Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
PRAKK!
Tuan Raden melemparkan selembar kertas hasil ujian ke atas meja kaca, tepat di hadapan Renara. Kertas itu bergemerisik riuh sebelum akhirnya tergeletak pasrah. Di sana, deretan huruf 'C' tertulis besar-besar dengan tinta merah.
Padahal, nilai itu didapatkan Renara dengan taruhan air mata. Hasil dari tubuh yang dipaksa terjaga hampir siang dan malam, menatap buku-buku tebal sampai kepalanya pening. Namun, di ruangan ini, perjuangan itu tidak pernah dihargai. Ayahnya, jelas tidak pernah menyukai sisi buruknya ini.
"Lagi-lagi kau mendapat nilai jelek?! Renara, ada apa denganmu? Apa benar-benar tidak ada satu pun hal yang bisa kubanggakan darimu, hah?!"
Renara menunduk dalam. Jari-jarinya meremas ujung celana seragamnya dengan gemetar. Dia tidak mampu—dan tidak akan pernah berani—menatap mata ayahnya yang kini diliputi amarah murni.
"Kau bukan anak dari kalangan tidak mampu! Kau mendapatkan les, bimbel, dan banyak sekali kelas tambahan secara cuma-cuma tanpa perlu memikirkan biaya apa pun!" bentak Tuan Raden, suaranya menggelegar di ruang tengah yang sepi.
Tuan Raden berjalan mendekat, menatap Renara dengan pandangan menghina. "Dan kau... kalah oleh anak kampung yang hanya mengandalkan beasiswa? Kau benar-benar membuat malu keluarga ini!"
"Pah, sudah, Pah..." Hanum melangkah maju, mencoba menahan lengan suaminya untuk mencairkan suasana yang kian memanas. "Papa sendiri tahu kalau Renara punya kekurangan. Nilai Renara juga sebenarnya sudah lebih bagus dari ujian bulan lalu."
Tuan Raden tertawa hambar, sebuah tawa yang terdengar menyakitkan di telinga Renara. "Iya, kekurangan! Dan harusnya, dia belajar lebih keras untuk menutupi kekurangannya itu! Jangan hanya menjadi beban dan noda di keluarga ini..."
"Pah..." Hanum menggeleng, memohon agar suaminya berhenti bicara sebelum kalimatnya makin melukai Renara.
Namun, Tuan Raden tidak peduli. Tatapan tajamnya kembali menghunus Renara yang masih bergeming seperti patung. "Kamu! Seminggu ini jangan harap bisa keluar rumah begitu saja. Pulang sekolah, langsung masuk kamar dan belajar! Mengerti?!"
Renara menunduk. Tidak mampu menatap tatapan Papa nya yang
.
.
Sebagai anak bungsu di keluarga Wijaya, Renara sadar betul bahwa hidupnya hanyalah sebuah panggung perbandingan. Kakak-kakaknya selalu terlihat sempurna tanpa cela, sementara dia? Kenyataan bahwa dirinya selalu berada jauh di bawah standar sang ayah benar-benar menampar Renara setiap hari, mengukuhkan posisinya sebagai anak paling tidak berguna di rumah itu. Anak yang keberadaannya dianggap sebagai aib.
Langkah kaki Renara terdengar sunyi saat dia berjalan seorang diri menyusuri koridor sekolah. Jam pelajaran terakhir baru saja usai. Di sekelilingnya, lorong mulai sepi, menyisakan beberapa kelompok murid yang berjalan beriringan sambil tertawa lepas. Sementara Renara? Dia melangkah dalam keheningan, mendekap buku-buku cetak yang tebal dan berat di dadanya.
"Eh, habis ini kita ke kafe komik lagi, yuk! Bil, bisa kan?"
"Bisa, sih. Soalnya hari ini gue enggak ada les apa-apa."
"Wih, beneran?"
"Oke. Tapi, Daren yang traktir!"
"Siap! Abang Daren yang traktir Dek Nabil."
"Dih, najis, Daren! Stop menganggap diri lo abang gue!"
"Lucu banget, sial. Lo tuh kenapa sih bentukannya gemesin, Nabil?"
"Gue bilang stop bilang gue gemes!"
Renara terus melangkah, mengabaikan obrolan seru yang mengalun di belakangnya. Dia tidak menoleh sedikit pun, meski samar-samar dia tahu siapa pemilik suara-suara ceria itu.
Jujur saja, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Renara juga ingin seperti anak-anak lain. Pulang sekolah, nongkrong, dan bermain sampai puas tanpa beban pikiran.
Namun jangankan bermain, memiliki seorang teman saja rasanya seperti kemewahan yang mustahil untuk dicapai olehnya. Ambisi gila sang ayah telah merenggut seluruh kehidupan sosialnya, mengurungnya dalam lingkaran belajar yang mencekik.
Jangan bermimpi, Renara! Hidupmu itu ada hanya untuk membanggakan Ayah. Jika kau tidak sempurna, kau bisa saja dipukuli lagi malam ini! Suara batin itu berbisik ketakutan, menghantam kesadarannya. Menyadari bayang-bayang amarah ayahnya sudah menanti di rumah, Renara buru-buru mempercepat langkah kakinya, setengah berlari menuju mobil jemputan yang sud...