Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Hujan turun sejak siang, membasahi bumi dengan irama yang konstan dan dingin.
Air mengalir deras di permukaan kaca jendela kelas, membentuk garis-garis air kecil yang merayap turun sebelum akhirnya melebur dan menghilang. Jam pelajaran telah berakhir sejak setengah jam lalu. Sebagian besar murid sudah bergegas pulang menembus gerimis, sedangkan sisanya masih bertahan di dalam ruangan, menunggu langit sedikit lebih cerah.
Hendrik duduk bersandar di kursi kayu dekat jendela. Di sampingnya, Tina mengenakan satu earphone di telinga kirinya sambil perlahan menganggukkan kepala mengikuti irama lagu yang mengalun dari ponselnya.
Hendrik meliriknya. “Itu lagu apa?”
Tina melepaskan earphone itu lalu menyodorkannya. “Remember Me.”
“Lagu dari film Coco?”
Tina mengangguk pelan.
Hendrik mengambil earphone tersebut lalu memasangnya di telinganya sendiri. Musik instrumental bercampur alunan vokal lembut langsung memenuhi pendengarannya, menghantarkan kehangatan yang mendalam sekaligus menyisakan keheningan yang sayu.
“Kenapa kamu suka lagu ini?” tanya Hendrik, menoleh menatap gadis di sebelahnya.
Tina tidak langsung menjawab. Ia mengalihkan pandangannya menatap hamparan hujan di luar jendela. “Sebab aku ingin diingat saat aku sudah tiada.”
Hendrik mengernyit. “Jangan bicara hal konyol.”
Tina tertawa kecil. “Aku serius.”
“Kamu masih muda. Kenapa sudah bicara soal tiada?”
“Karena semua orang pasti pergi pada akhirnya, kan?” jawab Tina santai.
“Kalau begitu, pergilah nanti saja saat sudah tua. Masih sangat lama.”
Tina kembali tertawa. Tawanya terdengar amat ringan dan jernih, seolah dunia ini tidak memiliki sedikit pun alasan untuk membuatnya sedih.
Hendrik menggelengkan kepala. “Kamu aneh.”
“Kamu yang aneh.”
“Kenapa jadi aku?”
“Kamu bertanya lagu apa, tapi begitu tahu, kamu malah ikut mendengarkannya sampai habis.”
“Ya... karena lagunya bagus.”
“Bukan karena diputar olehku?”
“Jangan terlalu percaya diri.”
Tina tersenyum tipis. Ia tidak membalas lagi, melainkan menangkupkan kedua tangannya di atas meja lalu meletakkan kepalanya di sana. Di luar, hujan bertambah deras, mematikan seluruh kebisingan kota di balik dinding kaca.
padatnya waktu berjalan, mereka telah berteman cukup lama. Tidak pernah ada deklarasi atau pernyataan cinta di antara mereka. Tidak ada janji manis, apalagi status hubungan yang resmi. Mereka hanya dua remaja yang selalu duduk berdampingan di kelas, berjalan menyusuri trotoar saat pulang sekolah, dan saling berkirim pesan singkat hingga larut malam. Mereka kerap membicarakan hal-hal sepele yang kini bahkan tak lagi sanggup diingat Hendrik secara terperinci.
Namun, di antara sekian banyak obrolan acak itu, ada satu mimpi sederhana yang selalu mereka ulang. Suatu hari nanti ketika mereka sudah tumbuh dewasa dan mapan, mereka ingin memiliki sebuah rumah kecil. Tidak perlu megah atau mewah, cukup sebuah rumah yang nyaman dengan ruang tamu yang hangat, sebuah sofa empuk, dan jendela kaca yang besar. Saat hujan deras turun, mereka akan duduk bersama di sana sambil menikmati secangkir kopi hangat, membiarkan waktu berlalu tanpa perlu saling mengucapkan patah kata.
“Kalau nanti hujan turun di rumah itu, jangan lupa ajak aku,” kata Tina pada suatu sore yang berangin.
“Kenapa harus mengajakmu?” goda Hendrik.
“Karena kamu suka hujan.”
“Kamu juga suka.”
“Makanya kita cocok.”
Hendrik tertawa mendengar ucapan polos itu. “Cocok apanya?”
Tina hanya tersenyum samar tanpa memberikan jawaban, membiarkan teka-teki itu menggantung indah di udara.
Waktu bergulir tanpa kompromi. Belasan tahun berlalu bagai hembusan angin. Hendrik tumbuh dewasa, sudut-sudut kota lama mulai bersolek dan berubah bentuk, sementara orang-orang dalam hidupnya datang dan pergi silih berganti. Namun, bayangan tentang Tina tak pernah benar-benar memudar dari ingatannya. Hendrik masih mengingat jelas suaranya, nada tawanya yang lepas, kebiasaannya memiringkan kepala saat kebingungan, hingga binar matanya saat menatap bulir-bulir air yang jatuh dari langit.
