Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Raga Sang Vampir
0
Suka
2
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Tidak ada manusia yang tinggal di hutan itu.

Setidaknya, begitulah yang selalu dikatakan Bara kepada anaknya.

Di balik pepohonan yang menjulang tinggi dan kabut yang turun setiap sore, terdapat sebuah rumah tua yang dihuni oleh keluarga kecil. Rumah itu jauh dari desa, jauh dari jalan raya, bahkan jauh dari kehidupan manusia.

Di sanalah Januraga tinggal.

Semua orang memanggilnya Raga.

Ia seorang vampir.

Sejak kecil, Raga mengetahui bahwa dirinya berbeda dari manusia yang sesekali ia lihat dari kejauhan. Ia memiliki taring, pendengaran yang tajam, tubuh yang mampu bertahan dari luka tertentu, dan kebutuhan terhadap darah.

Namun Raga tidak pernah membunuh manusia.

Ia bahkan tidak pernah berbicara dengan mereka.

Bara dan Selia, kedua orang tuanya, selalu memastikan hal itu.

“Jangan pernah mendekati manusia,” kata Bara.

“Kenapa?”

“Karena mereka akan takut kepadamu.”

“Kalau mereka takut, apa yang akan mereka lakukan?”

Bara terdiam sebentar.

“Mereka akan membunuhmu.”

Kalimat itu terus diulang sejak Raga masih kecil.

Manusia adalah makhluk berbahaya.

Manusia membenci vampir.

Manusia tidak akan pernah menerima mereka.

Raga mempercayainya karena ia tidak memiliki alasan untuk melakukan sebaliknya.

Dunia yang ia kenal hanya sebatas rumah dan hutan.

Sampai suatu hari, ia bertemu dengan seorang manusia.

Namanya Risha.

Pertemuan mereka terjadi secara tidak sengaja.

Raga sedang berjalan menyusuri sungai ketika mendengar suara seseorang mengeluh dari balik semak.

“Aduh…”

Raga berhenti.

Ia mengintip.

Seorang gadis sedang berusaha mengambil keranjang buah yang jatuh ke sungai.

Raga memperhatikannya beberapa saat.

Kemudian ia menggunakan kekuatannya untuk mengambil keranjang tersebut.

Gadis itu terkejut ketika keranjang tiba-tiba terangkat dari air.

“Siapa kamu?”

Raga tidak menjawab.

Gadis itu menatapnya.

“Namaku Risha.”

Raga masih diam.

“Kamu?”

“Raga.”

Risha tersenyum.

“Raga.”

Ia mengulang nama itu seperti sedang memastikan bahwa ia tidak salah mendengarnya.

“Kamu tinggal di sekitar sini?”

Raga menunjuk ke arah hutan.

“Di dalam hutan?”

Raga mengangguk.

Risha terlihat heran.

“Sendirian?”

“Dengan orang tuaku.”

“Oh.”

Hening.

Risha kemudian mengangkat keranjangnya.

“Terima kasih sudah membantu.”

Raga hanya mengangguk.

Ia hendak pergi.

Namun Risha bertanya lagi.

“Besok kamu ada di sini?”

Raga menoleh.

“Kenapa?”

“Entahlah. Mungkin aku mau berterima kasih lagi.”

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Raga menyadari sesuatu.

Manusia tidak selalu menakutkan.

Setelah pertemuan itu, Raga mulai sering menemui Risha secara diam-diam.

Risha mengajarinya banyak hal.

Tentang desa.

Tentang sekolah.

Tentang makanan.

Tentang permainan.

Tentang dunia yang selama ini hanya Raga dengar dari cerita orang tuanya.

Raga bahkan baru mengetahui bahwa manusia memiliki berbagai macam sifat.

Ada yang baik.

Ada yang jahat.

Ada yang berani.

Ada yang pengecut.

“Aku kira semua manusia jahat,” kata Raga.

Risha tertawa.

“Kalau semua manusia jahat, menurutmu aku ini apa?”

Raga terdiam.

