Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Misteri
Pesan dari Nomor yang Sudah Mati
0
Suka
12
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Pukul 02.13 dini hari, ponsel Raka bergetar di atas meja. Satu pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. “Rak, jangan pulang besok.” Raka mengernyit sambil menatap layar. Ia hampir menghapus pesan itu, tetapi beberapa detik kemudian sebuah nama muncul di bawah nomor tersebut. Dimas. Tangannya langsung berhenti. Dimas adalah sahabatnya yang meninggal dua tahun lalu. Raka menatap layar cukup lama, berusaha meyakinkan dirinya bahwa mungkin nomor itu sudah dipakai orang lain. Mungkin ada seseorang yang kebetulan menggunakan nomor lama Dimas. Itu lebih masuk akal daripada mempercayai bahwa orang yang sudah meninggal mengirim pesan kepadanya. Setelah beberapa saat, Raka mengetik, “Siapa ini?” Pesan terkirim. Tidak sampai sepuluh detik kemudian, balasan muncul. “Kamu tahu siapa aku.” Raka langsung mematikan layar dan meletakkan ponselnya jauh dari tempat tidur.

Malam itu Raka tidak tidur. Pagi harinya, ia berusaha melupakan kejadian tersebut dan pergi ke sekolah seperti biasa. Namun sepanjang perjalanan, satu kalimat terus terngiang di kepalanya: jangan pulang besok. Masalahnya, besok adalah hari ulang tahun kematian Dimas. Setiap tahun, Raka selalu pergi ke rumah lama Dimas untuk menaruh bunga sebagai tanda bahwa ia masih mengingat sahabatnya itu. Dimas meninggal karena kecelakaan ketika mereka pulang sekolah. Saat itu hanya Raka yang selamat. Sejak kejadian tersebut, Raka tidak pernah membicarakannya kepada siapa pun. Ia selalu berusaha menjalani hidup seperti biasa, meskipun rasa bersalah masih sering muncul ketika mengingat malam itu. Selama dua tahun, Raka percaya bahwa kematian Dimas hanyalah sebuah kecelakaan.

Saat jam istirahat, ponsel Raka kembali bergetar. Pesan dari nomor yang sama muncul di layar. “Kamu masih menyimpan kunci itu?” Raka langsung terdiam. Ia tahu kunci apa yang dimaksud. Dua tahun lalu, sebelum kecelakaan, Dimas pernah memberinya sebuah kunci kecil berwarna hitam. “Kalau suatu hari aku nggak bisa mengambilnya lagi, simpan ini,” kata Dimas waktu itu. Raka tidak pernah tahu kunci tersebut membuka apa, tetapi ia masih menyimpannya di dalam sebuah kotak kecil di bawah tempat tidurnya. Malamnya, Raka membuka kotak tersebut. Kunci hitam itu masih ada. Namun kali ini ia menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia sadari. Di bawah kunci tersebut terdapat secarik kertas yang sudah menguning. Raka mengambilnya dengan tangan gemetar. Tulisan di kertas itu adalah tulisan tangan Dimas. “Kalau aku mati, jangan percaya siapa pun yang bilang itu kecelakaan.”

Raka membeku. Selama dua tahun, ia percaya bahwa kematian Dimas adalah kecelakaan. Namun sekarang, sebuah pesan dari nomor milik orang yang sudah meninggal mengatakan hal yang berbeda. Raka membaca tulisan itu berkali-kali, berharap menemukan penjelasan yang masuk akal. Tidak ada. Hanya satu kalimat pendek yang justru membuat pikirannya semakin penuh dengan pertanyaan. Ponselnya kembali berbunyi. Sebuah foto masuk dari nomor yang sama. Foto itu memperlihatkan sebuah rumah tua yang sangat Raka kenal, rumah Dimas. Di bagian depan rumah, ada seorang pria berdiri membelakangi kamera. Raka memperbesar foto tersebut dan langsung merasa dadanya sesak. Pria itu memakai jaket hitam yang sama seperti yang dipakai ayah Raka pada malam kecelakaan Dimas.

Selama dua tahun, ayahnya selalu mengatakan satu hal yang sama. “Dimas kecelakaan karena jalanan licin.” Raka tidak pernah mempertanyakan perkataan itu. Namun malam ini semuanya berubah. Ia mengambil kunci hitam tersebut, memasukkannya ke saku, lalu pergi menuju rumah Dimas tanpa memberi tahu siapa pun. Rumah itu sudah lama kosong. Cat dindingnya mengelupas, halaman dipenuhi rumput liar, dan jendela depannya tertutup debu. Raka berdiri beberapa saat sebelum akhirnya masuk melalui pintu samping. Ia masih mengingat hampir setiap sudut rumah tersebut karena dulu ia sering menghabiskan waktu bersama Dimas di sana. Setelah hampir setengah jam mencari, Raka menemukan sebuah lubang kecil di bawah tangga. Bentuknya sama persis dengan kepala kunci yang dibawanya. Raka memasukkan kunci itu dan memutarnya perlahan. Terdengar suara klik. Sebuah bagian lantai terbuka dan memperlihatkan ruang kecil yang tersembunyi di bawahnya.

