Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Misteri
Pesan Cinta dari Semesta
0
Suka
121
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Aku melayang, tubuhku tertinggal di dunia nyata. Cahaya putih menyelimutiku, menarikku ke dalam kehampaan. Aku berada di tempat asing yang terasa nyata.

Di hadapanku, ruangan putih yang luas terbuka. Cahaya lampu operasi menyilaukan mataku, suara monitor berdetak teratur memenuhi udara, bercampur dengan ketegangan yang menggantung di sekeliling.

Tiba-tiba, suara tangisan bayi memecah keheningan. Seorang dokter mengangkat bayi mungil yang masih merah, wajahnya penuh kehangatan saat menoleh ke perempuan yang terbaring lemah di ranjang operasi.

"Selamat, Bu. Bayinya perempuan."

Senyum tipis muncul di bibir perempuan itu. Napasnya tersengal, tetapi matanya berbinar penuh cinta. Air matanya jatuh perlahan saat ia berbisik lemah, "Nak… ini Ibu."

Namun kebahagiaan itu sekejap saja.

Tiba-tiba, tubuhnya menegang. Matanya membelalak, jari-jarinya yang ingin menyentuh bayinya mulai gemetar. Napasnya memburu, tak beraturan. Monitor jantung di sampingnya berbunyi cepat—panik.

"Tekanan darahnya turun drastis!" seru dokter. "Dia kehilangan banyak darah. Cepat, siapkan transfusi!"

Tubuhnya semakin melemah. Cahaya di matanya perlahan memudar. Jemarinya terulur, berusaha meraih bayinya, tetapi tenaganya tak lagi cukup.

Aku ingin menolongnya, ingin menariknya kembali. Tapi aku bukan bagian dari dunia mereka. Aku hanya bisa menyaksikan—terjebak dalam ketidakberdayaan.

Matanya mulai redup. Nafasnya tersengal, tubuhnya semakin lemah. Di tengah kepanikan yang memenuhi ruangan, pikirannya melayang… mengembara ke tempat yang lebih hangat. Kenangan lama muncul seperti lembaran film yang diputar ulang—membawanya kembali ke masa ketika ia masih seorang gadis berseragam putih abu-abu. Aku terseret bersamanya.

Aku melihatnya di masa remajanya—seorang gadis SMA yang anggun dan berwibawa, berdiri tegap sebagai petugas upacara. Seragam putih abu-abu membalut tubuhnya dengan sempurna, mencerminkan ketenangan di tengah suasana yang khidmat.

Saat upacara selesai, ia melangkah melewati kerumunan, matanya sibuk mencari seseorang. Nama itu tiba-tiba terdengar di antara para siswa, membuat jantungnya berdegup lebih cepat.

"Kelvin."

Dinasya menatapnya dari kejauhan. Waktu seolah berhenti ketika pandangan mereka bertemu. Kelvin diam, tetapi sorot matanya seakan berbicara. Senyum tipis tersungging di bibir Dinasya sebelum ia bergegas menuju kelas. Saat menoleh ke belakang, Kelvin masih berdiri di tempatnya—mengamatinya dalam diam.

Hari-hari berlalu hingga kelulusan tiba.

Dinasya tampak cantik dalam balutan kebaya. Di tengah keramaian, ia menerima ucapan selamat, tetapi pikirannya tertuju pada satu orang.

Kelvin mendekatinya tanpa suara, mengulurkan sesuatu—sebuah jepit rambut yang pernah hilang.

Jemari mereka bersentuhan sekejap, dan dunia seakan berhenti. Namun sebelum Dinasya sempat berkata apa-apa, Kelvin sudah beranjak pergi. Hanya punggungnya yang tersisa, menjauh dalam kebisuan.

Acara kelulusan usai, dan Dinasya harus pergi lebih awal karena panggilan telepon. Kelvin masih berdiri di sana, menunggu tatapan terakhirnya. Saat akhirnya Dinasya menoleh, mata mereka kembali bertemu—sesaat, sebelum ia melangkah pergi tanpa sepatah kata.

Bertahun-tahun kemudian, ia kembali ke sekolah untuk mengambil ijazahnya. Setiap sudut membawa kenangan lama ke permukaan.

Di lantai dua, teleponnya berdering.

Suara itu familiar, begitu lama dirindukan.

"Halo, Dinasya."

Jantungnya berdegup kencang.

"Aku di taman belakang sekolah. Bisakah kita bertemu?"

Tanpa ragu, ia melangkah pergi.

Di sana, Kelvin menunggunya dengan senyum yang masih sama. Tak ada jarak, tak ada sekat. Tatapan mereka menyiratkan rindu yang tak terucap.