Risha tersenyum.

“Nah.”

Sejak saat itu, Raga mulai mempertanyakan ajaran orang tuanya.

Mungkin mereka tidak sepenuhnya salah.

Mungkin manusia memang bisa berbahaya.

Tetapi mungkin juga mereka tidak semuanya seperti yang dikatakan Bara dan Selia.

Risha akhirnya memperkenalkan Raga kepada dua orang temannya.

Darma dan Bimbo.

Darma adalah seorang magi muda yang cukup cerdas dan serius.

Bimbo adalah kebalikannya.

“Jadi ini Raga?” tanya Bimbo.

“Iya.”

Bimbo memperhatikan Raga dari ujung kepala sampai kaki.

“Dia kelihatan biasa.”

Raga mengerutkan kening.

“Memangnya vampir harus kelihatan bagaimana?”

Bimbo berpikir.

“Minimal terbang.”

Darma memukul kepalanya.

“Jangan bodoh.”

“Aku cuma bertanya.”

Risha tertawa.

Awalnya Darma dan Bimbo merasa takut setelah mengetahui bahwa Raga adalah vampir.

Tetapi Risha meyakinkan mereka bahwa Raga tidak pernah menyakiti siapa pun.

Akhirnya mereka menerima Raga.

Hari-hari mereka kemudian dipenuhi pertemuan rahasia di sekitar hutan.

Raga mendapatkan sesuatu yang tidak pernah ia miliki sebelumnya.

Teman.

Dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa dunia tidak sesempit rumah yang selama ini ia tinggali.

Namun, rahasia Raga akhirnya membawa masalah.

Suatu sore, Risha datang ke tempat biasa mereka bertemu.

Ia tidak melihat siapa pun.

Kemudian terdengar suara kepakan sayap.

Risha mengikuti suara itu.

Di balik semak, ia melihat Raga sedang membungkuk di atas seekor burung merpati.

Mulut Raga menempel pada leher burung tersebut.

Darah terlihat di sekitar paruh burung.

Risha membeku.

“Raga…”

Raga langsung menoleh.

Matanya bertemu dengan mata Risha.

Untuk beberapa detik, keduanya hanya saling menatap.

Risha mundur.

“Apa yang kamu lakukan?”

Raga segera melepaskan burung itu.

“Risha, tunggu.”

“Kamu bilang kamu tidak pernah menyakiti makhluk lain.”

“Aku tidak menyakitinya.”

“Tapi aku melihatmu!”

Raga mencoba menjelaskan.

Namun Risha tidak mau mendengarnya.

Ia berbalik dan berlari.

“Risha!”

Raga mengejarnya.

Tetapi gadis itu sudah pergi.

Raga berhenti di tengah jalan.

Ia menatap tangannya.

Kemudian melihat burung yang masih terbaring di tanah.

Burung itu sebenarnya sedang sekarat setelah digigit ular berbisa.

Raga menemukannya beberapa menit sebelumnya.

Sebagai vampir, ia mampu menarik racun dari tubuh makhluk melalui darah.

Ia tidak sedang membunuh burung itu.

Ia sedang menyelamatkannya.

Namun Risha tidak mengetahuinya.

Dan Raga tidak sempat menjelaskan.

Sejak hari itu, Risha menjauhi Raga.

Darma dan Bimbo masih sesekali bertemu dengannya, tetapi Risha tidak mau ikut.

“Dia vampir,” kata Risha.

“Kita sudah tahu,” jawab Darma.

“Tapi aku melihatnya menghisap darah.”

Darma terdiam.

“Itu memang sifat vampir.”

“Jadi kamu tidak takut?”

“Takut bukan berarti kita harus langsung menganggap seseorang jahat.”

Risha tidak menjawab.

Ia masih teringat wajah Raga ketika tertangkap basah.

Ada sesuatu di matanya.

Bukan kemarahan.

Bukan kebuasan.

Melainkan seperti seseorang yang baru saja kehilangan sahabatnya.