Kadang, ketika secara tak sengaja mendengarkan lagu Remember Me di tempat umum, memori Hendrik langsung terlempar kembali ke ruang kelas tua itu. Ia teringat ucapan Tina: “Aku ingin diingat saat aku sudah tiada.”
Dulu, ia menganggap kalimat itu hanyalah drama remaja yang konyol. Namun kini, setelah mengecap pahit manisnya pendewasaan, ia baru mengerti. Seseorang tidak harus benar-benar meninggal dunia untuk menjadi sekadar bagian dari masa lalu. Kadang, orang tersebut masih bernapas dan melangkah di bumi yang sama, hanya saja ia tak lagi memiliki porsi di dalam kehidupan kita.
Suatu sore, langit kembali gelap dan hujan deras mengguyur kota. Hendrik duduk sendirian di ruang tamu rumahnya yang tenang. Rumah itu tidak besar, namun memiliki sofa yang nyaman dan sebuah jendela kaca besar yang menghadap ke halaman, persis seperti gambaran rumah impian yang dulu sering mereka perbincangkan. Hanya ada satu hal utama yang kurang: Tina tidak ada di sana.
Hendrik mengambil ponsel dari saku celananya dan membuka aplikasi Instagram. Jemarinya menggulir layar tanpa arah yang pasti, hingga sebuah unggahan foto terbaru muncul di linimasa.
Itu foto Tina.
Gadis itu berdiri anggun di halaman sebuah rumah yang asri. Kedua jemarinya mengusap lembut perutnya yang kini mulai membesar. Di sampingnya, seorang pria berdiri merangkul pinggangnya dengan tatapan penuh kasih. Suaminya. Tina tersenyum amat cerah dan hangat ke arah kamera. Itu adalah senyuman indah yang sama persis seperti belasan tahun lalu, namun kini kehangatan itu bukan lagi diperuntukkan bagi Hendrik.
Hendrik terpaku menatap layar ponselnya cukup lama. Ada keheningan yang mendadak menyeruak di dadanya, menimbulkan rasa sesak yang asing. Itu bukanlah rasa cemburu, iri hati, atau amarah. Itu hanyalah sebuah rasa kehilangan yang amat sunyi, jenis kerinduan pada masa lalu yang tak akan pernah bisa diputar kembali.
Hendrik tersenyum tipis, mengusap layar ponselnya pelan. “Jadi... kamu akan segera menjadi seorang ibu.”
Ia menekan tombol suka pada unggahan tersebut, lalu meletakkan ponselnya di atas meja kayu.
Di luar, ketukan air hujan pada atap terdengar kian nyaring. Hendrik bangkit dari duduknya, berjalan perlahan mendekati jendela besar, lalu kembali mendaratkan tubuhnya di atas sofa. Ia menatap lebatnya air yang jatuh dari langit. Dulu, mereka berjanji untuk duduk bersama di tempat seperti ini, menyesap kopi hangat, dan bernostalgia hingga usia senja. Namun, takdir rupanya merajut jalan cerita yang berbeda untuk mereka berdua.
Rumah impian ini akhirnya terwujud. Sofanya ada di sini, dan hujan yang mereka cintai pun sedang turun dengan lebatnya. Hanya saja, sosok yang seharusnya duduk tepat di sampingnya telah melangkah jauh menuju takdir kehidupan yang lain.
Hendrik meraih pengontrol suara, lalu memutar sebuah lagu lama melalui pemutar musik ruangan: Remember Me. Alunan nada instrumental yang khas dan sentimental itu perlahan mengalir, mengisi setiap sudut ruang tamu yang hampa.
Hendrik tersenyum, meski pelupuk matanya kini mulai menggenang basah. “Tenang saja, Tina,” bisiknya lirih pada kesunyian. “Aku masih mengingat semuanya.”
Ia mengingat jelas suara lembutnya, paras wajahnya, derai tawanya, serta seluruh kenangan indah yang pernah mereka ukir bersama. Tina pernah berkata bahwa ia ingin tetap diingat saat dirinya telah tiada. Kini Hendrik menyadari satu hal yang mendalam: Tina tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya telah bertransformasi menjadi seseorang yang tak lagi bisa duduk di sisinya.
Di luar, hujan masih mengguyur bumi tanpa henti. Di dalam ruang tamu impian mereka, Hendrik duduk sendirian dalam ketenangan, dibelai oleh alunan lagu yang terus bergema, sebuah penanda abadi bahwa terkadang, seseorang tidak perlu hadir secara fisik untuk bisa tetap tinggal selamanya di dalam ingatan.