Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Sejarah
Racun Menghalalkan
1
Suka
167
Dibaca

Matahari sore menyelinap lewat sela-sela gedung tua kantor kami, seperti pengintip yang tahu semua rahasia, tapi memilih diam karena sudah terlalu bosan.

“Wah, rajin amat kamu,”

ucapnya dengan senyum selebar niat tersembunyi.

Teman sekantorku, tetanggaku, pria berseragam rapi yang wajahnya selalu menang undian simpatik,

tapi matanya—tak pernah berbohong.

“Iya, ini bentar lagi selesai.”

Sahutku, sambil tetap menari dengan angka-angka yang tak bisa berdusta.

“Hari ini kan gajian… mau ikut gak? Biasa, cari hiburan malam-malam,”

ujarnya sambil cengengesan. Tawanya ringan,

seolah malam bukan tempat setan berbisik, tapi taman bermain bagi kaum yang penat.

“Maaf ya, aku capek banget. Mau langsung pulang aja.”

Kataku, sambil menekuk keinginan yang tak pernah tumbuh.

“Ah, kamu gak asik. Tiap diajak gak pernah mau. Ya udah, aku cabut dulu.”

Ia melenggang, seperti biasa.

Ke mana? Entahlah. Tapi aroma dosa yang dipoles jadi rutinitas, sudah bisa kutebak tujuannya.

Aku hanya membalas dengan senyuman.

Bukan senyum ikhlas, lebih seperti usaha terakhir untuk tak ikut menilai.

Ia, pria baik di siang hari. Suami humoris di depan keluarga.

Dan malam… adalah dimensi lain yang tak pernah dimasukkan dalam daftar pertobatan.

*****

Laporan selesai.

Aku pun beranjak, keluar dari kantor yang dinginnya tak berasal dari AC,

melainkan dari sistem yang membekukan nurani.

Angkot melaju perlahan.

Kota ini terlalu bising untuk memikirkan benar dan salah.

Lampu jalan menatapku seperti saksi bisu yang terlalu sering melihat dosa tapi malas bersaksi.

Di sudut kota, gang sempit menyambutku.

Lorong sempit yang tahu banyak rahasia, tapi memilih jadi batu.

Aku berjalan cepat. Lelah ingin segera diobati, bukan dengan pelukan,

tapi dengan keheningan rumah yang tak pernah menghakimi.

Langkahku terhenti.

Di depan, sekumpulan wanita sedang menyemarakkan malam dengan obrolan moralitas.

“Pulang kerja, Mas?”

tanya salah satunya.

“Iya, Mbak,” jawabku sopan.

Sopan karena capek, bukan karena hormat.

“Kok gak bareng suami saya, Mas? Dia ke mana?”

Pertanyaan yang terlalu tajam untuk dijawab jujur.

“Wah… kurang tahu, Mbak. Saya buru-buru pulang soalnya.”

Ucapku, seperti pembohong pemula yang terpaksa jadi profesional.

“Oalah… Eh Mas, tahu gak, tetangga kita yang di sana itu, suaminya nikah lagi. Kasihan ya istri pertamanya.”

Komentar yang dilempar dengan gaya peduli, tapi nadanya—lebih tajam dari belati warisan turun temurun.

“Laki-laki zaman sekarang tuh gak bisa adil, Mas. Satu aja gak beres, apalagi dua. Nanti anak-anak yang jadi korban.”

Aku hanya diam.

Diam adalah bentuk paling sopan dari ketidaksetujuan.

“Maaf ya, Mbak. Badan rasanya gak enak. Saya istirahat dulu.”

Aku pun melangkah pergi.

Meninggalkan percakapan yang lebih penuh prasangka ketimbang logika.

*****

Dalam sepi kamar, pikiranku menggugat.

Mereka mencibir sesuatu yang sah—dengan narasi keadilan yang dibumbui luka dan air mata,

seakan kesakitan adalah dalil,

dan opini adalah hukum.

Tapi…

apa mereka tahu,

suami-suami mereka yang tampak suci itu,

telah lama menjadikan layar sosial media sebagai taman bermain hasrat?

Apa mereka sadar,

lelaki yang tidur sekasur itu,

bisa saja baru saja menanggalkan tawa di pangkuan wanita yang tidak tahu nama anak-anaknya?

Betapa ironisnya:

Yang haram dibungkam, karena rapat dan rapi.

Yang halal dihujat, karena jujur dan terbuka.

Apakah kita sedang membalikkan makna dosa?

Atau sedang menjadikan syariat sebagai bahan lelucon sosial?

