Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Komedi
"MENDADAK SOLEH" DI RAMADHAN
0
Suka
13
Dibaca

Somad datang ke masjid 30 menit lebih awal demi dapat saf yang paling strategis—bukan biar dekat imam, tapi biar bisa berpapasan dengan Astari di pintu keluar jamaah wanita.

Somad yang tadinya tidak tahu doa iftitah, mendadak komat-kamit panjang (padahal cuma baca lirik lagu) biar terlihat sangat khusyuk.

"Tumben Mad, biasanya jam segini masih mabar di pos, sekarang udah megang tasbih?"

“Wah iye dong, perjalanan spiritual orang kan beda-beda, Nu!”

Dulu, sebelum ada Astari, Kaos oblong melar, celana pendek, sandal jepit beda warna—hasil "tukar guling" di tongkrongan—merupakan ciri khasnya.

Sekarang, sarung WATUMOR model high-waist (tinggi di atas mata kaki) selalu jadi atribut resminya saat Ramadhan. Mungkin biar kelihatan "hijrah total", padahal itu cuma karena dia salah beli ukuran yang lipatannya masih kentara karena baru banget beli.

Tak lupa peci hitam yang ditegakkan pakai karton biar presisi, dan semprotan parfum "Malaikat Subuh" yang baunya menyebar sampai radius lima mil jauhnya.

Pemuda itu bukan cari saf depan demi pahala, tapi cari saf yang paling dekat dengan jendela/pintu area wanita. Dia bakal pura-pura khusyuk, tapi matanya scanning keberadaan Astari lewat celah tabir.

Di mata Somad, pengangguran berijazah S1 jurusan Sastra Somalia—yang biasanya baru bangun jam dua siang—Astari adalah panggilan hidayah. Menjadi pemicu Somad bertransformasi. Peci hitamnya berdiri tegak mirip menara pengawas stasiun, meski posisinya miring demi menutupi TWS murahan di telinganya

Seminggu sebelum Ramadan, pemukiman padat Kebon Kelapa di Jakarta Pusat, mendadak punya "objek wisata" baru: Astari, gadis pindahan asal Bandung yang kulitnya seputih tahu susu dan matanya sebening air pegunungan. Ayahnya, Pak Subagja, adalah pegawai senior KAI yang berdedikasi dan disiplin. Pimpinan menariknya ke kantor pusat.

Di Halaman Masjid Al-Ikhlas Kebon Kelapa, selesai Tarawih suasana terasa padat, gerah, dan bising oleh suara anak-anak main petasan sarung. Somad berdiri di dekat tiang listrik, pura-pura benerin tali sandal yang sebenarnya nggak putus. Posisinya sudah dihitung matang lewat algoritma "Cinta Lokasi".

Astari muncul dari pintu samping bersama Ibunya.

"Aduh, gerah banget ya, Bu. Padahal di Bandung jam segini mah udah pake jaket."

"Ya namanya juga Jakarta, Neng. Sabar, nanti di rumah nyalain kipas."

Somad langsung pasang aksi. Dia mendadak melantunkan selawat dengan suara yang dibuat se-macho mungkin.

"Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad... (Sambil melirik Astari)”

Astari menoleh dengan senyum ramah,"Permisi, Baang!"

Somad mendadak lupa lirik selawat,"Eh, iya... Monggo Mbak ... eh, Ukhti. Hati-hati, jalannya agak licin, ada bekas es campur sama kolak tumpah."

Astari tertawa kecil, "Makasih, Bang! Abang-nya rajin ya, tadi di dalam saya lihat khusyuk banget."

Somad membusungkan dada, "Ah, biasa aja, Ukhti. Ibadah mah jangan setengah-setengah. Kalo bisa sampe 'puncak'... maksudnya puncak keimanan."

Ayah Astari kemudian muncul setelah selesai ngobrol dengan Pak Ustad.

"Ayo Neng, Bu! Kereta sudah mau berangkat... eh, maksud Bapak ayo pulang, sudah malam!"

Somad langsung pasang gestur hormat ala petugas KAI, tangan di dada sambil membungkuk 45 derajat.

"Siap, Pak! Jalur satu aman, rute menuju rumah Bapak bersih dari hambatan!"

