Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Horor
Bronze
Retak
0
Suka
8,201
Dibaca

Clara tidak pernah menyangka bahwa pameran seni "Persepsi Tersembunyi" akan mengubah hidupnya. Itu adalah malam yang dingin, tapi ruangan galeri dipenuhi kehangatan lampu sorot yang menyoroti kanvas-kanvas. Aroma cat minyak dan kopi yang baru diseduh menyatu, menciptakan suasana yang akrab dan merangsang. Clara, seorang seniman muda dengan bakat yang tak terbantahkan namun dihantui oleh keraguan diri, berdiri di depan salah satu karyanya—sebuah potret abstrak yang menggambarkan badai emosi dalam palet warna biru dan ungu gelap. Karya itu adalah cerminan jiwanya yang sedang bergejolak, dan Clara merasa telanjang di hadapan setiap orang yang melihatnya.

Dia merasa cemas. Karyanya dipajang di samping seniman-seniman yang lebih mapan. Dia mengamati orang-orang yang lewat, berharap bisa mendengar satu komentar positif. Namun, yang dia dengar hanyalah bisik-bisik yang tidak dia mengerti, atau tatapan sekilas yang membuatnya merasa tidak berarti. Dia merasa ingin melarikan diri, kembali ke studio kecilnya yang penuh dengan bau terpentin, di mana dia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa rasa takut dihakimi.

"Karya itu... sangat jujur," sebuah suara berat namun lembut membuyarkan lamunannya.

Clara berbalik dan menemukan seorang pria berdiri di sampingnya. Dia tinggi, dengan bahu lebar yang pas di jas abu-abu gelapnya. Rambutnya hitam legam, ditata rapi, dan matanya... matanya adalah hal pertama yang menarik perhatian Clara. Mata itu berwarna cokelat tua, seolah menyimpan rahasia yang tak terhitung jumlahnya. Ada kerlingan nakal di sana, namun juga kehangatan yang meyakinkan. Dia tersenyum, dan senyum itu menjangkau matanya, membuat Clara merasa seolah-olah dia adalah satu-satunya orang di ruangan itu.

"Saya Leo," katanya, mengulurkan tangannya yang hangat.

"Clara," jawabnya, sedikit terkejut. Tangan mereka bersentuhan, dan untuk sesaat, Clara merasa seolah-olah arus listrik kecil mengalir melalui dirinya.

"Aku sangat menyukai caramu menggunakan warna. Biru itu... ada kesedihan yang indah di sana, tapi juga kekuatan. Seperti ombak yang siap menelan segalanya, namun juga menahan dirinya. Itu... sangat puitis," Leo melanjutkan, tatapannya tidak pernah lepas dari kanvas.

Pujian itu bukan pujian yang biasa. Bukan sekadar "bagus" atau "menarik." Leo melihat sesuatu yang jauh lebih dalam, sesuatu yang hanya Clara sendiri yang tahu ada di sana. Keraguan Clara perlahan mencair, digantikan oleh rasa penasaran dan kelegaan. Seseorang akhirnya melihatnya, bukan hanya melihat karyanya.

"Terima kasih," bisik Clara, suaranya hampir tidak terdengar. "Itu... itu yang ingin aku sampaikan."

"Aku bisa merasakannya," Leo mengangguk, lalu menoleh padanya. "Kau tahu, banyak orang yang melihat seni hanya dari permukaannya. Mereka melihat bentuk, warna, tapi tidak melihat jiwa di baliknya. Tapi karyamu... karyamu memiliki jiwa yang bergejolak. Aku suka itu."

Mereka berbicara selama hampir satu jam. Leo tidak hanya berbicara tentang seni. Dia berbicara tentang kehidupan, tentang kota, tentang buku-buku yang dia baca. Dia berbicara dengan pengetahuan yang luas dan semangat yang tulus. Dia membuat Clara merasa cerdas, menarik, dan berharga. Dia memberinya validasi yang Clara damba-dambakan selama bertahun-tahun.

"Aku harus pergi," kata Leo, dengan nada penyesalan yang terlihat jelas. "Tapi aku akan senang jika kita bisa bertemu lagi. Aku ingin melihat lebih banyak karyamu, dan mendengarkan lebih banyak ceritamu."

Dia mengeluarkan kartu nama dari dompetnya. Kartu itu sederhana, hanya nama dan nomor telepon, tanpa jabatan yang mencolok. "Hubungi aku kapan saja," katanya, dengan senyum terakhirnya yang menghangatkan.

Set...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp14.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Cerpen
Bronze
Retak
Christian Shonda Benyamin
Novel
Komplotan Tidak Takut Hantu
Mohamad Novianto
Novel
Bronze
Kembang Sukmo
Keefe R.D
Flash
Bawah Tangga
Nurwahiddatur Rohman
Flash
Black
Rama Sudeta A
Novel
TOLONG RUMAHNYA DIRAWAT
Indra S Miraj
Cerpen
Sunyi Terlarang
devina
Novel
Bronze
Gadis Kecil Dalam Cermin
Azeela Danastri
Novel
Bronze
DIA ADA DI APARTEMEN
Embart nugroho
Novel
Renggut
Eve Shi
Flash
Eksistensi
Dark Specialist
Cerpen
Bronze
SETAN RUMAH B2A
Ranang Aji SP
Cerpen
Senyap di Malam
ASEP SAEPULOH
Novel
Bronze
Diluar Nalar
Terajaana
Novel
TEMANI AKU
Brigita Yurictia Lela
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Retak
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Jumat Akhir Bulan Juli
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kakek Memanggil
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Pintu Retak
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Batas Senja Berbisik
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Pulau Terasing
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Hutan Larangan
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Delusi Atau Nyata
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Panggilan 000
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Galeri Lukisan Oscar
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Ouija
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Rantai Pemicu
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Luka Di Kota Tua
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Novel Tanpa Akhir
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Email Maut
Christian Shonda Benyamin