Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Thriller
Pupuk Pohon
0
Suka
2
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Aku senang melihat bulan yang telah membulat penuh. Itu artinya, aku akan mendapat nutrisi baru. Ya, setiap purnama, orang yang rumahnya berada di depanku—lelaki muda berparas rupawan yang menyebut dirinya dengan nama Ryan—memberikanku pupuk. Pupuk yang spesial, lain dari yang lain, pupuk alami yang lezat.

Kadang, pohon di samping sana iri karena aku dapat tumbuh begitu baik. Bagaimana tidak? Akarku kuat, daunku hijau dan rindang, buahku pun manis. Ryan senang memetik buah yang kuhasilkan—buah terbaik, katanya. Dia selalu menyombong tentang caranya merawatku. Dan, aku sangat puas.

Selagi menunggu Ryan menyiapkan pupuk, seekor burung malam bertengger di salah satu dahanku. Ia berkukuk. Aku cukup suka pada burung malam. Kenapa? Karena rata-rata mereka adalah pemakan daging. Tak seperti burung pemakan biji, setiap bertengger, mereka menjatuhkan sisa-sisa biji yang belum tertelan, membuatnya tumbuh di tanah yang sama denganku. Selain itu, terkadang mereka membawa biji tanaman parasit. Kemarin dulu, kata salah satu burung malam yang kebetulan mampir, pohon di belakang sana mati karena ditumbuhi tanaman parasit yang dibawa burung siang. Aku tak mau hal itu terjadi padaku.

"Apa ada tikus di rumah itu?” tanya si burung kepadaku.

“Kurasa tidak,” jawabku. “Ryan orangnya cukup bersih. Nyatanya, setelah memberiku pupuk, dia membuang kulit luarnya. Malahan, dia membakarnya.”

“Masa?” Burung itu mengedikkan kepalanya.

Aku tak suka dia meragukanku. “Kebetulan, malam ini dia akan memberiku pupuk. Kalau tak percaya, lihat saja sendiri.”

“Ryan-mu sungguh aneh. Hanya karena terkena pupuk, dia membakar kulit luarnya. Aku pernah melihat manusia memandikan kulit luar mereka, menjemurnya, lalu memakainya lagi. Kalau dipikir-pikir, kenapa mereka harus memakai kulit luar yang tidak alami itu? Bukankah lebih enak jika dibiarkan apa adanya saja? Lebih bebas. Aku tak pernah berpikir memakai susunan serat-serat benang untuk menutupi bulu-buluku. Merepotkan sekali,” kata si burung.

“Entah," balasku. "Tapi, mereka bisa berganti-ganti kulit luar sesuka hati. Misalnya, hari ini berwarna hijau, besok merah, besoknya lagi biru, dan seterusnya. Menurutku, itu bagus. Aku juga ingin bisa begitu.”

Seperti yang sudah kuperkirakan, Ryan datang membawa pupuk. Ia menyeretnya ke bawahku. Aku dapat melihat pupuk itu berjenis beda dengan Ryan. Rambutnya lebih panjang. Jika Ryan disebut lelaki, berarti pupukku itu adalah wanita. Aku diberitahu tentang jenis kelamin manusia oleh burung hantu kemarin dulu. Pengetahuan burung hantu tak diragukan lagi. Aku suka berbicara padanya walau terkadang membosankan.

Ryan menyandarkan wanita itu ke batangku. Dia celingak-celinguk mencari sesuatu. Aku bisa menebak, ia mencari sekop untuk menggali. Saat ia lengah, wanita itu menendangnya. Rupanya, pupukku belum mati.

Ryan terjerembab. Wanita berkulit luar berwarna hijau itu berlari ke rumah dengan sempoyongan. Ryan mengejar, memukul kepalanya hingga jatuh telungkup. Ia juga menendang calon pupukku yang terkapar, lantas menarik kakinya, menyeretnya kembali ke bawahku.

“Tolong, jangan bunuh aku,” rintih wanita itu.

Tapi, Ryan malah menamparnya berkali-kali. Kupatahkan dahan, lalu kujatuhkan di dekatnya. Dia menangkap isyaratku dengan mengambil dahan itu untuk memukul kepala calon pupukku. Darah terlihat mengucur, membasahi tanah, merembes ke akar-akarku. Ah, enak sekali.

Saat calon pupukku itu terkapar tak bergerak, Ryan kembali ke rumah. Kuduga, ia mengambil sekop untuk mengubur wanita itu. Satu-dua menit aku menunggu. Namun, dia terlalu lama. Aku merasakan ada pergerakan di bawah. Rupanya, wanita itu kembali sadar. Ia merangkak, mencoba melarikan diri. Aku ingin berteriak memberitahu Ryan supaya cepat datang. Kalau tidak, wanita itu kabur.

