Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Pohon Waktu
0
Suka
6
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

“Ibu!” Seorang anak perempuan memegang tangan orang tuanya. Senyumannya merekah lebar menuntut sebuah perhatian.

“Lihat, Kala dan Mala lagi tanam pohon pemberian ayah!” Jari telunjuknya kini anak itu arahkan pada kakaknya yang berurusan dengan tanah.

Mendengar anaknya yang riang, sang ibu tersenyum hangat lalu merangkul memeluk kedua anaknya.

Pemandangan yang kulihat ini adalah awal dari kehidupan kecil diriku dan keluarga ini. Sebuah keluarga bahagia dimana mereka tinggal sederhana dengan kedua putri mereka.

Seiring berjalanya waktu, kulihat kedua anak perempuan itu kini tumbuh lebih dewasa. Di rumah kecil itu, suasana keluarga yang harmonis dan bahagia dapat kurasakan sangat dekat. Sama seperti mereka, aku pun tumbuh lebih besar mengiringi kehangatan keluarga ini.

“Pa, apa benar penghasilanmu pada bulan ini hanya segini?” Aku merasakan satu hal yang berbeda dari beberapa tahun terakhir aku bersama mereka. Kudengar sebuah suara tajam penuh kesedihan keluar dari sang istri kepala keluarga.

“Ibu, maafkan Papa. Hasil jualan di pasar kian bulan tidak seperti biasanya.”

“Tak apa Pa. Hanya saja, sebentar lagi kita harus memikirkan biaya sekolah Kala dan Mala....”

Suasana berat kurasakan begitu pekat di balik kaca rumah itu. Pembicaraan mereka tentang hal yang tidak terlalu aku pahami sedikitnya membuatku penasaran dengan tanggapan kedua putrinya yang beranjak remaja. Rasa penasaran itu terjawab satu hari setelah pembicaraan suami istri sebelumnya.

“Yah, bolehkah Mala meminta uang jajan lebih, ada barang yang ingin Mala beli untuk tahun baru!” Putri bungsu memelas dan menatap ayahnya berharap keinginannya dikabul.

Kuperhatikan dengan jelas, wajah sang ayah hanya tersenyum hangat dan memegang lembut pundaknya. Satu kata “tidak” dan gelengan kepala menyusul senyuman sebelumnya menjadi pertanda penolakan halus dari sang Ayah.

“Tapi kenapa? Ayah tahu tidak, teman-teman di sekolah sudah membeli ponsel baru lho!” wajah Mala penuh kekecewaan. Nada bicaranya naik bertahap, dan setiap ucapannya mulai semakin tajam menuntut hal yang menurutnya menjadi haknya.

Kurasakan daun perlahan telah jatuh beberapa kali mengiringi percakapan tegang antara sang ayah dan putri bungsunya. Ketegangan itu mereda ketika sang kakak turun tangan mengambil bagian dari perselisihan, “Mala, hentikan itu! Ayah pusing dengan tingkahmu!”

“Kakak tidak berhak mengatakan itu! barang milik kakak selalu baru. Kenapa aku hanya boleh memiliki barang bekas kakak!” Mala kini berteriak.

Kala yang mendengar perkataan adiknya hanya menghela napas, “Jika tidak puas dengan apa yang terjadi pada dirimu, kenapa tidak coba kau ubah dengan kerja kerasmu sen—”

“Apa aku harus bekerja gituh?” potong Mala.

Kala menghembuskan nafas berat, “Bukan begi—”

“Jadi maksud kakak gimana!” teriak Mala.

Saat kedua putrinya akan bersitegang lebih besar lagi, sang ayah sudah putus asa memerhatikan pertengkaran kedua putrinya. Putri pertama yang kalem, dingin dan rasional melawan putri kedua yang emosional dan ekspresif. Hal yang aku lihat dari balik jendela itu adalah sang kepala keluarga kini mengambil keputusan dengan tegas untuk menghentikan mereka berdua.

“Kalian berdua hentikan pertengkaran kalian!”

“Tapi, ayah!” Mala mencoba menyangkal, tapi ayahnya menatap dirinya dengan tegas kembali, “Mala, tenangkan dirimu sayang. Ayah tahu keinginanmu itu, maaf Ayah belum bisa memberikan yang terbaik saat ini.”

Saat situasinya sudah hampir mereda, kulihat juga ibu dari kedua putri itu kini tiba di rumah dengan membawa dua kantung plastik besar berisi belanjaan miliknya. Tatapan matanya tenang memperhatikan situasi. Perlahan ia menghampiri suami dan putrinya, duduk di samping mereka dan mendengarkan apa yang telah terjadi saat dirinya membeli bahan masakan di warung samping rumah.

