Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Erika tak ingat kapan terakhir kali ia dan Johan makan malam bersama selayaknya suami istri. Meja makan di rumahnya hampir selalu mengilat saking jarang digunakan. Ia dan Johan tidak pernah membeli sebuah perabotan tanpa alasan. Meja makan dari kayu jati itu tentu saja tidak dibeli untuk diabaikan. Ketika Johan setuju membawa pulang set meja makan jati itu dari toko meubel, seharusnya ia tahu akan ada istri yang menunggunya di meja makan itu setiap malam, bersama piring-piring hidangan berisi menu yang telah jadi dingin.
Bila ia dan anak lelakinya berdua saja di rumah, keduanya lebih suka makan di ruang keluarga ditemani tayangan TV. Mula-mula mereka sanggup berpura-pura dengan menempati sisi meja masing-masing. Zainlah yang pertama kali mengangkat piring makannya, pindah ke depan TV. Erika menyusul anak lelakinya dengan piring makannya sendiri. Hal itu pun menjadi kebiasaan.
Bagaimanapun, suara TV mengisi kekosongan yang tak diisi kehadiran yang lain. Suara TV selalu memberi rasa nyaman dan ilusi bahwa mereka tak hanya berdua di rumah.
Namun saat bersama Johan, Erika tak ingin makan di tempat lain selain di meja makan. Ia menginginkan interaksi dan keintiman. Ia tertarik mendengar cerita suaminya tentang pekerjaan atau sekadar tentang kemacetan perjalanan pulang.
Sayangnya, itu tak pernah terjadi.
***
Johan tiba di rumah pukul 21.44 dan langsung menghilang ke dalam kamar. Tas kerja dan sepatunya dibawakan oleh Aan. Erika tidak lagi menyusul suaminya ke kamar untuk menyuruh lelaki itu makan masakan yang sudah jadi dingin—meskipun Erika tak keberatan memanaskan semuanya kembali jika diminta. Usaha semacam itu sia-sia belaka. Johan tak akan keluar dan mengecup dahinya dan berkata, terima kasih, sayang, masakanmu enak sekali. Selain itu, Erika menghargai rasa letih suaminya.
“Tadi Pak Johan ada meeting dengan kantor-kantor cabang, dari siang sampai sore, sampai hampir udah malam tadi,” ada nada meminta maaf dari cara Aan bicara seolah ia turut bertanggung jawab atas sikap acuh tak acuh atasannya. Dan kalian sudah makan di luar, batin Erika. Alih-alih menyindir asisten suaminya dengan kalimat itu, Erika menawarkan makanan-makanan yang sudah dingin itu pada Aan. Di malam lain, ia akan serta merta mengambil wadah-wadah pelastik dan memasukkan makanan-makanan dingin itu untuk dibawa pulang si asisten. Daripada mubazir, katanya dengan nada menyindir. Kali lain, Erika akan membiarkan Aan menyantap makanan-makanan itu langsung di meja makan sementara Erika membereskan sisa makan malamnya bersama Zain. Namun malam itu, Erika bergabung dengan asisten suaminya di meja makan. Gerak-gerik Aan seketika berubah; ia batal mengambil nasi dan menunda menyentuh sendok serta garpu. Asisten lain akan menolak jika diajak makan oleh keluarga atasan. Namun Aan tahu semua makanan itu akan berakhir di tempat sampah bila ia tak menyatapnya. Ia tidak sampai hati membiarkan hal itu terjadi. Ia yakin Pak Johan sendiri tak akan keberatan.
“Katakan padaku sejujurnya,” bisik Erika sambil mencondongkan kepala ke arah Aan. Lelaki itu menyimak dalam diam. “Kalian mampir ke diskotek?”
Aan menggeleng. “Tidak, Bu.”
Tentu saja dia tak akan mengaku, pikir Erika. Meskipun Aan tampak menghormati dirinya, Erika yakin sang asisten akan tetap berada di pihak suaminya.
“Aku tak akan mempermasalahkannya. Aku berbeda dengan istri-istri kebanyakan. Minimal aku tahu kebiasaan kalian setiap malam sehingga dia jarang makan di rumah.”
“Kami cuma mampir makan di restoran padang tadi,” bisik Aan serendah suara Erika. “Hanya, bapak doang yang makan bersama rekan yang lain. Aku nunggu di mobil.”
Erika ingin bertanya kenapa Aan tidak turut makan bersama Johan dan rekan-rekan kerja mereka. Ia ingin bertanya kenapa Aan hanya menunggu di mobil. Namun Erika berubah pikiran. Ia menghela napas dan membuang muka. “Ya sudah, makan sana,” bisiknya tanpa menoleh. Aan mengangguk sungkan lalu mulai menyendokkan nasi dan udang saus tiram, cah pokcoi, dan perkedel kentang ke atas piringnya tanpa menyebabkan perangkat-perangkat makan berdenting. Ia mengunyah tanpa suara. Ia mengangkat gelas dan meneguk air minum juga tanpa suara. Erika terus mengalihkan pandangan ke seberang ruangan. Jika harus berpura-pura, ia merasa dirinya sendirian di meja makan. Ia membiarkan Aan makan sampai selesai, membawa piring kotor serta gelas ke bak cuci piring, mencuci perangkat-perangkat makanan itu sendiri seolah tak ingin merepotkan tuan rumah. Erika tak melarangnya melakukan itu. Seperti biasa, Aan pamit dan meninggalkan rumah itu dengan mengendarai mobil Johan. Ia akan datang menjemput sang atasan pagi harinya lagi.