"Sudah setahun, tapi aku masih di sini. Tempat ini selalu mengingatkanku padamu," ucap Kelvin pelan.

Dinasya tersenyum kecil, tapi ada kepedihan di baliknya.

Kelvin meraih tangannya. Sentuhan itu masih sama—hangat, lembut, membawa mereka kembali ke masa lalu. Tapi senyumnya perlahan memudar saat melihat sesuatu di jari manis Dinasya.

Sebuah cincin.

Kelvin menarik napas, sesak. Pertanyaan berputar di kepalanya, tapi tak ada yang terucap.

Dinasya menatapnya sejenak, lalu menyerahkan sebuah amplop. Dengan ragu, Kelvin membukanya. Namanya tertera jelas di atas kertas, berdampingan dengan nama lain.

Dhaif.

Suara di sekelilingnya memudar. Udara sore yang seharusnya sejuk terasa menyesakkan.

Dinasya tetap diam, tak ada penjelasan, hanya tatapan yang sulit diterjemahkan.

Beberapa detik terasa begitu panjang.

Kelvin akhirnya menatapnya kembali, tetapi kata-kata tak menemukan jalannya.

Mereka berdiri di sana, di antara sisa-sisa cerita yang tak bisa lagi dilanjutkan.

Saat Dinasya melangkah pergi, Kelvin hanya bisa melihatnya menjauh—seperti waktu yang tak bisa ia genggam kembali.

Kenangan Dinasya terus berkelebat, membawaku kembali ke ruang operasi.

Monitor jantung berbunyi panjang—garis lurus yang memutus harapan.

Hening.

Duka menggantung di ruangan itu.

Seorang perempuan perlahan mengangkat bayi mungil yang masih merah, menimangnya dengan tatapan sendu.

"Ayahmu pergi dua bulan sebelum kamu lahir..." suaranya lirih, nyaris tenggelam di antara isak yang ia tahan.

Ia menarik napas, tapi suaranya kembali bergetar. "Dan sekarang... ibumu juga menyusulnya."

Di rumah duka, orang-orang datang memberi penghormatan terakhir. Isak tangis samar terdengar di antara doa yang dipanjatkan.

Di kejauhan, seorang pria berdiri diam. Tatapannya kosong, napasnya lirih, dadanya naik turun seakan menahan sesuatu yang terlalu lama mengendap di hatinya.

Kelvin.

Ia memaksa dirinya melangkah. Setiap jejak di tanah basah terasa berat, membawa kenyataan yang ingin ia hindari.

Saat melewati ambang pintu, aroma melati menyambutnya. Udara di dalam terasa sesak, bercampur dengan isak lirih. Orang-orang menunduk dalam diam, beberapa meremas tisu basah di tangan mereka. Kelvin menghela napas, mencoba menenangkan debar di dadanya.

Pandangan matanya menyapu ruangan, lalu terhenti pada satu sudut.

Seorang wanita tengah mengayun-ayunkan bayi mungil dalam dekapannya, berusaha menenangkan tangisnya. Kelvin melangkah mendekat. Ia mengulurkan tangan, ragu-ragu. Ada getaran halus di ujung jarinya, seakan sesuatu menahannya.

Wanita itu menatapnya sejenak, lalu mengangguk kecil sebelum menyerahkan bayi itu ke pelukannya.

Kelvin menerima dengan hati-hati. Bayi itu menangis, suaranya menggema di antara keheningan. Kelvin menunduk, menatap wajah kecil itu. Jemarinya menyentuh kulit lembutnya untuk pertama kali.

Dan saat itu, ia melihat sekilas Dinasya—matanya, ekspresinya.

Kenangan menghantamnya seperti ombak. Rasa sakit yang telah lama bersemayam di dadanya mendesak keluar, hampir membuatnya terjatuh.

Kelvin menutup mata, menarik napas panjang.

"Aku akan menjagamu," bisiknya dalam hati. "Seperti aku menjaga cintaku pada ibumu."

Tangis bayi itu perlahan mereda. Namun, isak di sudut ruangan masih terdengar. Keluarga dan sahabat Dinasya berpelukan, saling menguatkan. Kelvin hanya diam. Udara terasa semakin berat.

Lalu, langkah-langkah mulai terdengar. Satu per satu orang-orang meninggalkan rumah duka, menuju peristirahatan terakhir Dinasya. Kelvin mengikuti di belakang.

Langit mendung menggantung rendah saat mereka tiba di pemakaman. Aroma tanah basah bercampur harumnya bunga. Kelvin berdiri di sana, menyaksikan tanah merah menutupi tubuh seseorang yang dulu begitu ia cintai.