"Kamu petugas stasiun mana? Kok pakai sarung?"

"Saya... petugas keamanan iman lingkungan sini, Pak!"

“Ooh, bisa aja kamu!” Pak Subagja menepuk bahu Somad. “Yuk, kami duluan!”

“Silakan Bapak, Ibu, Neng!”

——

Somad mendengar kabar kalau Astari ingin memperlancar bacaan Al-Qur'an-nya. Maklum, anak Bandung biasanya rajin pengajian. Somad yang baca Iqra 1 aja masih belibet, langsung mencalonkan diri jadi tutor pribadi dengan modal nekad dan aplikasi murottal di HP.

Di Teras rumah Astari, setelah tadarus, Somad duduk di kursi rotan dengan posisi sangat tegak, mirip penggaris besi. Di depannya ada meja kecil, segelas teh manis, dan sebuah Al-Qur'an besar yang sebenarnya dia pinjam dari masjid.

Dengan suara diberat-beratkan ala qori internasional, Pemuda itu mulai pasang mode guru mengaji.

“Jadi begini, Neng Tari... Ngaji itu bukan soal cepat, tapi soal rasa. Tajwid itu soal bagaimana kita menempatkan 'getaran' cinta... eh, maksud saya getaran huruf di makhraj yang tepat."

Astari membuka Al-Qur'an, wajahnya serius tapi polos,

"Wah, Bang Somad filosofis banget ya. Kalau ayat yang ini, Bang , hukum bacaannya apa? Saya sering lupa."

Keringat dingin mulai mengucur deras di balik peci tegaknya. Dia melihat huruf Nun Mati ketemu Tanwin, tapi di otaknya malah kepikiran menu takjil.

Tiba-tiba Pak Subagja, keluar sambil membawa berkas kantor

"Gimana Neng? Lancar ngajinya sama nak Somad?"

"Lancar Pak, Bang Somad pinter banget jelasinnya pake perumpamaan."

"Bagus. Kebetulan ini Bapak lagi baca peraturan baru KAI, ada istilah yang Bapak kurang paham. Nak Somad kan pinter tafsir, coba tolong tafsirkan poin 'Optimalisasi Layanan Terpadu' ini maksudnya apa menurut sudut pandang agama?"

Somad makin pucat, otaknya nge-hang.

"Euuu... begini Pak Bagyo, eh maaf, Pak Bagja! Yang namanya optimalisasi itu sama dengan sedekah waktu. Jadi kalau kereta telat, itu ujian kesabaran bagi penumpang. Dan bagi petugas, itu adalah ruang untuk... euuu... istighfar berjamaah."

Pak Subagja manggut-manggut antara kagum atau curiga.

"Ooo... religius sekali ya hubungannya sama kereta api. Ya sudah, lanjut ngajinya. Nanti kalau sudah selesai, makan kolak dulu di dalam."

Setelah Ayah Astari masuk, Somad mengusap dada.

"Hampir saja saya jadi gerbong kereta anjlok."

“Bang Somad kenapa? Kok mukanya pucat?"

"Oh, enggak apa-apa, Neng. Ini... ini namanya efek khusyuk yang mendalam. Oksigen di otak saya kalah sama energi spiritual.

——

Warteg "Barokah" milik Mbak Pur. Jam 14.00 WIB.

Matahari Jakarta lagi lucu-lucunya (baca: panas membara). Kain gorden warteg motif bango tongtong menutup rapat kusen pintu , hanya menyisakan celah kecil di bawah buat udara masuk.

Somad sedang duduk di pojokan paling gelap, jongkok di atas kursi biar kakinya nggak kelihatan dari luar. Di depannya: satu mangkok Indomie kuah rasa soto pakai telor burung onta yang asapnya masih mengepul, plus dua kerupuk kaleng. Dia berbicara pelan ke Mbak Pur.

"Mbak, es teh manis satu. Plastikin, ikat mati. Jangan pake sedotan, biar nggak bunyi pas disruput."

"Halah Mad, Mad, gaya amat pake sembunyi. Biasanya juga makan buka baju sambil angkat kaki satu!"

