Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
Bronze
Pria yang datang setiap pukul tiga sore
0
Suka
10,581
Dibaca

Bab 1:Ritual Sunyi di Aroma Waktu

Namaku Lara, dan duniaku beraroma kopi. Bukan sekadar metafora, tapi kenyataan harfiah. Aku mewarisi sebuah kedai kopi kecil dari kakekku, sebuah tempat yang terjepit di antara toko buku antik dan butik bunga yang selalu wangi. Kakek menamainya "Aroma Waktu", nama yang puitis dan sedikit melankolis, sama seperti beliau. Bagiku, tempat ini adalah segalanya: rumah, pekerjaan, dan benteng pertahananku dari riuh rendah dunia luar.

Hidupku berjalan dalam ritme yang teratur, nyaris seperti mesin jam. Pukul tujuh pagi, aku membuka pintu kayu berat kedai, membiarkan aroma biji kopi yang baru digiling menyapa jalanan yang masih setengah tertidur. Siang hari diisi dengan obrolan ringan para pelanggan, suara denting cangkir, dan desis mesin espresso yang menjadi musik latarku. Lalu, saat sore mulai merayap, kedai akan kembali lengang. Hanya menyisakan aku, Rian—barista muda yang lebih banyak tersenyum daripada bicara—dan beberapa pelanggan setia yang mencari ketenangan.

Di antara semua ritme itu, ada satu yang paling kunanti, sebuah ritual sunyi yang hanya aku yang menyadarinya.

Setiap hari, tanpa pernah meleset satu detik pun, tepat saat jarum jam di dinding kedai menunjuk angka tiga, seorang pria akan berjalan melewati jendela besar Aroma Waktu.

Dia bukan pelanggan. Dia tidak pernah menoleh, tidak pernah melirik ke dalam. Dia hanya berjalan lurus, dengan langkah yang mantap namun tidak tergesa-gesa, seolah sedang mengikuti jejak tak kasat mata yang hanya bisa ia lihat.

Aku memanggilnya "Pria Jam Tiga Sore". Tentu saja, hanya di dalam kepalaku.

Sosoknya tinggi dan tegap, meski bahunya tampak sedikit membungkuk, seolah memikul beban yang tak terlihat. Rambutnya hitam legam, sedikit panjang dan sering kali tampak acak-acakan ditiup angin sore. Pakaiannya selalu sederhana: kemeja flanel yang warnanya sudah sedikit pudar atau kaus polos berwarna gelap, dipadu dengan celana jins dan sepatu bot kulit yang tampak sudah menempuh ribuan langkah.

Namun, yang paling menarik perhatianku adalah ekspresinya. Wajahnya tampan dengan garis rahang yang tegas, tetapi matanya... matanya selalu menatap lurus ke depan dengan sorot yang kosong, seolah menembus semua yang ada di hadapannya. Ada semacam kesedihan purba di sana, kesedihan yang begitu dalam hingga seolah telah menyatu dengan dirinya. Dia tidak tampak marah atau frustrasi, hanya... hampa.

Selama hampir setahun aku mengamatinya. Aku tahu kebiasaannya seperti aku tahu cara membuat secangkir latte yang sempurna. Aku tahu kemeja flanel mana yang paling sering ia pakai (yang kotak-kotak hijau lumut). Aku tahu saat rambutnya butuh dipotong. Aku tahu di hari hujan, ia akan mengenakan jaket bertudung dan langkahnya akan sedikit lebih cepat, seolah ingin segera lari dari dinginnya air yang menerpa.

"Mbak Lara lihatin dia lagi, ya?" suara Rian memecah lamunanku suatu sore. Aku sedikit tersentak, memalingkan wajah dari jendela. Rian berdiri di belakang meja bar, mengelap gelas sambil tersenyum jenaka.

"Siapa?" tanyaku, berpura-pura bodoh.

Rian terkekeh. "Si Mas-Mas Misterius. Pria Jam Tiga Sore-nya Mbak Lara. Tiap hari, jam segini, pasti Mbak Lara bakal berdiri di dekat jendela, kayak lagi nungguin penampakan."

Pipiku terasa sedikit hangat. Aku tidak menyangka kebiasaanku begitu kentara. "C...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Cerpen
Bronze
Pria yang datang setiap pukul tiga sore
Febri Muhamad mughni
Cerpen
Perempuan dalam Rangkulan Hujan
Sofiza
Novel
Caffeine Serenade
Penamel
Cerpen
Bronze
Love or Ghosting
Tika Lestari
Novel
p.u.l.a.n.g
Marina Dohitra Yanuparinda H
Novel
Bronze
BOY & MILAN
B'gék Éspé
Novel
Bronze
ADARA
Sekar Pangastuti
Cerpen
23:59
Billy Yapananda Samudra
Cerpen
Melepas dengan Ikhlas
Diyah Ayu NH
Novel
Rintik Hujan dan Asap Kopi
Tianaqila
Cerpen
Bronze
Error 404, Identity Not Found
Desy Cichika
Novel
Bau Hujan
Dita Sofyani
Novel
Bronze
Anti Cancer
zee astri
Novel
Bronze
Neng Zulfa: Menikah dengan Gus Dingin
Puput Pelangi
Novel
Bronze
DROPE
kasetia
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Pria yang datang setiap pukul tiga sore
Febri Muhamad mughni
Cerpen
Bronze
Gema di ujung senja
Febri Muhamad mughni
Cerpen
Bronze
Gema yang pulang ke rumah kosong
Febri Muhamad mughni
Cerpen
Bronze
Rahasia yang di tanam di kepala
Febri Muhamad mughni
Cerpen
Bronze
Gema di dalam kepala
Febri Muhamad mughni