Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Hujan baru saja reda sekitar lima menit yang lalu. Jalanan menuju stasiun menjadi lebih padat daripada sungai yang dipenuhi sampah yang setiap hari kulewati dan beberapa kali menyebabkan banjir hingga ke rumah. Manusia berlomba mengejar waktu yang dibatasi seperti bom yang akan meledak. Tapi hari ini aku membiarkan waktuku berlalu begitu saja. Aku ingin memberi ruang yang tenang untuk diriku sebagai bentuk penghargaan atas segala yang kucapai selama ini. Atas segala yang kuperjuangkan.
Aku sampai di stasiun pukul tujuh lewat enam belas. Setelah memarkir sepeda motor, aku menuju kedai kopi favorit kebanyakan orang pinggiran yang hendak pergi bekerja di pusat kota Jakarta. Gelas plastik berisi kopi americano dingin tanpa gula kugenggam sambil berjalan menuju peron jalur tiga. Jalur kereta jurusan Sudirman, stasiun tempatku turun. Kereta sebelumnya telah berangkat tiga menit yang lalu, namun aku tak tergesa mengejarnya. Rasanya melelahkan setiap hari mengejar kereta agar tidak terlambat sampai di kantor. Aku menunggu kereta berikutnya datang dengan harapan penumpang sudah tak sepenuh kereta-kereta yang berangkat lebih pagi.
Gelas kopiku mengembun karena es batu yang mencair. Aku telah meminumnya setengah gelas sampai akhirnya kereta yang kutunggu datang. Aroma mesin kereta atau semacam uap dari bahan bakar atau yang lain sangat khas, tak asing lagi di hidungku. Aku bergegas berdiri dan masuk ke dalam kereta sebelum pintunya menutup. Masih tak ada kursi kosong meski aku berangkat lebih siang. Aku berdiri di ujung gerbong dekat dengan kursi prioritas. Tangan kiriku menggenggam handrail agar berdiriku kokoh; tangan kanan masih memegang gelas kopi yang belum habis. Tas berisi penuh kugendong di dadaku demi keamanan. Begitu tips yang kutahu dari orang-orang yang naik kereta ini agar terhindar dari copet atau maling atau kejahatan lainnya yang biasa terjadi di dalam rangkaian kereta.
Kereta berhenti di stasiun kedua setelah aku naik. Penumpang semakin memadati isi setiap rangkaian kereta. Tubuhku terdorong dan bergeser ke tengah tanpa aba-aba. Tanganku meraba handrail yang paling dekat dengan tempatku berdiri, seakan alam bawah sadarku sudah terbiasa dengan hal ini. Dalam perjalanan hari ini, aku ingin mengingat-ingat secara rinci apa saja yang biasa aku lakukan sejak keluar rumah masih gelap hingga sampai lagi di rumah dalam keadaan gelap. Aku telah menjalani rutinitas seperti ini selama lebih dari tiga tahun, atau tiga tahun enam bulan empat belas hari tepatnya.
“Kling!” Bunyi pemberitahuan ponselku disertai getaran yang kurasakan di saku celana. Aku memasukkan gelas kopi ke dalam saku tas dan mengambil ponsel karena tak sabar untuk membukanya kalau-kalau ada pesan penting dari kantor.
“Pemberitahuan batas waktu pembayaran tagihan.” Aku membaca setelah mengusap layar ponsel.
“Kling! Kling! Kling!” Belum sempat aku mengembalikannya ke saku celana, pemberitahuan bermunculan.
“Kak, jangan lupa minggu ini terakhir bayar semesteranku.” Pesan dari adik bungsuku
“Pril, abang pakai uangmu dulu bulan ini. Komisi abang belum cair.” Pesan dari kakak pertamaku yang bahkan jarang sekali pulang ke rumah.