"Ssst! Ini demi masa depan, Mbak. Kalau saya ketahuan 'mokel', bisa turun saham saya di depan Neng Astari."

Tiba-tiba, gorden tersingkap. Novi masuk dengan muka berminyak, bawa wadah plastik mau beli lauk buat buka puasa suaminya nanti.

"Mbak Pur, tongkol dicabein masih... Looh! Somad?!"

Somad tersedak mi, kerupuknya sampai nyangkut di tenggorokan.

"Uhuk! Uhuk! Eh... Mbak Novi. Anu... ini..."

Novi mendekat dengan mata menyipit, tangan di pinggang,

"Wah, wah, wah... Calon Imam Masjid Al-Ikhlas ternyata lagi 'studi banding' rasa mi instan jam dua siang ya?"

Somad berusaha tenang, meski keringat dingin sebesar biji jagung mengalir dari pelipisnya.

"Bukan Mbak... ini... ini saya lagi melakukan eksperimen. Saya lagi ngetes apakah mi instan ini mengandung zat yang bisa membatalkan puasa secara filosofis."

"Filosofis dengkulmu! Itu kuahnya sampai nempel di kumis! Tadi pagi di depan rumah Astari sok-sokan ceramah soal menahan hawa nafsu, sekarang malah nafsu sama mi instan!"

"Sumpah Mbak, ini darurat! Tadi saya pusing, kayak ada kereta api ekonomi lewat di dalam kepala saya. Saya takut pingsan, makanya saya... euu... minum kuah mi buat pertolongan pertama."

"Waduh, kasihan ya. Saya foto deh, terus tak kirim ke grup WA 'Warga Kebon Kelapa Bersatu'. Biar Astari tau kalo guru ngajinya ini ternyata punya penyakit 'Lapar Akut' tiap jam dua siang.

“Jangan dong, Mbaak! Saya rela jadi ojek gratis Mbak Novi selama Ramadhan, asal foto itu jangan sampai ke tangan Astari!"

"Ojek gratis ya?! Mmm… Oke juga!”

——

Ruang tamu rumah Astari yang lega tampak rapi. Aroma kolak pisang dan bakwan hangat memenuhi ruangan. Jarum jam menunjukkan pukul 17.50 WIB. Somad duduk bersila dengan sangat sopan, tangan diletakkan di atas lutut. Di sebelahnya ada Novi, yang datang membawa lontong isi salmon suwir (ngarang bingit) bikinan ibunya.

"Nak Somad, terima kasih ya sudah banyak bantu Astari ngaji. Jarang ada pemuda zaman sekarang yang mau meluangkan waktu buat dakwah di pemukiman padat begini." ungkap Pak Subagja, tulus.

Somad tersenyum bangga, dengan kerendahan hati yang dibuat-buat. Cuping hidungnya kembang kempis mirip ayam habis BAB.

"Ah, sudah kewajiban kita sebagai sesama muslim, Pak. Apalagi menuntut ilmu itu kan sampai ke liang lahat, eh, maksudnya sampai ke negeri Cina."

Novi berdehem kencang sambil melirik Somad.

“Betul banget Pak Bagja, Somad ini emang totalitas kalau soal 'urusan perut'... eh, maksud saya urusan umat. Tadi siang aja saya lihat dia sibuk banget di dekat warung Mbak Pur. Lagi... 'dakwah' ya, Mad?"

Somad keselek ludah sendiri, mukanya langsung pucat, mirip kerupuk kemplang melempem.

"O-oh... itu... iya Mbak Novi. Saya lagi... meninjau... kondisi ekonomi mikro di sana. Memastikan warteg-warteg tetap kondusif."

Astari ke luar meletakkan piring berisi kurma di meja.

"Bang Somad hebat ya, sampai warteg pun diperhatikan. Ini Bang, kurmanya buat buka nanti. Bang Somad pasti laper banget ya, secara dari pagi kan kegiatannya padat."

"Wah, kalau lapar banget sih kayaknya enggak, ya Mad? Kan tadi siang udah 'pemanasan' dikit pake yang kuah-kuah... Eh, maksud saya kuah doa!" timpal Novi, dengan senyum licik.

"Kuah doa? Apa itu nak Novi?" tanya Bu Subagja.

