Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Horor
Bronze
Pudar
0
Suka
8,450
Dibaca

Reno membuka matanya, merasakan pusing yang luar biasa. Kepalanya berdenyut, seolah-olah baru saja dihantam benda tumpul. Langit-langit putih bersih menyambut pandangannya, tanpa celah, tanpa goresan. Ia bangkit perlahan, menyadari dirinya berada di sebuah kamar yang steril dan minimalis. Tidak ada jendela, hanya sebuah pintu besi yang kokoh. Ingatan terakhirnya adalah saat ia sedang menyelidiki kasus korupsi besar di sebuah perusahaan multinasional. Ia merasa ada keanehan, tetapi ia tidak dapat mengingat detail lebih jauh. Pakaian yang dikenakannya berbeda, diganti dengan setelan abu-abu polos. Tiba-tiba, suara mekanis yang dingin terdengar dari pengeras suara di sudut ruangan.

"Selamat datang, partisipan. Anda adalah bagian dari sebuah proyek riset penting untuk memahami trauma kolektif. Proyek ini akan membutuhkan kerja sama Anda. Harap ikuti setiap instruksi dengan baik."

Di kamar lain, Sinta, seorang psikolog muda dengan rambut sebahu, juga terbangun dari ketidaksadarannya. Ia merasa bingung. Seingatnya, ia baru saja merayakan kelulusan magisternya. Ia melihat sekeliling, merasakan ketakutan yang merayap di hatinya. Ruangan yang ia tempati sangat mirip dengan milik Reno. Suara yang sama terdengar, memberikan penjelasan yang sama. Sinta, dengan naluri profesionalnya, langsung merasa ada sesuatu yang tidak beres. Proyek riset macam apa ini?

Andri, seorang seniman pemalu yang karyanya penuh dengan emosi, membuka matanya. Ia melihat sebuah kanvas kosong di sudut ruangan. Instingnya mengatakan bahwa ia harus segera melukis, tetapi ia tidak tahu harus melukis apa. Ia tidak dapat merasakan apa-apa, seolah-olah emosinya telah hilang. Suara yang sama mengulang pesan yang sama, dan Andri hanya bisa terdiam.

Di kamar yang berbeda, Lia, seorang guru yang penuh kasih, merasa panik. Ia memikirkan murid-muridnya. Apakah mereka baik-baik saja? Apakah ia akan bisa kembali ke sekolah? Ia mencoba memutar kenangan tentang hari terakhirnya. Ia hanya ingat, ia sedang mengoreksi ujian murid-muridnya. Suara yang sama pun terdengar, tetapi tidak ada kata-kata yang dapat menenangkan hatinya.

Di kamar terakhir, Banu, seorang veteran perang dengan wajah yang keras, mengamati sekeliling. Ia telah melalui banyak hal, dan ia tahu bagaimana harus bereaksi terhadap situasi yang aneh. Ia memeriksa setiap sudut kamar, mencoba mencari celah atau alat apa pun yang dapat membantunya keluar. Ia tidak percaya pada "proyek riset" ini.

"Para partisipan, harap keluar dari kamar Anda. Pintu akan terbuka secara otomatis," suara itu kembali terdengar. Pintu besi yang kokoh terbuka. Mereka keluar ke sebuah koridor panjang, melihat satu sama lain untuk pertama kalinya. Mereka adalah lima individu yang sangat berbeda, disatukan oleh nasib yang sama.

"Siapa kalian?" tanya Reno, dengan suara yang tegas.

Sinta menjawab, "Saya Sinta. Saya seorang psikolog."

"Reno. Jurnalis," balas Reno.

Andri hanya mengangguk, terlalu malu untuk berbicara. Lia, dengan senyum ramahnya, menyapa mereka, "Saya Lia. Senang bertemu kalian."

Banu hanya mengamati mereka tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Mereka berjalan menyusuri koridor, dan di ujungnya, mereka menemukan sebuah ruang komunal yang luas, dengan meja panjang di tengah. Suara dari pengeras suara kembali terdengar, "Anda akan bekerja sama dalam sebuah proyek. Proyek ini akan menguji kemampuan Anda untuk berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial."

Mereka duduk di meja, dengan kebingungan dan kecurigaan yang terlihat jelas di wajah mereka. "Ada yang aneh di sini," bisik Sinta kepada Reno. "Ini bukan prosedur standar untuk sebuah riset."

"Saya tahu," jawab Reno. "Pakaian ini, kamar ini... ini lebih mirip penjara."

Andri melihat sekeliling, dan matanya tertuju pada sebuah layar besar di dinding. Layar itu menampilkan sebuah grafik yang rumit. Di atasnya, sebuah tulisan kecil bertuliskan "Proyek Senja: Fase I - Pembentukan Realitas".

"Proyek Senja?" Lia mengerutkan keningnya. "Aku belum pernah mendengar nama itu."

Tiba-tiba, layar itu berubah. Muncul sebuah gambar dari sebuah desa yang hancur. Suara narasi yang lembut, tetapi penuh kesedihan, terdengar. "Di desa ini, terjadi sebuah trage...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp19.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Cerpen
Bronze
Pudar
Christian Shonda Benyamin
Novel
Bronze
Reuni di Pulau Sembah
Langit Berawan
Novel
Ojek Online Mistis
Cirra Rei
Novel
Bronze
SELAMAT MALAM, KANIA
Rosi Ochiemuh
Flash
Bronze
Semalam di Hotel Berhantu (2)
Novia SR
Novel
Perjanjian Ketiga
bomo wicaksono
Novel
Bronze
Diteror Kuntilanak
Umi Ghani
Novel
Siti
Fitri febrianti
Novel
SAMBAT
iqbal syarifuddin muhammad
Cerpen
Bronze
Cerita Ratna, Seorang Pengarang, dan Sebuah Novel
Habel Rajavani
Novel
The Last Karta
Samuel Fetz
Komik
Jurig Imah Walanda
Filosofi Komik
Cerpen
Bronze
Panggilan 000
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bunker Jepang
Christian Shonda Benyamin
Flash
Who Is?
Via S Kim
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Pudar
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Panggilan 000
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bunker Jepang
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Pusaka Naga Hitam
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Suara Terompet
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Anatomi Bayangan
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Aku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Raina
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Arah Kompas
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kuncup Bunga Ungu
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Aku Yakin Ini Nyata
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Galeri Lukisan Oscar
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Mereka Ingin Menyakitiku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Simfoni Gema Yang Membeku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Paranoid
Christian Shonda Benyamin