Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Horor
Bronze
Putih
2
Suka
4,049
Dibaca

Lima orang dewasa terbangun. Tidak ada satu pun dari mereka yang mengingat bagaimana mereka bisa berada di sana. Ruangan itu serba putih. Dinding, lantai, dan langit-langit—semuanya berwarna putih. Bahkan cahaya yang membanjiri ruangan itu pun berwarna putih, begitu terang dan menyilaukan hingga terasa menusuk mata. Tidak ada jendela, tidak ada perabot, tidak ada apa pun yang bisa digunakan untuk menandai waktu. Satu-satunya benda yang ada di ruangan itu adalah sebuah pintu baja, terkunci rapat dan tanpa celah.

Arka, seorang arsitek yang dikenal karena ketelitiannya, adalah orang pertama yang bangun sepenuhnya. Kepalanya berdenyut sakit, seolah-olah baru saja dihantam benda tumpul. Ia menyentuh keningnya, tidak menemukan benjolan atau luka apa pun. Matanya mengerjap, mencoba membiasakan diri dengan cahaya yang seolah-olah tak pernah padam. Ia menoleh ke sekeliling, dan matanya melebar saat melihat empat orang lainnya tergeletak di lantai yang dingin.

"Halo?" suaranya serak dan pelan. Ia mencoba bangkit, namun tubuhnya terasa kaku dan berat. "Ada orang di sini?"

Salah satu dari mereka, seorang wanita dengan rambut sebahu dan setelan kerja yang kusut, perlahan membuka matanya. Ia adalah Hana, seorang jurnalis investigasi yang terkenal gigih. Ia duduk, memegangi kepalanya yang pusing, lalu menatap Arka dengan tatapan bingung. "Siapa kau? Di mana kita?"

"Aku tidak tahu," jawab Arka jujur. "Aku tidak ingat apa pun sebelum ini."

Satu per satu, yang lain mulai bangun. Maya, seorang perawat yang memiliki pembawaan tenang, langsung mengecek kondisi mereka. Ia memeriksa nadi mereka satu per satu. "Semua baik-baik saja," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. "Tidak ada luka fisik yang serius."

Riko, seorang seniman yang berpenampilan eksentrik dengan jaket kulit lusuh dan rambut gondrong, duduk bersila dan mengamati ruangan. Matanya menyusuri setiap sudut, seolah-olah mencari detail tersembunyi. "Ini... aneh," ucapnya. "Seperti kanvas kosong. Tapi entah kenapa, rasanya sangat... menekan."

Yang terakhir bangun adalah seorang pria tua beruban dengan kacamata yang miring di hidungnya. Ia adalah Bapak Surya, pensiunan guru sejarah. Wajahnya menunjukkan kerutan-kerutan bijaksana, namun saat ini dipenuhi kebingungan. "Rasanya seperti baru terbangun dari mimpi buruk yang panjang," katanya sambil menghela napas. "Tapi aku tidak ingat apa pun tentang mimpi itu."

Kelima orang itu saling bertukar pandang. Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda, tidak ada satu pun yang saling mengenal. Mereka berada di dalam ruangan yang aneh, terisolasi, tanpa petunjuk apa pun. Rasa panik mulai menyelimuti mereka.

"Kita harus mencari jalan keluar," kata Hana, naluri jurnalisnya langsung mengambil alih. Ia bangkit dan berjalan menuju pintu baja. Ia mencoba menggedornya dengan kepalan tangan, namun pintu itu tetap kokoh. "Terkunci."

"Tentu saja terkunci," timpal Riko dengan nada sinis. "Mereka tidak akan membiarkan kita keluar semudah itu."

"Mereka siapa?" tanya Bapak Surya.

Riko mengangkat bahu. "Para penculik? Eksperimen aneh? Siapa tahu. Yang jelas, kita tidak di sini secara sukarela."

Suasana hening sejenak, dipenuhi oleh rasa takut yang mulai merayap. Maya, dengan suara lembutnya, mencoba menenangkan. "Kita tidak boleh panik. Itu tidak akan membantu. Mari kita coba pikirkan apa yang kita ingat. Mungkin ada kaitan di antara kita."

Mereka mencoba mengingat, namun ingatan mereka kosong. Arka mencoba mengingat proyek arsitektur terakhirnya, tetapi yang ia dapatkan hanya kekosongan. Hana mencoba mengingat wawancara terakhirnya, namun hanya ada kabut. Riko mencoba membayangkan lukisan terakhirnya, tetapi yang muncul hanyalah warna putih yang menyilaukan ini. Bapak Surya mencoba mengingat nama-nama muridnya, tetapi hanya ada wajah-wajah tanpa nama.

"Ini seperti memori kita dihapus," kata Hana, suaranya dipenuhi rasa ngeri. "Ini bukan amnesia biasa. Ini... sesuatu yang lebih disengaja."

Hari-hari mulai tak terhitung. Tidak ada pagi, siang, atau malam. Hanya cahaya putih yang konstan. Makanan disalurkan melalui celah kecil di bawah pintu, berupa bubur hambar yang tidak memiliki rasa. Bubur itu selalu muncul pada waktu yang tidak terduga, membuat mereka semakin kehilangan pegangan akan waktu. Mereka mulai tidur di lantai yang dingin, menggunakan pakaian mer...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp19.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Cerpen
Bronze
Putih
Christian Shonda Benyamin
Skrip Film
PHANTOM : Lonceng Kematian
Weyyin
Flash
Mendua
Nunik Farida
Skrip Film
Bangkit Setelah Tujuh Hari di Kubur
Rana Kurniawan
Flash
Panik Kecil
Seraphine Alana
Flash
THE MARIONETTE AND HER FAIRYTALE
Reiga Sanskara
Flash
Angin dan Daun Yang Jatuh
Salman Faris
Flash
Suatu Malam di Kuburan
Ahmad R. Madani
Novel
Bronze
SIMPLE MINUTES
K. Z. Asri
Cerpen
MISTERI PETI KACA
Eddy Cahyo Tutuko
Novel
Sumur merah
andriani intan hidayah
Flash
Bronze
Jurit Malam
Deeta Pratiwi
Cerpen
Bronze
Bayangan di Jendela
Risti Windri Pabendan
Flash
Jangan Menimpali!
Jasma Ryadi
Cerpen
Penanggal
ANINZIAH
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Putih
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Terjebak Dunia Arwah
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Ouija
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Cermin Di Kamar Kost
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kata Terlarang
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kabut Asap Pelabuhan
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Goresan Kuas Bermakna
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Dia Pembunuh
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Notifikasi Terakhir
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Pulau Terasing
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Paranoid
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Hidup Di Dunia Lain
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Aku Di Bawah Ancaman Mereka
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bayang Bayang Dokter
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Aku Tidak Sakit
Christian Shonda Benyamin