***
Sesekali di pagi hari mereka masih punya waktu bertemu di meja makan. Johan akan bangun lebih pagi, duduk dengan secangkir kopi di sisi meja, menekuri koran daring dari gawai. Bila beruntung Erika akan terjaga saat bersamaan lalu menyusul Johan di meja makan. Tetapi kerapnya ia bangun setelah Johan telah berangkat kerja, hanya menitipkan pesan untuknya melalui Zain. Sejak sering ditinggal sendirian di pagi hari, Erika menyetel alarm di ponselnya dan berusaha bangun sepagi mungkin. Sesekali ia ingin membuatkan secangkir kopi untuk suaminya seperti istri-istri kebanyakan. Namun jangankan secangkir kopi, Johan tak pernah meminta Erika membuatkannya sarapan. Setiap pagi Johan sarapan di sebuah kedai langganan bersama Aan. Erika tidak perlu repot-repot bangun pagi untuk memasak sesuatu. Sesekali ia memasak nasi goreng dan memanggang roti untuk Zain, tapi kerapnya Zain memilih mengantongi uang jajan ke sekolah. Di siang hari Erika memesan makan siang lewat go-food dan menunggu Zain pulang untuk menyantap makanan itu di depan TV. Sungguh praktis hidup mereka, pikir Erika. Istri-istri lain akan bersyukur dan merasa lega saat tidak direpotkan dengan banyak pekerjaan, tetapi Erika merasa tak diakui. Ia ingin menceritakan perasaannya pada seseorang.
Suatu hari ia mulai menelepon Aan secara rutin. Mula-mula ia meminta nomor telepon si asisten sekadar untuk memata-matai gerak-gerik Johan di luar sana. Belakangan ia menelepon Aan untuk tujuan berbeda.
Erika tidak punya teman perempuan yang bisa ia percayai untuk mendengarkan curahan hati. Ia mengenal banyak perempuan bermuka dua yang diam-diam gembira mendengar masalah rumah tangganya, lalu tak segan-segan menyebarkan keluh kesahnya pada perempuan-perempuan lain, demi perasaan lega menyadari bahwa rumah tangga mereka lebih mulus dan suami mereka lebih romantis serta perhatian.
Namun Aan tidak seperti itu. Aan tulus menyimak keluh kesahnya bahkan jika mungkin, memberi Erika saran dan nasihat—meskipun lelaki itu terlalu santun untuk menasihati istri atasannya. Meskipun Aan masih bujang dan lima tahun lebih muda dari Erika, ada sisi dirinya yang mengesankan suatu tingkat kedewasaan—yang tidak Erika miliki. Mula-mula Erika khawatir Aan tidak akan bersikap objektif bahkan mungkin membocorkan curhatannya pada Johan. Namun Johan tidak menunjukkan gelagat mengetahui atau pun sekadar mencurigainya. Di sisi lain, Erika tahu ia tak boleh terkecoh dengan sikap tenang Johan. Apa pun yang diketahui atau tidak ketahui lelaki itu, Johan cenderung tetap berperangai tenang seperti danau yang menyimpan misteri. Selama hal itu tidak mengganggu dan merugikan dirinya secara langsung, Johan tak akan peduli.
Namun Erika yakin ketenangan dan ketakacuhan Johan kali ini bukan sekadar karakteristik bawaan yang ia miliki, melainkan karena Aan benar-benar menepati janjinya untuk tidak meneruskan pembicaraan mereka pada pihak lain. Belum pernah Erika merasa begitu nyaman bercerita pada seseorang. Ia hanya perlu berhati-hati dan tidak ceroboh menghubungi Aan ketika sang asisten sedang bersama Johan.
“Aku bahkan selalu merasa, setiap kali kami duduk di meja makan pagi harinya, ia tidak menyadari kehadiranku di sana,” kata Erika dengan pandangan melamun. “Sibuk dengan dunianya sendiri. Aku merasa tak dianggap.”
“Bapak pasti sedang mengurus pekerjaan saat itu. Aku sendiri biasa melihat handponnya gak pernah jeda dari notifikasi,” kata Aan dari seberang sambungan. Aan tidak pernah berbicara jahat tentang Johan. Semua yang keluar dari mulutnya tentang sang atasan adalah pernyataan-pertanyaan positif yang tidak Erika butuhkan. Tidak pernah satu kali saja Aan mencoba menempatkan diri di pihak Erika, mencoba memahami perasaannya, lalu setuju bahwa suaminya brengsek. Satu-satunya yang ia lakukan yang membuat Erika tetap nyaman mengutarakan isi hatinya adalah menyimak dan menyimpan keluh kesah itu ke dalam saku rahasianya, yang mungkin tak dapat diakses oleh siapa pun.