Nama Dinasya terukir sederhana di batu nisan, tapi bagi Kelvin, setiap hurufnya menggores luka di hatinya.

"Dinasya… aku pernah ingin melamarmu." Suaranya pecah. "Tapi sekarang aku hanya bisa menjaga putri kecilmu."

Kelvin menunduk, menarik napas panjang. Perlahan, di antara kepedihan, ada sesuatu yang tumbuh—sebuah keteguhan.

"Aku nggak bisa ada di sampingmu lagi, tapi aku akan jaga anakmu. Aku janji."

Setetes air mata jatuh. Kali ini, ia tak lagi menahan.

Hatinya masih terasa berat, tetapi ia tahu, inilah satu-satunya cara untuk tetap membawa Dinasya bersamanya—melalui anak yang ia tinggalkan.

Kelvin menarik napas panjang, menutup mata sejenak. Lalu perlahan… merelakan.

Satyabama, yang selalu menemaniku dalam perjalanan astral, tiba-tiba menggenggam tanganku. Sentuhannya hangat, lembut, menarikku kembali ke cahaya.

Tarikan halus membawaku menjauh dari ruang tanpa batas. Cahaya di sekeliling memudar, dan perlahan, aku kembali menyatu dengan tubuhku.

Saat membuka mata, kesunyian masih menyelimuti ruangan. Udara terasa berat, seakan sisa perjalanan tadi masih melekat di sekelilingku. Aku menyentuh pipi yang basah oleh air mata.

Suara Satyabama berbisik di pikiranku.

"Tidak semua jiwa bisa diselamatkan, tapi setiap jiwa meninggalkan jejaknya. Kenangan mereka tetap hidup dalam orang-orang yang mencintainya. Setiap perjalanan punya tujuannya. Kau hanya perlu menemukan alasan mengapa kau harus menyaksikannya."

Aku tahu… kenangan Dinasya tak akan pernah benar-benar hilang.

Menatap bayangan diri di cermin, aku melihat sesuatu yang berubah—bukan hanya dalam diriku, tapi juga dalam cara memandang dunia.

Mungkin ini bukan akhir, melainkan awal dari sesuatu yang belum kupahami sepenuhnya.

Karena cinta sejati tak pernah mati. Ia hidup dalam janji, dalam kenangan, dan dalam sosok kecil yang kini ada dalam pelukan kehidupannya.

***

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Cerpen
Pesan Cinta dari Semesta
adinda pratiwi
Cerpen
Menerka Dibalik Kisah Kehidupan
dreaminghand
Flash
Kunci Ruangan Itu
Halfmoon Smile
Novel
Bronze
Siswa Sempurna [Bagian 1 | Sisi Terang]
Ikhsannu Hakim
Flash
Tak Sengaja Lewat Depan Rumahmu
Oktabri
Cerpen
Bronze
Kamar 304
Farlan Nuhril
Cerpen
Saranggola
Chesar Kurniawan
Cerpen
Rumah Tua dan Buku-buku yang Hilang
Nimas Rassa Shienta Azzahra
Flash
Percakapan di Kereta Hantu Manggarai
Galih Citra
Cerpen
Bronze
Samir Cemeng
Shinta Larasati Hardjono
Skrip Film
Aluna's Story
Rizky oktavia
Cerpen
Bronze
Sisa Surat yang tertinggal
kevin andrew
Flash
Bronze
Kereta Terakhir
Nurbaya Pulhehe
Novel
TABUR TUAI (DOA TERHALANG DOSA)
sundari
Novel
Gold
PBC Mystery of Library
Mizan Publishing
Rekomendasi
Cerpen
Pesan Cinta dari Semesta
adinda pratiwi
Cerpen
Persahabatan dan Obsesi
adinda pratiwi
Cerpen
Sisi Lain Dimensi Mimpi
adinda pratiwi
Cerpen
Rahasia Tumbal Ayah
adinda pratiwi
Cerpen
Pesan Antar Dimensi
adinda pratiwi
Cerpen
Misteri Liontin Biru
adinda pratiwi
Novel
Dinara
adinda pratiwi
Cerpen
Penumpang Tak Diundang
adinda pratiwi
Cerpen
Danau kelam Enarotali
adinda pratiwi
Cerpen
Pertarungan Dua Darah
adinda pratiwi
Novel
The Hidden
adinda pratiwi
Cerpen
Firasat
adinda pratiwi
Cerpen
Tenggelam di Ombak Kematian
adinda pratiwi
Cerpen
Rantai Dendam
adinda pratiwi