Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
"Baik pemirsa, Yang tengah anda saksikan ini serpihan genteng, akibat amukan dari puting beliung," Wartawan memegangi serpihan genteng, "Desa ini jadi kali pertama korban puting beliung sejak 200 tahun berdiri." Wartawan sembari membenarkan microphone.
———
Tanganku mengadah, sesaji kuletakkan, aku mendongak berserah.
"Mohon, saya benar-benar menyesal tak bisa menjagamu." Dari seberang telinga, aku mendengar pijakan kaki, terpaksa aku menyipitkan mata.
"Pak-bapak," aku menoleh ke sumber suara. "Pulang, Pak, di rumah ada tamu."
"Oalah, ren-kiren, bapak baru mulai loo ini." Keluhku.
"Emang siapa, sih?"
"Udah pulang aja, pak, Ini jauh lebih penting." Kiren membereskan sesaji, dupa, dan kembang.
"Kemana aja kau, klis?" Sapa pak lurah lalu menyalamiku. Segera aku menoleh kapan Kiren, "Ren, udah kamu masuk ke sana!"
"Ini Pak Burhan." Aku menjabat tangan, "Pak Burhan, ini Muklis."
Aku mempersilakan mereka duduk.
"Surti, kopinya tiga!" Pintaku.
Pak lurah dan Burhan duduk berhadapan denganku, mata pak Burha menoleh kanan-kiri bawah-atas, seolah baru kali pertama melihat rumah seperti ini.
"Yaa begini, pak, cuman gubuk biasa!"
"Halah, engga, pak!" Sanggah Pak Burhan sembari mengusap-usap lutut.
"Jadi begini, klis." Pak lurah membenarkan posisi peci yang ia kenakan, "kami ke sini untuk ngomong sama kamu tentang lahan yang mau dipake perumahan."
Aku mendengarkan sembari melanturkan segelas kopi kepada pak Burhan dan pak Lurah.
Aku menghembuskan napas dengan tatapan tajam. "Jujur, Pak, sebenernya tidak papa-papa, kalo lahan itu buat perumahan, Namun,"
Pak Burhan mengangguk-ngangguk sambil mengernyitkan dahi.
"Keberadannya jauh lebih tua dari desa ini, sehingga bisa menyimpan cadangan air yang banyak dan para warga juga tak mengalami kekeringan."
Pak lurah menatap langit-langit.
"Semisal aku beli gimana, Klis?" Tanya pak Burhan mengeluarkan uang yang dibalut amplop yang begitu tebal.
Aku hanya menggeleng cepat seolah tak percaya.
"Di situ ada," pak Lurah hanya menyimbolkan tangan dengan lima jari, "yaa, lumayan buat benerin atap rumahmu." Pak lurah kembali melihat langit-langit.
Aku mengusap lutut dengan Jari.
"Dan ini surat pernyatannya, silakan tanda tangan!" Pak lurah menyodorkan kertas ke meja.
Aku menoleh ke belakang, terlihat istri dan anakku sedang duduk berdua, Surti mengelus kepala anakku yang tengah asik membaca buku, yang pasti bukan buku Fiksi.
"Tapi, aku haru melakukan ritual doa, Pak." Aku memohon.
"Yaa, tapi kamu mau, kan klis?, kalau mau silakan tanda tangan." Pak lurah mempersilakan.
Aku pun mengangguk, mengambil bolpoin lalu kuputar-putar.
———
"Gimana, Kiren? Buku yang kamu baca kemarin buku apa?" Tanya Muklis menyalakan televisi.
"Kiren menyelesaikan kunyahannya." "Randu Menggelayut, Pak. Dan lima dosa kalau berani melanggar." Jelas Kiren.
"Udah, ayo dimakan sarapannya, keburu telat." Pinta ibu dengan satu anak tersebut.
"Terus, kemarin gimana, Pak? Surti membereskan piring lalu menyuguhkan kopi kepada suaminya.
Muklis mengecilkan volume Tv.
"Iya, buk, aku setuju." Muklis menundukkan kepala.
"Yuk, Pak, berangkat!" Kiren mengambil tas lalu menali sepatu.
"Bentar!" Muklis menyeruput kopi, "ini kopi apa kolak, sih, buk?" Muklis mengernyitkan matanya.
"Yaa maaf!"
Muklis beranjak dari tempat duduk.
"Salim ibu dulu." Pinta Muklis.
"Duluan, Buk, assalamualaikum." Kiren mencium tangan ibunya.
"Duluan, ya, muachh." Muklis mencium kening istrinya.
Hanya ditemani cicak yang merayap di dinding, Surti membereskan piring dan gelas kopi.
"Kebiasaan kalau habis nonton engga dimatiin." Keluh Surti.