“Aku bisa mengerti,” gumam Erika. “Tapi kalau aku jadi dia, aku akan menyempatkan waktu barang semenit saja untuk mendongak dari ponselku dan menyapa orang yang ada di depanku."
Kali ini hanya keheningan menyapa dari seberang saluran. Barangkali bahkan Aan setuju dengan pernyataan Erika barusan tetapi lelaki itu tetap bungkam—dengan kata lain, enggan memposisikan diri di pihak Erika. Diam tanda setuju, sesederhana itu.
“Kamu serius dia enggak punya simpanan?” Erika bagaikan menodongkan sebilah belati ke hadapan Aan. “Kalau kamu peduli sama aku, jangan bohong.”
“Tidak, Bu.”
“Tenang saja, dia enggak akan pernah tahu kalau aku mengetahuinya darimu.”
Diam sejenak, sebelum Aan kembali berkata, “Tapi apa yang harus aku sampaikan ke Ibu kalau Pak Johan memang enggak punya simpanan? Kalau aku bilang ya, ada simpanan, berarti aku bohong.”
“Inilah yang aku benci dari para lelaki. Rasa kesetiakawanannya absolut.” Dua kalimat yang tadinya hanya terbesit di benak Erika, tak ayal ia utarakan. Namun Aan tidak mengatakan apa-apa. Diam tanpa setuju?
Di satu sisi, hal itu melegakan Erika: kesetiaan Aan pada Johan. Itu artinya masa kerja yang lama. Itu artinya Aan akan muncul di rumah setiap hari, mengantar-jemput Johan. Lalu mereka—Erika dan Aan—bisa bertemu selayaknya dua orang teman yang berbagi rahasia. Johan seperti selai di tengah dua lembar roti tawar: merekatkan mereka berdua. “Kalau begitu,” kata Erika dengan ketegasan suara yang menyiratkan pergantian topik. "Aku mau tahu. Benar kamu punya pacar tidak?”
***
Apa urusannya bila Aan punya pacar atau tidak? Toh Erika sendiri juga sudah bersuami. Mereka impas—seandainya Aan telah punya pasangan. Kehadiran seorang pacar tak akan membuat Erika berhenti menjadikan Aan sebagai teman bicara. Selama Aan tetap bersedia menjawab panggilan-panggilannya, Erika akan tetap melanjutkan komunikasi mereka.
Namun suatu hari ia menangkap tatapan ganjil Zain setelah Erika baru saja mengakhiri obrolan telepon. Tatapan itu adalah campuran tanda tanya sekaligus rasa benci. Tatapan yang belum pernah dilemparkan anak lelakinya terhadap Erika sampai hari itu.
Erika menduga Zain telah menguping obrolannya dengan Aan. Bagaikan diguyur seember es ke atas kepalanya, Erika merasa kebas, tak sanggup membayangkan bagian mana yang sempat tertangkap pendengaran Zain. Seorang anak tak seharusnya mendengar ibunya berbicara dengan begitu nyaman dengan seorang lelaki yang bukan ayahnya sendiri.
Erika berniat meminta maaf pada anak lelakinya. Sebelum Zain berpikir untuk mengadukan perbuatan ibunya pada sang ayah, Erika harus bertindak cepat. Namun ternyata ada hal lain yang meresahkan hati Zain selain obrolan Erika dengan Aan.
“Nadia enggak mau lagi jalan sama aku,” gumam Zain dengan wajah cemberut tanpa menatap wajah sang ibu.
“Kenapa?” rasa khawatir Erika terdengar amat berlebihan untuk menutupi rasa leganya sendiri.
“Orang-orang manggil aku protir kereta.”
“Portir kereta? Kenapa?” perhatian Erika akhirnya benar-benar tertuju pada anak lelakinya.
“Karena aku membawakan barang-barangnya Andrew.”
Erika tak memahami apa yang ia dengar. Pun caranya menatap anak lelakinya seolah ia tak mengenal wajah yang ia tatap. “Kamu membawakan barang-barang temanmu?”
Zain mengangguk sambil menghindari kedua mata ibunya.
"Kenapa?" tanya Erika.
Zain menatap ibunya dengan dingin untuk pertama kali. “Aku enggak tahu. Dari tadi Mama terus terusan nanya, kenapa, kenapa. Bikin aku pusing.”
“Tapi itu tidak wajar. Kamu ini siapa dan Andrew itu siapa.”
“Kami temenan. Kami sekelas.”
“Tapi kamu membawakan barang-barangnya karena kalian berteman, itu tidak wajar. Dia temanmu, bukan atasanmu.”
Zain bergeming sambil merenggut ujung kaos oblongnya. Tatapan matanya setengah menerawang.
“Mulai besok kamu tidak boleh membawakan barangnya atau barang siapa pun di sekolah--kecuali barang guru atau kepala sekolah. Dia punya tangan kan, si Andrew itu? Kenapa dia menyuruh-nyuruh kamu?”
Zain tetap bergeming.
“Mama keberatan, kalau kamu diperlakukan begitu sama temanmu. Kalau dia ngapa-ngapain, katakan kalau orangtuamu melarang kamu diperlakukan seperti portir kereta sama dia.”
