Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Petualangan Tigor si Tikus Gorong Gorong
0
Suka
928
Dibaca

Alkisah pada suatu waktu hiduplah seekor tikus gorong - gorong bernama Tigor yang mempunyai keinginan untuk menjadi seekor chef ternama. Bukan tanpa sebab kalau Tigor berkeinginan untuk menjadi seekor chef, ini dikarenakan sejak kecil Tigor memang telah dikaruniakan kelebihan khusus. Ia mempunyai indra penciuman yang lebih tajam dibandingkan tikus - tikus lainnya. Dengan kemampuannya tersebut ia dapat membedakan dan mengolah berbagai macam bumbu dan bahan makanan yang ada menjadi sebuah masakan yang lezat.

Saat ini Tigor sudah merasa bosan tinggal di gorong - gorong. Ia berencana ingin berpetualang untuk mencari restoran - restoran terkenal yang ada di seluruh dunia ini. Banyak teman - teman Tigor yang menyangsikan keinginannya itu. Bahkan diantara mereka ada yang menertawakannya.

"Hahaha Tigor, Tigor. Engkau kira dunia di luar sana baik - baik saja dan tidak berbahaya sama sekali seperti yang engkau kira. Engkau terlalu naif Tigor." Ketus Sam si tikus paling dominan diantara mereka.

"Tidakkah engkau mengetahuinya mengapa aku hanya mempunyai satu jari di kaki depanku ini! Itu dikarenakan perangkap yang mereka buat. Untungnya saja aku masih bisa lepas dari perangkap yang mematikan tersebut." Dengan tatapan skeptis Sam memandang Tigor seolah meragukan dan menyepelekan dirinya. Sebenarnya perkataan Sam tadi cukup membuat Tigor sedikit agak gentar, akan tetapi Tigor berusaha untuk tidak mempercayai sepenuhnya perkataan Sam tersebut. Dan pada akhirnya tidak ada lagi yang dapat membendung keinginan Tigor untuk menjadi seekor chef bahkan Sam sekalipun. Ketika malam tiba secara diam - diam Tigor memutuskan untuk meninggalkan gorong - gorong yang selama ini menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi dirinya.

"Ternyata dunia di luar sana tidak semenakutkan seperti apa yang diceritakan Sam." Gumam Tigor ketika selangkah lebih maju keluar dari gorong - gorong tersebut.

"Lihatlah betapa indahnya kehidupan di luar sana! Lampu - lampu yang germelap serta gedung - gedung yang tinggi. Aku kira Sam hanya sekedar menakut - nakuti saja." Pikirnya lagi. Tigor pun lalu berjalan di tengah keramaian manusia menyusuri gemerlapnya jalanan kota. Tigor merasa heran mengapa selama ini teman - temannya selalu berkata kalau manusia itu adalah makhluk yang jahat.

"Bahkan sekarang ini aku berjalan berdampingan dengan mereka dan tidak ada seorang pun dari mereka yang memperdulikan diriku apalagi sampai ingin menyakitiku.Tentunya teman - temanku itu hanya berlebihan saja dalam menilai manusia." 

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, saat ini Tigor merasa sangat lapar. Tidak jauh dari tempatnya berada ia melihat sebuah bak sampah.

