Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Pustaka di Bawah Pohon Purba
0
Suka
366
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Deru mesin motor modifikasi yang dikendarai Raya memecah keheningan pagi di lereng Gunung Hijau. Di bagian belakang motornya, terikat sebuah keranjang kayu besar yang telah disulap menjadi rak buku keliling. "Pustaka Rimba", begitu Raya menamainya. Udara pegunungan yang dingin dan berembun menerpa wajahnya, membawa aroma khas pinus dan tanah basah sisa hujan semalam. Bagi Raya, perjalanan empat jam dari pusat kota melewati jalanan berbatu terjal ini bukanlah sebuah beban, melainkan sebuah panggilan.

Desa Akar Wangi, tujuan utamanya hari ini, adalah sebuah permukiman kecil yang dikelilingi oleh hutan lebat. Hutan itu adalah jantung kehidupan warga, sumber air, dan benteng dari tanah longsor. Namun, belakangan ini, ada yang salah dengan harmoni alam di sana.

Begitu motor Raya memasuki pelataran balai desa, kerumunan anak-anak langsung menyambutnya dengan sorak-sorai kegirangan. Mereka berlarian menghampiri keranjang kayu itu, mata mereka berbinar-binar melihat deretan buku dengan sampul warna-warni yang menggugah imajinasi.

"Kak Raya datang! Kak Raya bawa buku baru!" seru seorang gadis kecil berkepang dua sambil melompat-lompat.

Raya tersenyum lebar, mematikan mesin motornya, dan mulai menggelar tikar anyaman pandan di bawah pohon rindang. "Ayo, duduk yang rapi. Hari ini Kakak bawa banyak cerita tentang petualangan, hewan-hewan hebat, dan misteri alam semesta."

Anak-anak segera berebut mengambil buku dan duduk melingkar. Suasana berubah menjadi dengungan pelan dari anak-anak yang mengeja kata demi kata, sesekali diselingi tawa dan diskusi kecil. Namun, pandangan Raya tertuju pada seorang anak laki-laki berpakaian lusuh yang berdiri agak jauh dari kerumunan. Anak itu bersandar pada batang pohon mahoni, tangannya menggenggam erat sebuah ranting yang daunnya tampak menguning dan layu.

Raya mengenalnya. Namanya Banyu, usianya sekitar sepuluh tahun. Banyu dikenal sebagai anak yang paling tahu seluk-beluk hutan, tapi ia selalu menghindar setiap kali Pustaka Rimba datang. Banyu tidak lancar membaca. Bagi Banyu, deretan huruf di atas kertas adalah labirin yang membingungkan, jauh lebih rumit daripada melacak jejak babi hutan di semak belukar.

Dengan lembut, Raya mengambil sebuah buku bersampul hijau tebal berjudul Rahasia Kehidupan Pohon dan berjalan menghampiri Banyu.

"Hai, Banyu. Sedang memperhatikan apa?" sapa Raya ramah.

Banyu sedikit terkejut, namun ia tidak berlari pergi. Ia menunduk menatap ranting di tangannya. "Daun-daun dari Pohon Beringin Sepuh di pinggir hutan, Kak. Kakek bilang, pohon itu sedang marah. Umurnya sudah ratusan tahun, tapi daunnya mulai rontok dan mata air di bawah akarnya mulai mengering. Warga desa takut hutan akan mati."

Raya mengerutkan kening, menatap ranting layu itu dengan saksama. Ia lalu menyodorkan buku di tangannya. "Mungkin jawabannya bukan karena pohon itu marah, Banyu. Mungkin pohon itu sedang sakit, dan dia mencoba berbicara pada kita."

Banyu menatap buku itu dengan ragu. "Bicara? Lewat buku ini? Tapi... aku tidak bisa memahami bahasanya, Kak. Huruf-huruf itu seperti semut hitam yang berbaris berantakan di mataku."

Raya tersenyum teduh. Ia duduk di atas rumput dan menepuk tanah di sebelahnya, mengisyaratkan Banyu untuk ikut duduk. "Membaca itu sama seperti melacak jejak di hutan, Banyu. Awalnya kau hanya melihat jejak kaki yang berantakan di tanah berlumpur. Tapi jika kau perhatikan perlahan, kau akan tahu binatang apa yang lewat, ke mana arahnya, dan kapan ia lewat. Mari kita melacak jejak huruf-huruf ini bersama-sama."