Tetapi rasa takut lebih kuat daripada rasa penasaran.

Risha tetap menjauh.

Sementara itu, Raga mulai menyalahkan dirinya sendiri.

Ia mulai membenci kenyataan bahwa dirinya adalah vampir.

Ia mulai membenci darah yang mengalir di tubuhnya.

Dan untuk pertama kalinya, ia mulai marah kepada kedua orang tuanya.

“Kenapa aku harus menjadi seperti ini?”

Selia menatap anaknya.

“Karena memang itulah dirimu.”

“Aku tidak mau.”

Bara berdiri di belakang Selia.

“Raga.”

“Kalau menjadi vampir berarti aku harus kehilangan teman-temanku, aku tidak mau.”

Bara menghela napas.

“Suatu hari nanti kamu akan mengerti kenapa kami melindungimu dari manusia.”

Raga tidak menjawab.

Tetapi dalam hati, ia berharap ayahnya salah.

Beberapa minggu kemudian, sesuatu yang jauh lebih buruk terjadi.

Ayah Risha pergi ke kebun untuk memanen buah dan sayuran.

Ia tidak sadar bahwa seekor ular berbisa bersembunyi di antara rerumputan.

Ketika tangannya meraih salah satu tanaman, ular itu menyerang.

Ia tergigit tepat di bagian lengannya.

Ayah Risha berhasil pulang, tetapi racun sudah mulai menyebar.

Tubuhnya melemah.

Napasnya semakin berat.

Risha panik.

Ia meminta bantuan keluarga Darma.

Ibu Darma segera datang.

Sebagai seorang magi, ia menggunakan sihir penyembuhan untuk memperlambat penyebaran racun.

Cahaya muncul dari kedua tangannya.

Namun beberapa saat kemudian, ia berhenti.

“Bagaimana?”

Risha bertanya dengan suara bergetar.

Ibu Darma menggeleng.

“Racunnya sudah terlalu banyak.”

“Tapi Ibu bisa menyembuhkannya, kan?”

“Aku bisa menyembuhkan luka dan membantu tubuhnya bertahan. Tapi aku tidak bisa mengeluarkan racun sebanyak ini.”

Risha mulai menangis.

“Kalau begitu bagaimana?”

Ibu Darma terdiam.

“Tidak banyak waktu.”

Risha memandang ayahnya yang semakin lemah.

Darma berdiri di sudut ruangan.

Ia memikirkan sesuatu.

Kemudian tiba-tiba ia teringat kejadian beberapa minggu sebelumnya.

Burung merpati.

Raga.

Darah.

Darma menatap Risha.

“Aku punya satu kemungkinan.”

“Apa?”

“Kita minta bantuan Raga.”

Risha langsung menggeleng.

“Tidak.”

“Risha…”

“Aku tidak mau.”

“Kamu tahu sendiri tidak ada cara lain.”

Risha menatap ayahnya.

Kemudian menatap Darma.

“Aku melihat sendiri apa yang dia lakukan.”

“Aku juga tahu apa yang kamu lihat.”

“Lalu?”

Darma menarik napas.

“Raga bukan sedang membunuh burung itu.”

Risha terdiam.

“Kamu tidak tahu itu.”

“Aku tahu sesuatu yang mungkin belum kamu ketahui.”

Darma mendekat.

“Vampir memiliki kemampuan mengeluarkan racun melalui darah yang mereka hisap. Tidak semua vampir bisa melakukannya, tapi Raga bisa.”

Risha menatapnya.

“Bagaimana kamu tahu?”

“Karena setelah kejadian itu, aku menemukan burung tersebut.”

Risha terdiam.

“Burung itu masih hidup.”

Risha menelan ludah.

“Dan?”

“Darahnya sudah tidak mengandung racun.”

Ruangan menjadi sunyi.

Risha menggeleng pelan.

“Tapi… aku sudah memperlakukannya seperti monster.”

Darma menatap ayah Risha.

“Kalau kamu mau terus membencinya, tidak masalah.”