“Pril, hari ini laporan harus sudah selesai, ya!” Aku mengusap layar ponsel ke kiri setiap pesan yang sudah kubaca sebagian, menghela napas panjang, lalu memejamkan mata sejenak. Rasanya, semua yang kulakukan selama ini tak akan pernah selesai jika aku masih terus berada di dalam rangkaian duka cita yang setiap hari membawaku bersama semua orang yang berdesakan ini ke Jakarta. Tempat orang-orang mempertaruhkan nasib, namun tak kunjung membuahkan hasil. Itu yang kupikirkan terus-menerus.
Stasiun demi stasiun disinggahi kereta, namun tak pernah ada penumpang turun kecuali penumpang naik yang berebut meski tak ada lagi kursi yang kosong. Jangankan kursi, bahkan tempat untuk berdiri dengan posisi nyaman pun hampir tak ada. Kami saling berhimpitan, lengan menyatu dengan lengan orang lain. Sepatu menginjak sepatu lain. Tas-tas digunakan untuk mendorong. Tubuh kami bergoyang seirama bagai ombak mengikuti hentakan kereta yang melaju semakin kencang meninggalkan pinggiran kota.
“Apa yang semua orang ini pikirkan? Apakah tidak ada pekerjaan lain yang tidak perlu berjuang sedemikian beratnya?” Mataku merayap menatap satu demi satu penumpang yang masih terjangkau pandangan. “Apa yang sedang kami semua lakukan? Berjuang? Untuk apa berjuang sekeras ini jika hasilnya akan sama saja?” Tiba-tiba aku meratap mengurai perjuanganku satu demi satu yang hampir tak membuahkan hasil apa pun sejauh ini.
Ayahku meninggal saat aku duduk di bangku SMP. Kemudian ibu menikah lagi dengan seorang laki-laki dan memiliki dua anak perempuan darinya. Semenjak ibu sakit-sakitan dan suami barunya pergi tanpa meninggalkan jejak. Aku menjadi tulang punggung keluarga ini, padahal aku memiliki dua orang kakak laki-laki yang seharusnya bisa menggantikan peran ayah di rumah. Nyaris saja aku merelakan kuliahku yang hampir selesai waktu itu. Ibu menjual semua yang dia miliki kecuali rumah agar kami punya tempat untuk pulang. Aku berhasil mendapat gelar sarjana bahasa asing dengan peluh keringat, air mata, dan lebam sekujur tubuh yang tak kurasakan lagi perihnya.
Ibu meninggal setahun yang lalu, meninggalkan utang lebih dari seratus juta untuk pengobatannya yang panjang. Adik perempuanku bekerja di sebuah toko di dekat rumah karena dia tidak melanjutkan sekolah. Si bungsu baru saja duduk di bangku kuliah yang menjadi satu-satunya harapan kelak, karena kedua kakak laki-lakiku tak pernah tinggal di rumah. Sesekali mereka datang dan bersikap sangat baik sebelum meminta uang lagi dan lagi, lalu pergi tanpa kabar. Entah apa yang mereka lakukan di luar sana, sungguh aku tak pernah ingin tahu karena isi kepalaku penuh dengan rumitnya keluarga ini. Bagaimana denganku? Yang menjadi anak tengah, yang harus menanggung segalanya. Segalanya yang berurusan dengan uang di rumah yang hampir saja disita oleh bank ini.
Apakah hanya aku saja? Di antara ribuan orang yang berdesakan setiap pagi dan malam yang sedang memperjuangkan keluarganya dengan melupakan kebahagiaan dirinya sendiri? Aku tak mungkin menjadi satu-satunya, kan? Wanita yang berdiri di sebelahku memeluk tasnya dengan erat dengan satu tangan karena tangan lainnya menggenggam handrail. Wajahnya pusat pasi tak sempat tersentuh riasan. Rambutnya belum disisir, hanya digulung dan diikat dengan karet seadanya. Mungkin saja dia juga sedang memperjuangkan seseorang hingga dia tak sempat merawat dirinya. Lalu, seorang laki-laki bersender di pintu karena terhimpit. Kemeja putih dan dasi hitam yang seharusnya rapi, namun kusut karena desakan saat dia masuk ke dalam kereta. Mungkin saja dia juga sedang berjuang mencari pekerjaan atau akan melaksanakan ujian untuk hidupnya yang lebih baik. Lalu seorang ibu hamil yang merelakan anak dalam kandungannya turut merasakan himpitan di dalam kereta. Meskipun duduk, dia harus berebut oksigen dengan semua orang. Mengapa dia harus melakukan itu? Ribuan orang lainnya di dalam rangkaian kereta ini. Aku yakin aku bukan satu-satunya yang setiap hari berduka di dalam rangkaian gerbong ini memikirkan kehidupan ibu kota yang berat. Aku yakin semua orang sedang berjuang. Hanya saja, mereka tidak pernah berisik karena tak ada pilihan lain selain menjalaninya dengan sungguh-sungguh. Memilih untuk tetap berjuang juga pilihan yang tepat. Memilih menyerah juga tak apa-apa, kan?