“Jadi, intinya Mala ingin uang jajan lebih untuk membeli barang keinginannya?” Ia menatap suaminya lembut. Suaminya hanya mengangguk dan mengiyakan perkataan istrinya itu. Suasana hening itu kurasakan hingga kemari. Meskipun aku berada di luar, perubahan suasana yang ada di rumah itu sedikitnya membuatku paham. Bahwa kedamaian rumah itu ada pada sang ibu.

“Begini saja. Mala, nanti Ibu dan Ayah akan memikirkannya ya!”

Mendengar ucapan ibu mereka itu, Mala mengangguk pelan setuju. Di saat yang sama, Kala sang kakak berjalan dan meraih tangan adiknya dan hendak membawanya keluar rumah. Melihat putri sulung berinisiatif menenangkan adiknya, sang ibu hanya tersenyum kecil lalu membuat permintaan pada kedua putrinya, “Kalian berdua. Dari pada pergi keluar gitu, mending bantu Ibu masak makanan!”

Mendengar permintaan sang Ibu, kedua putri itu tersenyum kecil mengurungkan niat awal mereka pergi keluar dan berakhir dengan membantu ibunya memasak. Hari itu, berakhir begitu saja. Kuketahui bahwa perasaan manusia cukup rumit untuk bisa diprediksi. Terlepas dari itu, beragamnya perasaan manusia di rumah itulah yang membersamai diriku tumbuh hingga saat ini.

Tahun berlalu, musim berganti, dan kenangan lainnya kulihat membeku laykanya album foto di buku galeri. di rumah itu kulihat banyak hal tentang mereka. Kuperhatikan dengan baik, kini orang tua kedua putri rumah itu telah berubah. Mereka menjadi sedikit lebih keriput dari sebelumnya. Lalu untuk kedua putri, kini mereka tumbuh menjadi lebih besar dan dewasa. Di tengah kekacauan keluarga yang mereka katakan sebagai “perubahan ekonomi” kedua putri itu menjadi sosok yang berbeda.

Di usia mereka yang sedikit dewasa, sang putri bungsu tumbuh menjadi gadis ekspresif yang selalu melakukan gerakan unik di depan benda yang dia beri nama “Kamera”. Sedangkan putri sulung yang serius menjadi lebih banyak menghabiskan waktunya dengan buku, pena, dan benda kotak bersuara yang dia sebut sebagai “laptop belajar”.

Sejujurnya, aku sedikit penasaran apa yang sedang mereka lakukan saat ini. Hal yang bisa kulakukan hanya memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan keluarga ini. Melihat bagaimana setiap perubahan terjadi ketika waktu berlalu begitu cepat bersama dengan tumbuhnya diriku. Lalu, untuk perubahan besar lainnya kurasakan kembali ketika sang ayah dan ibu memberi nasihat kepada kedua putrinya.

“Mala, cobalah kamu belajar di waktu senggangmu seperti Kala, bukankah itu lebih baik daripada menari tak jelas seperti itu?” tegur ibunya ketika melihat Mala merekam tariannya di halaman rumah.

“Ibu, Mala tidak sedang bermain-main. Hanya sedang istirahat!”

“Kurasa ibu tidak melihat hal itu darimu....” Badan sang ibu dia senderkan sedikit di samping pintu, menyilakan kedua tangannya dengan tatapan mengintimidasi pada sang putri bungsu. Sebuah senyuman kecil kulihat dari gadis perempuan itu.

Mala berhenti menari dan menghampiri ibunya, “Baiklah, aku akan mencobanya.”

Percakapan itu berakhir disana. Namun, sebagaimana diketahui oleh semua orang bahwasanya ketika sesuatu berakhir maka hal baru akan dimulai. Keajaiban itu kini terjadi pada Kala. Kerja kerasnya dalam membaca buku dan memperhatikan laptop belajarnya di kini dia rasakan.

“Kala, selamat ya kamu diterima di Universitas impianmu dengan beasiswa penuh, maaf selama ini ibu dan ayah tidak bisa terlalu banyak membantu!”

“Iya bu, Kala juga berterima kasih pada ibu sama ayah yang membuat kala termotivasi selama ini.”

