Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Menjelang tidur, Fandi masih terduduk di pinggir kasurnya. Wajahnya tertunduk lesu. Gilang yang melihat kesempatan itu berjingkat menuju tombol lampu. Ide iseng muncul di kepalanya. Pets!
Sunyi.
“Ah! Nggak seru lo!” seru Gilang.
Ctek! Lampu menyala lagi.
“Biasanya lo teriak kalo gue kayak gitu, napa Fan?”
Fandi menggelang.
“Woy!” Gilang duduk di depan Fandi, “lo kenapa? Ditolak? Utang numpuk?”
“Berisik lo!”
“Uwissshh.. sensi amat.”
“Ganggu aja!” Fandi pun langsung merebahkan diri di kasur, “matiin lampunya!”
“Lo cowok tapi cerewet amat.”
Pets!
“Kayak cewek lo Fan!”
Fandi belum memejamkan mata. Ia mengecek ponselnya yang bergetar. Dari Bagas.
“Lo harus sanggup ama tantangan dari gue besok, jangan lupa bawa perlengkapan, kalo lo kalah, lo harus siap-siap pindah sekolah hahahaha....”
Fandi makin meringis karena pesan singkat itu.
Minggu pagi, belum pagi benar sih, masih jam empat. Gilang terbangun karena paksaan dari ibu kost dan penghuni yang lain.
“Lang! Lang! Bangun!” seru Joni.
“Apaan sih?” tanya Gilang.
Mereka menyeret Gilang ke dapur. Alangkah terkejutnya Gilang begitu tahu ada soto dan rawon di meja makan.
“Ibuk baik banget! Ada soto ama rawon!” seru Gilang.
Zaki menampar Gilang, “fokus woy! Liat siapa yang masak!”
Ia melihat Fandi memakai celemek biru dan sedang menuang teh hangat ke beberapa gelas. Lalu Fandi tersenyum lebar.
“Eh? Kalian, sini-sini.” Fandi membimbing mereka ke dapur, “kalian yang gak dapet kursi lesehan aja ya?”
Yang lesehan manggut-manggut aja.
“Semua ini made in Fandi loh!”
Dengan takut mereka menatap makanan itu. Pasalnya terakhir kali Fandi yang masak, separuh dari isi kost opname karena sakit perut. Satu seruput.
“Enak ya!” seru ibu kost.
“Iya nih! Fandi jago!”
“Gue mau nambah!”
“Gue duluan yang nambah!”
“Ohok! Keselek gue! Aerrr!!!”
“Woy! Makan pelan-pelan!”
“Apaan sih? Jangan nyikut dong!”
“Bla, bla, bla, bla!!!”
Namun, di tengah hiruk pikuk dapur, Gilang bahkan belum menyentuh makanannya. Matanya sibuk mencari Fandi yang tiba-tiba menghilang.
“Ada yang nggak beres nih!”
Udara dingin menyeruak dari ruang tamu. Pintu terbuka. Gilang berjingkat ke luar. Ia mencari sosok Fandi di kursi luar, kosong. Bayangan hitam kecil terlihat di samping kolam ikan. Gilang tahu jika itu Fandi, lalu ia menepuk bahunya pelan.
“Fan?”
“Huwa!”
Byur!
Gilang hanya melongo saja.
“Bantuin lang! Dingin tahu!”
“Oh.. maaf! Maaf!”
Suara bersin dari kamar dua sejoli itu benar-benar menyayat telinga. Sampai-sampai tetangga sebelah pun ikut meradang.
“Lo haciuuhh.. haru.haciuuhh!!!”
“Alah! Gue gak paham Fan! Tulis di kertas aja.”
Srek. Srek. Srek.
Gilang mengambil kertas yang ditulis oleh Fandi. Butuh waktu sepuluh menit empat detik untuk memahami tulisan dokter itu, ehem, calon dokter.
“Kalo lo kalah lo harus pindah sekolah sama pergi dari sini?”
Fandi mengangguk.
“Dan elo nyuruh gue nggantiin lo buat ini?”
Fandi mengangguk.
“Kalo gue gak mau?”
“Harus mau!” seru ibu kost dari belakang.
“Kenapa saya bu?” tanya Gilang.
“Kalo dia pergi dari sini siapa yang bayar utangnya itu ha?”
“Ya elo yang bayar Lang!” seru penghuni lainnya.
“Gimana sih? Kalian kan juga temennya! Patungan dong!”
“Males!! Lo kan sahabatnya!”