Kereta telah sampai di pusat kota Jakarta. Penumpang keluar satu per satu di stasiun-stasiun besar tempat mereka transit menuju transportasi yang lain. Udara dari pendingin kereta mulai terasa di kepalaku. Aku bersiap menepi ke arah pintu karena stasiun berikutnya adalah stasiun giliranku untuk turun. Merayap melewati celah-celah manusia dengan sekuat tenaga.
“Pemberhentian berikutnya, Stasiun Sudirman. Stasiun Sudirman...” Pengeras suara di dalam kereta memberi peringatan sebelum kereta berhenti di peron. Aku turun dan merapikan rambutku yang sudah rusak karena berdesakan setelah pintu kereta terbuka. Aku berjalan ke arah kantor yang berjarak lima belas menit jalan kaki dari Stasiun Sudirman. Irama langkah kakiku juga tak secepat biasanya. Sekali lagi, aku sudah berjanji pada diriku bahwa hari ini aku memberi penghargaan kepada diriku sendiri karena telah melangkah dan berjuang sejauh ini.
Matahari sudah agak tinggi, namun gedung-gedung pencakar langit masih meneduhkan jalanku menuju kantor. Bising suara kendaraan selalu menjadi musik latar jalanan kota Jakarta yang tak pernah sepi. Seingatku, hari ini adalah hari yang paling siang aku berangkat kerja. Biasanya aku berangkat bersama mobil-mobil yang membawa sayuran ke pasar dan sampai di sini, angin masih sejuk tanpa polusi kendaraan. Aku tak akan melakukannya lagi jika hasilnya masih tetap sama dan tak ada yang berubah dalam hidupku. Lagi pula, hari ini adalah terakhir kali aku berjalan di trotoar yang lebih lebar dari jalan menuju rumahku ini.
Aku sampai di lobi gedung kantor menunggu lift ke lantai dua belas. Rasanya sangat aneh jika aku mengingat pertama kali datang ke tempat ini dengan penuh harapan untuk diterima sebagai pegawai kantoran yang akhirnya menjadi kenyataan. Ternyata di balik sulitnya hidup yang kujalani, Tuhan banyak memberikan jalan keluar. Aku baru saja menyadari aku tak pernah berjuang sendirian.
Suasana kantor di hari Senin terasa sangat sibuk. Orang-orang mengeja pekerjaan mereka yang belum selesai minggu sebelumnya, membuat laporan, membuat jadwal pertemuan, membuat target-target baru, sampai bergerumun membahas gosip yang masih hangat sambil memegang cangkir kopi atau teh. Aku tak peduli lagi. Aku melewati barisan meja-meja dengan kepala menunduk sedikit pilu. Bahkan aku masih datang ke tempat ini, tapi orang-orang sudah mengabaikan keberadaanku.
Kursiku berada di baris pertama dari ujung. Kursi ketiga menghadap ke arah dinding kaca besar dengan pemandangan kota Jakarta yang diagungkan manusia. Meja kerjaku sudah rapi. Aku sudah membawa pulang barang-barang pribadiku satu per satu, menyisakan beberapa yang akan aku bawa sekaligus hari ini. Aku membuka laptop dan menyalakannya, memulai bekerja di hari terakhirku bekerja di sini.