“Hei, Burung! Berkukuklah yang nyaring,” pintaku pada burung yang masih bertengger di dahanku.

“Aku tak mau,” jawabnya.

“Sialan! Kalau begitu, lebih baik kamu pergi saja dari dahanku!” Aku mengusirnya.

“Aku tak mau.”

“Berengsek!” geramku.

Aku masih tak melihat tanda-tanda Ryan kembali. Di mana dia meletakkan sekop kesayangannya? Lama sekali dia mencari. Sial!

Wanita itu masih merangkak. Ia sampai ke pagar tembok. Dengan lambat, ia memanjat naik, berusaha melewati pagar. Kujatuhkan binatang yang selalu mengunyah daunku, ulat bulu. Dia terpekik kaget, pegangannya mengendur kemudian jatuh. Aku tertawa senang.

Dia lantas menengok ke pintu belakang rumah, mungkin takut kalau-kalau Ryan datang. Tapi, pemilikku tak kunjung menampakkan diri. Wanita itu kembali memanjat dinding pagar. Meski lemah, ia mampu sampai ke atas dan melompat ke luar. Dia berhasil kabur. Sial!

“Ryan membunuh sesamanya hanya sebagai pupuk untukmu?” tanya si burung.

“Tentu saja. Lihat, kan, betapa dia sangat menyayangiku?"

“Apa kamu tak sedih?”

“Kenapa mesti sedih?”

“Mungkin saja wanita itu adalah seorang penyayang pohon lain,” kata si burung.

”Betul juga," kataku tak pernah memikirkan hal itu. "Tapi, aku tak yakin. Ryan sangat menyayangi aku. Jadi, mana mungkin ia membunuh orang lain yang juga sayang pada tumbuhan? Aku sangat yakin, orang yang akan menjadi pupukku itu adalah mereka yang tak mau sekadar merawat tanaman.”

Si burung menelengkan kepalanya lantas berkata, “Dari mana kau tahu?”

“Aku tak tahu, tapi aku yakin dan percaya pada Ryan.”

Si burung mengangguk-anggukan kepalanya.

Aku kembali memperhatikan pintu belakang. Di sana, akhirnya Ryan muncul. Ia kebingungan mencari calon pupukku yang hilang. Aku ingin sekali memberitahunya, namun tak bisa. Ia lantas menelusuri jejak darah yang ditinggalkan wanita itu.

“Lihat! Dia sangat pintar, kan?” kataku menyombong pada si burung. Namun, ia tak menanggapi. Aku tak masalah.

Ryan kini tahu kalau tawanannya kabur. Ia segera menyusulnya, melewati pagar, mengikuti jejak yang ditinggalkan wanita itu.

“Aku yakin, dia pasti dapat menemukannya dan membawanya kemari lagi,” ujarku pada si burung.

“Apa perlu aku membuntutinya?” tanya si burung.

“Tidak—tidak perlu. Lihat saja nanti.”

Betul apa yang kukatakan. Tak lama setelah pergi, dia terlihat berjalan di luar pagar sambil menyeret wanita itu dengan menjambaknya. Aku dapat mendengar rengekan minta tolong si wanita. Dari atas, aku melihat Ryan memukulnya bertubi-tubi. Di tengah sorotan lampu jalanan, aku mendapati kulit luar calon pupukku yang kotor, basah, dan robek, serta banyak darah.

Wanita itu terdiam, tubuhnya melemas. Sebuah mobil tampak melewati jalan, hendak masuk ke pekarangan rumah di seberang. Rumah Ryan berada di pojok gang. Dari tempatku tumbuh, aku bisa melihat dengan jeas rumah tetangganya itu.

Ryan terlihat panik. Ia melirik ke kanan dan ke kiri, lantas mengambil plastik besar bekas sampah tak jauh dari tempatnya berada. Ia menanggalkan kulit luarnya yang terkena darah, membungkusnya bersama kepala si wanita dengan plastik lalu dijejalkannya mereka ke tempat sampah. Dia juga menutupi tubuh wanita itu dengan sampah.

“Malam!” seru sang tetangga turun dari mobil. Ia lalu membuka gerbang rumahnya.

“Malam juga!" sahut Ryan, meringis. "Tempat sampahnya penuh, sampai bercecer ke mana-mana. Jadi, kurapikan dikit.” Ia berjalan pelan-pelan menjauhi korbannya yang sedang meringkuk di timbunan kotoran.

"Wah, bener ya kata tetangga-tetangga lain. Kamu baik banget orangnya." Setelah bicara seperti itu si tetangga kembali masuk ke mobil, melajukannya melewati gerbang. Ketika dia kembali menutup gerbang, dia berbasa-basi dengan bertanya, “Emangnya udara panas banget, ya? Sampai telanjang segala?” Nadanya terdengar menggoda.

“Iya, panas banget! Ini juga sekalian mau mandi,” jawab Ryan.