Somad cepat-cepat memotong sebelum Novi bicara lebih jauh.

"Maksud Mbak Novi itu... air wudhu, Bu! Iya, tadi siang panas banget, saya sering-sering basuh muka pakai air wudhu biar segar hatinya. Rasanya... seger banget kayak kuah soto... eh!"

Anjiir, pengen gue gigit aje nih, lidah!’ Somad membatin.

Pak Subagja mengerutkan kening "Kok air wudhu rasanya kuah soto?"

"Maksudnya... gurih, Pak. Gurih pahalanya! Hehehe..."

‘DUG DUG DUG’! Suara bedug masjid terdengar.

"Alhamdulillah. Ayo, Nak Somad, silakan dipimpin doa bukanya. Kan kamu yang paling alim di sini." pinta Ayah Astari.

Somad panik luar biasa. Otaknya mendadak blong. Dia melihat bakwan, melihat Astari, dan melihat tatapan mengancam dari Novi yang sudah pegang HP siap-siap buka galeri foto.

"Bismillah... Allahumma laka sumtu... “(Berhenti sebentar, lalu lanjut dengan nada sangat dramatis karena takut ketahuan Novi).

Semakin lama suara doa Somad makin mengecil, seperti bergumam. Saking cemasnya pada Novi.

“...dan jauhkanlah kami dari godaan gorden warteg yang menyesatkan, dan berilah kesabaran bagi hamba-Mu yang ojek gratisnya bakal nambah seminggu lagi. Aamiin!"

"Lho, doanya kok ada ojek-ojeknya, Baang?"

"Itu doa khusus 'Sholeh Jalur Express', Tari! Cuma Somad yang paham tafsirnya." Celetuk Novi.

Jantung Somad berdegup lebih kencang dari bunyi mesin lokomotif CC206. Dia khawatir Novi makin ‘bernyanyi’.

——

Gang sempit Kebon Kelapa, jam 07.00 pagi.

Matahari sudah mulai menyengat, tipikal Jakarta yang bikin emosi naik. Somad terlihat ngenes. Dia pakai koko putih (biar tetep branding soleh), tapi pundaknya dicangklong tas belanja warna pink stabilo milik Novi. Dia lagi menunggu Novi menawar harga jengkol di tukang sayur gerobakan.

"Mad! Itu tas belanja pegangin yang bener, jangan sampai kangkungnya layu. Inget ya, foto 'Mokel Indomie' kamu masih tersimpan rapi di Cloud. Sekali klik, send ke grup WA warga!"

"Iya, Mbak Novi... ampuun! Ini juga saya udah kayak kuli panggul pasar induk. Apa kata dunia kalau Astari lihat saya begini? Mana pake tas pink lagi," balas Somad sambil mengelap muka pakai ujung sarung.

"Halah, anggap aja ini latihan tawadhu. Biar makin rendah hati!"

Tiba-tiba, dari arah berlawanan, muncul Astari yang lagi jalan pagi—kelihatannya baru pulang beli lontong sayur Mpok Hindun. Wajahnya segar banget, kontras sama Somad yang sudah mirip kangkung layu kena matahari.

"Lho…? Bang Somad?! Assalamu'alaikum!"

Somad langsung tegap, berusaha menyembunyikan tas pink ke balik punggungnya sampai badannya melintir.

"Eh ... Neng Astari! Wa'alaikumussalam … pagi yang penuh berkah ya, Neng."

Astari melihat posisi badan Somad yang aneh.

“Bang Somad kenapa? Pinggangnya sakit? Kok jalannya miring-miring gitu, kayak kepiting!”

Novi nyeletuk, "Bukan sakit pinggang, Tar! Ini Somad lagi mempraktikkan hadits 'Tangan di bawah lebih baik daripada tangan di atas'... eh, kebalik ya? Pokoknya dia lagi bantu saya, katanya mau melatih otot kesabaran sebelum tadarus nanti malam."

"Wah, Bang Somad baik banget ya, Mbak Novi. Sampe mau bantuin tetangga belanja. Benar-benar tetangga idaman."