“Halo Pril... Mentang-mentang hari terakhir baru datang, nih...” Maya menyapaku dengan senyum merekah penuh energi. “Pagi, May…” Aku membalasnya dengan senyuman berat. Maya adalah yang paling dekat denganku di sini. Kami bekerja dalam satu tim selama lebih dari tiga tahun.
“Gimana, Pril. Udah selesai semua catatan buat penggantimu nanti?” Tanya Maya dari kursinya yang berada tepat di sebelahku.
“Kalau nggak selesai, biar nanti kubantu.” Dia melanjutkan.
“Iya, May. Aku usahakan semua selesai hari ini. Biar nggak ngerepotin kamu atau yang lain. Lagi pula nggak enak juga pergi masih ninggalin kerjaan. Makasih banyak ya, May.” Kataku penuh makna.
“Yaelah April. Kita masih bisa ketemu di luar, kan? Aku masih boleh nginep di rumah kamu, kan?” Kata Maya menarik kursinya mendekat ke tempat dudukku.
“Iyaaa. Udah sono. Nggak usah sedih-sedihan, kan masih bisa main bareng.” Kataku mendorong kursinya ke tempat semula.
“Hari ini, ada acara makan malam untuk divisi kita sebagai acara perpisahan April.” Atasanku mengirim pesan di grup.
“Ciee, anak kesayangan sampai dibikinin acara perpisahan.” Kata Maya menggodaku.
“Anak kesayangan karena paling siap kalau disuruh lembur. Paling ‘IYA’ kalau disuruh ngerjain kerjaan orang lain yang nggak beres, May.” Kataku tak bersemangat.
“Sangat melelahkan mengikuti drama kantor. Mending drama Cina.” Aku menambahkan.
“Jangan gitu, Pril. Perusahaan ini banyak utang budi sama kamu, lho.” Maya masih terus bicara.
“Semua orang bukannya berjasa, May? Tapi jasa kita kan udah dibayar dari gaji yang gak bisa membuat kita kaya ini.” Perkataanku mulai tak terkendali. Terus menyinggung diriku sendiri yang tak berhasil.
“Iya, nggak membuat kita kaya. Tapi setidaknya kantor ini adalah tempat kita cari makan, Pril.” Maya membalasku dengan kata-kata bijak yang tak mempan lagi untukku.
“Iya, iya... Mayaaa. Udah sono...” Aku rasa dia akan mulai kesepian besok karena tak ada orang di sampingnya lagi. Penggantiku baru bisa masuk minggu depan. Dan dia juga tak akan seakrab itu dengan anak baru.
Satu per satu pekerjaanku selesai. Aku tak pergi makan siang bersama Maya dan yang lainnya karena perasaan canggung mulai kurasakan sekarang.
“Nih, makan dulu. Jangan kerja mulu. Mentang-mentang besok bisa santai di rumah.” Maya datang membawa pesanan makananku. Aku membuka bungkusan nasi di depan laptop, menyuapkannya pelan-pelan sambil tetap meneliti pekerjaan terakhirku.
Waktu berlalu begitu saja. Sudah pukul empat sore saat Maya mengajakku turun untuk membeli kopi atau kudapan. Sekali lagi, aku menolaknya karena tak ingin meninggalkan pekerjaan yang belum selesai saat aku pergi dari sini beberapa jam lagi.
Aku menyobek halaman buku catatan pribadiku dan menulis nama-nama folder tempatku menyimpan data-data, lalu meletakkannya di bawah keyboard. Aku juga menulis email perpisahan untuk semua orang. “Terima kasih, salam hangat dari April.” Begitu kata penutupnya.
“May, semangat ya.” Kataku tak sanggup lagi menahan air mata. Tak bisa kupungkiri, tiga tahun bukan waktu yang singkat sampai aku benar-benar merasa nyaman di tempat ini. Maya menghampiri dan memelukku. Kami berdua menangis dalam pelukan.
“Kenapa sih Pril harus resign sekarang?” Kata Maya tersedu dalam pelukanku.
“Demi keluargaku... May... Kamu tahu sendiri… keadaannya.” Aku menjawab terbata.