Zain menggeleng dengan ekspresi wajah memelas. “Tidak semudah itu.”
“Apa maksudmu?”
“Andrew itu, dia berkuasa. Berteman sama dia berarti keren. Andrew menyebut kami para sidekick-nya. Bukan aku doang yang pernah ngebawain tas dan sepatu basketnya dia. Dulu si Bamby juga suka disuruh ngebawain bola basket. Si Bamby ini bapaknya pejabat. Apalagi aku yang bapakku hanya manager perusahaan, kenapa enggak boleh ngebawain tasnya Andrew?”
“Mama akan mengadukan si sialan Andrew ini ke wali kelas dan kepala sekolah. Dia pikir siapa dirinya?”
Zain menatap ibunya seolah Erika mengancam akan mengulitinya hidup-hidup.
“Mama, anak-anak akan menjauhi aku kalau sampai Mama melakukan itu. Mama akan menghancurkan pergaulanku di sekolah!”
Erika dapat melihat keseriusan dan ketakutan yang nyata pada sorot mata Zain. Maka ia sepakat untuk mempertimbangkan ucapannya barusan. “Tapi kamu janji tidak mau lagi disuruh-suruh teman sekelasmu ngebawain barang-barangnya, ok?”
Zain menggigit-gigit bibirnya, kedua tangannya terkepal di sisi meja. “Mama, aku juga pengen tidak disuruh-suruh begitu. Emang siapa yang rela jadi cadangan? Hanya saja, tolong Mama mengerti situasinya tidak semudah yang Mama pikir.”
Erika meletakkan satu tangannya di bahu Zain. Ya, Mama mengerti, katanya. Dibiarkannya keheningan mengalir sejenak untuk menetralkan kelumit perasaan di dada Zain. Setelah beberapa saat, ia membungkuk hingga wajah mereka hampir sejajar. “Coba kamu pikir. Kalau berteman dengan Andrew memang sekeren yang dipercaya oleh kamu dan teman-temanmu, kenapa Nadia justru ilfil dengan kamu diperlakukan macam porter kereta?”
Zain tidak menyahut. Erika tak menantikan jawabannya. Namun sang Ibu tahu bahwa pertanyaan retorisnya barusan telah membuat anak lelakinya akhirnya berpikir keras.
Keesokan hari, demi menepati janjinya pada Zain, Erika tidak menghubungi Aan. Rupanya telah terjadi perjanjian di antara ibu-anak pada hari itu. Zain berjanji tak akan lagi membawakan barang-barang Andrew di sekolah dengan syarat ibunya berhenti menghubungi Aan. Pipi Erika bersemu merah. Ia meyakinkan Zain bahwa alasannya menghubungi Aan semata untuk memata-matai suaminya sendiri, yang justru ditimpal oleh anak lelakinya, Kenapa tidak langsung menghubungi Papa saja?
“Ayahmu bukan seseorang yang mudah diulik. Jangankan ditanyai macam-macam, ditelepon saja lebih dari dua kali dalam sehari, Papa tak akan suka,” adalah jawaban Erika.
“Aku sudah mendengar percakapan Mama dengan Kak Aan. Maaf,” gumam Zain tanpa menatap mata ibunya. Erika merasa wajahnya kian panas. Kali ini tak satu kata pun meluncur dari bibirnya untuk membela diri. Maka ketika Zain meminta agar ibunya berhenti menghubungi Aan sebagai syarat baginya untuk berhenti membawakan barang Andrew, Erika tak bisa untuk tidak setuju.
Tentu saja selama ia tak menghubungi Aan, sang asisten tidak balik menghubunginya. Ia tak boleh berharap bahwa Aan akan menghubunginya. Mereka bukan sepasang kekasih atau teman karib yang mesti saling berkabar. Erika sadar komunikasi mereka selama ini hanya bersifat satu arah. Meskipun Aan menanggapi setiap cerita dan pertanyaannya, lelaki itu tak pernah menghubungi Erika lebih dulu, menanyakan kabar, dan bercerita kepadanya sebagaimana Erika bercerita pada lelaki itu. Selama ini ialah—Erika—yang selalu menelepon asisten suaminya lebih dulu dan tak pernah sebaliknya dan selain cara itu, tak ada cara lain yang bisa membuat komunikasi di antara mereka berjalan.
Malam harinya, Erika mengira Aan akan melemparkan tatapan bertanya dari seberang ruangan karena seharian Erika tidak menelepon. Nyatanya tak ada yang berbeda dari gelagat lelaki itu ketika ia membawakan tas kerja dan sepatu-sepatu Johan dari bagasi mobil. Satu-satunya perbedaan adalah kali ini Aan tidak menghampiri meja makan, sebab Erika tidak menawarinya makan ataupun membungkuskan makanan-makanan itu untuk dibawa pulang. Meskipun Zain sudah masuk ke kamarnya sendiri, Erika khawatir anak itu masih terjaga untuk mengawasi gerak-geriknya dari lantai dua. Mereka—Erika dan Aan—hanya bertukar sepatah dua patah kata secara formal dan singkat, sebelum sang asisten kembali ke mobil dan berkendara pulang. Ya, sepintas memang tak ada yang terlihat berbeda dari asisten suaminya, tapi jauh di bawah permukaan Erika yakin—tepatnya berharap—bahwa Aan juga merasakan adanya yang berbeda pada hari itu.
