Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Aksi
Puasa Bukan Halangan
0
Suka
17
Dibaca

Panas matahari menyiram kota. Kepulan asap kendaraan membuat udara keruh. Di tengah sibuknya profesi orang-orang yang bagi mereka terasa jenuh, ada pula yang sangat menikmati pekerjaan mereka.

“Jamal! Umpan sini!” minta striker pada Jamal.

           Orang berkulit hitam yang dipanggil Jamal itu sedang berlari dari sisi kanan, bersiap mengirim umpan kepada striker. Akan tetapi, umpan itu meleset. Full time, pertandingan berakhir, skor tertahan imbang satu sama.

           Tribun mulai sepi. Ruang ganti kian ramai dengan pertikaian.

           “Hei Jamal! Kok bisa umpan kau meleset! Kau ingin umpan ke burung kah, hah!!” omel seorang striker kepada Jamal.

           “Ya, maaflah bang. Semua manusia pasti punya kesalahan,” jawab Jamal kepada seniornya itu.

           “Woy, anak kecil!! Baru kemarin kau dapat piala Golden Boy, sekarang sudah klarifikasi kesalahan kau!” marah seorang striker senior yang masih tak terima dengan umpan tadi.

           “Sudahlah, Rob… jangan memperpanjang urusan. Lagi pula Jamal ini kan lagi puasa, wajar saja dia tidak fokus,” bela seorang kapten pada Jamal. Meski mereka berbeda agama, dan di tim ini hanya Jamal yang beragama Islam, untungnya tim ini bertoleransi satu sama lain.

           “Makasih, Bang, atas pengertiannya,” senyum Jamal pada sang kapten.

           “No problem, Jamal. Lakukan saja yang menurutmu paling benar,” timpal Kapten Franky sambil membalas senyum. Namun, di balik suasana yang damai tersebut, terdapat seorang coach yang sedang mengintai bak hewan buas yang siap menerkam mangsanya kapan saja ia mau.

           Keesokan harinya mereka berlatih kembali di bawah terik mentari yang membuat kulit ngilu. Jamal, seorang anak berusia 17 tahun, sedang mendribel bola, melewati para bek seniornya. Entah itu double touch, tendangan tipuan, hingga kipernya pun ikut terlewati. Dari sanalah masalah besar Jamal tumbuh.

           Empat bek dan kiper telah terlewati. Otomatis Jamal tinggal memberi sentuhan manis agar gol bisa tercetak di latihan ini. Sayang seribu sayang, bola itu bundar, roda kehidupan juga terus berputar, tidak selalu di atas dan tidak selalu di bawah. Bola yang ditendang Jamal itu malah mengenai mistar gawang. Kecewa? Jelas sekali!

           Peluit panjang berbunyi pertanda break. Semua pemain beristirahat, menselonjorkan kaki sambil menikmati segarnya air putih. Namun tidak dengan Jamal, ia tetap berlatih mendribel bola, menendang ke gawang tak berkiper, masuk.

           “Hei Jamal, kemarilah! Coach ingin mengevaluasi kita!” teriak Kapten Franky pada Jamal. Tak perlu diteriaki untuk kedua kalinya, Jamal sudah mendekat ke tempat abang-abangnya berkumpul, duduk ikut mendengarkan evaluasi.

           Coach yang sudah tua dengan perawakan yang tak sesuai umur berdiri tegak memulai evaluasi.

           

           “Tadi permainan kalian sudah cukup bagus, tapi akan lebih bagus lagi kalau kalian kompak dan fokus. Terutama kau, Jamal! Akhir-akhir ini permainanmu berbeda, kau juga lebih sering mengantuk, iya atau iya!?”

Semua pemain mengangguk, termasuk Jamal.

           “Dikarenakan lusa kita ada pertandingan final, bukan pertandingan liga, aku katakan sekali lagi, FINAL! Jadi aku merekomendasikan Jamal agar tidak puasa terlebih dahulu.”

Mendengar perkataan coach, Jamal pun termangu, ingin berkata tetapi tercekat.

           “Tidak harus dijawab sekarang, Jamal. Kau boleh menjawab besok. Diskusikan dulu dengan orang tuamu. Aku juga paham, ini menyangkut agama,” ujar coach prihatin. Jamal mengangguk.

           Azan magrib mulai menggema di langit-langit negeri yang asri. Para orang Muslim berbuka puasa, termasuk Jamal dan keluarganya. Di atas meja makan terhidang banyak makanan, dari kurma sampai nasi. Dari sanalah Jamal menceritakan kejadian tadi pagi kepada kedua orang tuanya.

           “Pertandingan final itu memang penting, tapi jangan sekali-kali melanggar perintah Allah, Jamal,” ucap ayah Jamal bijaksana.

           “Tapi kan puasanya bisa diganti di luar bulan Ramadan, Yah,” sela Jamal yang telah menghabiskan seporsi soto hingga tandas.

           “Dengarkan aku wahai anakku, Jamal. Bulan Ramadan hanya 30 hari dalam setahun. Kau memang boleh puasa di lain hari kalau kamu bersafar ke Inggris, Paris, Jerman, atau ke mana saja, tetapi kamu kan tuan rumah stadion tempat kau main, tak jauh dari rumah. Jadi puasa sajalah, baiknya,” ucap ayah Jamal panjang lebar.