"Mungkin saja di sana ada sisa - sisa makanan." Pikirnya. Lalu ia pun segera mendekati bak sampah tersebut. Tigor tidak menyadari kalau seekor kucing hitam penguasa tempat itu telah mengawasinya dari tadi. Tigor kemudian masuk ke dalam bak sampahnya itu berharap ada sisa - sisa makanan yang bisa ia makan. Belum sempat Tigor mendapatkan sisa makanan yang ia cari lalu tiba - tiba saja ada sesuatu dari atas yang mencoba untuk menerkamnya. Untung saja Tigor segera menyadarinya dan dengan cekatan ia bisa cepat menghindar. Hampir saja terkaman mematikan dari seekor kucing hitam itu mengenai dirinya. Setelah terkaman tadi meleset, Tigor pun langsung dengan cepat meloncat keluar dari kotak sampah tersebut. Tidak ingin buruannya lepas begitu saja lalu kucing hitam itu pun juga mencoba untuk mengejarnya kembali. Dengan sekuat tenaga Tigor berlari kencang menuju ke sebuah lubang jeruji selokan yang berada tidak jauh di depannya. Dibayang - bayangi kejaran kucing hitam di belakangnya yang nampaknya sedikit lagi akan menggapai serta menangkapnya! Dan ups lagi - lagi hampir saja Tigor tertangkap. Tapi kali ini sepertinya cakaran kuku dari kucing hitam tersebut sempat mengenai Tigor bersamaan dengan dirinya masuk ke dalam lubang jeruji selokan tadi. Sontak saja hal itu meninggalkan luka goresan di tubuhnya.Tentunya kecepatan lari Tigor dengan tubuh kecilnya tidak sebanding dengan kecepatan kucing hitam tersebut. Jika saja jeruji selokan tadi jaraknya sedikit lebih jauh pasti Tigorlah yang akan menjadi santapan kucing hitam itu.

Tigor masih trauma dengan kejadian yang menimpanya barusan. Cukup lama Tigor berdiam diri di bawah jeruji selokan, hingga akhirnya setelah keadaan dirasa telah cukup aman baginya, barulah ia pun mulai memberanikan diri keluar dari jeruji selokan itu dan segera meninggalkan tempat tersebut. Dengan tertatih Tigor melanjutkan perjalanannya kembali. Saat ini selain menahan rasa lapar dirinya pun harus menahan perih di tubuhnya akibat cakaran kucing hitam tadi. Selama ini para kucing memanglah musuh utama bagi Tigor dan teman - temannya bahkan di tempat tinggalnya sekalipun. Gorong - gorong adalah satu - satunya tempat paling aman yang tidak bisa dijangkau oleh para kucing. Makanya Tigor dan koloninya jarang sekali untuk bisa berlama - lama keluar dari gorong - gorong tempat tinggal mereka kecuali sebentar saja sekadar untuk mendapatkan makanan di luar sana. 

Setelah lumayan jauh berjalan meninggalkan tempat itu, Tigor lalu mencium aroma keju yang berasal dari dalam salah satu rumah yang ada sekitarnya kini. Sepertinya saat ini Tigor telah berada di sebuah komplek pemukiman manusia. Dengan rasa penasaran ia pun mencoba memasuki rumah yang memiliki aroma keju tersebut melalui sebuah ventilasi jendela yang terletak di bagian belakang. Sekarang nampaknya Tigor telah berada di sebuah westafel tempat pencucian piring. Di lantai Tigor melihat sebuah bongkahan keju yang diletakan begitu saja pada sebuah rangkaian yang terbuat dari gabungan kayu dan besi tanpa Tigor ketahui lebih dahulu apa fungsi dari rangkaiannya itu. Tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, kali ini ia memastikan terlebih dahulu kalau tidak ada siapa pun yang sedang mengawasinya. Kemudian Tigor dengan berhati - hati turun dari wastafel dan mendekati bongkahan kejunya tersebut. Ketika Tigor mencoba untuk mengambil bongkahan kejunya itu dengan cepat sekali rangkaiannya menghantam Tigor tanpa sempat sedikit pun untuk Tigor bisa menghindarinya. Sekarang tubuh Tigor terhimpit oleh jebakan tersebut. Tigor tidak bisa bergerak sama sekali. Mungkin inilah perangkap yang diceritakan Sam waktu itu yang membuat ia harus kehilangan jari kakinya. Saat ini Tigor hanya bisa pasrah hingga akhirnya ia pun tak sadarkan diri akibat kuatnya himpitan perangkap yang menghantamnya tadi. 

Beberapa saat kemudian ketika Tigor telah sadarkan diri dan membuka matanya ternyata ia telah berada di dalam sebuah ruangan yang cukup nyaman dan hangat. Tigor pun lalu mencoba mencubit dirinya sendiri untuk memastikan bahwa saat ini ia masih hidup.