[Waspada cuaca ekstrim yang menimbulkan puting beliung di kecamatan Gono] Surti mengernyitkan kening lalu menariknya volume.
[Ada lima desa yang berpotensi terdampak, desa Danten, desa Suri, desa Kertan, desa Keduh dan yang terakhir] Surti mendekatkan badannya ke depan supaya tak salah informasi. [desa Morowali]
Surti membalakkan mata lebar-lebar dan tersentak hingga melangkah mundur.
———
"Emang asyik, ya? Baca buku fiksi?" Tanya ku sambil fokus menyetir.
"Emang buku fiksi, Pak. Tapi dibuat animasi."
"Serem juga, ya, pak?"
Aku membuka kaca helm, "maksdunya?"
"Serem aja, di buku itu ditulis kalau benar -benar melanggar, semua orang akan hangus tak akan tersisa."
"Tuhh, dah sampe!" Elak Ku, agar tak kepikiran perkataan dari anakku.
"Dah, ya, pak! Assalamualaikum!"
———
Mumpung belum menyengat kulit dan Kiren bersekolah, saat ini, Muklis tengah menyiapkan ritualnya, menata kembang, menyalakan dupa, lalu mengambil kain selembar 10 meter untuk dibalutkan ke batang yang sungguh besar.
Muklis duduk bersila, tangan diletakkan di pangkuan lutut kaki, matanya terpejam. Menarik napas lalu membuangnya.
Namun, Kepalanya menggelayut, daun telinganya berbisik.
[Dasar, emang tak guna kau! Sudah dititpkan untuk kautemani dan kau jaga, tapi tiba akhirnya. Aku mengeluarkan air seakan ibu cadangan air yang kumiliki.
Apa kau juga lupa, wahai warga bahwa anak cucu kalian bermain, bercanda tawa, dibawah naunganku. Dahulu, aku mengakui kalian piawai dalam mempertahankanku. Namun, saat lembaran merah mengalahkan hasrat kalian, mereka langsung menandatangan.
Dasar sialan, sesuai dengan hukum alam dan sebab-akibat.
Bila waktunya tiba, aku udah tak sanggup menahan amukan, dan kalian ingat itu.]
———
"Pak, bangun, Pak!" Kiren menepuk pipinya.
Belum kunjung bangun, Kiren tak menyerah.
Kini lebih keras.
Muklis membalakkan mata, nafas tersendal-sendal.
"Gimana, Ren? Ini di mana?" Muklis memutar kepala kanan-kiri dengan cepat.
"Di pengungsian, pak!"
Muklis memgucak matanya, "lalu ibumu di mana?"
Kiren hanya menundukkan kepala.
Muklis bergegas beranjak pergi.
Bayangan matahari di ujung tanduk, para warga Morowali berseliweran, ada yang membawa berkas, anak bahkan hewan peliharaan.
"Permisi, mbak, jangan di tengah jalan begini." Tegas Muklis kepada mbak-mbak berkemeja dan membawa microphone.
"Surti, kamu di mana?" Teriak Muklis.
———
Hanya butuh waktu lima detik saja, berhasil memporak-poranda. Namun, mitos atau fakta kameramen selalu selamat dan siap meliput.
"Kurang maju dikit, kamu!" Ujar mas kameramen, "Oke, itungan ketiga, satu dua tiga, On!"
"Baik pemirsa, Yang tengah anda saksikan ini serpihan genteng, akibat amukan dari puting beliung," Wartawan memegangi serpihan genteng, "Desa Morowali jadi kali pertama korban puting beliung sejak 200 tahun berdiri." Wartawan sembari membenarkan microphone.
———
Ditengah-tengah pencarian istrinya, Muklis menentukan sesuatu, berwarna gelap, halus saat dipegang, aromanya tak asing bagi Muklis.
"Ini kan?" Tangan Muklis meraba-raba.
Muklis menatap tajam peci hitam, lalu ia menggeleng cepat seolah tak percaya.
Lalu ia hanya menggenggamnya erat.
"Kirenn" Muklis menepuk pipi anaknya.
"Di mana Pak Lurah, Kiren?" Muklis menggoyangkan bahu anaknya yang kurus itu.
Kiren menunjuk jari manisnya. Muklis menoleh ke belakang, mendekati kerumunan.
"Misi-misi!" Muklis mengurangi kerumunan.
Muklis menatap kosong tanpa fokus, ia mengangkat alis sambil mengerutkan kening.
Peci yang ia genggam ia lemparkan ke mukanya.
"Yang ini kenapa engga mati sekalian, ya?" Suara samar di samping Muklis.
"Tau, tuh katanya sihhh ada duit pelicin untuk menabung pohon, jadinya seperti ini kan." Nyinyir halus dari seberang Muklis.