           “Apa yang dikatakan ayahmu itu benar, Jamal. Bulan Ramadan hanya 30 hari, maka dari itu maksimalkan untuk berbuat baik pada bulan suci ini. Bulan di mana setan tidak berkeliaran. Maksimalkan juga malam-malamu untuk mengaji dan salat tahajud. Siapa tahu malam itu adalah malam Lailatul Qadar yang lebih baik daripada seribu bulan,” lanjut ibu Jamal.

           Jamal yang telah kenyang oleh motivasi kedua orang tuanya pun langsung melaksanakan ibadah-ibadah yang dianjurkan pada bulan Ramadan. Hingga hari yang dinanti-nanti pun tiba. Di hari sebelumnya Jamal sudah memberi tahu coach-nya bahwa ia akan tetap berpuasa pada pertandingan final. Sang coach hanya bisa mengangguk pelan sambil memberi tahu Jamal bahwa ia akan bermain full time, 90 menit.

           Tribun mulai ramai dengan suara penonton pertandingan. Babak pertama dimulai. Menit awal memang sangat sengit. Tak lama setelah itu, Jamal berhasil membobol gawang lawan dengan tendangan pisang miliknya. Skor sementara 1–0. Tidak lama setelah Jamal mencetak gol, ia memberi umpan trivela kepada sang striker, Robi. Tap-in yang mahal, karena ini pertandingan final dan lawannya jelas kuat. Di menit tambahan sebelum babak pertama berakhir, lawan berhasil mencetak gol, menyamakan kedudukan. Babak pertama selesai. Ruang ganti heboh memuji Jamal yang masih bisa tampil apik walau berpuasa.

           Babak kedua dimulai. Pihak lawan tak ingin kalah. Mereka mulai bermain kasar, apa pun mereka lakukan asal tim Jamal tidak menambah skor. Teman-teman Jamal terpancing, ikut emosi, yang pada akhirnya skor menjadi dua sama. Kapten Franky menasihati teman-temannya agar tak terpancing emosi. Jamal yang tetap tenang hanya melihat para suporter di tribun. Dari sanalah Jamal melihat keluarganya yang sudah berbuka puasa.

           Melihat itu, Jamal pun berlari ke pinggir lapangan meminta air kepada staf, berdoa sebelum berbuka, meminum setengah botol air minum, lalu kembali ke lapangan. Saat permainan dimulai kembali, Jamal makin hebat dalam melewati para pemain dan sekali lagi mencetak gol. Tidak cukup di situ, Jamal juga melepaskan tendangan roket di menit-menit tambahan babak kedua yang membuat kiper lawan sulit menepisnya.

           Dengan izin Allah, tim Jamal memenangkan pertandingan final dan membawa pulang piala besar. Tidak diragukan lagi, man of the match-nya adalah Jamal dengan torehan tiga gol dan satu assist. Ia dibawa ke ruang wawancara.

           “Bagaimana Anda bisa menjadi man of the match padahal Anda sedang berpuasa?” tanya seorang wartawan.

           Dengan tenang Jamal menjawab, “Seharusnya hari ini aku bisa saja tidak berpuasa, tetapi aku merasa ibadah ini tidak mengganggu aktivitasku sama sekali. Justru ibadah ini memberiku kekuatan untuk lebih sabar menghadapi masalah. Tidak lupa doa dari keluargaku yang dipanjatkan di sepertiga malam Ramadan. Mungkin itu yang membuat saya menjadi man of the match.”

               Setelah wawancara, Jamal diajak keluarganya makan di restoran. Setibanya di sana, ternyata teman-teman setimnya juga ada di sana. Jadilah mereka menemani Jamal berbuka puasa untuk terakhir kalinya di tahun ini, karena besok telah menyambut Hari Raya Idulfitri. Kemenangan yang manis.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Aksi
Cerpen
Puasa Bukan Halangan
pena aksara
Cerpen
Di Saat Doa Mustajab
pena aksara
Flash
Bronze
Toby Snick ( ghost hunter )
Okhie vellino erianto
Flash
Selamatkan Rabit
Sulistiyo Suparno
Cerpen
Bronze
Jejak Keadilan di Balik Derita
Muhammad Ari Pratomo
Cerpen
Train to The Earth
Hendra Wiguna
Flash
Kesaksian Langit
Alita
Cerpen
Bronze
SRIGALA BERDZIKIR DI AKHIR WAKTU
Ranang Aji SP
Cerpen
Bronze
Menemukan Cahaya di Tengah Kegelapan
Juanda Rizki Syaputra
Novel
Bronze
Sholat Yo
Hermawan
Flash
TUJUH RAHASIA ALAM MALAKUT
Shina El Bucorie
Flash
Play Game
Fitri Handayani Siregar
Novel
Rain(a)
Hosilla_ac
Flash
Takdir Kehidupan
Diyanti Rita
Novel
The Elder: Perang Lima Tahun
Manu de Hart
Rekomendasi
Cerpen
Puasa Bukan Halangan
pena aksara
Cerpen
Hadiah Terindah
pena aksara
Cerpen
Di Saat Doa Mustajab
pena aksara
Flash
mata luka sengkon karta
pena aksara
Cerpen
Jawaban di Balik Kebaikan Ramadhan
pena aksara
Cerpen
Buah kesabaran
pena aksara
Cerpen
Upgrade Ibadah
pena aksara
Flash
pasukan rompi coklat
pena aksara