang danau di pagi hari. "Waktu pertama kali aku ketemu kamu di perpustakaan kampus empat tahun lalu, kamu lagi marah-marah sendiri gara-gara buku referensimu diambil orang. Kamu gigih. Kamu punya api di mata kamu."

Kirana terdiam, menghentikan isaknya.

"Lalu aku lihat kamu jatuh cinta sama dia. Aku lihat api di matamu perlahan berubah jadi air mata. Tapi anehnya, ketulusan kamu nggak pernah hilang," lanjut Satria. Ia memutar tubuhnya, menatap Kirana yang kini sedang memandangnya dengan rasa bingung.

"Aku tahu hatimu masih terkunci rapat, Na," kata Satria. Suaranya rendah, namun setiap katanya seperti dipahat dengan kepastian yang mutlak. "Aku tahu saat ini, kalaupun kamu harus memilih pria di seluruh dunia ini, nama aku ada di urutan paling bawah. Atau bahkan nggak ada sama sekali."

Kirana terpaku. "Sat..."

"Tapi aku percaya satu hal," sela Satria lembut. "Cinta itu bukan soal siapa yang datang paling awal atau siapa yang paling pintar merangkai kata. Cinta itu tentang daya tahan. Tentang siapa yang tetap berdiri di sana saat angin paling kencang bertiup."

Satria berdiri dari lantai, merapikan jaketnya yang sedikit basah di bagian bahu. Ia menatap Kirana dengan senyuman paling tulus yang pernah Kirana lihat seumur hidupnya.

"Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku, Na. Meski saat ini kamu sama sekali tak cinta."

Kirana menahan napas. Kalimat itu tidak terdengar seperti keangkuhan atau kesombongan lelaki yang percaya diri berlebihan. Kalimat itu diucapkan dengan kepasrahan yang mendalam, berpadu dengan keyakinan yang begitu kokoh hingga rasanya sanggup meruntuhkan gunung.

"Gimana... gimana kalau aku nggak akan pernah bisa, Sat?" bisik Kirana, suaranya bergetar hebat. "Gimana kalau hatiku udah terlanjur mati rasa?"

Satria berjalan mendekati pintu keluar. Sebelum memutar gagang pintu, ia menoleh sebentar.

"Pintu rumah yang tua dan berkarat pun bisa dibuka kalau diteteskan minyak pelumas secara sabar setiap hari," ujar Satria pelan. "Beri aku waktu. Kamu nggak perlu paksa hatimu. Cukup biarkan pintunya sedikit terbuka. Biar waktu dan perbuatanku yang membukanya perlahan."

Pintu pun tertutup. Meninggalkan Kirana sendirian di ruang tamu yang mendadak terasa begitu luas—namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tidak lagi terasa dingin.

Bulan-bulan berikutnya tidak berubah menjadi cerita dongeng secara dramatis dalam semalam. Tidak ada kembang api atau deklarasi cinta yang membumbung tinggi. Semuanya berjalan alamiah, seperti pergantian musim yang tak disadari.

Satria tetap menjadi Satria. Ia tidak mendesak Kirana untuk melupakan masa lalunya. Ia tidak pernah menagih janji atau menuntut balasan atas kebaikannya.

Namun, cara Kirana memandang dunia mulai bergeser.

Ketika Kirana kelelahan setelah presentasi besar di kantornya, ia tidak lagi mencari pelarian dengan scrolling media sosial pria masa lalunya. Ia mendapati dirinya merindukan suara ketawa Satria yang renyah.

Ketika Kirana sakit kepala karena lelah bekerja, ia tidak lagi mengharapkan keajaiban dari orang yang tak peduli. Ia mendapati dirinya secara otomatis mengetik pesan singkat untuk Satria: "Sat, kopi hitam tanpa gula satu ya, kalau kamu lagi nggak sibuk."

Dan Satria selalu ada. Tanpa tapi, tanpa nanti.

Suatu sore di penghujung tahun, musim hujan kembali datang. Kedai kopi tempat cerita ini bermula masih berdiri kokoh dengan aroma biji kopi yang sama.