Hari-harinya berjalan tanpa warna dan kegembiraan. Seperti hari-hari yang tak pantas dijalani. Seandainya setiap hari bisa dilabeli warna, maka hari-hari yang Erika lewati tanpa teman bicara pastilah berwarna kelabu hingga lambat laun menjelma hitam pekat. Namun berhari-hari ia bertahan tidak menelepon Aan. Erika mengira semakin lama ia tidak menelepon Aan, ia akan terbiasa. Alih-alih terbiasa, ia malah merasa semakin kesepian. Dicueki suaminya juga membuatnya merasa kesepian—tapi kesepiannya kali ini berbeda. Ia mencoba menghubungi teman lain untuk diajak bicara, tapi buru-buru menutup telepon setelah lima menit pertama. Ia merasa ingin menangis tapi kedua matanya kering. Betapa menyiksa perasaan yang tak dapat disalurkan lewat tangisan. Seandainya ia bisa menangis, mungkin rasa sesak dan kesepian di hatinya dapat pelahan-lahan berkurang.
Sementara itu, Erika bermaksud memata-matai Zain di sekolah untuk mengetahui apakah anak itu benar-benar menepati janji. Tentu mustahil baginya menginjakkan kaki ke sekolah tanpa menarik perhatian para guru dan siswa-siswi lainnya. Erika tetap mendatangi sekolah Zain tepat di jam istirahat pertama, mematut diri di sekitar gapura. Ia mendekati seorang siswi yang sedang wara-wiri di dekat gapura, menanyakan kelas berapa gadis itu, dan apakah si gadis mengenal Zain. Siswi itu tidak mengenal Zain tapi ia mengenal Andrew. Erika meminta nomor WA gadis itu, menawarkan kerja sama. Setelah menimbang sejenak, si gadis bertanya apa yang harus ia lakukan untuk Erika. Permintaan Erika cukup sederhana. Ia meminta siswi itu memata-matai siapa yang disuruh Andrew membawakan barang-barangnya pada jam istirahat atau pada jam ekstrakurikuler, mengambil foto mereka dari jarak tertentu, sebisa mungkin tidak ketahuan, lalu mengirimkan foto-foto itu pada Erika. Sederhananya tugas gadis itu hanya mengambil foto untuk Erika. Setelah keduanya sepakat bekerja sama, Erika memberikan dua lembar uang masing-masing pecahan seratus dan lima puluh ribu pada si siswi yang menerimanya dengan kedua mata berbinar. Namanya Zoya.
Zain ternyata menepati janjinya. Foto-foto yang dikirimkan Zoya sehari kemudian membuktikan hal itu. Siswa yang membawakan tas dan sepatu Andrew hari itu adalah seorang siswa bertubuh pendek, gempal dan berambut cepak. Seperti pengecut, batin Erika, membuatnya penasaran apakah di mata Andrew, Zain juga terlihat seperti seorang pengecut. Meskipun cukup puas dengan hasil yang ia dapatkan, Erika masih meminta Zoya mengirimkan foto-foto selama berhari-hari, kalau-kalau akan tiba giliran Zain untuk kembali membawakan barang-barang Andrew.
Syukurlah hari yang Erika khawatirkan tidak pernah tiba, setidaknya dari hasil kiriman foto seorang siswi bernama Zoya. Apakah foto-foto ini pantas dijadikan bukti bahwa Zain benar telah menepati ucapannya? Apakah Zain tidak dirundung karena menolak diperlakukan seperti porter kereta? Tidak ada yang salah dengan pekerjaaan sebagai proter kereta. Itu pekerjaan yang halal. Namun Zain pergi ke sekolah untuk belajar dan bergaul dengan teman-teman sepantaran, bukan untuk mengabdi pada seorang siswa yang merasa berhak mendominasi anak-anak lain seenak udel.
Sementara itu Zain tidak merasa perlu bertanya apakah Erika juga telah menepati janji. Erika dapat manfaatkan kesendiriannya untuk melanggar janji pada Zain. Namun i bertahan tidak menghubungi Aan meskipun tak ada orang yang memasang telinga di sekelilingnya; jangankan Zain, pembantu saja ia tak punya—sengaja tak ingin punya. Anehnya Erika merasa seperti seorang pengkhianat yang tiba-tiba tidak memberi kabar tanpa alasan. Ia yakin ia tak perlu merasa seperti itu karena Aan sendiri tidak merasa kehilangan. Ia yakin Aan tidak menaruh perasaan pada kedekatan mereka. Baginya, Aan adalah teman ngobrol yang paling membuatnya merasa nyaman. Bagi Aan, ia hanyalah istri atasan yang kesepian.
