Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Religi
Religion School
0
Suka
237
Dibaca

RELIGION SCHOOL: DOMBA YANG TERSESAT

Di era modern, manusia hidup dalam kemajuan teknologi yang luar biasa. Informasi mengalir tanpa batas, ilmu pengetahuan berkembang pesat, dan logika dijadikan tolok ukur utama dalam menilai kebenaran. Namun di balik semua itu, ada satu hal yang perlahan ditinggalkan: agama.

Anak muda di zaman sekarang banyak yang tumbuh tanpa ikatan spiritual. Sebagian memilih menjadi ateis, sebagian lagi agnostik. Bagi mereka, agama dianggap kuno, tidak relevan, bahkan tidak masuk akal. Kitab suci dinilai hanya dongeng masa lalu, sementara moral dianggap cukup diatur oleh hukum dan akal manusia.

Akibatnya mulai terasa. Banyak manusia kehilangan arah hidup. Kejahatan meningkat, empati memudar, dan nilai benar–salah menjadi kabur. Dunia terasa maju, tetapi jiwa manusia kosong.

Di tengah kondisi itu, di sebuah negara bernama Indonesia, berdirilah sebuah sekolah agama tingkat SMA bernama Religion School, atau dalam bahasa Indonesia disebut Sekolah Agama.

Sekolah itu dulunya sangat ramai. Religion School dibangun untuk memenuhi kebutuhan generasi muda agar mempelajari agama secara mendalam. Di sana, siswa dari berbagai latar belakang agama belajar di jurusan masing-masing: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Yahudi. Tujuan awalnya mulia—agar setelah lulus, mereka dapat menjadi pendakwah, pemuka, atau setidaknya manusia yang berpegang pada nilai-nilai kitab suci.

Namun waktu mengubah segalanya.

Seiring perkembangan zaman, peminat sekolah itu semakin berkurang. Gedung-gedung kelas mulai kosong, beberapa jurusan hampir ditutup, dan hanya sedikit guru yang masih bertahan dengan keyakinan bahwa agama masih dibutuhkan manusia.

Awal Perjalanan Yesaya

Di sebuah kota kecil, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Yesaya Kevin Anggara. Sejak kecil, Yesaya sering menemani ayahnya, Pendeta Daniel Anggara, melayani di gereja.

Namun gereja itu tak lagi seperti dulu.

Bangku-bangku kayu berdebu. Suara nyanyian jemaat nyaris tak terdengar. Sudah hampir setahun gereja itu sepi. Dan bukan hanya gereja ayahnya—hampir semua gereja di Indonesia mengalami hal yang sama.

Suatu sore, setelah ibadah dengan hanya lima jemaat, Yesaya kecil duduk di samping ayahnya di altar.

“Ayah,” tanya Yesaya polos, “kenapa sekarang gereja sepi?”

Pendeta Daniel terdiam lama. Matanya memandang salib kayu besar di depan mereka.

“Karena manusia mulai meninggalkan Tuhan, Nak,” jawabnya pelan. “Mereka merasa tidak lagi membutuhkan agama.”

Yesaya menunduk. Ia belum sepenuhnya mengerti.

Pendeta Daniel lalu menatap anaknya dengan serius.

“Jika suatu hari kamu ingin tahu kebenaran tentang agama… dan mengapa agama semakin dijauhi manusia,” katanya, “setelah kamu lulus SMP, masuklah ke Religion School.”

Yesaya mengangkat kepala.

“Ayah titip satu pesan penting,” lanjut ayahnya. “Carilah Injil Barnabas. Kitab itu hanya ada di Religion School. Hanya Kepala Jurusan Kristen yang diizinkan menyimpannya.”

“Kenapa kitab itu penting, Yah?” tanya Yesaya.

Pendeta Daniel tersenyum tipis, namun matanya menyimpan kegelisahan.

“Karena di sanalah kamu akan menemukan jawaban tentang kebenaran… dan mengapa manusia mulai kehilangan iman.”

Religion School yang Sunyi

Bertahun-tahun kemudian, Yesaya menepati janji itu.

Ia resmi menjadi siswa Religion School—sekolah yang kini nyaris terlupakan. Dari ratusan kursi di aula utama, hanya belasan siswa yang hadir pada hari pertama.

