Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Raksha
1
Suka
26
Dibaca

Pada malam ketujuh belas sejak ia membuntuti si Pajero hitam metalik, aku melihatnya membelokkan motor ke sebuah resor yang jaraknya sekitar satu jam dari pusat kota. Perasaanku berkata, peristiwa buruk akan terjadi. 

Aku selalu memastikan ia pulang dengan selamat sejak hari ketika ia berangkat kerja dengan tatapan gabuk. Sesuatu pasti telah terjadi dan, sebagai laki-laki, ia mungkin tak ingin tampak kacau di depan banyak orang. Aku mengenalnya sebagai laki-laki yang tak banyak bicara. Ia baik, menarik, dan suka memelihara burung gelatik. Itu adalah sosoknya sepuluh tahun lalu, sebelum kami berpisah, dan akhirnya bertemu lagi dalam keadaan yang jauh berbeda. 

Dulu, aku hanya gadis lima belas tahun yang tergila-gila dengan pria yang usianya dua kali lipat lebih tua. Ia menolak cintaku dengan alasan yang realistis; sepuluh tahun lagi, aku masih bersinar, sementara ia sudah bau minyak angin cap kapak; juga kami akan terpisah jarak karena aku harus kembali ke kota asal setelah berakhirnya masa magang. Aku kalah, tapi kami tetap berakhir dengan status pertemanan yang baik-baik saja. 

Sepuluh tahun kemudian, kami dipertemukan lagi dalam satu pekerjaan. Ia manajer area dan aku supervisor restoran yang jadi basecamp-nya saat tak ada jadwal kunjungan luar kota. Kami sama-sama mencari nafkah di perusahaan kuliner ayam cepat saji. Aku masih lajang, sementara ia sudah menyandang status suami dan ayah dari seorang putra. Namun, ia tampak sekarat. Aku tahu dari langkah kakinya yang mirip hewan digiring ke tempat jagal setiap ia berangkat. Sebuah alasan memaksanya tak kunjung naik jadi manajer regional meskipun sudah mengabdi selama lebih dari satu dekade, ditambah setiap hari ia harus mendengar kata-kata franchise restoran yang kadang seperti mencincang telinga. 

Ia selalu berusaha tampak baik-baik saja. Ia baik kepadaku. Kami juga sering nongkrong bersama di warung kopi, sama seperti dulu ketika aku masih tinggal di indekos sebelah rumahnya yang lama. Bedanya, sekarang ia tak lagi memelihara burung gelatik. Ia bilang, istrinya lebih memilih tidur di rumah orang tuanya daripada melihat ia asyik merawat burung-burung. Maka, ia mengalah, toh, punya peliharaan bukanlah prioritas hidupnya. Ketika ia menceritakan hal itu, aku agak terkejut, mengingat dulu ia sangat suka mengandangi berbagai macam burung–meskipun yang paling ia sayangi adalah si gelatik. Ia juga pernah bilang, mendengar kicau burung bisa menghiburnya saat suntuk. Namun, mungkin dalam hal mencintai, pengorbanan adalah hal mutlak agar yang dicintai tetap merasa dicintai. Satu lagi, ia mirip pamanku yang sudah lebih dulu menuju Ilahi. 

Suatu hari, ia tampak semrawut. Wajahnya bosan, tatapannya penuh beban, dan selama bermenit-menit, ia tak kunjung menyentuh kopi yang telah ia pesan. Aku bertanya kepadanya, apa ia butuh sesuatu? Namun, ia berkata, bahwa semua sudah terpenuhi.

"Kamu tampak kurang," kataku.

Ia hanya tersenyum hambar. 

"Jangan dipendam sendirian. Nanti kamu mati kesakitan."

Ia menatapku. "Menurut kamu, mati itu apa?"

Aku tertawa pelan. "Ibuku sudah mati, jantungnya berhenti, dan ia akhirnya dimakamkan. Bapakku masih hidup, tapi kuanggap mati karena lebih memilih kekasihnya daripada anaknya sendiri. Aku juga punya paman yang … ah, tidak jadi." Aku menuang kopi dari cangkir ke tatakan, agar sedikit hangat dan tidak melukai lidah ketika diminum. 