Mereka tidak lagi sering bertemu; ia dan Aan. Ada hari Aan masih membawakan tas, raket tenis, dan sepatu olahraga Johan dari bagasi. Namun hari-hari tanpa kemunculannya di rumah berlangsung semakin panjang. Hingga suatu hari Johan berkendara pulang sendirian, membawa tas kerja, dan barang-barangnya dari bagasi sendirian. Di hari lain, seorang pria lain ditugaskan mengantar jemput dan membawakan barang-barang itu. Erika mendengus dari seberang ruangan, meskipun ia tak tahu apa yang membuatnya begitu marah. Ingin rasanya ia menghardik dan mengusir si asisten baru. Ingin rasanya ia merenggut bahu Johan, menanyakan di mana Aan. Yang dapat Erika lakukan hanya menatap punggung suaminya dengan nanar ketika suaminya menghilang ke kamar tanpa repot-repot menghampiri meja makan. Kebencian sengit membakar dada Erika sehingga ia merasakan dorongan untuk mengambil piring hidangan dan melontarkannya ke belakang kepala Johan. Sayang sekali ia sanggup menahan diri. Lagipula ia terlalu sayang pada piring-piring hidangannya yang berharga, tidak pantas dihancurkan hanya untuk menyakiti seorang babi tengik. Malam itu, Erika menyelinap ke teras belakang dan mencoba menghubungi Aan untuk pertama kali sejak Zain menyuruhnya berjanji. Namun suara yang menyambutnya adalah suara operator telepon otomatis.
Malam berikut Erika telah melupakan kemarahannya ketika Johan tiba di rumah dengan kerah kemeja terangkat, dua kancing bagian atas copot, noda darah, dan tulang pipi kirinya memar. Sebelum Erika sempat bertanya apa yang terjadi, Johan menghampiri meja makan dengan langkah terhuyung. Bau alkohol mengikuti gerak-geriknya. Pandangan matanya yang tidak fokus tertuju ke tengah meja tapi tak ada apapun di sana. Erika berhenti memasak makan malam kecuali untuk dirinya dan Zain. Tak pernah lagi ia memasak dengan porsi besar sejak tak ada yang akan menyantap masakannya. Masih pantaskah sekarang ia mengutarakan alasan tersebut? Apakah seperti suami-suami yang lain, Johan akan mengomel-omel karena kepulangannya setelah seharian bekerja tidak disambut dengan sepiring mujair goreng, tumis kangkung, dan sambal terasi? Namun sejak kapan lelaki itu peduli? Johan tidak mengatakan apa-apa, sementara tatapan Erika belum beralih dari memar di tulang pipi sebelah kiri. Johan menuang air dari teko kaca ke dalam gelas kosong yang ada di dekatnya dan meneguk dengan tergesa-gesa. Meskipun begitu, bagi Erika waktu serasa merayap dalam gorong-gorong berlumpur; segalanya terasa lambat dan menyesakkan.
***
Johan baru saja dipromosikan sebagai regional manager. Pencapaian kantor-kantor cabang wilayah Sulawesi dan Gorontalo meningkat pesat di bawah kepemimpinannya. Mobil operasionalnya, sebuah Toyota Expinder, diganti Pajero Sport. Gaji dan tunjangan-tunjangan jabatannya bertambah. Karena Johan tidak memanfaatkan mess mewah yang menjadi haknya, biaya untuk itu otomatis ditambahkan ke dalam gajinya, yang ia berikan pada Erika setiap bulan. Atas rekomendasinya Aan juga dipromosikan menjadi Human Capital Head. Namun suatu hari Aan mulai suka bertingkah. Ia tidak lagi dengan sigap menjawab panggilan telepon Johan. Jika biasanya ia selalu datang tepat waktu bahkan beberapa menit lebih awal, belakangan ia membuat Johan harus menunggu sekian menit lebih lama. Suatu kali Johan menegurnya karena belum mengirim email yang diminta kantor pusat tentang data KPI karyawan. Siang harinya Aan menghilang dan menolak ajakan Johan makan siang. Itu bukan kali pertama Johan menegurnya untuk urusan pekerjaan. Biasanya teguran selalu mudah ia terima bahkan berujung permintaan maaf dan janji akan memperbaiki kinerja. Johan memaklumi dan tidak mau terlalu memikirkan gangguan kecil itu.
Sampai suatu hari Aan minta izin tak masuk kerja. Hari-hari semacam ini semakin sering terjadi hingga akhirnya Johan mengancam akan memberikan sanksi pemecatan apabila Aan masih berani mangkir kerja untuk kesekian kali. Dua jam Aan memasukkan surat pengunduran diri. Johan memanggilnya, mengajak Aan bicara empat mata. Saat itu sang atasan mencoba melunak dan berkata bahwa ia hanya sedang emosi ketika mengancam mau memecatnya. “Kamu favoritku,” kata Johan blak-blakan. “Kalau ada masalah, ceritakan saja, jangan ambil keputusan gegabah.”
Aan menggeleng singkat sambil menunduk. Ia berkata ia sudah memikirkan keputusan resign itu matang-matang. Johan menatap pemuda di hadapannya lamat-lamat. Serasa tak mengenal pemuda bertubuh tegap itu. Namun Aan tidak berubah pikiran. Akhirnya Johan menandatangani surat pengajuan resign itu. Malam harinya, Aan menelepon dan meminta Johan bertemu di sebuah bar yang sering mereka datangi pada hari-hari selepas kerja. Tanpa rasa curiga, Johan datang sendirian.