"Aouw. Ini terasa sangat sakit sekali." Ucap Tigor meyakinkan dirinya bahwa ia memang masih hidup. Yang membuat Tigor sekarang merasa penasaran adalah mengapa ia bisa berada di ruangan ini dan siapa yang telah menyelamatkannya dari perangkap yang menjeratnya tadi!

"Ternyata kamu sudah sadar ya! Tapi kamu jangan terlalu banyak bergerak dulu karena lukamu itu cukup parah." Ucap seekor tikus di belakangnya secara tiba - tiba yang tentu saja mengagetkan Tigor.

"Kamu siapa dan mengapa aku bisa berada di sini!" Tanya Tigor kemudian. 

"Namaku Jerry. Aku adalah seekor tikus rumahan yang mendiami tempat ini. Akulah yang menyelamatkanmu dari perangkap yang menjeratmu barusan. Jika tidak, mungkin saja kamu sudah tewas di tangan manusia itu. Sekarang aku yang balik bertanya kepada dirimu. Dari manakah asalmu? Lalu mengapa engkau bisa berada di sini?"

"Namaku adalah Tigor. Aku berasal dari sebuah gorong - gorong yang cukup jauh. Sebelumnya aku sangat berterima kasih padamu karena telah menyelamatkanku dari perangkap yang menjeratku tadi. Aku tidak mengetahui kalau itu adalah sebuah perangkap dan selama ini memang aku belum pernah melihat hal yang seperti itu.

"Tapi dirimu masih beruntung Tigor! Sela Jerry kemudian. Karena beberapa dari saudara - saudaraku dulu juga tewas oleh perangkap yang hampir membunuhmu tersebut. Oh iya, satu lagi pertanyaan dariku! Apa yang membuatmu bisa sampai sejauh ini dan meninggalkan gorong - gorong tempat tinggalmu?

"Ceritanya panjang! Jawab Tigor. Tapi sebelum aku melanjutkan ceritaku, apakah engkau mempunyai makanan yang bisa aku makan karena dari tadi selama perjalanku sampai ke sini aku belum makan sedikit pun dan saat ini aku telah sangat lapar."

Setelah menyantap makanan yang dihidangkan dengan begitu lahapnya, akhirnya Tigor pun menceritakan semuanya kepada Jerry. Jerry kemudian menyarankan agar dirinya beristirahat terlebih dahulu di tempatnya untuk memulihkan tenaga dan dapat melanjutkan kembali perjalanannya besok.

Keesokan harinya Tigor pun melanjutkan perjalanannya untuk mencari restoran yang bisa ia singgahi. Selain itu Jerry juga memberikan nasihat kepada Tigor agar lebih berhati - hati lagi serta jangan pernah mendekati sesuatu yang nencurigakan dengan makanan yang diletakkan begitu saja oleh manusia karena mungkin saja itu adalah sebuah jebakan lainnya. Setelah cukup lama berjalan akhirnya Tigor menemukan restoran pertamanya. Akan tetapi sebuah spanduk bertuliskan 'De Lamongan Lesehan' menandakan bahwa tempat tersebut hanyalah sebuah warung makan biasa dan bukanlah sebuah restoran ternama. Tapi hal itu bukanlah sebuah masalah bagi Tigor. Bukankah beberapa chef terkenal dulunya juga memulainya dari bawah. Tigor pun lalu dengan segera memasuki warung makan tersebut. Di dalam Tigor mencari tempat untuk ia bisa bersembunyi terlebih dahulu karena di warung itu masih terlihat ada beberapa orang yang sedang menikmati hidangannya.

Setelah warung tutup, barulah Tigor berani keluar dari tempat persembunyiannya untuk mencari makanan yang tersisa. Mas Bimo yang saat itu melihat Tigor lalu dengan baik hati membagikan sedikit dan melemparkan serpihan - serpihan makanan yang tidak laku terjual.

