Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Terbangunkan oleh mentari pagi di kala mimpi yang bersemi indah memang cukup menyakitkan. Hati terus berkata untuk melanjutkan kembali mimpi yang terputus tapi keadaan memaksa untuk melanjutkan hidup dalam realita. Kehidupan yang lebih nyata menunggu manusia dengan sejuta cerita namun entah mengapa kenyataan selalu lebih menyakitkan berkali-kali lipat dibandingkan bunga tidur yang selalu menghampiri setiap kali tubuh beristirahat dan mulai memejamkan mata.
Sedikit fakta tentang mimpi. Detik-detik tubuh menjadi semakin jujur adalah saat manusia berada di dalam mimpi, otak mengulik beberapa memori, memilahnya secara acak dan mengirimnya ke pusat visual diri, sehingga rasanya semua itu adalah nyata. Tak jarang juga hati ikut memberi andil, ia mengirimkan keinginan terdalam diri manusia saat otak memproyeksi visual mimpi.
Saat tubuh menyerah pada lelah dan memerintahkan mata untuk menutup kedua kelopaknya, dunia mengecil, suara memudar, kemudian otak menyalakan lampu-lampu kecil di gudang ingatan, menelusuri kembali apa yang tersimpan di gudang itu. Wajah-wajah yang sempat kita hindari, kata-kata yang tak sempat diucapkan, ketakutan yang tersembunyi, peristiwa yang sangat diharapkan untuk segera dilupakan.
Pada saat itu, hanya emosi yang tertinggal seolah logika sudah tidak tahan lagi berada di fase itu. Ingatan tidak lagi berbaris dengan rapih, mereka saling bertabrakan, berpindah tempat sesuai dengan keinginan mereka, melebur dan berubah bentuk melanggara aturan yang sudah ada. Satu wajah meminjam tubuh lain, satu tempat menjelma menjadi tempat lain. Semua menjadi tidak masuk akal tapi otak tidak peduli, yang ia cari hanyalah makna. Dan ketika semua itu terjadi, mimpi datang dan menyapa diri.
Ia datang bukan dengan pesan yang jelas, melainkan ia berbisik, menjelma menjadi sebuah rindu dalam pertemuan yang singkat, memunculkan luka lama sebagai adegan yang tak pernah terjadi, dengan tambahan bumbu kenyataan yang dapat menipu seluruh petugas di ruang ingatan bahwa itu semua hanyalah mimpi belaka.
Waktu tidak berlaku dalam dunia mimpi, semua terasa berjalan begitu cepat dan terkadang semua berjalan begitu lambat. Beberapa menit terasa seperti seumur hidup. Kesedihan datang tanpa aba-aba membangkitkan banyak memori, dan tak lama kemudian kebahagiaan datang tanpa diminta. Tak hanya itu, amarah, ambisi, ego dan yang lainnya bisa datang dan pergi sesuai kemauan mereka. Anehnya diri menikmati semua itu di dalam dunia mimpi.
Lalu sang fajar tiba, cahaya mentari masuk dari celah-celah kaca jendela. Otak seolah disambut oleh rasa ketakutan dan langsung menghentikan pertunjukan mimpi itu dengan cepat. Sebagian mimpi dilupakan dan sebagian lagi tertinggal, melekat masuk ke dalam gudang ingatan, menunggu untuk diputar kembali dan dilanjutkan. Setelah itu semua, diri dibuat bertanya-tanya sepanjang hari
“Apakah itu semua hanya mimpi? Atau bagian dari diri ini yang tidak berani untuk bangun?”
…
Aku terbangun di sebuah ruangan, ada banyak sekali orang di sana, mereka adalah orang-orang yang sudah lama kukenal. Kami duduk bersama, membicarakan banyak hal, bercengkerama bersama, tertawa pada hal-hal yang tidak benar-benar lucu. Aku mulai terlena dengan kehangatan yang terpancar dari kebersamaan itu, sangat hangat sampai aku sadar di antara banyaknya suara-suara bercampur di tengah kehangatan itu, tidak ada satu pun yang benar-benar memanggil namaku.
Aku ada di sana, ikut tertawa, ikut bicara, ikut menyaksikan kehangatan itu. Namun mereka tidak ada yang benar-benar berbicara padaku, tidak ada satu pun dari mereka yang tertawa bersamaku. Mereka tidak menghiraukanku sama sekali. Layaknya kursi tua yang berada di sudut ruangan, ada namun eksistensinya tidak diakui.
