Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Komedi
Pujian Tanpa Nutrisi: Sebuah Biografi
0
Suka
3
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Tidak semua orang lahir dengan bakat istimewa. Ada yang lahir dengan suara emas, ada yang dengan otak encer, ada yang dengan kemampuan menggambar level dewa. Sementara itu, ada juga Darman manusia yang lahir dengan satu-satunya bakat yang terus diasah sepanjang hidupnya: kemampuan memuji tanpa nutrisi. Ya, semacam pujian yang kalau dimakan ayam pun ayamnya masih protes, “Ini apaan, bos? Nggak ada gizinya.”

Darman sudah 29 tahun ketika akhirnya menyadari bahwa jalannya di dunia bukan sebagai teknisi, bukan sebagai motivator, bukan juga sebagai konten kreator. Hidup membawanya pada satu profesi tidak resmi namun sangat lazim di kantor-kantor seluruh Nusantara: penjilat profesional.

Bukan tipe penjilat yang angkuh dan berbahaya seperti di sinetron, bukan. Darman lebih seperti starter pack penjilat tingkat dasar: muka lugu, senyum yang kualitasnya kayak stiker WA, dan pujian yang kalau direnungkan lebih lama dari tiga detik, langsung kedengeran bohong.

Pekerjaan Darman dimulai suatu Senin pagi yang biasa biasa seperti mie instan tanpa bumbu. Kantornya, sebuah perusahaan distribusi barang sembako, punya suasana khas: AC hidup cuma setengah hari, printer kadang ngadat kayak manusia habis putus cinta, dan kopi sachet yang entah kenapa rasanya selalu kurang takarannya.

Di sana ada Pak Jatmiko, bos yang dikenal super sensitif. Sekali salah bicara, bisa kena ceramah 30 menit tentang kedisiplinan atau sejarah perjuangan beliau dari tahun 90-an.

Suatu pagi, Darman terlambat 40 menit. Baru masuk pintu, Pak Jatmiko sudah berdiri dengan gaya final boss, tangan di pinggang.

“Darman. Kamu ini kenapa telat lagi?”

Dan di situlah, tanpa direncanakan, kemampuan Darman muncul. Seperti panggilan ilahi.

“Maaf, Pak… saya telat karena… terpana melihat bagaimana Bapak tetap semangat memimpin kantor meski hari Senin. Energi Bapak tuh… nular, Pak.”

Sebuah kalimat yang kalau dimasukkan ke tabel zat makanan, kalorinya negatif.

Anehnya? Pak Jatmiko terdiam.

Lalu menghela napas.

Dan berkata, “Ya… memang pemimpin harus begitu.”

Seketika itu juga, karier Darman sebagai penghasil-pujian-tanpa-nutrisi dimulai.

Sejak hari itu, Darman menemukan formulanya: beri pujian, jangan kasih isi. Yang penting bunyinya manis, seperti teh tiga sendok gula yang bikin batuk.

Contoh:

– “Wah Pak, baju hari ini cocok sekali. Aura kebijaksanaan keluar semua.”

Padahal bajunya cuma batik bawaan arisan istrinya.

– “Pak, ide Bapak tadi itu… visioner.”

Padahal idenya cuma mindahin dispenser agar tidak dekat colokan.

– “Cara Bapak menegur kami itu… membangun.”

Padahal baru saja diteriakin.

Karyawan lain awalnya bingung melihat fenomena ini. “Ini Darman serius apa satire?” Tapi karena Darman selalu mengatakannya dengan muka setulus hape jadul, mereka jadi sulit menuduhnya.

“Lu nggak malu, Man?” tanya Devi, teman sekantornya.

“Devi, ini bukan menjilat. Ini… menghargai pimpinan,” jawab Darman sambil menuang kopi sachetnya yang kesekian.

Padahal semua tahu, itu penjilatan. Penjilatan level ringan sih, tapi tetap penjilatan.

Karier Darman mencapai puncak kejayaan ketika perusahaan ikut lomba kantor paling tertib tingkat kabupaten. Semua orang sibuk bersih-bersih ruangan, memindahkan map, dan menyembunyikan kabel-kabel misterius yang entah terhubung ke mana.