Akhirnya Gilang menuruti kesepakatan itu daripada harus membayar utang teman sekamarnya yang nggak tahu diri itu. Jam delapan setelah shalat isya’, Gilang menaiki ojek ke tempat sampah raksasa di pinggir kota. Ia turun dan melihat Bagas dan kawan-kawannya sedang berkumpul di pintu tempat sampah.
“Gue kira Fandi yang dateng?” Bagas memandang dengan sombong, “mana temen lo yang kecil itu? Takut?”
“Dia lagi sakit.”
“Oke, Lola!”
“Ya bos?”
“Jelasin ke dia tata cara tantangan ini.”
Lola berjalan ke arah Gilang, “gue bakal jelasin ke lo caranya.”
“Jelasin.”
“Sini.”
Mereka menaiki tangga menuju titik tertinggi di tempat sampah itu. Dari sanalah terlihat seluruh tempat sampah itu. Luasnya kira-kira setengah hektar.
“Lo liat pagar yang ada lobangnya? Lo bisa kabur lewat sana.”
“Maksud lo yang di jaga ama temen-temen lo?”
“Lo bisa kabur kalo berhasil ngalahin mereka.”
“Cuma itu?”
“Kita udah pasang kamera mini, jadi kita bisa ngawasin lo dari layar.”
Gilang terdiam.
“Kalo lo mau, lo bisa minta bantuan.”
“Gue bisa minta saran ke Fandi?”
Lola mengangguk.
“Oke.”
“Permainannya dari pintu, tadi pagi kita udah bangun labirin dari sampah.”
“Cuma labirin?”
“Banyak jebakan sih.”
“Jebakan apa?”
“Rahasia, dan lo nggak boleh pake masker.”
“Gila lo!”
Lola berkacak pinggang, “jadi lo ngaku kalah? Gitu?”
“Oke!” Gilang menarik napas, “ deal!”
Dan dimulalilah tantangan tersebut. Gilang berdiri di pintu kawat tempat sampah tersebut. Pintu terbuka, bau sampah yang belum terurai menyengat hidung.
“Kita mulai!” seru Bagas.
Gilang mulai memasuki tempat itu. Geng Bagas mulai memasuki mobil yang terpasang beberapa layar pengawas.
“Bagus! Kalo nggak Fandi ya Gilang, gue punya rencana.” Ujar Bagas.
“Rencana apa bos?” tanya Lola.
“Rahasia.”
Gilang mengirim pesan singkat kepada Fandi.
To Kuntettt:
Gue udah masuk Fan.
Drrt.
From Kuntett:
Oke, sekarang apa yang lo liat?
To Kuntett:
Gelap.
From Kuntett:
Yang lo rasain?
To Kuntett:
Bau! Kaya elo!
From Kuntett:
Jalan aja, kalo ada yang aneh” gue di sini.
Gilang mulai berjalan memasuki labirin sampah yang gelap dan bau itu. Selama lima menit berjalan, ia masih baik-baik saja.
Drrtt.
From Kuntett:
Lo udah nemu yang aneh?
To Kuntett:
Ada makin lama gue masuk, gue kaya nggak bisa keluar.
From Kuntett:
Waduhh pinter bener si bagas ini.
To Kuntett:
Fan, kayaknya gue denger sesuatu.
From Kuntett:
Apaann??
To Kuntett:
Suaranya gak jelas, jangan” Cuma perasaan gue aja ya Fan.
From Kuntett:
Sekarang apa yang lo rasain??
To Kuntett:
Gue nginjek sesuatu.
From Kuntett:
Lo senterin pake hape aja.
Lalu Gilang menyalakan senter pada hapenya.
“Uwaaaaaaaaaaaaaaaa............!!!!!!!”
Gilang lari tak tentu arah. Ia baru saja menginjak sesuatu yang mengerikan.
“:Hosh..hosh..”
Jantungnya berdebar-debar seolah melihat hantu. Lama tidak ada sms dari Gilang, Fandi pun mendahaului meng-sms.
To Santett:
Lang lo nggak apa”?
From Santett:
GILA!! GUE NGINJEK AYAM TIRENN!!
To Santett:
Waduhh namanya juga tempat sampah ya banyak begituan lah..
From Santett:
Lo enak Cuma di kamar lah gue?
To Santett:
Emang lo mau bayar utang gue?
From Santett:
Enak aja!
To Santett:
Iya kan? Jalan aja!