Ia menatap jalanan di depan kami selama beberapa detik, lalu berkata, "Artinya, mati itu tak harus menunggu jantung berhenti?" 

Aku mengangguk sambil menyeruput kopi dari tatakan cangkir. "Banyak yang hidup, tapi jiwanya mati." Aku berusaha tampak tidak khawatir, meskipun dalam pikiranku dipenuhi hal-hal yang tidak bisa kujelaskan.

Ia tak menjawab lagi. Dan obrolan kami berakhir lima menit sebelum jam istirahat habis. 

Obrolan tentang mati pada sore itu, membuatku semakin merasa wajib menjaganya ketika di luar jam kerja. Aku selalu memastikan ia pulang dengan selamat. Kalau ia pulang sore, sementara aku masih di jam kerja, aku akan pura-pura izin keluar sebentar untuk memastikan tujuannya setelah keluar dari pintu restoran. Kalau ia pulang malam sementara aku pulang sore, pada malamnya aku juga melakukan hal yang sama. Aku tidak mengerti perasaan apa yang mendorongku untuk berbuat demikian. Aku hanya merasa, ia pasti membutuhkanku. 

Suatu malam, kami sama-sama masuk shift kedua. Shift berakhir jam sepuluh, dan malam itu, ia memintaku untuk tinggal sebentar di restoran setelah rekan-rekan yang lain pulang. 

Bangunan restoran yang kami tempati terdiri dari tiga lantai: lantai satu, lantai dua, dan atap untuk menjemur peralatan kebersihan. Di atap gedung, kami duduk sambil menatap langit yang agak mendung. Ia menyulut rokok, mengisapnya, lalu mengembuskan asapnya dengan suara mendengkus. 

Cukup lama kami hanya saling diam, hingga akhirnya ia membuka obrolan, "Apa kamu tidak ada kegiatan yang lebih penting setelah pulang kerja, selain membuntuti orang?"

Seketika, dadaku seperti dipukul tongkat kayu. Pukulan itu lantas menjelma rasa dingin di ujung-ujung jemariku. Aku ingin menjawab, tapi kata-kata di kepalaku mendadak luntur seperti kain murahan yang baru pertama kali dicuci.

Ia mengembuskan asap rokok lagi, lalu menekan puntung yang masih membara ke lantai hingga mati. "Apa kamu begitu menyukaiku?" tanyanya tanpa menoleh.

Aku berdeham. "Itu sudah lama sekali."

"Aku juga sudah lama mati." 

Aku menatapnya serius, sementara ia tetap menengadah ke langit. "Kalau ada yang ingin kamu bagi, aku siap menerimanya." Sebenarnya, aku ingin sekali meledakkan bangunan kata-kata di kepalaku–oh kamu bosan kamu sekarat kamu bodoh jangan disimpan sendiri jangan menangis sendiri marahlah menangislah mengumpatlah mencacilah caci saja aku caci saja teman-temanmu pukul aku pukul mereka yang menyakitimu kau layak bahagia kau layak hidup seperti yang kau mau–tapi, akhirnya aku malah mendekatkan bibir ke wajahnya. 

Aku mencium pipinya. 

Ia terkejut dan langsung mendorongku. Aku terjengkang, sementara ia langsung berdiri dan, bisa kulihat, matanya memerah, ujung kedua alisnya bertemu di tengah-tengah, dan bibirnya sedikit terbuka, seakan-akan siap memaki. (Bagus, maki saja aku sesuka hatimu! Ayo, pukul aku! Jangan diam saja seperti itu! Jangan tahan semua perasaanmu!) Namun, ia tak kunjung mengatakan sesuatu, membuatku berdiri dan melakukan hal yang lebih berani: kutangkup wajahnya, lalu kulumat bibirnya beberapa detik, hingga akhirnya ia mendorongku lagi. "Kamu gila!" serunya tertahan. Dan ia memilih pergi dengan langkah lebih cepat dari jarum detik yang berputar. 