Banyu ragu-ragu sejenak, lalu ikut duduk di sebelah Raya. Raya membuka halaman tengah buku tersebut yang menampilkan gambar ilustrasi anatomi akar pohon besar dan lapisan tanah. Mata Banyu langsung berbinar melihat gambar yang sangat detail itu.

"Ini... ini mirip sekali dengan akar Beringin Sepuh," gumam Banyu takjub.

"Benar. Nah, lihat kata yang tercetak tebal di bawah gambar ini," Raya menunjuk sebuah kata. "Ayo kita eja perlahan. Huruf pertama K-O-M..."

"Kom..." Banyu menirukan dengan terbata-bata.

"P-A-K..."

"Pak..."

"T-A-S-I..."

"Ta... si. Kom-pak-ta-si?" Banyu mengerutkan dahinya, mengeja dengan susah payah. "Kompaktasi tanah?"

"Hebat!" puji Raya, membuat rona merah kebanggaan muncul di pipi Banyu. "Buku ini menjelaskan bahwa akar pohon besar bisa mati lemas karena kompaktasi tanah. Artinya, tanah di atas akar menjadi sangat keras dan padat, biasanya karena terlalu sering diinjak atau tertutup sampah, sehingga air dan udara tidak bisa masuk ke dalam tanah untuk diminum oleh akar."

Mata Banyu membelalak lebar. Pemahaman baru seolah menyambar pikirannya seperti kilat. "Tanah yang keras! Kak Raya, bulan lalu warga desa membuka jalan setapak baru tepat di atas akar-akar besar Beringin Sepuh agar motor bisa lewat! Dan banyak orang membuang sisa-sisa plastik di sekitarnya. Tanah di sana memang jadi keras seperti batu!"

Banyu melompat berdiri, matanya menyala oleh semangat yang baru. Buku yang tadinya ia anggap sebagai labirin membingungkan, kini berubah menjadi peta harta karun yang menuntunnya pada keselamatan hutan.

"Kita harus memberi tahu Kakek dan warga desa, Kak! Pohon itu tidak marah, ia tidak bisa bernapas!" seru Banyu bersemangat.

Tanpa membuang waktu, Raya dan Banyu berlari menuju rumah kepala desa. Dengan buku Rahasia Kehidupan Pohon di tangannya, Banyu menceritakan apa yang baru saja ia baca dengan suara lantang dan penuh keyakinan. Awalnya, beberapa warga tua yang percaya pada mitos kemarahan penunggu pohon merasa skeptis. Namun, ketika Banyu menunjukkan gambar di buku dan menjelaskan teori kompaktasi tanah dengan bahasa sederhana yang mudah dimengerti, mereka mulai memahaminya.

Hari itu juga, seluruh warga desa bergerak. Berbekal cangkul, garpu tanah, dan keranjang, mereka berbondong-bondong menuju Beringin Sepuh. Benar saja, tanah di sekitar akar utama pohon raksasa itu sangat padat, kering, dan dipenuhi lapisan sampah plastik yang menghalangi resapan air.

Di bawah komando kepala desa dan panduan dari buku yang dibacakan perlahan oleh Banyu—dibantu oleh Raya saat ia kesulitan—warga mulai menggemburkan tanah dengan hati-hati agar tidak melukai akar. Mereka membersihkan semua sampah plastik, menutup jalan setapak buatan, dan membuat pagar pelindung dari bambu. Mengikuti petunjuk dari halaman lain di buku tersebut, warga juga menaburkan pupuk kompos dari dedaunan busuk untuk mengembalikan nutrisi tanah.

Hari-hari berlalu menjadi minggu. Raya harus kembali ke kota, namun ia meninggalkan buku Rahasia Kehidupan Pohon itu khusus untuk Banyu, sebagai hadiah atas keberaniannya.

Sebulan kemudian, deru mesin motor Raya kembali terdengar memasuki Desa Akar Wangi. Kali ini, ia membawa lebih banyak buku dengan keranjang yang lebih besar.

Begitu ia memarkir motornya, Banyu adalah orang pertama yang berlari menyambutnya. Wajah anak itu cerah, dan di tangannya tergenggam erat buku hijau yang mulai terlihat usang karena sering dibaca.