Terlihat olehku, kedua orangtua itu memeluk putri pertamanya. Disampingku, kini tengah duduk si bungsu yang bersadar pada tubuhku ini. Tatapan matanya terpaku kepada mereka yang tengah berpelukan. Aku ingin tahu, kenapa Mala ada di luar rumah dan melihat mereka dari sini, alih-alih masuk dan merasakan kebahagiaan bersama dengan mereka. Jawaban itu aku temukan setelah Mala meneteskan air matanya perlahan sembari menggumamkan sesuatu.

“Kenapa, kenapa aku tidak bisa seperti Kakak.....”

Kedua tangan yang lemah itu menutup mukanya cukup rapat, menyembunyikan setiap kekecewaan atau mungkin kesedihan mendalam yang tak kupahami mengapa.

“Apa karena aku tidak berusaha keras? Padahal, aku sama seperti kakak. Setelah melihatnya bersinar terang dulu, aku ingin bisa sepertinya. Kenapa hanya aku yang gagal berulang kali! ” Tangisannya pecah seketika. Tanpa kusadari, aku melihat mereka yang ada di dalam rumah itu. Di samping kaca besar yang memisahkan antara Mala dan Kala, tatapan Kala terfokus pada adiknya. Kulihat juga, kekhawatiran yang dia ungkap dari raut wajahnya telah berhasil membujuk orang tuanya untuk menghampiri Mala di luar.

“Mala, kenapa kamu menangis nak?”

Mendengar suara ibunya, Mala dengan cepat membalikkan badan menghadapku, “Nangis? Nggak kok, gadis cantik periang sepertiku tidak mungkin menangis!”

“Begitu ya, Mala tahu tidak Kakakmu sudah masuk Univeristas impiannya, mari masuk kita raya—”

“Aku tahu!” Mala berteriak keras. “Aku tahu itu Bu, aku tahu ....”

Terdengar kembali isak tangis kecilnya. Mendengar tangisan itu, sang ibu tersenyum hangat lalu berjalan menuju punggungnya dan memberikan hadiah kecil untuk menenangkannya. Sebuah pelukan hangat sederhana telah sang ibu kerahkan kepada anaknya. Aku yang melihat hal itu hanya bisa diam sama seperti biasanya. Jika saja aku memiliki tubuh yang bisa bersuara dan bergerak, sudah lama aku ingin menghibur keluarga ini dan mengucapkan terima kasih karena merawatku. Perasaan meluap itu tumpah seperti saat ini. Seperti saat sang Ibu memeluk putrinya dengan erat untuk menenangkan perasaannya.

Hanya saja aku tidak pernah bisa melakukannya.

“Nak, Ibu tahu kamu sudah berusaha keras. Ibu juga tahu kamu memaksakan dirimu belajar serajin kakakmu meski kamu tidak menyukainya. Maafkan Ibu ya, memaksakan apa yang tidak kamu sukai. Tapi, percayalah pada ibu apa yang kamu lakukan dan saat ini tidaklah sia-sia.”

“Tapi Mala gagal Bu, Mala tidak menghasilkan apa pun, mala juga tidak tahu selama ini apa yang ingin mala lakukan. Tidak seperti kakak yang tahu impiannya!”

“Pada awalnya kakakmu juga begitu, bukankah kamu selalu berada di dekatnya?”

“Aku jarang bicara dengan kakak, dia selalu sibuk belajar. Aku sungkan mengusiknya!”

Hanya perlu waktu satu helai daun jatuh ketanah karena angin lembut untuk menyelesaikan obrolan lembut ibu dan anak ini. Mereka berdua kini duduk di dekatku, saling berhadapan satu sama lainnya. Ada satu hal yang mengusik diriku sendiri ketika mendengar Mala bertanya pada ibunya.

“Bu, apakah tidak apa Mala masih seperti ini? Gagal dan belum menghasilkan apapun, meski selama ini telah mencoba banyak hal?”

“Apakah itu salah?” sambungnya.

“Apa yang kau katakan, ibu tidak menganggap kegagalanmu tidak menghasilkan apa-apa. Apalagi sebuah kesalahan!”

“Apa maksud ibu? Aku tidak mengerti.”

Seketika Ibunya tersenyum hangat, “Bukankah kamu sudah banyak meninggalkan jejak selama ini? Setiap usaha yang kamu lakukan akan tetap berada di sana, di dalam kenanganmu. Meski pahit, itu akan selalu bersamamu dan akan kamu bawa selamanya!”

“Apa ibu selalu bicara seperti ini pada Kala?”

“Kamu sudah tahu jawabannya bukan? Hal yang perlu kamu lakukan saat ini hanya bercermin!”

“Ibu bisakah langsung pada intinya saja?” Mala merengek kecil.