"Makanlah jangan takut aku tidak akan menyakitimu!" Ujar Mas Bimo kepada Tigor. Tigor yang merasa kalau Mas Bimo tidak berniat untuk menyakitinya lalu berupaya mendekat serta mengambil serpihan - serpihan makanan yang dilemparkannya itu. Mas Bimo pemilik warung lesehan tersebut saat ini sedang bersedih hati karena warung makannya memang sedang sepi. Selain banyaknya pesaing usaha yang serupa juga ada beberapa konsumen yang mengeluh kalau masakannya akhir - akhir ini tidak enak dan terasa hambar. Tigor merasa kasihan dengan keadaan yang dialami oleh Mas Bimo. Lalu dengan kemampuan yang dimilikinya, Tigor pun berusaha untuk membantu Mas Bimo sebisanya. Setiap kali setelah selesai membeli bahan dan bumbu dari pasar biasanya Mas Bimo akan menyiapkan racikan untuk masakannya terlebih dahulu sebelum kemudian diolah pada keesokan harinya. Nah Kesempatan itulah yang kemudian dimanfaatkan oleh Tigor untuk bisa membantu Mas Bimo. Ketika malam hari tiba setelah Mas Bimo tidur, Tigor akan memilah - milah bahan dan bumbu tersebut. Terkadang ia menambahkan ataupun mengurangi bumbu dan bahan yang telah diracik oleh Mas Bimo sebelumnya.

Hingga pada akhirnya konsumen yang makan di warung lesehan Mas Bimo pun secara bertahap semakin bertambah. Banyak pelanggan yang mengatakan bahwa masakan di warung Mas Bimo saat ini sangat lezat dan tidak seperti biasanya. Bahkan diantara mereka ada yang menanyakan apa resep rahasianya kepada Mas Bimo. Mas Bimo sendiri pun merasa heran karena selama ini tidak ada yang ia rubah dari racikan masakannya tersebut. Ini semua berkat Tigor seekor chef yang handal. Akhirnya cita - citanya menjadi seekor chef bisa terwujud walaupun bukanlah menjadi seekor chef ternama dan terkenal seperti pada restoran - restoran besar yang ia harapkan. Tapi itu sudah membuat dirinya merasa bangga. 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Petualangan Tigor si Tikus Gorong Gorong
Rio Astiawan
Cerpen
CURHAT CUCU
Kiki Isbianto
Cerpen
Bronze
Uang-uang yang Tercecer di Jalan
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
Andai Ayah Tak Begitu
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Pergi Dengan Angin
Viona fiantika
Cerpen
Kepala Batu
Lusiana
Cerpen
Virus Mulut Tetangga
Khairaniiii savira
Cerpen
Bronze
SECRET, The Silent World
Brilijae(⁠。⁠•̀⁠ᴗ⁠-⁠)⁠✧
Cerpen
Counter Clockwise
Nida C
Cerpen
Bronze
𝐀𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐜𝐮𝐫𝐡𝐚𝐭 𝐧𝐢𝐡 𝐆𝐮𝐲'𝐬
Langitttmallam
Cerpen
Bronze
Tuleh Laju
Ayu S Sarah
Cerpen
Di Bawah Langit Jingga Kampung Halaman
Ezra Jo
Cerpen
Bronze
Lurik
Shinta Larasati Hardjono
Cerpen
1/2 Nakal & 1/2 Polos (Tetangga Ku)
muhamad fahmi fadillah
Cerpen
Kamu Gapapa?
Godok
Rekomendasi
Cerpen
Petualangan Tigor si Tikus Gorong Gorong
Rio Astiawan
Novel
Miss You Stupid
Rio Astiawan
Novel
Bronze
Pelangi di Penghujung Senja
Rio Astiawan
Novel
Bronze
Manusia Manusia Cucok
Rio Astiawan
Cerpen
Bronze
Marbot Korban Judol
Rio Astiawan
Cerpen
Bronze
Heri si Porter yang Tidak Pernah Bersekolah di Hogwarts
Rio Astiawan