Di dalam ruangan itu terdapat sebuah kotak besi. Raka membawanya keluar dan membukanya dengan hati-hati. Di dalamnya terdapat beberapa foto, sebuah flashdisk, dan sebuah buku catatan. Raka membuka halaman pertama buku tersebut dan langsung mengenali tulisan Dimas. “Raka, kalau kamu membaca ini berarti aku sudah tidak ada. Aku tahu kamu akan mencari tahu semuanya. Tapi ada satu hal yang harus kamu ingat. Orang yang paling dekat denganmu belum tentu orang yang paling jujur.” Raka menelan ludah. Ia terus membaca halaman demi halaman. Dimas ternyata sudah mencurigai adanya sesuatu yang tidak beres sebelum kecelakaan itu terjadi. Ada beberapa nama yang ditulis, tanggal-tanggal yang tidak Raka pahami, serta catatan tentang seseorang yang diam-diam mengikuti mereka beberapa hari sebelum kecelakaan.

Tiba-tiba terdengar suara pintu depan dibuka. Raka langsung menghentikan bacaannya. Rumah itu seharusnya kosong. Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa ia berada di sana. Ia mematikan lampu dan bersembunyi di balik lemari tua sambil menggenggam buku tersebut erat-erat. Langkah kaki terdengar dari ruang depan. Perlahan, suara tersebut semakin dekat. Raka menahan napas ketika seseorang berhenti tepat di depan ruangan tempatnya bersembunyi.

“Raka?”

Suara itu membuat seluruh tubuhnya terasa dingin. Itu suara ayahnya.

“Ayah tahu kamu akan datang ke sini.”

Raka tidak menjawab. Ia menatap buku catatan yang masih berada di tangannya. Dengan cepat ia membuka halaman terakhir. Hanya ada satu kalimat yang tertulis di sana. “Kalau Ayah datang, jangan keluar.” Raka mundur perlahan. Ia mulai menyadari bahwa sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi. Ayahnya berdiri di luar, sementara semua catatan Dimas seolah-olah memperingatkannya agar tidak mempercayai orang yang paling dekat dengannya.

Tiba-tiba ponselnya bergetar. Satu pesan baru masuk. “Sekarang buka flashdisk itu.” Raka mengambil laptop kecil dari dalam tasnya dan memasukkan flashdisk tersebut. Sebuah video muncul di layar. Wajah Dimas terlihat di sana. Video itu jelas direkam sebelum kecelakaan terjadi. “Rak,” kata Dimas dalam video tersebut, “kalau kamu melihat ini, berarti rencanaku gagal.” Dimas menarik napas sebelum melanjutkan. “Aku menemukan sesuatu tentang kecelakaan kita. Kalau aku tidak sempat menjelaskannya kepadamu, cari rekaman yang aku simpan di tempat terakhir kita bertemu malam itu.”

Video tiba-tiba berhenti. Layar berubah menjadi hitam dan sebuah tulisan muncul: “FILE KEDUA TERKUNCI.” Raka menatap layar dengan bingung. Di luar ruangan, gagang pintu mulai bergerak. “Raka,” suara ayahnya terdengar lagi. “Buka pintunya.” Raka tidak menjawab. Ia merogoh sakunya dan menemukan kunci hitam yang tadi dibawanya. Ponselnya kembali bergetar. Pesan baru muncul dari nomor Dimas. “Kuncinya ada di sakumu. Jangan biarkan Ayah menemukannya.”

Raka menggenggam kunci tersebut erat-erat. Jantungnya berdegup semakin cepat. Ia kemudian menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah terpikirkan olehnya. Jika Dimas memang sudah meninggal dua tahun lalu, lalu siapa yang selama ini mengirim pesan kepadanya? Di luar, pintu mulai terbuka. Raka menatap layar laptop yang masih menampilkan wajah Dimas. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, ia tidak lagi takut mengetahui kebenaran tentang kematian sahabatnya. Yang ia takutkan justru adalah kemungkinan bahwa Dimas sebenarnya tidak pernah meninggalkan pesan-pesan itu sendirian.

Sebelum pintu terbuka sepenuhnya, sebuah pesan terakhir masuk ke ponselnya.

“Aku ada di belakangmu.”

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Cerpen
Pesan dari Nomor yang Sudah Mati
Rayyan bukhari
Novel
Visum et Repertum
Tera
Novel
Bronze
Yakuza van Java S.2 : Case Files
A.M.E chan
Cerpen
Bronze
misteri di pumcak gunung
agus tardi rohenda
Flash
Bronze
Promise
mahes.varaa
Novel
Bronze
Susuk Jaipong
silvi budiyanti
Cerpen
Kasus Pembunuban: Mayat Berkawat
Grimmer
Flash
Bronze
ILUSI
Mirna Anata
Cerpen
Pengertian yang Tak Mudah
Fazil Abdullah
Novel
My Fair Rebelle
DMRamdhan
Flash
Lukisan Bedhaya Ketawang (I)
Rifatia
Novel
Bronze
RITUAL GUNUNG KEMUKUS
Citra Rahayu Bening
Novel
My Paranormal Agency
Patricius Emmanuel Jafes Lita
Flash
Bronze
Tik... Tok...
CameliaRey
Flash
Wajah
Noor H. Dee
Rekomendasi
Cerpen
Pesan dari Nomor yang Sudah Mati
Rayyan bukhari