Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Horor
Bronze
Petak Umpet Maut
2
Suka
8,491
Dibaca

Bab 1: Malam Petak Umpet

Malam itu, kegelapan merayap perlahan menyelimuti Desa Sukamaju. Bukan kegelapan biasa, melainkan kegelapan total akibat pemadaman listrik mendadak yang sering melanda desa terpencil itu. Namun, bagi dua belas anak berusia delapan hingga sebelas tahun, kegelapan adalah kanvas sempurna untuk petualangan. Mereka berkumpul di lapangan desa yang luas, di bawah bayangan pohon beringin tua yang menjulang tinggi, dahan-dahannya yang keriput seolah menjadi tangan-tangan raksasa yang siap memeluk kegelapan. Di kejauhan, suara jangkrik dan katak mulai memenuhi udara, menciptakan simfoni malam pedesaan yang menenangkan.

"Aku yang jaga!" seru Bayu, anak tertua di antara mereka, dengan semangat yang meluap. Suara tawa riang bersahutan, memecah kesunyian malam yang pekat. Mereka semua tahu aturannya. Bayu, dengan punggung menghadap pohon beringin, mulai menghitung, suaranya lantang dan ceria, seolah-olah setiap angka yang ia ucapkan adalah jimat pelindung dari kegelapan yang mengintai. "Satu... dua... tiga... empat..."

Satu per satu, siluet kecil itu menghilang ke dalam rimbunnya semak, di balik gubuk kosong yang reyot, atau di balik bayangan pekat rumah-rumah yang gelap. Ada yang menyelinap ke balik tumpukan kayu bakar, ada yang meringkuk di bawah pohon mangga, dan beberapa yang paling berani bahkan nekat bersembunyi di balik pagar bambu yang menjulang tinggi di dekat sumur desa. Hanya suara napas terengah-engah dan bisikan pelan yang terdengar, diselingi tawa cekikikan yang tertahan. Bayu terus menghitung, suaranya sedikit melambat, nadanya mulai menunjukkan sedikit kelelahan. "Sembilan... sepuluh... sebelas..."

Ketika Bayu mencapai hitungan terakhir, "Dua belas! Siap tidak siap, aku datang!", keheningan yang mencekam tiba-tiba menyergap. Bukan keheningan biasa, melainkan keheningan yang kosong, hampa, seolah alam menahan napas. Tawa anak-anak yang tadi bersahutan mendadak lenyap. Tidak ada lagi bisikan, tidak ada lagi derap langkah. Hanya suara jangkrik yang terdengar sayup, seolah enggan melanjutkan simfoninya yang terhenti mendadak. Udara terasa dingin, meskipun malam itu tidak ada angin.

Bayu mulai mencari, awalnya dengan canda. Ia melangkah perlahan ke arah semak-semak, tangannya meraba-raba kegelapan. "Putra? Mira? Kalian di mana?" panggilnya, suaranya masih terdengar ceria. Tidak ada jawaban. Ia bergerak ke arah gubuk, lalu ke balik rumah-rumah. Namun, setiap langkah yang ia ambil, perasaan aneh mulai merayapi hatinya...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp8.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Cerpen
Bronze
Petak Umpet Maut
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Misteri Kampung Mati dan Hantu Berang-berang
Habel Rajavani
Flash
Bronze
Bedak
Bksai
Novel
TUNNEL
Embart nugroho
Skrip Film
PHANTOM : Lonceng Kematian
Weyyin
Novel
Pendekar Sarang Demit
Raxl Sri
Novel
Bronze
KHODAM
Herman Siem
Cerpen
Bronze
Penelitian di Dimensi Lain
Jasma Ryadi
Flash
Gelap Gulita
Celica Yuzi
Novel
Cursed on the Witching Hours
Roy Rolland
Flash
Kembalikan Mataku, Mama!
anjel
Cerpen
Bronze
Hutan Larangan
Christian Shonda Benyamin
Flash
Bronze
Penulis Cerita Horor
bomo wicaksono
Cerpen
Rumah Istimewa
Sucayono
Flash
Orang-Orang Mengerikan
Kosong/Satu
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Petak Umpet Maut
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Hutan Larangan
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Arah Kompas
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Novel Tanpa Akhir
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bus Senja
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kutukan Merapi Tua
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Lonceng Berdentang
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Jurnal Kosong
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bidan Sofia
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Simfoni Keabadian
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Terkutuk
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bayangan Di Balik Kaca
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Pelaku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Raina
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Penunggang Kuda Hitam
Christian Shonda Benyamin