Aku mulai mempertanyakan banyak hal, apakah mereka sungguh orang-orang yang selama ini ku kenal? Apakah mereka sungguh adalah orang-orang yang sudah ku sayangi selama ini? Aku rela mengorbankan segalanya demi mereka, aku bahkan bisa mempertaruhkan segalanya untuk mereka. Tapi, apa benar selama ini aku hanya mempertaruhkan segalanya untuk orang-orang yang menganggapku tidak ada?.
…
Setelah semua itu aku berlari keluar dari ruangan itu. Aku sedih namun, tidak ada air mata yang bisa diseka. Aku berlari ke sembarang arah. Tidak peduli akan sampai di mana aku nantinya. Langkahku terhenti di pinggiran jalan raya, tak banyak kendaraan yang melaju di sana hingga aku mendapati sosok lelaki mengendarai motornya pelan, ku lambaikan tanganku ke arahnya. Setelah ia menepi, ku kataka padanya untuk mengantarku ke stasiun pengisian bahan bakar terdekat. Untuk apa aku ke sana? Aku sendiri tidak tahu tapi yang jelas otakku berkata bahwa aku harus ke sana.
Di persimpangan jalan aku melihat stasiun pengisian bahan bakar, ku katakana pada pria itu untuk menurunkan aku di sana dan berterimakasih padanya. Di luar dugaan, ia terus melaju cukup kencang melewati stasiun pengisian bahan bakar itu. Ia terus melaju tanpa menghiraukan kata-kataku yang terus menyuruhnya untuk berhenti. Aku mulai merasa panik, apa dia berniat menculikku? Apa dia adalah seorang penjahat? Pikiranku berkecamuk, tidak ada solusi yang melintas di benakku saat itu. Apa aku harus melompat saja?
Tak lama ia membawa motornya memasuki area perbelanjaan, aku terdiam dan bepikir, mengapa ia membawaku ke tempat ini? Setelah sampai di parkiran gedung perbelanjaan itu, aku yang masih terdiam ikut turun dari motornya. Pria itu lalu menarik tanganku agar aku mengikuti langkahnya dan kami pun sampai di lobi gedung itu.
“Temani aku berbelanja, setelah itu aku akan antarkan kamu ke tempat yang kamu mau.” Ucapnya santai.
Aku tak membalas ucapannya dan hanya mengikuti langkahnya memasuki retail-retail yang ada di gedung perbelanjaan itu. Aku sama sekali tidak pernah berpikir akan pergi ke tempat ini untuk berbelanja. Tidak mungkin bagiku untuk menghabiskan uang yang sudah susah payah aku kumpulkan selain untuk hal-hal yang benar-benar aku butuhkan. Sementara pria itu dengan mudahnya mengeluarkan uang untuk hal-hal yang tidak penting. Ya. Aku merasa iri padanya.
Selama mengikutinya berbelanja aku masih tetap diam hingga kami sampai di sebuah retail fashion, sebuah baju yang tergantung di dalamnya membuat diriku terpana. Begitu indah dan cantik. Tapi untuk diriku, hanya bisa memandanginya saja.
‘Andai aku punya uang, atau andai aku bisa, aku akan membelinya di lain waktu’ batinku.
“Kenapa tidak ambil saja sekarang? Kau tidak harus menunggu lain waktu. Aku akan membelikannya.” Pria itu mengejutkanku dengan kata-katanya yang sejalan dengan pemikiranku.
“Tidak, aku tidak bisa. Aku tidak ingin kau mentraktirku, simpan saja uangmu untukmu.” Aku menolak dengan sopan.
Setelah kejadian itu, pria yang entah siapa namanya itu terus saja menanyakan apakah aku mau membeli hal-hal yang telah aku lihat di berbagai retail yang kami singgahi. Jawabanku selalu sama, aku tidak mau. Alasannya aku tidak ingin berhutang apapun padanya, kami adalah orang asing, tidak sepantasnya aku berhutang apapun meskipun hanya kebaikan kecil darinya. Aku sudah pernah merasa hina karena berhutang kebaikan pada seseorang dan aku tidak ingin merasa seperti itu lagi. Terlebih kepada orang asing. Aku tidak ingin berharap lebih banyak lagi.
Ketika kami sampai di dekat lobi tempat awal kami masuk, aku mengisyaratkan padanya untuk pulang. Aku yang ingin pulang. Jujur saja aku mulai merasa tidak nyaman berada di sekitar pria itu. Bukan karena ia menyebalkan hanya saja saja, aku tidak terbiasa berada di sekitar orang yang tidak aku kenal. Syukurlah ia memahami isyaratku.