Pak Jatmiko stres. Dia butuh seseorang yang bisa menenangkan mentalnya, inflasi emosinya. Dan siapa lagi kalau bukan Darman?

“Darman, ini meja saya sudah rapi belum?” tanya Pak Jatmiko dengan napas pendek.

Darman melihat meja itu. Berantakan. Banyak kertas belum dibuang, ada mug yang isinya sudah berubah bentuk, dan laci terbuka kayak mulut ikan koi.

Dengan ringan, Darman berkata, “Wah Pak, ini konsep rapi yang sangat natural. Bukan rapi palsu. Juri bakal lihat ini sebagai keaslian karakter pemimpin yang pekerja keras.”

Kalau juri beneran dengar, mungkin pulang sambil nulis laporan pelanggaran estetika. Tapi bagi Pak Jatmiko? Itu masukan emas.

“Ya! Saya juga pikir begitu!”

Sejak itu, Pak Jatmiko makin percaya sepenuhnya pada Darman, semacam hubungan simbiosis salah arah.

Hingga suatu hari, datanglah petaka: Pak Direktur Pusat datang inspeksi mendadak.

Seluruh kantor panik. Bahkan printer yang biasanya ngadat pun mendadak kerja normal, seolah takut kena PHK.

Pak Direktur ini terkenal dingin. Tidak mudah dipuji, tidak gampang terpancing. Orangnya tipikal “fakta dulu, perasaan nanti.”

Tapi Darman tidak takut. Dia menganggap tantangan ini seperti ujian nasional bagi spesialisasinya.

Ketika Pak Direktur masuk ruangan, semua diam. Hanya AC yang bersuara.

Darman berdiri, menarik napas, dan mengeluarkan pujiannya yang paling halus:

“Waduh… Bapak Direktur, auranya menenangkan ya. Kehadiran Bapak saja sudah kayak kontrol kualitas profesional.”

Semua orang menoleh. Deg-degan.

Pak Direktur menatap Darman lama.

Lama sekali.

Sampai Darman mulai merasa mungkin jantungnya perlu direstart.

Akhirnya Pak Direktur berkata, “Kamu… siapa namamu?”

“Darman, Pak.”

“Darman, saya sudah 20 tahun bekerja. Belum pernah ada orang memuji saya tanpa memberikan poin jelas. Kamu hebat.”

Hebat?

Semua orang tercengang.

Darman hampir menangis terharu.

Seni pujian tanpa nutrisi-nya berhasil bahkan pada boss tier tertinggi.

“Terima kasih, Pak,” katanya sambil sedikit membungkuk, seperti murid dojo yang keliru masuk ke kelas karate.

Tapi lalu Pak Direktur menambahkan kalimat kedua:

“Hebat dalam hal… mengulur waktu. Sekarang kembali kerja.”

Hening sejenak.

Lalu seluruh kantor menertawakan Darman pelan-pelan, berani tapi takut.

Darman?

Dia hanya tersenyum. Dia tahu ini risiko pekerjaannya.

Setelah kejadian itu, Darman tidak kapok. Bahkan semakin yakin bahwa bakatnya adalah bagian dari identitasnya. Bukan sekadar kemampuan, tapi warisan.

Dia bahkan mulai menulis buku kecil berjudul “Pujian Tanpa Nutrisi: Sebuah Biografi”, meski isinya belum jelas apakah biografi atau buklet pengembangan diri.

Isinya kira-kira seperti ini:

Bab 1: Seni Mengucapkan yang Manis Meski Tidak Ada Manfaatnya

Bab 2: Cara Membuat Bos Merasa Dipahami Padahal Tidak

Bab 3: Teknik Senyum Setengah Ikhlas

Bab 4: Pujian yang Terdengar Pintar, Tapi Tidak Membantu

Bab 5: Menjadi Favorit Tanpa Prestasi Berarti

Teman-temannya membaca draft itu sambil mengusap wajah.

“Man… ini tuh biografi apa panduan bertahan hidup?”

“Dua-duanya, Dev. Dua-duanya.”