Ia kemudian menatap Risha.

“Tapi kalau kamu ingin ayahmu tetap hidup, sekarang bukan waktunya untuk membenci siapa pun.”

Risha tidak menjawab.

Ia memandang ayahnya.

Napas lelaki itu semakin lemah.

Waktu terus berjalan.

Akhirnya Risha berdiri.

Air matanya jatuh.

“Ayo.”

Darma mengangguk.

“Mau ke mana?”

Risha menghapus air matanya.

“Ke rumah Raga.”

Mereka berlari menuju hutan.

Risha tidak tahu apa yang akan terjadi.

Ia masih takut.

Ia masih marah.

Ia bahkan belum yakin bahwa Raga bisa menyelamatkan ayahnya.

Tetapi ia tahu satu hal.

Ia tidak punya pilihan lain.

Ketika sampai di rumah Raga, Bara langsung keluar.

“Apa yang kalian lakukan di sini?”

Risha terdiam.

Ia tidak tahu harus mengatakan apa.

Darma akhirnya maju.

“Kami membutuhkan bantuan Raga.”

Bara menggeleng.

“Tidak.”

Risha memberanikan diri.

“Ayahku terkena racun ular.”

Bara tetap diam.

“Tolong.”

Selia keluar dari rumah.

Ia melihat keadaan Risha.

“Apa yang terjadi?”

Darma menjelaskan semuanya.

Risha menundukkan kepala.

Ia bahkan merasa malu harus meminta bantuan kepada orang yang sebelumnya ia jauhi.

“Aku tahu aku sudah menjauhi Raga.”

Suaranya bergetar.

“Aku tahu aku salah.”

Bara menatapnya.

“Tapi ayahku akan mati kalau tidak ada yang menolong.”

Raga yang sejak tadi berada di dalam rumah mendengar semuanya.

Ia keluar.

Ketika melihat Risha, langkahnya berhenti.

Risha menatapnya.

Untuk beberapa detik tidak ada yang berbicara.

“Aku…”

Risha kesulitan berkata-kata.

“Maaf.”

Raga tidak menjawab.

Risha melanjutkan.

“Aku masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi waktu itu.”

Raga menunduk.

“Aku sedang mengeluarkan racun dari tubuh burung.”

Risha mengangguk pelan.

“Darma sudah menjelaskannya.”

Kemudian ia menatap Raga.

“Tolong ayahku.”

Raga tidak membutuhkan waktu lama untuk berpikir.

Ia mengangguk.

“Ayo.”

Bara hendak mencegahnya.

“Raga.”

Raga menatap ayahnya.

“Kalau aku memang bisa menyelamatkan seseorang, kenapa aku harus membiarkannya mati?”

Bara terdiam.

Selia menyentuh lengannya.

“Biarkan dia pergi.”

Akhirnya mereka mengikuti Raga menuju desa.

Ketika Raga tiba, kondisi ayah Risha sudah kritis.

Ibu Darma masih mempertahankan hidupnya dengan sihir.

Raga duduk di sampingnya.

“Apakah kamu yakin?” tanya Risha.

Raga mengangguk.

Ia menggigit leher ayah Risha.

Darah mulai mengalir.

Raga menghisapnya perlahan.

Racun yang terkumpul dalam tubuh lelaki itu berpindah ke tubuh Raga.

Wajah Raga mulai pucat.

Tubuhnya gemetar.

Namun ia terus melakukannya.

“Raga!” teriak Risha.

Raga tidak menjawab.

Ia terus menarik racun dari darah ayahnya.

Beberapa saat kemudian, ia melepaskan gigitannya.

Raga terjatuh.

Darma segera menangkapnya.

“Raga!”

Ibu Darma langsung mengarahkan sihir penyembuhan kepada ayah Risha.

Cahaya memenuhi ruangan.

Beberapa detik kemudian, napas lelaki itu mulai teratur.

Ia masih lemah.

Tetapi hidup.

Risha menangis.

Bukan karena takut.

Kali ini karena lega.