“Padahal kamu bisa cerita ke bos dan mengajukan pinjaman. Orang-orang juga begitu.” Maya menyayangkan keputusan yang kubuat.
“Aku nggak mau sepenuhnya bergantung pada kantor ini, May. Semakin kita bergantung, semakin kita tak bisa menolak pekerjaan yang tak pernah semakin berkurang. Aku butuh kebebasan. Aku butuh waktu untuk diriku sendiri.” Aku sudah memikirkan matang-matang lebih dari sebulan yang lalu. Aku menginginkan hasil yang lebih dari apa yang aku usahakan.
Mataku sembab setelah berpelukan lama dengan Maya. Aku berkeliling menghampiri setiap baris kursi untuk berpamitan. Orang-orang mendoakanku dan aku mendoakan mereka, lalu aku kembali ke kursiku dengan perasaan lega. Orang-orang terbaik mendapat pujian dan penghargaan atas pekerjaan mereka. Ketika orang itu pergi dan orang lain menggantikannya, orang tersebut telah dilupakan dalam hitungan hari. Karya-karyanya menjadi sejarah yang akan terus diceritakan kepada para penerus. Perusahaan tempat bekerja akan terus berjalan seperti biasanya dengan atau tanpa kehadiranku. Jadi, jangan menyesalinya meskipun tempat ini pernah menjadi tempat yang begitu nyaman dan memberi kehidupan. Tempat yang menyakitkan, namun aku menyukainya.
Aku menatap sekali lagi mejaku sambil melihat-lihat barangkali ada barang-barangku yang tertinggal. Menatap lampu-lampu gedung yang mulai menyala saat malam tiba. Entah bagaimana pekerjaanku di masa depan, aku bersyukur telah berada di tempat ini dalam waktu yang lama. Pekerjaan yang menjadi mimpi kebanyakan orang.
Aku dan tim meninggalkan kantor menuju restoran dekat gedung. Atasanku telah memesan meja untuk delapan orang, sesuai dengan jumlah tim kami.
“Mari kita rayakan perpisahan dengan April. Salah satu karyawan terbaik di perusahaan kita.” Katanya. Dalam hatiku, apakah mereka bahagia atas kepergianku sampai-sampai dibuatkan perayaan seperti ini?
Daging sapi mentah dalam kotak disusun tinggi bersama sayuran yang memenuhi meja. Tungku kecil baru saja dinyalakan kemudian diletakkan panggangan di atasnya. Manusia modern di ibu kota biasa menyebutnya All You Can Eat, atau kamu bisa makan sepuasnya sampai perutmu terasa akan meledak. Kami mulai meletakkan daging di atas panggangan satu per satu dan menunggu sampai matang sambil berbincang-bincang mengenang banyak kisah yang terjadi selama aku bekerja. Tumpukan daging mulai habis dan orang-orang bergantian memesan hingga perut kami penuh.
“Kalau ada info kerjaan yang oke, boleh ya, Pril.” Kata salah satu teman di kursi depan. Aku tahu ini hanya basa-basi. Atau sebenarnya semua orang juga menginginkan kebebasan, namun tak berani mengambil langkah?
“Sampai jumpa, Pril. Semoga sukses.” Kata-kata perpisahan dari atasanku sebelum menutup hari yang panjang dan melelahkan ini. Kami berpelukan dan berfoto bersama sebagai kenangan. Aku akan mengenangnya tentu saja. Saat aku melewati jalanan di depan, aku akan ingat bahwa aku pernah bekerja di lantai dua belas di dalam gedung pencakar langit di Jakarta yang menjadi impian kebanyakan orang.
Aku berjalan menuju Stasiun Sudirman bersama Maya. Tanganku penuh dengan hadiah perpisahan dari orang-orang kantor.
“Ini mimpi kan, Pril? Ini hari terakhir kita jalan bareng ke stasiun.” Kata Maya masih dalam suasana berkabung atas kepergianku. Aku menahan senyumku. Benar juga yang dia katakan. Besok aku tak lagi melewati jalanan ini. Malam ini benar-benar menjadi yang terakhir.