Di tempat sampah sebesar itu hanya ia sendiri saja. Rasanya ingin sekali kembali ke kost, mencari Fandi dan melemparnya ke jurang. Ia sangat jengkel karena terjebak dalam masalah orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya.
Krek.
Ia menelan ludah. Entah suara apa itu tadi. Demi keamanan, ia matikan senternya dan berjalan berjingkat menuju asal suara.
Dari kejauhan, ia melihat cahaya diantara gunungan sampah. Lalu ia teringat akan alien kotak Adu Du yang tinggal di bawah tanah di tempat sampah. Lalu ia berjalan pelan menuju tempat itu dan membuka pintunya. Sebuah tangga terbentang di hadapannya.
Matanya mengawasi sekitar. Ia makin jauh kedalam sampai-sampai tidak ada sinyal lagi. Sementara di tempat lain Bagas duduk di menara sambil memainkan jarinya.
“Lola?”
“Ya?”
“Kira-kira Gilang bakal selamat?”
“Selamat dari apa?”
Hidung Gilang mencium bau darah. Tiba-tiba nyalinya ciut seketika. Kumpulan organ tubuh terkumpul dalam tabung-tabung bening di sana.
“Mampus gak ada sinyal!” serunya yang baru menyadari jika tidak ada sinyal.
Tep. Tep. Tep.
“Sembunyi di mana lagi?”
Lalu dengan cekatan, ia bersembunyi diantara kardus-kardus yang berserakan. Terdengar suara seorang wanita sedang menggerutu tidak jelas.
“Kalau barangnya kurang begini gimana cepet kaya ha?”
Dari sela-sela kardus Gilang melihat seorang wanita kurus yang sedang menghisap rokok dan dua orang pria.
“M.maaf bos.”
“Maaf! Maaf! Bisa hancur bisnis gue!”
Gilang menutup mulutnya agar tidak berteriak. Lalu seekor kecoa tanpa dosa merayap di kakinya, dan ia fobia kecoa. Lalu ia melompat seketika.
“Aaaa.. ihh geli! Geli! Kecoa kampret!!” seru Gilang.
Dan ketiga orang itu hanya mengerjap heran kepada Gilang yang baru saja bergabung dengan mereka.
Gilang hanya bisa tersenyum hampa, “hai?”
“Tangkap!” seru wanita itu.
Gilang lalu menendang pria setengah plontos yang hendak menerkammnya. Wanita itu pun ikut-ikutan menangkap Gilang di ruangan sempit penuh organ tubuh itu.
“Ngapain lo di sini bocah!”
“Lepasin gue! Hia!”
Diess! Satu pukulan mengenai wanita itu.
“Arrgg! Sialan! Bius dia!”
Dengan cepat Gilang berlari ke atas menjauhi ruangan itu. Sementara di kost, Fandi terlihat resah. Beberapa kali ia menelepon Gilang tapi tidak diangkat. Resah itu semakin menjadi tatkala ponselnya mati. Semua ini tak sesuai rencananya.
“Sialan banget! Mana nggak diangkat lagi tuh anak!”
Ia melirik jam, hampir jam sebelas. Ia tak bisa tidur. Lalu ia ingin mengambil gelas di meja samping ranjangnya. Prangg!
“Perasaan gue nggak enak lagi, semoga aja lo selamat Lang.”
Gilang hampir kehabisan tenaga di tengah anak tangga. Ia berteriak sebisanya.
“Bagaaass!! Bagaasss!! Sini loo!! Hmmphh..”
“Kena lo!”
Dalam sekejap ia sudah berada di ruangan lain. Bau obat dimana-mana. Mulutnya di sumpal kain.
“Hahahaha.. barangnya bakalan cukup nih..” terdengarlah suara wanita tadi.
“Hmmph. Hmmpp..”
“Apa? Apa? Mau teriak? Teriak aja! Hahaha...”
“Hhmmmpphh...”
Lalu pria berambut klimis membuka kaos Gilang dan memperlihatkan perutnya.
“Bos, kalo Cuma ini yang kita ambil, badannya mau di kemanain?” tanya pria setengah plontos.
“Kasih ke aku aja!” seru pria klimis.
“Enak aja, kita jual juga lah hahah...” ujar wanita itu mengerikan.
Gilang makin meronta mendengar kalimat wanita itu.
“Pake bius ato enggak?” tanya pria klimis.
“Ya enggak lah!” seru pria setengah plontos.
“Biar dia sakit!” seru wanita itu.
Gilang merasa akhir hayatnya akan tragis di tangan tiga psikopat itu.