Ia menatap Raga yang terbaring tidak jauh darinya.

“Dia menyelamatkan ayahku.”

Ketika Raga sadar, Risha duduk di sampingnya.

Raga membuka mata.

“Bagaimana ayahmu?”

“Selamat.”

Raga tersenyum kecil.

“Bagus.”

Risha menunduk.

“Aku minta maaf.”

Raga diam.

“Aku seharusnya mendengarkanmu waktu itu.”

Raga menggeleng.

“Aku juga seharusnya menjelaskan.”

Risha tersenyum sambil menangis.

“Aku pikir kamu monster.”

Raga menatapnya.

“Mungkin aku memang monster.”

“Tidak.”

Risha menggeleng.

“Monster tidak akan melakukan apa yang kamu lakukan.”

Raga terdiam.

Darma yang berdiri di dekat pintu tersenyum.

Bimbo tiba-tiba muncul dari belakangnya.

“Berarti sekarang Raga resmi jadi manusia?”

Darma memukul kepalanya.

“Dasar bodoh.”

“Aduh!”

Raga tertawa.

Risha ikut tertawa.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka kembali seperti dulu.

Namun Bara dan Selia masih berdiri di luar rumah.

Mereka melihat manusia yang mulai menerima anak mereka.

Tetapi kekhawatiran mereka belum hilang.

Bara tahu bahwa dunia tidak selalu sebaik Risha dan teman-temannya.

Ia juga tahu bahwa suatu hari nanti, Raga mungkin akan menghadapi manusia lain yang tidak sebaik mereka.

Namun kali ini, ia tidak memaksa anaknya kembali ke rumah.

Karena untuk pertama kalinya, Bara melihat sesuatu yang selama ini tidak pernah ia pahami.

Raga tidak menjadi lebih lemah karena berteman dengan manusia.

Justru sebaliknya.

Raga menjadi lebih kuat karena mampu memilih sendiri siapa dirinya.

Ia seorang vampir.

Tetapi ia bukan monster.

Dan mungkin, menjadi monster atau bukan tidak pernah ditentukan oleh darah yang mengalir di dalam tubuh seseorang.

Melainkan oleh apa yang ia pilih untuk dilakukan dengan darah itu.

Raga menatap Risha.

Kemudian Darma.

Kemudian Bimbo yang sedang mengusap kepalanya.

Ia tersenyum.

Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi berharap menjadi manusia.

Ia hanya ingin menjadi Raga.

Seorang vampir yang memiliki pilihan.

Dan seorang anak yang akhirnya menemukan bahwa dunia ternyata jauh lebih luas daripada apa yang pernah diajarkan kepadanya.

Selesai.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Kisah dalam Remboelan
Shanen Patricia Angelica
Cerpen
Raga Sang Vampir
Aditian Nugraha
Novel
Serenada
Revalina Aulia N
Novel
Bronze
Never Ending Story
Song Rinrin
Flash
Bronze
Cinta Sebatas Goresan Tinta
Silvarani
Cerpen
Maya
MHD Yasir ramadhan
Novel
Bronze
Griseo
Syeren medyanto
Novel
Bronze
AFFECTION
A Zahra Angelina
Novel
Rayla
Rivaldi Zakie Indrayana
Novel
Gold
When Patty when to College
Noura Publishing
Novel
DAYRENT
Putri Amelia Solehah
Novel
Aulia Putri
Ananda Febrika Zebari Putra
Novel
Maitua
intan elsa lantika
Cerpen
Bronze
Es Krim di Surga
Muhammad Ikhsan
Cerpen
Bronze
FACIO Si Tisu Malang
hadi wiyono
Rekomendasi
Cerpen
Raga Sang Vampir
Aditian Nugraha
Flash
Bronze
The World In His Words
Aditian Nugraha
Novel
Bronze
Memori Rasa
Aditian Nugraha
Cerpen
Bronze
Distraksi
Aditian Nugraha
Novel
Bronze
Remedi
Aditian Nugraha