Di sanalah Yesaya bertemu dengan teman-teman yang kelak mengubah hidupnya:

Anisa Zainab Anggraini, siswi Muslimah yang cerdas, lembut, dan teguh menjaga akhlaknya.

Turah Partayana, pemuda Hindu yang penuh rasa ingin tahu dan memegang teguh nilai dharma.

Arya Hutagaluh, siswa Buddha yang tenang, penuh welas asih, dan bijaksana dalam bertindak.

Devorah Hallel Mawar, siswi Yahudi yang kritis, berani bertanya, dan tak takut menggugat pemahaman lama.

Mereka berasal dari keyakinan yang berbeda, tetapi memiliki satu kesamaan: mencari kebenaran, bukan sekadar mengikuti tradisi.

Namun semakin lama Yesaya berada di sekolah itu, semakin ia menyadari sesuatu yang janggal. Banyak buku lama disegel. Beberapa ruang arsip terkunci rapat. Dan setiap kali ia menanyakan Injil Barnabas, para guru terlihat ragu dan saling melempar pandang.

Di sisi lain, penyimpangan mulai muncul di antara para siswa. Ada yang meninggalkan ibadah, ada yang membenarkan dosa atas nama kebebasan, dan ada pula yang terjerumus pada pemikiran gelap—bisikan halus yang menanamkan kebencian pada diri sendiri, agama, dan Tuhan.

Anisa, Turah, Arya, dan Devorah menyadari satu hal yang sama:

Teman-teman mereka bukan menjadi jahat—mereka sedang tersesat.

Hingga suatu malam, Kepala Jurusan Kristen memanggil Yesaya ke ruangannya.

“Jika kamu benar-benar ingin tahu kebenaran,” katanya dengan suara berat, “bersiaplah. Karena kebenaran tidak selalu membuat manusia nyaman.”

Di atas meja tua itu, tergeletak sebuah kitab berdebu—Injil Barnabas.

Saat Yesaya membuka halaman pertamanya, ia sadar bahwa perjalanan hidupnya, dan mungkin masa depan Religion School, akan berubah selamanya.

Dan bersama Anisa, Turah, Arya, dan Devorah,

ia akan menghadapi satu tugas berat:

memberantas penyimpangan, melawan bisikan iblis,

dan menyelamatkan domba-domba yang tersesat—

tanpa kebencian, tanpa paksaan, hanya dengan iman dan cahaya.

Di situlah kisah sesungguhnya baru saja dimulai.

RELIGION SCHOOL: DOMBA YANG MEMBERONTAK

Malam yang Tidak Seharusnya Didengar

Malam di asrama Kristen biasanya sunyi.

Hanya suara jam dinding dan langkah penjaga malam yang sesekali melintas.

Namun malam itu berbeda.

Yesaya terbangun dari tidurnya dengan kepala berat. Kandung kemihnya terasa penuh. Dalam setengah sadar, ia melangkah menuju kamar mandi umum di ujung lorong asrama dewasa—area yang hanya digunakan oleh penghuni dan staf yang sudah berusia di atas delapan belas tahun.

Lampu kamar mandi menyala redup.

Saat itulah Yesaya mendengar sesuatu dari bilik sebelah—

suara yang tidak seharusnya ada di tempat suci itu.

Bukan suara air.

Bukan doa.

Yesaya membeku.

Ia tidak langsung mengintip. Nalurinya menolak. Tapi rasa tidak percaya memaksanya menoleh sekilas—cukup untuk memastikan kenyataan yang menghantamnya seperti palu.

Di dalam bilik itu ada Vito, penghuni asrama dewasa yang terbuka menyatakan orientasi seksualnya.

Dan bersamanya… Pak Ragil, guru lagu rohani yang selama ini dikenal paling lantang berbicara tentang kesucian.

Yesaya menutup mulutnya. Dadanya sesak.

Bukan karena kebencian.

Melainkan karena kehancuran iman yang ia saksikan.

Ia mundur perlahan, bersembunyi di balik bayangan lorong, jantungnya berdentam. Ia tidak ketahuan. Namun sesuatu di dalam dirinya runtuh malam itu.

Kebingungan Seorang Beriman

Sepanjang malam Yesaya tidak tidur.

Pikirannya dipenuhi pertanyaan:

Apakah ini dosa?

Apakah ini penyakit jiwa?

Atau justru aku yang tidak berhak menilai?