Crash! Wanita itu menggores sedikit perut Gilang lalu menaburkan garam pada luka itu.
“HHHggmmmhhp....!!!!”
Lalu kedua pria itu mengikuti pemimpinnya dengan cara yang sama. Gilang tak mampu lagi berteriak, sekali bergerak rasanya seperti dihujam seribu pisau.
“Hahahahah.. pinjam pisaunya! Gue mau bedah sendiri!” ujar wanita itu!”
Gilang hanya bisa beristighfar dalam hati dan mengucap syahadat sebanyak mungkin.
“Rasain lo! Ini pembalasan karena lo masuk tanpa ijin! Heahh!”
“Langkahin dulu mayat gue sebelum lo ngabisin dia!”
Itu Bagas! Gilang akhirnya bahagia, tapi rasa sakit di tubuhnya membuat rasa bahagia itu sirna begitu saja. Kakinya serasa diinjak-injak. Pertarungan di ruangan sempit itu benar-benar membuatnya merasa tidak ada, maksudnya semua orang tidak sadar bila telah menginjaknya.
“Hmmphh.. hmmphhh....”
“Woy! Bawa dulu Gilangnya!”
“Tangkap!”
Greekk.. ranjang Gilang dikerek berputar, sementara ia sendiri pusing karena tekanan itu serta rasa sakit diperutnya juga belum hilang.
“Bebasin Gilang bro!”
“Apa bro gue gak denger!”
“Hmmphh! Hmmppeehh!!”
Sret!
“Aaaaaaaaaaaa......!!!!!”
Gilang akhirnya bisa berteriak juga.
Wut! Wut! Wut! Wanita itu melakukan tendangan berputar yang membuat kelompok Bagas terjatuh.
“Toolonginn gueee...!!!” teriak Gilang.
Sret. Sret. Sret. Sret.
“Bawa Gilang!”
“Jangan coba-coba!” seru wanita itu.
Buk!
Dengan satu pukulan dari balok kayu yang di pegang Lola, wanita itu akhirnya pingsan. Sementara dua kaki tangannya sudah dilumpuhkan.
“Lo masih bisa berdiri kan?” tanya Bagas.
“Gue nggak kuat jalan.” Jawab Gilang, setelah itu ia pingsan di tempat.
Bau obat langsung menyerbu hidung Gilang begitu ia membuka kedua matanya.
“G.gue dimana?”
“Lo di rumah sakit lang.” Jawab Bagas.
“Lang?”
Gilang langsung mengenali suara yang memanggil namanya itu. Lalu dengan emosi ia langsung melompat dari ranjang.
“Adududuhhh...” erang Gilang sambil memegangi perutnya.
“Tuh kan! Lagian lo main lompat aja!” teriak Fandi.
Setelah sakitnya reda, ia berdiri dan langsung menyambar kerah Fandi.
“Heh! Gara-gara lo gue jadi begini!” seru Gilang.
“T..turunin gue!”
“Lo pikir gue kasihan sama lo? Ha!”
“Gue gak bisa n..apas!”
“Alesan!”
“Uhuk! Uhuk!”
“Mati aja lo!”
“Udah Lang.” Ujar Bagas melerai.
Lalu Gilang pun melepaskan tangannya dan menyambar kerah Bagas.
“Semua ini gara-gara lo! Dan Lo!” seru Gilang sambil menunjuk Bagas dan Fandi.
“Apaan sih? Udah deh!” Lola pun angkat bicara.
“Diam!” seru Gilang.
Brak!
Semua terdiam dan melihat kearah pintu. Nampaklah suster bertubuh kecil dengan matanya yang berkilat-kilat.
“Kalian pikir ini konser apa?! Bisa rame-rame?! Ganggu pasien lain aja!” serunya marah lalu pergi begitu saja.
Setelah itu Gilang terdiam dan kembali duduk di ranjangnya.
“Jelasin semua ini!” seru Gilang.
“Oke, gue jelasin.” Bagas lalu mengambil sikap duduk yang nyaman lalu melanjutkan, “kita udah berhasil menangkap sindikat penjualan organ ilegal.”
“Trus lo bilang itu tantangan?” tanya Fandi.
“Bener.”
“Dan lo ngancem gue biar bisa nangkep tuh penjahat? Gitu?”
“Sebenernya gue minta maaf.”
“Gimana kalo gue mati?”
Bagas terdiam.
“Fan?” panggil Gilang.
“Iya?”
