Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
RIN
Senja selalu tiba lebih awal di rumah ini—mungkin karena matahari terburu-buru tenggelam, atau karena rumah ini memang enggan menampung cahaya terlalu lama.
Langit masih menggantung jingga kusam ketika aku berdiri di ambang pintu. Rumput di halaman telah menjalar seperti luka yang sengaja dibiarkan merekah. Mereka memeluk anak tangga, merayap ke pergelangan kakiku, seolah berbisik: kembalilah ke tanah.
Aku tahu aku harus membersihkannya.
Aku selalu tahu.
Tapi tubuh ini sudah lupa bagaimana caranya menurut.
Dan hari ini Mas Andra tidak pulang.
Aku bisa merasakannya bahkan sebelum malam sungguh-sungguh jatuh. Namun aku tetap menunggu. Sebab entah apa lagi yang patut kutunggu, selain keajaiban kecil yang tak pernah benar-benar pergi itu.
Aku melangkah masuk. Gelap menyelinap pelan, memenuhi sudut-sudut yang dulu riuh oleh suara.
Di balik jendela, aku mengintip ke jalan. Kebiasaan yang tumbuh tanpa sepengetahuan hati—seperti akar yang menjalar di bawah lantai, diam-diam mencengkram. Setiap malam aku berdiri di sini, menatap jalan tanah yang dingin, berharap ia mengembalikan seseorang.
Aku tahu Mas Andra takkan datang malam ini.
Tapi jika aku berhenti menatap, rasanya dadaku akan pecah.
Aku masih ingat—terlalu jelas, bahkan—kaca jendela kiri pernah pecah dilempari batu. Anak-anak nakal itu tertawa lalu berlari. Amarahku meledak tanpa kusangka: panas, buta, liar. Aku mengejar mereka, berteriak, lupa bahwa tubuh ini sudah rapuh.
Salah satu berhasil kususul. Ia menangis ketakutan, wajahnya pucat seperti kapas. Aku puas melihatnya gemetar.
Sekarang aku mengerti: bukan anak itu yang kumarahi.
Amarahku adalah untuk hidup yang telah berlaku curang.
Andai Mas Andra ada di sana.
Ia pasti akan menenangkanku.
Ia selalu begitu—lembut, sabar, seperti danau yang memilih menggendong perahu alih-alih menenggelamkannya.
Malam bertambah pekat. Orang-orang lewat di jalan depan. Sebagian kukenal, tapi aku tak lagi menyapa. Mereka pun tak pernah menyapaku.
Sejak aku sembuh dari sakit—atau sejak Mas Andra pergi—tak satu pun dari mereka berkunjung. Pernah kucoba menyapa, tapi suaraku keluar lirih, nyaris lenyap di udara malam. Tak ada yang menjawab.
Mereka berjalan cepat.
Mengayuh sepeda lebih kencang.
Melirik sekilas ke arah rumah ini, lalu buru-buru memalingkan muka.
Aku tahu apa yang mereka pikirkan: rumah ini tak terurus, penghuninya aneh, lebih baik dijauhi.
Mungkin mereka benar.
“Aku akan pergi, Rin…”
Suara itu masih menggantung di ingatan. Parau. Berat. Seperti jangkar yang ditimbam ke dasar laut.
“Berlayar ke Inggris. Tak tahu kapan kembali.”
Ia pergi tak lama setelah aku sembuh. Hari itu rumah ini penuh orang. Tangis, doa, bisik-bisik. Tapi ingatanku tentang hari itu seperti kain basah—tak bisa kuperas lagi.
Masuk akal jika pekerjaan berlayar memakan waktu lama. Kapalnya besar. Jalurnya jauh. Itulah jalan kami keluar dari kemiskinan.
Tapi waktu ini terlalu panjang.
Dan rindu tak pernah pandai menunggu.
Sandra…
Anak kami.
Ia pergi selamanya.
Sakit kuning. Mata kecilnya menguning pelan-pelan. Kami tak punya uang untuk dokter. Hanya obat kampung, doa, dan harapan yang kian menipis. Mas Andra lebih hancur dariku waktu itu—aku bisa melihatnya dari cara ia menatap langit setiap malam.
Tak lama setelah Sandra tiada, aku pun jatuh sakit. Mas Andra takut kehilangan aku juga. Takut rumah ini benar-benar sunyi.
Aku tak ingat bagaimana aku sembuh.
Yang kuingat hanya satu: setiap kali terbangun, pikiranku selalu tertambat padanya. Seperti jangkar yang tak sanggup diangkat.
Malam kian larut. Jalan depan rumah sepi. Kesepian kini tak lagi mengetuk—ia sudah lama duduk di dalam.
Aku menangis.
Di dapur.
Di ruang tengah.
Kadang di kamar.
Aku menangis hampir setiap malam, sampai tubuhku lemas dan tertidur di lantai yang dingin. Dalam sisa tenaga, kadang kuteriakkan namanya, seolah suara bisa menjembatani jarak antara yang hidup dan yang telah pergi.
Mas Andra…
Pagi datang. Aku terbangun di dapur. Lagi.
Tubuhku lemas. Tapi mungkin petang ini Mas Andra pulang. Ia akan membawaku ke dokter, membawa uang, dan hidup kami akan lebih baik.