Ia tidak membenci Vito.

Ia tidak ingin menghancurkan Pak Ragil.

Namun ia tahu satu hal: ini bukan sekadar urusan pribadi.

Ini adalah penyalahgunaan kepercayaan.

Ini adalah pengkhianatan terhadap amanah iman.

Dan yang paling menakutkan—

ini adalah domba yang tidak hanya tersesat, tapi memberontak dan menyesatkan yang lain.

Pertemuan Rahasia

Keesokan harinya, Yesaya menemui mereka.

Anisa Zainab Anggraini langsung tahu ada yang tidak beres dari wajah Yesaya.

“Ada apa?” tanyanya pelan.

Yesaya menarik napas panjang, lalu menceritakan semuanya—tanpa emosi berlebihan, tanpa menambah-nambahi.

Ruangan hening.

Turah menutup mata.

Arya menunduk lama.

Devorah menghela napas berat.

“Ini bukan soal orientasi,” kata Devorah akhirnya.

“Ini soal penyalahgunaan kuasa dan kemunafikan.”

Anisa mengangguk.

“Dan soal bisikan yang membuat dosa terlihat wajar,” tambahnya.

“Setan tidak selalu mengajak manusia berbuat jahat. Kadang ia hanya membisikkan: ‘Ini bukan masalah.’”

Mencari Kebenaran, Bukan Sensasi

Mereka sepakat satu hal:

tidak bertindak gegabah.

Tidak menyebar gosip.

Tidak menghakimi di depan umum.

Tidak menjatuhkan siapa pun tanpa bukti.

Arya mengingatkan,

“Kebenaran tanpa kebijaksanaan akan berubah jadi senjata.”

Mereka mulai mengamati.

Mencatat kejanggalan jadwal.

Mencari saksi lain yang dewasa.

Dan mengumpulkan bukti—bukan untuk balas dendam, tetapi untuk melindungi sekolah dan jiwa-jiwa lain.

Anisa menegaskan,

“Kita tidak membenci pelaku.

Tapi kita tidak boleh membiarkan dosa dipoles menjadi kebenaran.”

Domba yang Memberontak

Kasus ini membuka mata mereka.

Ada siswa dan staf lain yang mulai mengikuti pola serupa.

Ada yang terang-terangan menertawakan nilai kesucian.

Ada yang berkata,

“Yang penting saling suka. Tuhan pasti mengerti.”

Yesaya menggenggam Injil di tangannya.

“Jika Tuhan hanya kita pakai untuk membenarkan keinginan,” katanya lirih,

“maka yang kita sembah bukan Tuhan… tapi diri sendiri.”

Pelajaran Pahit

Malam itu, Anisa menulis di catatannya:

Tidak semua domba ingin kembali.

Sebagian memilih memberontak, lalu mengajak yang lain ikut lari.

Tugas kami bukan memaksa,

melainkan menghentikan kebohongan agar tidak menyamar sebagai kebenaran.

Di Religion School, badai baru sedang terbentuk.

Dan kali ini,

musuhnya bukan dari luar—

melainkan dari dalam rumah iman sendiri.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Religi
Cerpen
Religion School
Fadlinursufi
Novel
Gold
Para Penentang Muhammad Saw
Mizan Publishing
Cerpen
DUA ARAH
salshahdid8
Flash
Dia
Ang.Rose
Komik
Bronze
Notificalove
Rahayu setioningsih
Novel
My Destiny is You
Almayna
Flash
Bronze
Ada Anak Bertanya Pada Ibunya
Ari S. Effendy
Novel
Hardika El Zhirazy & Sheryl Az Zahrah
fini arkani
Flash
Kepunahan si Bungsu
Musrifah Anjali
Novel
AARON & BOCAH CAHAYA
Alvin Suhadi
Novel
Gold
Love, Peace, and Respect
Mizan Publishing
Novel
Gold
Tanggung Jawab Pemimpin Muslim
Bentang Pustaka
Novel
Gold
Catatan Indah untuk Tuhan
Mizan Publishing
Novel
Gold
Sebab Bahagia Itu Mudah
Mizan Publishing
Novel
Gold
Jejak-Jejak Islam
Bentang Pustaka
Rekomendasi
Cerpen
Religion School
Fadlinursufi
Cerpen
Politik Kardus
Fadlinursufi