“Kenapa waktu itu lo keluar waktu makan?”
“Emm, bisa gue jelasin.”
“Jelasin.”
Fandi menarik napas panjang, “gue tahu Bagas ini orangnya kayak apa, kalo ngasih tantangan bukan main-main, makanya waktu itu gue sengaja pura-pura kaget dan jatuhin diri ke kolam, trus gue sakit dan elo gantiin gue.”
Gilang melongo, “jadi selama ini gue lo jadiin tumbal gitu?”
“Gue nggak tahu bakal kayak gini ceritanya.”
“Kalo gue mati?”
Fandi tidak menjawab.
Ruangan itu terasa dingin sekali. Tidak ada yang berkata sepatah katapun sejak kalimat terakhir itu yang keluar dari bibir Gilang.
Dua hari kemudian. Gilang sudah bisa sekolah. Luka-luka itu mengering begitu cepat. Fandi seperti biasa selalu ada disamping Gilang.
“Lo pesan apa lang? Gue traktir, tanggal muda.”
“Nggak. Gue air putih aja.”
“Oke deh!”
Yah. Dan semenjak kejadian itu Gilang selalu rajin beribadah, bahkan shalat shubuh. Dan karena pemandangan luar biasa saat kejadian itu, ia sampai sekarang tidak nafsu makan, katanya sih selalu kebayang organ-organ manusia waktu itu.
“Lang, Fan.”
“Napa Gas?” tanya Fandi.
Bagas menoleh ke segala arah.
“Gue mau ngaku.”
“Apaan? Apaan?” Fandi dan Gilang mendekat.
“Ini rahasia.”
“Iya apa?” tanya Fandi yang mulai tak sabar.
“Ini.”
Bagas menyerahkan sesuatu.
“Apaan nih?” tanya Gilang.
“Gue tawarin kalian gabung sama gue.”
“Gabung sama apaan?”
Bagas berkata pelan sekali, “The C.O.R.N.”
“Jagung?” tanya Fandi heran.
“Bukaaannn..”
“Trus apa?”
“C.O.R.N. itu singkatan dari Corporation Of Reformation for Nation, CORN.”
Fandi dan Gilang hanya menganga, “apaan tuh?”
“Sejenis perusahaan negara untuk menumpas kejahatan terselubung.”
“Buat perubahan bangsa?” tanya Fandi.
“Yup, nah berhubung lo berdua lulus ujian gue kemarin, gue nawarin ini ke lo berdua, mau nggak?”
“Kita pikir aja dulu.” Jawab Gilang.
“Sekali menyelesaikan misi, lo bakal dapat kesempatan beasiswa, dan kalo lo mau lo bisa sks.”
“Di sekolah kita kan gak ada sks.” Timpal Fandi.
“Kalo lo gabung lo bisa ikut, dan lulus lebih cepet.”
“Lo nggak milih sks?” tanya Gilang.
“Gue masih nyari anggota, dan gue ketemu kalian, gue rasa kalian lumayan juga waktu ujian gue kemarin.”
“Lang! Fan!”
Gilang menoleh, “Sinta?”
Fandi bahkan menjadi semangat lagi, “Sintaa..”
“Fan ini buku kamu.”
“Maacihh..”
“Emm, Lang coklat buat kamu.”
“Makasih.”
“Aku pergi dulu ya.”
Setelah Sinta pergi mereka pun mendapatkan keputusan.
“Gue nggak ikut.” Ujar Fandi.
“Kenapa?” tanya Bagas.
“Kalo gue ikut, siapa yang bakal nemenin ayang Sintaa..”
Bagas ilfeel melihat Fandi mencium buku yang di berikan Sinta, “Kalo lo lang?”
“Kalo Fandi nggak ya gue enggak.”
Bagas tersenyum, “Kalo gitu gue permisi.”
“Ya, ya, ati-ati, oh Sintaa...”
“Jijik lo, udah jelas-jelas Sinta tuh suka sama gue.”
“Tapi lo gak suka kan lang?”
“Nggak juga sih, gue aja dikasih coklat.”
“Buat gue aja!”
“Enak aja!”
“Kasih tuh coklat!”
“Mbahmu! Ini tuh punya gue!”
“Bla bla bla bla..”
Akhir kata. Persahabatan memang nomor satu. Beberapa hari kemudian, Bagas tak terlihat lagi, katanya pindah. Dan dua orang ini masih saja bertengkar.
Tamat.
(koleksi 2017, no edit, edisi menolak malu terhadap tulisan lama)