Aku tak mengejarnya. Malam itu, kubiarkan ia pulang sendiri, meninggalkan aku dengan cinta hampa yang kupupuk terus setiap hari. 

*

Enam malam sebelum malam ketika aku menciumnya, aku melihatnya duduk di atas motor yang distandar tengah di depan gedung pemerintahan yang di seberang jalannya berdiri megah sebuah hotel tempatku menghabiskan masa magang sepuluh tahun yang lalu. Ia tampak sedang menunggu seseorang. Aku melihatnya dalam jarak tiga puluh tujuh langkah sambil duduk di trotoar dan bersembunyi di balik motor yang kuparkir. 

Sekitar satu jam kemudian, aku melihatnya  menstarter motor dan menyusul Pajero hitam metalik yang beberapa detik sebelumnya melewati gerbang hotel. Tidak usah kuceritakan bagaimana selanjutnya. Intinya, malam itu aku dan ia sama-sama mengetahui fakta pahit yang membuat hati dan harga dirinya terluka. Dan aku lebih-lebih tak mengerti, kenapa ia tak langsung menangkap basah istrinya bersama pria muda itu dan malah memilih pulang ke rumah dan esoknya bersikap seolah tak pernah terjadi apa-apa. 

Ia pernah bercerita, istrinya seorang manajer bank. Dulu, mereka adalah teman kuliah. Meskipun waktu itu ia bercerita dengan ekspresi yang tampak baik-baik saja, aku masih bisa menangkap senyum getir yang mungkin tak sengaja ia tunjukkan. Bagaimanapun, aku tahu berapa gajinya sebagai manajer area, dan berapa kisaran gaji seorang manajer bank. Dan aku sangat kenal ibunya yang tak bosan-bosan mengingatkan tentang bagaimana laki-laki harus menjaga harga diri.

Dulu, ia yang kukenal adalah pria penuh perhatian yang bahunya selalu tegak. Meskipun tak banyak bicara, tatapan matanya tak pernah redup seperti sekarang. Aku ingin mengembalikan ia yang dulu. Aku ingin ia meluapkan amarahnya meskipun aku yang harus menerimanya. Namun, hingga dua hari sejak kulumat bibirnya, ia tak pernah mengucapkan apa pun. Kami hanya berbicara seperlunya untuk urusan pekerjaan. Dan ia lebih sering tak kembali ke kantor setelah kunjungan ke restoran lain, seakan-akan menghindari bertemu denganku. 

Aku tak pernah membuntutinya lagi, hingga suatu hari aku melihatnya membeli tambang Pramuka di toko alat tulis di sebelah restoran. Perasaanku tak nyaman. Aku ingat betul, pamanku gantung diri di bawah pohon di tengah-tengah kuburan memakai tambang seperti itu. Setelah mengamati beberapa kesamaan ia dan pamanku, aku takut ia akan melakukan hal yang sama bodohnya.

Pada malam ketujuh belas sejak ia membuntuti si Pajero hitam metalik, aku melihatnya membelokkan motor ke sebuah resor yang jaraknya sekitar satu jam dari pusat kota. Perasaanku berkata, akankah ia memilih mengakhiri kesakitannya dengan cara-cara yang mengenaskan?

Aku menunggu beberapa saat di luar gerbang resor. Setelah memastikan ia tak keluar lagi dari resor itu, aku masuk ke sana dan mencarinya ke kamar di lantai dua yang ditunjukkan oleh resepsionis. Kuketuk pintu kamar 705 tiga kali, ia tak menjawab. Kuketuk lima kali, ia tetap tak menjawab. Aku panik. Kugedor berulang kali sambil berusaha memutar-mutar handel pintu dan memanggil namanya, barulah ia membuka pintu dengan mata memerah. 

Ia diam menatapku, sementara aku langsung menerobos masuk ke kamar itu, lalu mengunci pintu dari dalam dan menyimpan kuncinya dalam saku celana. Kutelisik seluruh penjuru kamar, hanya ada asbak dan puntung rokok yang masih menyala di atas nakas. Aku memeriksa laci-laci, bawah bantal, dan belakang gorden. Aman. Namun, saat membuka pintu menuju balkon kamar, kulihat tambang Pramuka dengan simpul khas, menggantung di pagar pembatas balkon seolah menunggu seseorang untuk mengayunkan leher di sana. Ini tidak aman. Yang kutakutkan benar-benar hampir terjadi.