Aan mentraktir mantan atasannya minum. Dari bau napasnya, Johan tahu bahwa si pemuda sudah mabuk. Sebab kemudian Aan melakukan sesuatu yang tak pernah berani ia lakukan sebelumnya: ia menepuk pundak Johan dan menumpangkan tangan itu di sana, berkata bahwa ia ingin mereka berbicara selayaknya dua orang lelaki. Saat itulah Johan menyesal telah menerima ajakan minum-minum itu dan sadar ia seharusnya datang bersama seseorang.
“Menurutku, kamu beruntung sekali, Pak. Bukan karena karier dan kesuksesanmu. Kamu beruntung karena punya istri seperti Bu Erika,” Aan tersenyum lebar dengan wajah merah dan napas bau alkohol. Johan tak mengiraukan ucapan mantan karyawannya itu. Ia turut menenggak minumannya sendiri dengan perasaan muak.
“Masakan Bu Erika sungguh enak,” Aan melanjutkan. “Anda tahu, setiap kali anda mengajak saya makan malam di luar, sengaja saya skip. Karena saya tahu di rumahmu ada makanan-makanan yang gak akan anda makan. Saya sengaja menunda rasa lapar saya agar masakan istrimu nanti tidak akan dibuang sia-sia.”
“Kamu baik sekali,” sindir Johan.
“Biar istrimu tidak merasa sia-sia sudah memasak dan menunggui anda semalaman.”
Johan menggeleng dan membuang muka. Ia mengisi gelasnya dan menenggak minumannya kembali. Wajahnya mengernyit tapi belum memerah.
“Saya hanya bocah tengil yang anda jadikan sopir pribadi dan membawakan barang-barang anda. Meskipun saya melamar di perusahaan itu dengan ijazah Sarjana Teknik Informatika, buatmu saya tidak lebih dari seorang porter kereta. Tapi yang terburuk, anda tidak tahu caranya menghargai seorang wanita. Bu Erika pantas mendapatkan yang terbaik darimu.”
Kembali Johan tak ambil hirau. Beruntung Aan sudah mabuk, pikirnya. Pikiran warasnya tak akan berani membuatnya berujar lancang seperti itu di depan Johan tentang Erika. Namun orang mabuk bisa melontarkan apa saja, dan Johan berdoa semoga ia tidak cukup mabuk untuk merespon omongan gila yang lain. Berlawanan dengan doanya sendiri, ia kembali dan kembali menuangkan wisky ke dalam gelasnya.
“Bu Erika perempuan baik. Bisakah anda memperhatikan istrimu barang lima menit saja dalam sehari?”
Johan mendengus. Jatah sabarnya menyusut. Ia melemparkan tatapan mengejek pada mantan bawahannya. “Suami macam apa yang memperhatikan istrinya hanya lima menit sehari? Saya memperhatikan dia selama 24 jam.”
Aan mencebikkan bibir sambil membalas tatapan Johan dengan ekpresi merendahkan. “Bu Erika tidak akan mencari teman bicara di luar rumahmu seandainya anda melakukan apa yang anda omongkan itu, Pak. Tenang saja, dia tidak pernah nelepon saya. Tidak, tidak, saya bukan tipenya. Saya juga enggak pernah nelepon dia lebih dulu meskipun berkali-kali saya harus menahan diri sekuat mungkin agar tidak nelepon istri anda. Kalau aku jadi anda, aku akan meneleponnya delapan kali sehari saat aku lagi sibuk sekalipun, mengajaknya makan di luar dan ke bioskop setiap weekend.”
“Apa maksudmu, anjing?”
Aan menggeleng sambil terkekeh. “Maksudku jangan-jangan istirmu mulai suka bicara sama tembok. Anda terlalu kaku dan bikin dia muak.”
Apa yang dimaksud dengan pembicaraan antar lelaki berlangsung datar dan menjemukkan—setidaknya bagi Johan—sampai Aan mulai menodong-nodongkan jari telunjuknya ke wajah Johan dan membuat Johan nyaris tersungkur jatuh dari kursi bar karena daya hentak yang tidak ia antisipasi. Ia menegakkan punggung dan balik mendorong bahu Aan. Aan mundur dua langkah, mengangkat kedua tangan, tapi tepat ketika Johan hendak berbalik untuk mengambil gelasnya kembali, Aan melayangkan bogem pertamanya ke pundak mantan atasannya. “Kamu yang anjing.” Lalu ia meludahi wajah Johan. Sedetik kemudian orang-orang berhamburan mengerumuni kedua pria yang saling bergumul. Dua orang satpam yang bertugas tak sanggup melerai. Akhirnya pihak kepolisian didatangkan. Namun saat itu, Aan sudah hampir babak belur sedangkan Johan hanya mimisan kecil dan memar di pipi sebelah kiri.