“Kita beli kopi di depan stasiun dulu, yuk, May.” Aku mengajak Maya menghabiskan malam ini. Menunggu kereta paling terakhir menuju ke arah tempatku pulang.
“Kamu yang traktir ya…” Kata Maya seperti biasanya. Kita selalu bergantian membayar makanan. “Iya...” Aku menjawab.
“Dua kopi gula aren yang satu gulanya sedikit, yang satu tanpa gula ya, Mas.” Aku memesan kopi tanpa bertanya dulu kepada Maya. Duduk di tepi trotoar dengan meluruskan kaki sambil menikmati kopi dingin. Aku dan Maya mengakhiri perjalananku bekerja sebagai pekerja kantoran. Kami berpelukan dan menangis sekali lagi sebelum akhirnya berpisah. Maya berjalan ke arah seberang karena kereta kami berlawanan. Kami masih saling menatap dan melambaikan tangan di tempat menunggu kereta di peron masing-masing sebelum akhirnya kereta kami datang dari arah berlawanan dan menghalangi pandangan.
Ini bukan yang pertama kali aku pulang larut dengan kereta terakhir. Tapi hari ini menjadi perjalanan pulang yang paling tentram. Aku duduk di gerbong keempat dari depan agar pada saat keluar dari pintu tepat di depan eskalator. Suasana sepi membuat kantuk mulai menyerang, namun aku enggan terpejam karena ini adalah perjalanan terakhirku.
Hanya ada beberapa orang di dalam gerbong kereta ini. Sebagian terlelap dalam lelahnya hari yang terus menuntut orang-orang untuk bekerja lebih dari batas kemampuannya. Seorang bapak-bapak di depanku yang mungkin seusia ayahku jika masih hidup menyandarkan kepalanya di dinding kereta dengan mulut terbuka sangat lelap meski deru kereta tidak benar-benar membuat ruangan ini sunyi. Kira-kira, apa pekerjaannya sehingga dia baru pulang selarut ini? Atau justru berangkat menuju tempat kerjanya? Semoga dia selalu diberikan kesehatan dan kemudahan. Lalu, wanita di ujung kursi di sisi yang lain. Juga terlelap memeluk tas dengan kepala terlempar ke kanan, ke kiri, dan ke depan. Apakah dia seperti aku yang menjadi tulang punggung keluarga tanpa pernah memikirkan dirinya sendiri? Ada juga orang yang memilih berdiri meski banyak kursi yang kosong. Apa yang dia pikirkan? Bukankah kursi-kursi ini diperebutkan setiap pagi?
Lorong malam semakin pekat. Aku turut padam bersama sisa-sisa manusia hebat di dalam rangkaian duka cita. Stasiun demi stasiun terlewati. Tiba-tiba, petugas keamanan menyadarkanku bahwa tujuan terakhir dari kereta ini akan segera tiba. Aku menyadarkan diriku sepenuhnya sebelum kereta berhenti. Baiklah, setelah keluar dari sini, aku akan meninggalkan serangkaian harapan yang setiap hari kubawa pergi dan kembali. Pintu terbuka setelah kereta berhenti perlahan. Menyusul lantunan musik peringatan yang kusimpan dalam ingatan baik-baik. Aku turun bersama beberapa penumpang yang kelelahan, bahkan setengah sadar. Tanganku masih penuh dengan kantong-kantong berisi hadiah. Aku menoleh sekali lagi, melihat lampu-lampu temaram yang menjadi batas stasiun, memandang kereta yang setiap pagi dan malam menjemput dan mengantarkanku pulang. Jika dia memiliki nyawa, aku pasti akan mengucapkan terima kasih dan memberinya hadiah sebagai kenangan.
Aku menghilang dari gemerlapnya dunia karena kelelahan. Memperbaiki serpihan jiwaku yang hancur. Memberi waktu untuk ragaku pulih. Beberapa kali Maya ke rumah menanyakan keberadaan dan nomor baruku. “Jangan beritahu siapa pun, termasuk Maya. Setelah siap, aku akan meneleponnya.” Kataku kepada adik-adikku sebelum aku pergi dari rumah tempatku berteduh dari kerasnya hidup. Aku tak pernah memberi tahu siapa pun apa rencanaku, termasuk Maya. Jadi, biarkan saja orang-orang mencariku.