Somad meringis menahan malu "Iya Neng... ini... ini namanya 'Zakat Tenaga'. Membantu yang... euu... yang membutuhkan informasi rahasia... maksudnya membantu tetangga yang kesulitan bawa belanjaan."

"Oya Bang, nanti sore Bapak ngundang Bang Somad lagi ke rumah. Katanya mau minta tolong dicek-in arah Kiblat di ruang kerja barunya. Kata Bapak, BangSomad pasti punya kompas iman yang akurat."

Somad gemetar, "Kiblat ya Neng? Siap... saya... saya usahakan pakai radar kalbu saya nanti."

Novi membisikkan sesuatu ke telinga Somad pas Astari lewat.

"Inget Mad, abis ini anterin saya ke tukang jahit. Kalau kamu nggak mau, pas kamu lagi nentuin arah Kiblat nanti, saya bakal teriak dari luar jendela soal Indomie rasa soto kamu!"

"Ya Allah, ujian-Mu berat banget. Mau jadi soleh jalur ekspres kok remnya blong begini …" Somad membatin.

——

Teras rumah Astari. Sesi mengaji malam kedua.

Somad duduk dengan peci yang agak miring ke kanan—sengaja buat nutupin earphone bluetooth di telinga kanannya. HP-nya disembunyikan di bawah kitab suci yang terbuka.

"Ayo Neng Astari, coba baca surah Al-Alaq-nya. Tenang saja, jangan terburu-buru. Rasakan setiap hurufnya..."

Astari mulai membaca. Di saat yang sama, tangan Somad di bawah meja sibuk memencet tombol 'Play' di aplikasi Quran Pro agar dia bisa dengar nada yang benar. Suara di Earphone Somad: "Iqra' bismi rabbikal ladzii khalaq..."

Somad meniru persis nadanya, "Yak, bagus Neng. Tapi di bagian Khalaq-nya itu harus lebih... euu... 'nendang'. Kayak pintu gerbong kereta ditutup, JEGLEG! Gitu. Coba lagi."

"Wah, Bang Somad telinganya tajam banget ya. Sampai tahu detail suaranya. Belajar di mana Bang?"

"Saya? Saya belajar dari 'Syeikh Google Al-Youtube-i', Neng. Beliau pakar suara dari awan (Cloud)... maksudnya ilmunya tinggi sekali.”

Sementara itu, Pak Subagja lagi duduk di kursi goyang dekat mereka, sambil baca koran tapi telinganya tetap standby memantau "kualitas" guru ngaji anaknya.

Somad duduk bersila dengan berwibawa. Pecinya semakin ditarik ke kanan, guna menutupi TWS murahannya. Di HP-nya, dia sudah siap memencet tombol play di aplikasi Quran biar bisa menirukan nada Syeikh Mishary Rashid.

"Neng Tari, coba ayat selanjutnya. Ingat, hukum Ikhfa itu artinya samar. Seperti cinta yang belum terucap... samar-samar tapi ada."

“Bang Somad bisa aja... Wa maaaa adraaka maa lailatull qadr..."

Somad menekan tombol di HP bawah meja, siap meniru nada di telinga, "Bagus. Tapi di bagian 'Qadr'-nya, pantulannya harus lebih berwibawa. Dengarkan saya ya..."

Somad menarik napas panjang, siap-siap mau 'ngaji' dengan suara bariton paling merdu yang pernah dia punya. Tapi... jarinya yang licin karena keringat dingin malah bergeser ke notifikasi belanjaan yang belum dibayar.

HP Somad beralih ke suara kencang dari speaker, karena TWS-nya mendadak putus Koneksi: "SHOPEE PEE PEE PEE! GRATIS ONGKIR! PAKETTT!!!"

Suasana hening seketika. Cicak di dinding pun bersembunyi, takut kena imbas.

Pak Subagja menurunkan korannya, matanya melotot tajam lewat kacamata.

"Lho? Itu suara malaikat apa suara kurir ekspedisi, Nak Somad?"

“Bang... kok pake ada 'Gratis Ongkir'-nya?" Astari bingung.

Muka Somad sudah mirip kepiting saus Padang—merah. Tangannya gemetar mematikan HP.