Jika memang tak sanggup mendua,

maka silakan memilih satu,

tapi jangan memukul orang yang memilih jalur sah karena tak pandai menyembunyikan selingkuh.

Dan kalian—yang berkata soal adil,

tapi tak pernah bertanya kenapa wanita tak diberi hak yang sama…

itu bukan karena agama tak adil,

tapi karena kalian tak sudi bertanya lebih dalam.

Karena kalian lebih takut dikomentari tetangga,

daripada mematuhi Tuhan.

*****

Di negeri ini,

segala sesuatu bisa jadi benar,

asal dibisikkan dengan suara pelan dan bumbu norma sosial.

Dan segala yang sah bisa terlihat menjijikkan,

asal dilakukan tanpa topeng dan kepura puraan.

*****

Epilog

Malam kian larut. Di balik tirai jendela, bulan menggantung setengah hati—seperti bangsa ini yang tak pernah bulat dalam menilai.

Aku rebah, membiarkan tubuhku luruh, tapi pikiranku tetap berdiri—seperti nurani yang tak mau ikut rebahan di atas kasur kompromi. Di luar sana, para pendosa masih bersolek, para suci masih sibuk menunjuk, dan para netral… ya, mereka sibuk mencari sinyal.

Besok pagi, dunia akan kembali seperti biasa. Penuh senyum di bibir, penuh racun di balik kata "selamat pagi". Kantor akan tetap berdiri, sistem akan tetap beku, dan mulut-mulut akan terus bekerja keras—bukan untuk berkata benar, tapi agar tetap terdengar benar.

Karena di negeri ini, kebenaran tak harus utuh. Asal cocok dengan selera mayoritas, maka ia bisa dimaklumi. Dan kesalahan? Tak akan jadi dosa, selama dibungkus rapi dan dibagikan dengan tawa.

Tapi aku tak ingin ikut pesta itu. Aku cukup jadi penonton—yang tahu, mencatat, tapi tak ingin ikut menyuap.

Karena tak semua saksi diam itu kalah. Kadang, ia hanya tak ingin merendahkan suara hatinya jadi sekadar debat warung kopi.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Sejarah
Cerpen
Racun Menghalalkan
Temu Sunyi
Novel
Gold
Cinta, Kesehatan, dan Munajat Emha Ainun Nadjib
Noura Publishing
Cerpen
Bronze
Burung-Burung Itu Tak Berkata Lagi
Andriyana
Novel
N250: LANGIT TANPA BATAS
Rizki Ramadhana
Novel
Bronze
BANJIR DARAH NEGERI DHAHA
Sri Wintala Achmad
Novel
Bronze
Dua Bunga
JI
Novel
Gold
KKPK Aku Calon Presiden
Mizan Publishing
Novel
Bronze
Lilin yang Patah
Gia Yaquni
Novel
Bronze
Nun Mati 1962
Tian Setiawati Topandi
Novel
Bayangan dalam Diri
Muhammad Agra Pratama Putra
Cerpen
Aaron dan Istana Laut
Ren Shinichi
Novel
Bronze
Legenda Negeri Bharata
Putu Felisia
Flash
Bronze
Sejarah adalah Pohon adalah Sejarah
Santama
Cerpen
Bronze
Maaf Malam Minggu ini Aku di Lubang Buaya, Sayang
Silvarani
Novel
Bronze
GEGER BUMI SINGASARI
Sri Wintala Achmad
Rekomendasi
Cerpen
Racun Menghalalkan
Temu Sunyi
Novel
Tubuhku Tak Salah, Tapi Dunia Menghakimi
Temu Sunyi
Cerpen
Tangan Kasar Pendidik
Temu Sunyi
Cerpen
Pundak Tanpa Usia
Temu Sunyi
Novel
Bronze
Mimpi Yang Tak Membawaku Pulang
Temu Sunyi
Cerpen
Parade Para Domba
Temu Sunyi
Novel
Bronze
Kenangan Yang Terbenam
Temu Sunyi
Cerpen
Akal Perendah
Temu Sunyi
Cerpen
Pencari Kursi Suapan
Temu Sunyi
Novel
Air Mata Yang Diharamkan
Temu Sunyi
Novel
Malam Yang Menghapus Nama
Temu Sunyi
Novel
Langit Menolak Jelita
Temu Sunyi
Cerpen
Anak Di Tanah Konflik
Temu Sunyi
Novel
Tempat Terakhir Namamu Kucuri
Temu Sunyi
Novel
Sajak Kelam Para Terbuang
Temu Sunyi