Pohon-pohon menggugurkan daun-daun kering lalu menggantinya dengan yang baru. Hujan deras menyapu kotoran di jalanan, lalu manusia mengotorinya lagi. Matahari terbit membawa harapan baru dan terbenam meluruhkan peluh dalam hati. Kehidupan terus mengubah apa pun, termasuk diriku.
Akhirnya kereta tiba setelah aku berdiri lebih dari sepuluh menit menunggu di peron. Setelah pintu terbuka, aku masuk tanpa tergesa, memilih kursi paling pinggir karena memiliki tempat untuk menyandarkan kepala yang empuk. Tak banyak orang yang naik dari Stasiun Shida menuju Fukuoka sehingga tak ada yang perlu diperebutkan. Tak ada juga yang diperlombakan di sini. Sebagian besar penumpang di dalam rangkaian ini adalah anak sekolah. Beberapa pemuda berjas berdasi hitam dan wanita dengan gaya pakaian yang tak biasa dan modern. Dari jendela, terlihat apartemen, papan iklan, hamparan kebun dan barisan bukit berwarna-warni berlarian mundur. Di dalam rangkaian yang sama, aku telah sembuh meski retakan-retakan telah membekas selamanya.
Aku mengasah kemampuan bahasa Jepangku lagi setelah terakhir saat sidang skripsi, berjuang keras mengikuti serangkaian ujian kompetensi setelah memutuskan berhenti kerja tiga tahun yang lalu. Aku juga merelakan rumah disita oleh bank dan membiarkan adik-adikku tinggal di kontrakan saat itu karena semua uangku akan aku pakai untuk pergi ke tempat ini. Ke Jepang. Aku tidak melarikan diri dari beban tanggung jawab. Tujuanku adalah keluar dari jeratan ekonomi yang memperbudak hidupku begitu lama. Membelenggu kakiku dan menjadikanku mesin pencetak uang.
Saat pertama kali sampai, aku bekerja di perkebunan buah pir sambil terus mengasah tingkat bahasaku agar aku bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di sini. Agar aku bisa meraup uang sebanyak-banyaknya untuk masa depanku dan adik-adikku. Agar aku lepas dari jeratan utang yang ditinggalkan orang tuaku.
“Stasiun Kanda” tertulis dalam kanji Jepang yang sekarang sudah aku kuasai. Aku bersiap untuk turun. Menyisir rambutku dengan jari-jari, lalu membetulkan kerah baju. Aku berdiri dari tempat dudukku saat pintu terbuka, keluar dari kereta tanpa berebut dan disambut angin sejuk yang ditinggalkan musim dingin. Aku berjalan menuju sekolah tempatku mengajar bahasa Inggris yang tak jauh dari stasiun.
Tak ada yang berubah. Serangkaian kereta tetap mengantarkanku berangkat dan pulang kerja meski aku meninggalkan Jakarta sekalipun. Tapi hidupku telah berubah. Aku telah berhasil memerdekakan diriku sendiri dari segala sulitnya kehidupan. Meski belum benar-benar pergi, aku bisa membayar cicilan tanpa tekanan.
“Kling!” Kuabaikan bunyi ponsel dalam saku. Aku sedang mendengarkan muridku menjelaskan tugasnya.
“Kak, judul skripsiku ditolak. Pusing...” Pesan dari adik bungsuku yang tak lagi menagih biaya semesteran karena aku mengirim uang kuliah tepat waktu. Kami telah kehilangan banyak hal, tapi aku selalu berusaha menebusnya kembali satu per satu.
“Coba lagi… Berjuang lebih keras. Kakak akan pulang saat hari wisudamu.” Aku membalas sebagai penyemangat, tapi meskipun gagal, aku akan tetap pulang dan merayakannya. Lagi pula, aku sudah sangat merindukan adik-adikku.