"Anu... Pak, Neng... Ini... ini namanya 'Gangguan Setan Digital'. Tadi saya lagi riset, Pak. Saya lagi mempelajari bagaimana kapitalisme berusaha menyusup ke dalam khusyuknya kita beribadah. Benar-benar licik ya setannya sekarang, pake promo diskon 4.4!"

Novi tiba-tiba muncul dari balik pagar, sambil bawa plastik sampah.

"Walah Mad! Itu bukannya pengingat kalau cicilan tas belanjaan saya yang kamu janjiin kemarin belum dibayar? Katanya mau jadi ojek pribadi yang amanah?"

Pak Subagja bangkit berdiri, nada suaranya berubah jadi tegas ala kondektur kereta api yang memergoki penumpang tanpa tiket.

"Nak Somad, coba Bapak lihat itu telinga kamu kenapa merah banget? Dan kenapa ada benda putih kecil nempel di situ? Itu alat bantu dengar atau alat bantu bohong?"

"Ini... ini alat bantu... euuu... filter suara, Pak! Biar suara saya nggak fals pas ngaji! Sumpah Pak, ini teknologi terbaru dari Kairo!"

"Jelaskan, Nak Somad. Sejak kapan ayat suci ada promo flash sale-nya?"

Tiba-tiba Somad pasang muka panik yang dibuat-buat, telunjuknya menunjuk ke arah gang di luar.

"Astaghfirullah! Pak! Neng! Dengar itu? Suara tadi... itu bukan dari HP saya!"

"Tapi Bang, suaranya jelas banget dari bawah meja..." bantah Astari.

"Bukan Neng! Itu suara pantulan (echo)! Itu kurir paket langganan saya, si kurir itu buta arah! Dia bawa paket titipan tetangga sebelah saya. Isinya obat herbal untuk komplikasi sariawan sama wasir. Kasihan, masuk nyeri, keluar nyeri. Kurirnya salah alamat mau ke sini! Saya harus cegah sebelum dia masuk ke jalur buntu atau ketabrak portal!"

"Lho, tapi tadi suaranya..." Telunjuk Pak Subagja mengarah ke gang.

Somad langsung pasang sarung di pundak kayak jubah tokoh Suparman Reborn (serial TV tiap sahur). Dia siap-siap lari.

"Maaf Pak Bagja, Neng Tari! Tugas kemanusiaan memanggil! Ibadah yang paling utama adalah menolong sesama yang tersesat logistiknya! Saya kejar dulu kurirnya sebelum dia makin jauh ke arah Stasiun!"

"Woi, Mad kurir apaan?! ? Jalanan kosong gitu!" timpal Novi.

Somad sambil lari sekencang-kencangnya tanpa menoleh, berseru nyaring.

"Dia pake motor listrik, Mbak Novi! Nggak Ada suaranya! Saya kejar pake radar batin!”

——

Teras rumah Astari jam 21.45. Selesai Tadarus.

Suasana Kebon Kelapa mulai agak sunyi, hanya terdengar suara sayup-sayup pujian dari toa masjid jauh. Somad baru saja duduk, sudah siap dengan peci miring "antena"-nya. Tapi Pak Subagja tidak memegang koran, dia memegang peluit dan catatan kecil.

"Nak Somad, sebelum lanjut ngajar Astari, Bapak mau audit sebentar. Sebagai orang KAI, Bapak gak suka ada 'penumpang gelap' dalam urusan ibadah. Semuanya harus sesuai Gapeka (Grafik Perjalanan Kereta Api)."

Somad menelan ludah, TWS-nya sudah terpasang tapi belum dipencet play.

"Siap, Pak Masinis... eh, Pak Bagja. Silakan, saya sudah siap di 'peron' keimanan."

"Begini. Bapak perhatikan, 'lokomotif' kamu ini sering telat panas kalau subuh, tapi kalau Taraweh 'kecepatan tinggi' terus di saf belakang. Kenapa?"

"Anu, Pak... itu namanya strategi 'Pengereman Dinamis'. Saya menyimpan tenaga di awal supaya bisa full power saat melihat... eh, saat beribadah di malam hari bersama warga."