“Aku masuk dulu, ya! Lelah, nih, lembur mulu,” pamit tetangganya.

“Selamat istirahat!” seru Ryan melambaikan tangan.

Setelah yakin sang tetangga sudah masuk rumah, ia kembali ke tempat sampah dan mengambil kaus dan tubuh wanita itu. Dengan cepat, ia meanggulnya, membawanya kembali ke bawahku.

“Berengsek! Nyusahin aja!” cacinya kesal. Ia lantas mengambil skop dan mulai membuat lubang di tanah.

Aku bisa merasakan pergerakan dari wanita itu. Astaga! Tenyata, dia belum mati juga. Padahal, aku tak sabar ingin segera memakan sari-sarinya. Ya, pasti sangat lezat, mengingat tekadnya yang kuat untuk hidup. Dengan susah payah, wanita itu berdiri, mengambil batu dan memukul tengkuk Ryan yang sedang asik menggali.

Mungkin, pukulannya kurang keras karena Ryan tidak ambruk. Atau karena memang lelaki itu memiliki ketahanan yang kuat. Namun begitu, dia terlihat sedikit goyah.

Hal yang dilakukan wanita itu malah membuat Ryan berang. Dia lantas memukul kepala si wanita hingga terdengar bunyi seperti rantingku ketika patah. Dia merenggut rambut wanita yang terkapar itu, menyeretnya mendekati lubang galian, lantas mengambil pisau dari saku. Dia membungkuk di atas calon pupukku, menarik kepalanya agar mendongak kemudian menyayat lehernya. Darah menyembur, membasahi bagian bawah batangku, mengalur turun ke tanah. Tubuh wanita itu berkelojotan, kejang-kejang kemudian diam. Tak diragukan lagi, kali ini dia benar-benar sudah mati.

Seperti yang dilakukan dengan pupuk-pupukku yang terdahulu, Ryan membelah dada wanita yang sudah tak bernyawa itu, berhati-hati mengambil jantungnya, memasukkannya ke dalam stoples bening. Ia lantas menggergaji tubuh Pupukku menjadi beberapa bagian, memasukkannya satu persatu ke lubang galian, lalu menguburnya. Aku dapat merasakan sesuatu di akarku, cacing-cacing, parasit, dan jasad renik lainnya mulai berpesta pora.

“Kupersembahkan pupuk ini untukmu, pohonku! Jadilah besar! Berbuahlah yang manis!” seru Ryan sebelum kembali ke dalam rumah.

Aku tertawa. Dia sangat lucu, bukan? Sebenarnya, ingin sekali aku memberitahunya bahwa yang kubutuhkan adalah karbon. Dan, karbon yang banyak ada di atas, sedangkan di bawah, aku lebih butuh air. Tapi tak apa, tanah yang gembur juga baik untukku.

"Mana? Dia tidak membakarnya," kata burung itu.

"Oh, tunggu saja!"

Karena terlalu lama menunggu Ryan yang tak kunjung membakar kulit luarnya, burung itu pun bosan, lantas terbang. Aku sempat memintanya berjanji agar menyimpan rahasia tentang pupukku ini. Tapi, tentu saja dia tak akan nenepatinya. Yah, namanya juga burung.

***


Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Thriller
Flash
Bronze
Kamar Maut
Abdi Husairi Nasution
Cerpen
Pupuk Pohon
IyoniAe
Skrip Film
THE MIRROR LIED
Reiga Sanskara
Cerpen
Bronze
Setan-Setan dari Rumah Hijau
Jie Jian
Novel
Love In Revenge
Cindy Tanjaya
Novel
Setelah Sang Raja Tumbang
Naufal Abdillah
Novel
Jangkitan: Wabah Zombie di Bogor
Kingdenie
Novel
AGATHO: What Have You Done
Celica Yuzi
Novel
Bronze
Misterius LOVE
Yattis Ai
Flash
MEOW
Alviona Himayatunisa
Novel
Jakarta 18m
gatot prakosa
Novel
Bronze
Krisis Moral
Dodi Spur
Novel
Romero dan Eleni
waliyadi
Flash
Terancam
Wirdatun Nafi'ah
Novel
Bronze
ASTAGHFIRULLAAH (Suropati)
Hermawan
Rekomendasi
Cerpen
Pupuk Pohon
IyoniAe
Novel
Hati-Hati Beda Level
IyoniAe
Novel
Bronze
Mereka yang Dipanggil Monster
IyoniAe
Novel
Bronze
Imprisoned Voice
IyoniAe
Flash
Beruntung
IyoniAe
Novel
Bronze
The Rogue
IyoniAe
Novel
Mereka Sebut Aku Orang Pintar
IyoniAe
Novel
Bronze
The Motive
IyoniAe
Flash
Mitos
IyoniAe
Novel
Cat in The Trap
IyoniAe