Kirana duduk di meja dekat jendela. Di depannya, Satria sedang sibuk mengetik laporan di laptopnya, sesekali mengernyitkan dahi jika menemukan baris data yang membingungkan. Kacamata berbingkai hitam yang dipakai Satria tampak sedikit melorot di pangkal hidungnya.

Kirana memperhatikan pria itu. Ia melihat garis-garis kelelahan di bawah mata Satria, kebiasaan pria itu mengetuk-netukkan jarinya ke meja saat berpikir, dan cara bibirnya tersenyum kecil setiap kali berhasil menyelesaikan satu paragraf laporan.

Tiba-tiba, sebuah hangat yang asing—namun sangat familiar—merebak di dada Kirana.

Ia menyadari sesuatu yang besar. Sesuatu yang merayap masuk tanpa suara selama bertahun-tahun, mengetuk pintu hatinya yang paling dalam, hingga akhirnya hari ini, pintu itu terbuka lebar dengan sendirinya.

"Sat," panggil Kirana pelan.

Satria menurunkan kacamatanya, mengalihkan pandangan dari layar laptop. "Ya, Na? Ada yang salah? Kopi kamu kurang manis?"

Kirana menggelengkan kepala. Ia meraih jemari tangan Satria yang berada di atas meja, menggegamnya erat. Jemari yang selalu siap sedia menopangnya setiap kali ia hampir jatuh.

Satria tampak terkejut. Matanya mengerda, menatap genggaman tangan mereka, lalu menatap mata Kirana dengan tanda tanya besar.

"Kamu benar," bisik Kirana, sudut matanya menggenang—bukan oleh air mata kesedihan, melainkan oleh rasa syukur yang luar biasa.

"Benar soal apa?" tanya Satria bingung.

"Kamu benar soal daya tahan. Soal minyak pelumas di pintu yang berkarat," Kirana tersenyum, manis sekali, membuat garis pipinya merona. "Kamu menang, Sat. Kamu berhasil buat aku jatuh cinta."

Satria membeku di tempatnya. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun mengenal pria itu, Kirana melihat ketenangan Satria runtuh. Pria yang biasanya selalu punya jawaban untuk segala hal itu kini hanya mampu melongo, menatap Kirana seolah tak percaya pada pendengarannya sendiri.

"Na... kamu bercanda?" suara Satria bergetar.

"Aku nggak pernah seyakin ini seumur hidupku," jawab Kirana mantap, mempererat genggaman tangannya. "Makasih ya, udah mau bertahan selamanya ini. Makasih udah nggak pernah nyerah sama aku."

Di luar jendela, hujan turun makin deras, membasahi jalanan kota yang riuh. Namun di dalam kedai kopi itu, di antara dua cangkir yang berasap tipis, sebuah risalah hati yang ditulis dengan kesabaran, waktu, dan keyakinan mutlak, akhirnya menemukan muara cintanya.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Bronze
Sudut Lancip
Zaga Masi
Cerpen
Bronze
Sekiranya Aku adalah Menantunya
Ron Nee Soo
Cerpen
Risalah Hati
Riverside Village
Komik
The Wager
Laras Dwi Putri
Novel
1 Wanita 3 Pewaris
Autami Anita
Novel
Gold
Honestly Hurt
Bentang Pustaka
Cerpen
Bronze
Untitled
Yuli Harahap
Novel
Air Mata Persandingan
Nafisah
Novel
The Don Gilded Cage
Daizy Fidela
Novel
Protokol Cinta -Season 1-
Dwitia Yanuanti
Komik
What Is Wrong With My Bodyguard?!
Ann Arbia
Komik
Princess Syndrome
Jang Shan
Novel
Our Lie
Dini Salim
Skrip Film
JANJI HATI AHMAD
Aries Supriady
Novel
Sejati
Deden Darmawan
Rekomendasi
Cerpen
Risalah Hati
Riverside Village
Cerpen
Meraih Mimpi Papa
Riverside Village
Cerpen
Jauh
Riverside Village
Cerpen
Malam Seram di Rumah Baru
Riverside Village
Cerpen
Gerbang Kebebasan
Riverside Village
Cerpen
Siulan di Pesantren Terlupakan
Riverside Village