"Lalu, soal peci miring itu. Di KAI, seragam itu harus simetris. Topi kondektur miring satu senti saja sudah saya skors. Kenapa peci kamu miringnya konsisten ke arah telinga kanan?! Apa ada gangguan 'sinyal' di situ?"

Keringat dingin mulai membasahi koko putih pengangguran tak kentara itu.

"O-oh... ini... ini filosofi 'Peci Miring', Pak. Maksudnya, pikiran saya sedang miring ke arah akhirat, biar nggak lurus terus ke urusan dunia yang fana ini."

"Ooo... filosofis ya. Sekarang Bapak tes 'pengereman' tajwid kamu. Coba, kalau ada Nun Mati ketemu Huruf Syin, itu hukumnya apa dalam 'persinyalan' ngaji?"

Somad panik. Jarinya di bawah meja buru-buru mencet HP. Tapi sial, aplikasinya malah muter iklan layanan masyarakat dulu.

"Euuu... itu... itu namanya Hukum Jalur Ganda (Double Track), Pak! Suaranya harus... euu... mendesis kayak rem angin kereta api yang lagi bocor. Sssssss...."

Astari keluar bawa teh "Lho, bukannya itu Ikhfa, Bang Somad? Kok jadi rem bocor?"

Pak Subagja berdiri, mendekat ke arah telinga Somad.

"Nak Somad, Bapak curiga 'wesel' (pindah jalur) kamu ini bermasalah. Coba lepas dulu pecinya. Bapak mau cek, apa ada 'perangkat ilegal' yang nempel di telinga kamu. Di kereta, sabotase sinyal itu pidana, lho!"

"JANGAN PAK! Ini... ini koyo cabe elektrik! Telinga saya lagi bisulan, Pak! Kalau dilepas, nanti 'gerbong' keimanan saya bisa anjlok!”

——

Rumah Astari. Jam 21.00 WIB.

Somad datang dengan penampilan paling 'soleh': baju koko yang disetrika licin, peci tegak lurus (nggak miring lagi karena dia sudah belajar beberapa ayat buat pamer), dan parfum yang baunya sampai ke ujung gang. Pemuda tengik itu bicara sendiri sambil pegang Iqra.

"Malam ini gue bakal kasih liat ke Pak Bagja kalo gue bukan sekadar 'gerbong ekonomi'. Gue adalah 'Luxury Class' buat Astari!"

Somad masuk ke halaman. Dia kaget melihat ada mobil plat D (Bandung) parkir di depan rumah. Di ruang tamu, suasananya sangat formal. Ada seorang pemuda tampan, rapi, pakai batik, duduk di sebelah Astari.

Somad membatalkan niat mengucap salam. Cuma melongok dari halaman ke arah ruang tamu yang terang dan ramai.

"Loh... itu siapa? Kok batiknya keliatan lebih mahal dari koko gue? Kok dia nggak pakai peci tapi auranya lebih 'adem'?"

Terdengar suara Pak Subagja dari dalam, sangat ramah—beda banget kalau bicara sama Somad.

"Nak Farhan, terima kasih ya sudah jauh-jauh dari Bandung. Bapak memang sudah lama nunggu momen ini. Astari juga sering nanya kapan Nak Farhan main ke Jakarta."

Astari tersipu malu, wajahnya lebih cerah daripada baju Koko si Somad.

"Iya, ‘A Farhan. Untung tadi A-a sampe sebelum Maghrib, jadi kita bisa buka puasa bareng."

Novi tiba-tiba muncul di belakang Somad, membawa kantong belanjaan kosong.

"Walah Mad... lho kok nggak masuk? Oh... lagi liat 'Kereta Eksekutif' ya? Kenalin, itu Farhan. Hafiz 30 juz, lulusan ITB, calon imam benerannya Astari. Kamu mah cuma 'kereta klotok' buat latihan ngaji doang, Mad."

Somad langsung lemas, kayak kesetrum belut listrik 860 Volt. Tasbih digital di jarinya jatuh ke lantai.

"Hafiz... 30 juz? Jadi selama ini gue ngajar pake aplikasi itu... di depan orang yang udah punya calon hafiz?"