“Eh, padahal saat kamu kecil kamu suka menebak-nebak maksud gaya bicara ibu lho! Apa sekarang tidak?”

“Oh ayolah ibu, itu kan dulu! kali ini saja kumohon!”

“Seperti bagaimana kamu melihat cermin, dalam hidup kamu tidak perlu melihat bayangan orang lain. Tidak perlu membandingkan antara kamu dengan kakakmu Kala. Karena Mala pun punya hal yang tidak Kala miliki!”

“Apa itu? Kenapa aku tidak tahu?”

“Mala, coba lihat pohon di samping kita!”

Aku terkejut saat ibu itu menyentuh kulitku.

“Apakah pohon ini juga tahu apa yang mereka punya dan miliki saat mereka perlahan tumbuh?”

Kali ini Mala melihat ke arahku, “Begitu ya, sama seperti pohon ini. Aku tumbuh perlahan dan tak tahu apa yang terjadi pada diriku sendiri. Tapi ibu, selalu memperhatikanku tumbuh!”

Ibu tersenyum lembut, “Apa kamu paham? Buah yang ingin kamu petik masih lama Mala. Pohon ini juga perlu waktu untuk menumbuhkan bunga!”

“Ini pun berlaku untuk kita semua. Bahkan untuk kakakmu Kala, Jadi layaknya seperti pohon ini. Kita Perlu waktu untuk mendapatkan hasil yang kita inginkan.”

“Ibu apakah kita akan tahu kapan itu terjadi?”

“jika kau sudah mengetahui akan mendapatkan sesuatu bukankah itu akan Mengurangi kita berusaha dan cenderung berdiam diri?”

“Ugh, aku tidak bisa menyangkal hal itu.”

Sejujurnya, perbincangan antara ibu dan anak ini berlangsung cukup lama. Berbeda dari sebelumnya, di waktu yang singkat ini aku melihat bayangan samar diriku di jendela lebar dimana aku selalu melihat keluarga ini. Dari pembicaraan itu kurasa kau tahu bukan. Hal apa yang mengusik diri ini sebelumnya?

Jika tidak tahu, biarkan aku beritahu padamu.

Satu pertanyaan tentang kondisi diri yang merasa tidak menghasilkan apa-apa, tidak mengetahui apa yang bisa kulakukan dalam hidup ini, serta hal apa yang bisa aku raih nanti dengan usahaku saat ini. Lalu apakah usahaku itu sudah benar dan tidak sia sia? Banyak pikiran itu menghantuiku selama ini. Apalagi aku hanyalah sebuah pohon yang ditanam dan dirawat keluarga ini.

Ketika melihat keluarga ini tumbuh bersamaku membuatku sedikit paham. Kurasa, aku tahu siapa diriku. Pohon macam apa aku ini, dan apa yang bisa kulakukan untuk mereka dan diriku sendiri.

“Dalam hidup ini, Kita hanya harus tetap tumbuh. Benar kan!”

“Belajar hal baru, memahami, dan menikmati prosesnya....”

“Untuk mulai melangkah,itu sudah cukup bukan?”

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Pohon Waktu
Miftah
Cerpen
Bronze
Pardi
C. Gunharjo Leksono
Cerpen
Bronze
Jejak Dunia Maya
Shinta Larasati Hardjono
Cerpen
The Moon
Shinta Puspita Sari
Cerpen
Sepatu tak Bertali
Zurriatin Toyyibah
Cerpen
Lala si Perempuan Hebat
Firlia Prames Widari
Cerpen
Harapan Yuna dan Yuni
Mutia Ramadhanti
Cerpen
Kelahiran
Sera Djevah
Cerpen
Bronze
PIALA IMPIAN EYA
Raha Kurnia
Cerpen
Bronze
Anak Kebanggaan
Yuisurma
Cerpen
Polwan cita-cita ku
Nesya Nurbaeyinah
Cerpen
Bronze
Lautan dan Semangkuk Sup
Ismail Ari
Cerpen
Bronze
Prajurit Cahaya
Shinta Larasati Hardjono
Cerpen
Bronze
Buat Apa Membeli Kembang Api?
Juli Prasetya
Cerpen
Bronze
Sekolah Orang Dalam
Putri Rafi
Rekomendasi
Cerpen
Pohon Waktu
Miftah
Skrip Film
Daun Emas
Miftah
Cerpen
Lensa kecil takdir
Miftah
Novel
Ginko Starting From A Dream
Miftah
Novel
Benang Merah dan Biru
Miftah