 

Hingga pada suatu Jumat siang, momen epik terjadi. Waktu istirahat kantor, semua orang turun ke kantin belakang, dan Darman duduk dengan santai sambil makan tahu isi.

Tiba-tiba, Pak Jatmiko datang membawa sesuatu.

“Darman, ini ada surat.”

Darman takut.

Apakah dia kena peringatan? Mutasi? Skorsing karena kebanyakan memuji?

Ternyata tidak.

Itu adalah… surat promosi kecil. Bukan jabatan besar, hanya semacam “Koordinator Administrasi Pembantu Bagian Umum” jabatan yang kalau disingkat pun tetap panjang dan tidak jelas tanggung jawabnya.

“Tapi kenapa saya, Pak?”

Pak Jatmiko tersenyum puas.

“Karena kamu… selalu mendukung saya.”

Darman terdiam.

Di balik semua komedi hidupnya, ada sedikit rasa hangat juga di hati. Bukan karena jabatan, tapi karena akhirnya ada sesuatu yang datang dari pekerjaannya meski pekerjaan itu lebih mirip seni tipu daya ringan.

Tapi sebelum suasana menjadi terlalu sentimental, Devi muncul dari belakang.

“Man… jangan bangga dulu. Jabatan itu tuh cuma titel. Gajinya tetap sama.”

“Oh…”

Darman mengangguk pelan.

“Tidak apa-apa, Dev. Yang penting aku… naik kelas.”

“Naik kelas apanya?” tanya Devi.

“Dari penjilat level dasar… ke penjilat bersertifikat.”

Devi menepuk dahinya.

Seluruh meja tertawa.

Dan Darman ikut tertawa paling keras, sebab baginya hidup memang seperti itu: lucu, absurd, dan penuh pujian yang tidak ada gizinya.

Pada akhirnya, Darman tetap Darman.

Bukan pahlawan. Bukan legenda.

Hanya seorang manusia biasa yang menemukan keahliannya di tempat yang aneh:

di sela-sela kalimat manis yang tidak punya vitamin apa pun.

Dan jika ada pelajaran dari hidupnya, mungkin cuma satu:

Kadang, di dunia kerja, yang paling cepat naik bukan yang paling hebat. Tapi yang paling lihai membuat orang lain merasa hebat.

Sebuah kebenaran pahit.

Atau manis.

Tergantung siapa yang memuji.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Cerpen
Pujian Tanpa Nutrisi: Sebuah Biografi
KusumaBagus Suseno
Flash
Ayam kampus
Bungaran gabriel
Cerpen
Bronze
Pemuda Khilaf
K. Istiana
Flash
Bronze
Kiri, Bang!
Reyan Bewinda
Flash
Kampung Suka Salah
Penulis N
Flash
Sugeng Jatuh Cinta
Ariyanto
Flash
Bronze
Nikmati Saja Hidup, Jangan Dilawan
Ari S. Effendy
Cerpen
Dinul Making Love
Annisa Putry
Cerpen
Hari-hari Sial buat Linda
Kiara Hanifa Anindya
Cerpen
Salah Kirim Chat, Malah Jadi Gebetan
Aulia umi halafah
Komik
Gold
Benyamin Biang Kerok
Kwikku Creator
Komik
Alice and friends
Kyota Hamzah
Flash
Kucing tetangga
Mahmud
Flash
Bronze
A True Work of Art
Karlia Za
Flash
Overthinking Bersamamu
Cano
Rekomendasi
Cerpen
Pujian Tanpa Nutrisi: Sebuah Biografi
KusumaBagus Suseno
Cerpen
The Jhony : Antara Nasi Kucing dan NASA
KusumaBagus Suseno
Cerpen
Ada Nastar Di Kulkas
KusumaBagus Suseno
Cerpen
Manifesto Seorang Pemancing Sungai Kecil
KusumaBagus Suseno
Cerpen
Mangkuk Sakti Penjual Bakso Keliling
KusumaBagus Suseno
Cerpen
Tugas Akhir Mahasiswa Sastra Mancing
KusumaBagus Suseno
Cerpen
Selayaknya Ampas Kopi
KusumaBagus Suseno
Cerpen
Naskah Orang Mabuk
KusumaBagus Suseno