"Ya iyalah! Astari itu cuma ramah sama kamu karena kasihan liat kamu 'mendadak soleh'. Udah, mending sekarang kamu anterin saya ke pasar. Stok ikan asin saya udah habis. Daripada foto 'Mokel' kamu saya sebar sekarang, mending kamu kerja bakti buat saya."

Somad yang berjalan menjauh dari rumah Astari, membonceng Novi ke pasar, sementara dari dalam rumah terdengar gelak tawa keluarga yang sedang merencanakan pernikahan.

Dia akhirnya sadar, bahwa ibadah demi manusia itu seperti mengejar kereta yang sudah sold out. Capeknya dapet, sampainya nggak!

——

Malam takbiran di Masjid Al-Ikhlas. Gema takbir bersahut-sahutan.

Somad duduk di pojok masjid. Tidak ada peci miring, tidak ada TWS di telinga, tidak pula parfum menyengat. Dia memakai baju koko lama yang sudah agak pudar warnanya, tapi dia duduk dengan punggung tegak—bukan buat pamer ke Astari, tapi karena dia sedang benar-benar mengeja Iqra 1 di tangannya.

Novi lewat mau bagi-bagi zakat, berhenti di depan Somad.

"Tumben, Mad. Astari lagi ke Bandung buat urus nikahan, kok kamu masih di sini? Nggak narik ojek? Saya mau ke mal nih."

Somad menoleh pelan, tersenyum tulus—senyum yang beda dari biasanya.

"Enggak, Mbak Novi. Saya mau di sini aja. Ternyata malu ya Mbak, mau nipu Tuhan pake aplikasi, eh malah dikasih liat yang aslinya (Farhan). Saya baru sadar, kalau mau dapet yang sekelas Astari, saya-nya juga harus beneran, bukan bajakan."

Novi Tertegun sebentar, lalu mengambil HP-nya dari kantong.

"Ya udah. Nih, foto 'Mokel' kamu di warteg Mbak Pur, saya hapus. Saya ngeri kena azab juga jadi tukang peras calon orang shaleh."

"Makasih, Mbak. Doain ya, biar Ramadhan tahun depan saya nggak perlu lari-lari ngejar kurir fiktif lagi.”

"Aamiin!”

***

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Cerpen
"MENDADAK SOLEH" DI RAMADHAN
Heru Sandy
Flash
Kucing Rese!
Tri Wulandari
Flash
What A Thrilling Night!
hyu
Flash
Petak Umpet
Suci Asdhan
Flash
Bronze
Kiri, Bang!
Reyan Bewinda
Cerpen
Hari-hari Sial buat Linda
Kiara Hanifa Anindya
Flash
I-phone , Bukan Jodohku ( Selamat Jalan I-phone 12 )
Alwinn
Flash
Bronze
Siapa??? Rusak Kacamata Nenek
Emma Kulzum
Flash
Bronze
MITOS BATU KATANYA?
Siti rokhmah
Cerpen
Bronze
Catatan Mas Doni
Emma Kulzum
Cerpen
Bronze
Keinginan Yang Kusesali
Vania
Flash
VIRAL! SEKOLAH TERAPKAN TIDUR SIANG BERBALUT KAIN KAFAN UNTUK SISWA. KEPALA SEKOLAH: SUDAH WAKTUNYA ANAK-ANAK MEMIKIRKAN MASA DEPAN.
Ade Anugrah
Flash
President Suite
𝔧 𝔞 𝔫 𝔱 𝔢 .
Komik
Sang Dewi
faith
Cerpen
Celana Dalam yang Hilang
Nadya Wijanarko
Rekomendasi
Cerpen
"MENDADAK SOLEH" DI RAMADHAN
Heru Sandy
Flash
NONTON KONSER SAMPAI BESER
Heru Sandy
Flash
NYOBAIN MIE NGACOAN
Heru Sandy
Flash
HP AYPON DI ANTRIAN BANSOS
Heru Sandy
Novel
KUMPULAN CERITA KOMEDI SINGKAT
Heru Sandy
Flash
NIKAH EKSPIRED DUA MINGGU
Heru Sandy
Flash
JOB FAIR BIKN APES
Heru Sandy
Flash
CALEG MODAL DENGKUL
Heru Sandy
Flash
BANGSAWAN Nggak bisa donor darah
Heru Sandy