"Kak Raya! Kak Raya!" panggil Banyu dengan napas terengah-engah namun dihiasi senyum selebar dunia. "Kakak harus lihat!"

Raya mengikuti langkah Banyu menuju pinggir hutan. Di sana, Pohon Beringin Sepuh berdiri lebih kokoh dari sebelumnya. Daun-daun menguning telah tergantikan oleh tunas-tunas hijau muda yang lebat. Dan dari sela-sela akar besarnya yang kini tertutup tanah gembur dan subur, terdengar suara gemericik air yang jernih. Mata air itu telah hidup kembali.

"Kau berhasil menyelamatkannya, Banyu," bisik Raya haru.

Banyu menggeleng pelan, lalu mengangkat buku hijaunya tinggi-tinggi. "Bukan cuma aku, Kak. Huruf-huruf inilah yang menyelamatkannya. Aku sekarang tahu, kalau kita bisa membaca buku, kita bisa mengerti bahasa alam."

Banyu kemudian duduk di sebuah batu besar, membuka halaman pertama dari buku baru yang baru saja ia pinjam dari keranjang Raya. Dengan suara yang jauh lebih lancar dan percaya diri, Banyu mulai membaca dengan suara lantang.

Di bawah naungan rindangnya pohon purba yang kembali bernapas lega, literasi telah menumbuhkan harapan baru. Keduanya saling menjaga—hutan memberikan kehidupan bagi warga, dan pengetahuan dari lembaran buku memastikan kehidupan itu terus bersemi untuk generasi yang akan datang.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Gold
KKPK Marley Days With Me
Mizan Publishing
Novel
Teori Konspirasi Kulkas
Suci Mulyati
Flash
Dunia dalam Tas
Rafael Yanuar
Cerpen
Pustaka di Bawah Pohon Purba
Amir Ghozaly Prasetyo
Novel
Bronze
SAHABAT DAN KISAH CINTAKU
silvi budiyanti
Novel
Seduhan Tanah Pekarangan
Neo
Novel
Bronze
Rumah sejati Ahmad Sadikin
Azis Sulaeman
Novel
Bronze
Menoreh Luka di Hati
Handi Yawan
Novel
Gagal Cinta Kronis
Nara Lahmusi
Novel
Bronze
Tak Pernah Ada 1999
Maveera
Skrip Film
BFF (Script)
Ariesta Mansoer
Skrip Film
Titik, kemewahan sederhana.
Delpiariska
Flash
Bronze
THANK YOU FOR YOUR LOVE
Nisa
Novel
Meragukan, yang berakhir nyata.
Callista Vine Wijaya Buntoro
Skrip Film
Short Film Script Volume III
Yorandy Milan Soraga
Rekomendasi
Cerpen
Pustaka di Bawah Pohon Purba
Amir Ghozaly Prasetyo
Cerpen
Algoritma Malam Ke-13
Amir Ghozaly Prasetyo
Novel
Chronicles of Aethelgard
Amir Ghozaly Prasetyo
Cerpen
Kolektor Memori di Rak Nomor 7
Amir Ghozaly Prasetyo
Cerpen
Pelabuhan Kata yang Hilang
Amir Ghozaly Prasetyo
Cerpen
Diantara Sunyi dan Resonansi
Amir Ghozaly Prasetyo
Cerpen
Di Antara Detik yang Berlari dan Tatapan yang Meneka
Amir Ghozaly Prasetyo
Cerpen
Senandung Rindu di Batas Waktu
Amir Ghozaly Prasetyo
Cerpen
Menanam Harapan di Tengah Krisis
Amir Ghozaly Prasetyo
Cerpen
Di Balik Diam Seorang Ayah
Amir Ghozaly Prasetyo
Cerpen
Di Antara Deras Hujan dan Secangkir Harapan
Amir Ghozaly Prasetyo
Cerpen
Senandung di Ujung Lorong Tiga
Amir Ghozaly Prasetyo
Cerpen
Arsip Suara di Frekuensi 108.4
Amir Ghozaly Prasetyo
Cerpen
Penjaga Detik yang Hilang
Amir Ghozaly Prasetyo
Cerpen
Langit Kuning Borneo
Amir Ghozaly Prasetyo