Aku berbalik, lalu menatapnya yang sudah berdiri di depanku. Ia tak mengatakan apa pun, hanya diam seolah pasrah dengan semua tindakanku. Kurenggut kerah kemeja birunya. Dan dengan amarah yang meledak, kutampar pipinya dua kali, lalu aku terduduk sambil menangis. Kupukul-pukul dadaku, berharap itu bisa melonggarkan sesak. "Bangsat kamu!" umpatku tanpa berani menatapnya lagi.

Ia berjongkok, lalu memelukku. Dalam pelukan itu, aku bisa merasakan bahunya berguncang. Ia menangis. Ia menangis untuk pertama kalinya. Ia menangis untuk pertama kalinya setelah aku menampar dan mengumpatnya. Ia menangis untuk pertama kalinya setelah aku menampar dan mengumpatnya dan kami menangis bersama. 

"Jangan mati," ucapku sambil menepuk-nepuk punggungnya. "Jangan mati seperti ini."

Ia masih melanjutkan tangis. Baru kali ini aku bisa melihat ia meluapkan emosi. Tangisannya mencakar-cakar hatiku. Aku tidak tahu, sudah berapa lama ia menahan semuanya sendiri dan seberapa berat hidup yang ia jalani selama ini. 

Aku mengurai pelukan, lalu menatap wajahnya yang basah. Tanpa ragu, kutangkup wajahnya dan kutatap matanya dalam-dalam. "Aku lebih senang melihat kamu menangis daripada melihat kamu mati."

Ia melepaskan tanganku dari kedua pipinya. "Kenapa kamu begitu peduli?"

Kugenggam erat kedua tangannya. "Kamu orang baik. Yang terjadi sama kamu, itu bukan salahmu. Jadi, jangan sakiti dirimu sendiri."

Ia melepaskan genggamanku dengan pelan, lalu menepuk kepalaku sambil tersenyum. "Terima kasih."

Dalam kamar itu, ia menangis lagi semalaman. Kulepas tambang yang ia siapkan, lalu kulempar jauh-jauh dari balkon hingga ia tak bisa menemukannya lagi. Sebelum meninggalkannya sendirian, kuminta ia berjanji agar pulang dalam keadaan afiat. Kau tidak berhak menyakiti dirimu sendiri, kataku. Dan ia menjawab, besok kita ngopi lagi di tempat biasa. 

Aku cukup lega. Namun, aku berjanji tak akan lengah sedikit pun tentangnya. Aku tahu ia tak mungkin membalas cintaku, tapi setidaknya aku boleh menganggapnya sebagai teman yang berharga. 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
A Lonely Journey
Nurria Betty
Novel
Surat terakhir sebelum mati
muhamad zaid
Skrip Film
Another Song For You
Guns Gunawan
Skrip Film
Cita-Cita Hana
Rika Kurnia
Skrip Film
Perfect Husband to My Sister
mahes.varaa
Cerpen
Raksha
Aiu Ratna
Novel
Metamorfosa
Tsabit Dieni Nur H
Novel
Bronze
Mellifluos - The Melody of Heart
Nia Dwi Noviyanti
Novel
Perjalanan Hitam
Rida nurtias
Cerpen
Bronze
lahirnya mentari di langit biru
Mochammad Ikhsan Maulana
Novel
TEMAN NGOPI
kumiku
Novel
Gold
IPA & IPS
Coconut Books
Skrip Film
Ala
Katanka Byru Perwita
Flash
Bunga Tidur: (Bukan) Mimpi
kvease
Flash
Re-Send
Momo hikaru
Rekomendasi
Cerpen
Raksha
Aiu Ratna
Cerpen
Para Moirai
Aiu Ratna
Cerpen
Nona
Aiu Ratna
Cerpen
Minzi
Aiu Ratna