“Baik, setelah ini aku akan mengantarmu pulang.” Ujarnya memahami isyaratku.
Kami berjalan santai keluar dari lobi pusat perbelanjaan ke area parker untuk mengambil motor pria itu. Selama kami berjalan bersama, ia sungguh sangat perhatian padaku, ia memegangiku saat aku nyaris tersandung, ia memastikan agar diriku menuruni tangga dengan aman, ia menghalangi pantulan sinar matahari agar aku tidak kepanasan. Batinku berbisik bahwa ia adalah pria yang sangat aku idam-idamkan.
‘Jangan terlena oleh perhatian dan kebaikan sesaat!’ diriku yang lain memperingati diriku.
Setelah itu kami pun berkendara keluar dari area perbelanjaan itu. Hening. Baik aku maupun pria itu tidak ada yang memulai percakapan. Aku sudah cukup lelah hari ini. Semua berlalu begitu lama hingga aku bertanya-tanya kapan hari akan berganti.
Sesampainya kami di area perumahan kecil yang tidak aku kenali, aku langsung turun dari motor pria itu dan melihat seorang teman perempuan yang aku kenal. Aku terdiam sesaat memastikan bahwa orang yang ku lihat memang benar temanku. Sementara pria itu hilang entah kemana, mungkin ia pergi ke dalam area perumahan itu, atau mungkin saja ia kabur. Aku tidak peduli, yang ada dipikiranku hanyalah aku ingin pulang, tapi sebelum itu aku harus menghampiri perempuan itu.
“Hai, apa yang kau lakukan di sini?” sapaku pada temanku itu. Aku bersyukur ternyata aku tidak salah orang.
Temanku itu hanya terdiam melihat ke arah lain, ia terlihat sedih. Setelah aku amati arah yang ia ratapi adalah sebuah gang kecil di sana ada banyak gadis lainnya sedang tertawa dan bergurau, berjalan pelan dan semakin jauh. Aku langsung mengerti bahwa itu adalah orang-orang yang dikenali temanku itu. Sepertinya ia sengaja ditinggalkan oleh mereka.
Aku menepuk pundaknya pelan dan berkata “Satu-satunya orang bisa kau percaya adalah dirimu sendiri. Jangan bergantung pada orang lain. Toh, kita terlahir dan akan mati sendirian. Tak apa, kau akan kuat berjalan sendiri.”
…
Bunyi Alarm membangunkan diriku. Semua perjalanan aneh itu ternyata hanya bunga tidurku. Entah mengapa terasa nyata. Aku yang begitu mendambakan pria impian meskipun aku takut dalam memulai hubungan, dan aku yang begitu takut ditinggalkan olrh teman-teman dan saudaraku.
Mimpi itu terus berputar di kepalaku seperti film yang sangat laku di bioskop. Namun, satu-satunya perkataan yang mengiang di telingaku hanyalah kata-kata terakhir yang aku katakan kepada temanku. Kita sebagai manusia terlahir sendirian dan akan mati kembali ke tanah juga dalam keadaan sendirian. Tapi, entah mengapa aku begitu takut berada dalam kesendirian.
Setelah beberapa menit, aku masih merenungi bunga tidur itu. Aku mendapat satu pesan penting yang mungkin diriku sendiri ingin katakana padaku. Diriku yang selama ini ingin sekali keluar dan mengatakan pada dunia bahwa diriku sama berharganya dengan manusia lain. Benar. Aku sudah lama mengurung diriku yang berani itu dan membiarkan dunia memaki diriku.
Mungkin sebenarnya aku lah yang berada di dalam mimpi itu, diriku menepuk bahuku daan berkata bahwa hanya diriku yang bisa aku percaya, hanya diriku yang bisa aku andalkan dan tidak apa-apa jika hanya diriku yang percaya bahwa diriku bisa mencapai segala yang aku impikan saat ini. Aku bisa meraihnya. Diriku di masa depan bisa menikmatinya.
Waktu terus berjalan setiap menitnya dan aku menyadari bahwa ‘pria idaman’ yang ada di dalam mimpi ku itu adalah hal-hal yang terus aku damba untuk ku dapatkan dari diriku sendiri. Selama ini aku terus berjalan dan hidup tanpa memerhatikan apa yang diriku butuhkan, aku terlalu fokus memerhatikan orang lain.
Maka sekarang, aku bertekad untuk lebih mencintai diriku sendiri lebih dari siapapun.