Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Horor
Bronze
Petak Umpet Maut
2
Suka
6,140
Dibaca

Bab 1: Malam Petak Umpet

Malam itu, kegelapan merayap perlahan menyelimuti Desa Sukamaju. Bukan kegelapan biasa, melainkan kegelapan total akibat pemadaman listrik mendadak yang sering melanda desa terpencil itu. Namun, bagi dua belas anak berusia delapan hingga sebelas tahun, kegelapan adalah kanvas sempurna untuk petualangan. Mereka berkumpul di lapangan desa yang luas, di bawah bayangan pohon beringin tua yang menjulang tinggi, dahan-dahannya yang keriput seolah menjadi tangan-tangan raksasa yang siap memeluk kegelapan. Di kejauhan, suara jangkrik dan katak mulai memenuhi udara, menciptakan simfoni malam pedesaan yang menenangkan.

"Aku yang jaga!" seru Bayu, anak tertua di antara mereka, dengan semangat yang meluap. Suara tawa riang bersahutan, memecah kesunyian malam yang pekat. Mereka semua tahu aturannya. Bayu, dengan punggung menghadap pohon beringin, mulai menghitung, suaranya lantang dan ceria, seolah-olah setiap angka yang ia ucapkan adalah jimat pelindung dari kegelapan yang mengintai. "Satu... dua... tiga... empat..."

Satu per satu, siluet kecil itu menghilang ke dalam rimbunnya semak, di balik gubuk kosong yang reyot, atau di balik bayangan pekat rumah-rumah yang gelap. Ada yang menyelinap ke balik tumpukan kayu bakar, ada yang meringkuk di bawah pohon mangga, dan beberapa yang paling berani bahkan nekat bersembunyi di balik pagar bambu yang menjulang tinggi di dekat sumur desa. Hanya suara napas terengah-engah dan bisikan pelan yang terdengar, diselingi tawa cekikikan yang tertahan. Bayu terus menghitung, suaranya sedikit melambat, nadanya mulai menunjukkan sedikit kelelahan. "Sembilan... sepuluh... sebelas..."

Ketika Bayu mencapai hitungan terakhir, "Dua belas! Siap tidak siap, aku datang!", keheningan yang mencekam tiba-tiba menyergap. Bukan keheningan biasa, melainkan keheningan yang kosong, hampa, seolah alam menahan napas. Tawa anak-anak yang tadi bersahutan mendadak lenyap. Tidak ada lagi bisikan, tidak ada lagi derap langkah. Hanya suara jangkrik yang terdengar sayup, seolah enggan melanjutkan simfoninya yang terhenti mendadak. Udara terasa dingin, meskipun malam itu tidak ada angin.

Bayu mulai mencari, awalnya dengan canda. Ia melangkah perlahan ke arah semak-semak, tangannya meraba-raba kegelapan. "Putra? Mira? Kalian di mana?" panggilnya, suaranya masih terdengar ceria. Tidak ada jawaban. Ia bergerak ke arah gubuk, lalu ke balik rumah-rumah. Namun, setiap langkah yang ia ambil, perasaan aneh mulai merayapi hatinya...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp8.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Cerpen
Bronze
Petak Umpet Maut
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Ternyata istriku psikopat
Chiavieth Annisa06
Novel
Gold
Salon Tua
Bentang Pustaka
Novel
Gold
Fantasteen Scary Red Eyes
Mizan Publishing
Novel
Nini Curug
Kala Senja
Novel
Gold
Fantasteen Shadow
Mizan Publishing
Novel
Bukan manusia
Ranika
Novel
Bronze
Lenting
A.R. Rizal
Flash
Bronze
Mimpi Defin
Ron Nee Soo
Flash
Belum Mati
Roy Rolland
Flash
Bronze
Direktur Gula-Gula
Carolina Ratri
Flash
Dibalik Liontin Merah
Sandra Arq
Novel
Bronze
Diluar Nalar
Terajaana
Novel
SEGEL IBLIS
Miss Green Tea
Novel
Gold
Fantasteen Scary: Daruma-San
Mizan Publishing
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Petak Umpet Maut
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bayang Bayang Dokter
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Labirin Jiwa
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kutukan Polaroid
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kabut Asap Pelabuhan
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Lilo Main Dengan Siapa
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kaca Retak
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Paranoid
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Ada Apa Dengan Diriku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Galeri Lukisan Oscar
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Harmoni Kegelapan
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Siapa Tamu Rumahku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Aku Mencium Melati
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Simfoni Terlarang
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Jumat Akhir Bulan Juli
Christian Shonda Benyamin