Aku selalu memikirkan itu setiap pagi. Anehnya, menjelang sore tubuhku terasa sedikit lebih ringan. Kata orang, pikiran positif menyembuhkan.
Hari ini aku berbaring di ruang tengah, menyusun rencana-rencana kecil. Pergi ke kota. Bertemu teman. Ah—bukan saudara. Aku harus bicara soal Andre.
Andre yang tamak.
Yang berani menjual rumah ini.
Aku mengusirnya hari itu. Di depan calon pembeli. Dengan amarah yang tak kupedulikan risikonya. Beraninya menjual rumah abangmu saat ia tak ada?
Hujan turun tiba-tiba. Gemuruh menggetarkan langit. Kilat menyambar, menerangi ruang sekejap.
Aku takut.
Tak ada siapa-siapa.
Aku sendiri.
Mas Andra…
Ini tidak adil…
Aaarrgggghhhhh!!!
Di luar, suara teriakan Ririn membelah hujan. Derasnya air dan gemuruh petir tak mampu menutupi jeritan itu. Begitu mendengarnya, Parman mengayuh sepeda sekencang mungkin, menjauhi rumah kosong itu. Jalanan licin membuatnya terjatuh berkali-kali, tapi ia tak peduli—yang penting segera pulang.
Sesampainya di rumah, Yati terperanjat melihat suaminya basah kuyup, berlumpur, dengan luka lecet di lengan dan kaki.
“Kenapa, Pak?” tanya Yati, mata membulat.
Masih pucat, Parman menjawab lirih,
“Dia… aku lewat rumahnya Andra, rumah kosong itu.”
“Ya ampun… ada yang teriak lagi?” Yati mencerna. “Bukannya sudah lama tidak terdengar?”
“Ho oh,” sahut Parman singkat.
“Kelihatan tidak?”
“Tidak… tapi suaranya mengerikan.”
“Astaga… ini belum malam,” gumam Yati.
Parman menatap istrinya lurus.
“Pokoknya malam nanti jangan biarkan Tardi keluyuran, apalagi lewat rumah kosongnya Andra.”
Tanpa menunggu jawaban, ia berjalan ke kamar mandi. Sambil menutup pintu, ia berseru,
“Ambilkan aku handuk.”
Yati masih tertegun. Ia mengambil handuk dengan kening berkerut. Dari luar kamar mandi, ia berkata mantap,
“Aku makin yakin, Pak… itu pasti Neng Ririn.”
Parman tak menanggapi. Hanya suara air mengguyur terdengar, diselingi gerutuan dan rintihan kecil saat luka lecetnya perih tersiram.
Keluar dari kamar mandi, Parman kembali menegaskan,
“Bilang ke Tardi, malam ini tidak boleh keluar.”
Yati bersikeras, “Itu suara Neng Ririn, kan?”
Parman hanya menghela napas panjang, menghindari tatapan istrinya.
<epilog>
“Lalu apa masalahnya, Nak?” tanya Mbah Sarno, menatap lurus pria kurus di depannya yang tampak nelangsa. Dari raut wajahnya, jelas pria muda itu sedang terdesak.
Andre, pria kurus tersebut, mulai bercerita dengan suara berat.
“Aku butuh uang… utangku menumpuk. Satu-satunya harapanku hanya rumah dan tanah peninggalan almarhum kakakku, Andra. Sepeninggalnya, akulah satu-satunya pewaris sah. Anak semata wayangnya, Sandra, meninggal saat berusia tujuh tahun. Dua tahun kemudian, kakak iparku juga menyusul, meninggal karena sakit yang sama—sakit kuning.
Kakakku Andra lalu pergi berlayar. Sebulan kemudian aku mendapat kabar kapal yang ditumpanginya tenggelam. Banyak saksi selamat mengatakan ia berada di kamar mesin, ikut terkubur bersama kapal di dasar Selat Melaka. Akulah satu-satunya ahli waris yang tersisa, lengkap dengan surat resmi dari kelurahan yang berkekuatan hukum.
Mbah… masalahku hanya satu: tidak ada yang mau membeli rumah dan tanah peninggalan kakakku.”
“Kenapa?” tanya Mbah Sarno.
“Karena kakak iparku menghantui rumah itu.” jawab Andre.
Mbah Sarno terdiam, matanya menerawang jauh. Dengan suara pelan dan jelas ia berkata,
“Nak, dulu itu memang pekerjaanku. Tapi sekarang tidak lagi. Pergilah cari orang lain untuk masalahmu.”
Andre memohon dengan suara putus asa,
“Mbah, tolonglah aku… usir hantu kakak iparku, bersihkan rumah itu.”
Namun Mbah Sarno hanya menggeleng, tetap teguh pada pendiriannya. Ia mengulangi kata-katanya,
“Aku tidak lagi berurusan dengan makhluk halus. Kuharap kamu mengerti, Nak.”
Andre sadar ia tak bisa memaksa Mbah Sarno, yang konon sudah lama pensiun. Ia menghela napas panjang, bergumam lirih,
“Ah, sudahlah…”
“Untuk sementara, aku akan menyingkir ke Kalimantan. Mereka tak akan sampai ke sana hanya untuk menagih utang.”
Dengan langkah lunglai, Andre pergi, menuju masa depan yang tak pasti.
—Tamat
Rico Tsiau
Siak Sri Indrapura, Februari 2026