***
Erika masih berdiri di ujung meja, mengawasi suaminya. Johan memberi isyarat agar istrinya menempati kursi di sebelahnya, tapi Erika tidak kuat dengan bau alkohol. Tanpa mengatakan apa-apa, Johan menggelendot ke lantai lantas membaringkan tubuh. Erika buru-buru menyuruhnya ke kamar tapi saat itu Johan sudah memejamkan mata, tak berkutik. Johan belum tampak seperti telah lelap, pun tidak terlihat seperti mayat; ia terlihat seperti orang mabuk. Tak berselang lama, dengkuran mengalir keluar dari mulutnya yang terbuka. Untuk pertama kali Johan terlihat begitu rapuh di mata Erika. Alkohol menguliti sisi lain dirinya yang belum pernah Erika lihat selama ini. Tentu saja ini pertama kali suaminya pulang dalam keadaan mabuk berat.
Johan terjaga untuk kali kedua dan di luar matahari telah tinggi. Kali pertama ia terjaga pukul lima subuh, ia menggigil dan pindah ke kamar utama di samping Erika. Kini dalam balutan kaos oblong, tubuhnya pegal-pegal, wajahnya membengkak dua kali lipat, perasaannya masih kacau. Erika mengambilkan es yang dibungkus handuk, yang digunakan Johan untuk mengompres wajahnya. Sudah hampir setengah jam mereka duduk di sana dan Erika belum mengulik tentang kejadian semalam. Ia juga tidak membuat kopi atau pun sarapan—tepatnya makan siang. Ia membiarkan situasi sebagaimana adanya setiap hari bagi mereka berdua, sampai Johan berkata bahwa Aan menonjok hidungnya semalam. “Tapi aku menonjoknya lebih banyak. Dia mungkin masuk IGD sekarang.”
Segumpal es di tangan Johan seolah berpindah ke rongga dada Erika, membuatnya tak sekadar sulit menelan ludahnya sendiri, tapi juga mati rasa. Ia tak menyadari bahwa Johan sedang menatapnya. Buru-buru Erika memperbaiki ekspresi wajah dan sikap tubuhnya ketika ia menangkap tatapan suaminya yang penuh selidik. Gagal keluar dari perasaan canggungnya, Erika membuang muka. Ia merasa sungguh sia-sia mematut diri di sana dan membiarkan Johan menelanjangi perasaannya. Jadi ia berdiri dan menghilang ke dapur.
Johan tidak ke mana-mana seharian itu. Ia mengerjakan pekerjaannya lewat ponsel dan laptop dengan tetap mengenakan koas oblong dan kolor yang ia pakai sejak bangun tidur. Sejak pagi ponselnya terus berbunyi tapi Johan baru mengerahkan perhatian setelah Erika meninggalkannya sendirian. Siang hari, beberapa buket bunga dengan kartu-kartu ucapan semoga cepat sembuh berdatangan ke rumah. Sayangnya tak ada yang mengirimkan makanan. Johan meminta Erika memasak sesuatu untuknya. Erika mengambil ponsel, meminta suaminya menunggu sementara ia bermaksud memesan makanan dari restoran.
“Tidak, aku mau masakanmu,” kata Johan dengan nada bicara yang tak pernah ia gunakan sebelumnya saat berbicara dengan Erika. Erika tak pernah lagi berbelanja selama waktu yang ia tak ingat. Ia meminta Zain menemaninya ke supermarket tapi Johan menawarkan diri mengantarnya. “Tapi kamu masih kesakitan,” Erika berkata tanpa benar-benar peduli. Johan mengambil kunci dan memanaskan mobil di garasi. Erika tak ingat kapan terakhir kali mereka melakukan perjalanan berdua seperti saat itu. Sayangnya perjalanan kali ini begitu singkat, hanya dari rumah ke supermarket, bukan benar-benar perjalanan yang akan memulihkan hubungan mereka kembali. Sementara kendaraan mulai meluncur, Erika berharap ruas jalan di hadapan mereka terus merentang dan merentang lebih jauh hingga mereka tak perlu tiba di tujuan. Ia hanya ingin bersama suaminya di suatu tempat yang bukan di rumah.
“Aku memperlakukan dia seperti porter kereta,” tiba-tiba Johan berkata, membuyar keheningan.
Erika menatap suaminya, menunggu Johan melanjutkan omongan. Namun Johan tidak lagi bicara. Raut wajah lelaki itu melunak. Ia menoleh membalas tatapan Erika. Erika merasa wajahnya memanas. Ia membuang muka keluar jendela. Namun ia yakin melihat seulas senyum di sudut bibir suaminya. Perubahan ekspresi yang sungguh jarang terjadi seperti melihat topeng es berkedip.
Tangan Johan meraih tangan Erika di atas lutut. Perempuan itu tidak menoleh; tak ingin kerapuhannya terlihat. Ia memejamkan mata dan menggigit bibir. Ia tak ingin momen itu buyar dan mendapatinya hanya mimpi. Memejamkan mata cukup membantu mempertahankan bayangan tentang suaminya dalam versi seorang kekasih. Ia takut membuka mata dan melihat Johan dalam versi seorang suami yang dingin dan acuh tak acuh. Erika memejamkan kedua mata makin rapat sambil meremas tangan suaminya yang balas meremasnya dengan mesra.