Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Horor
Persami
1
Suka
477
Dibaca

Deru mesin mobil pikap L300 atau yang akrab mereka sebut “kol bak” meraung membelah aspal jalan lintas selatan yang berkelok. Di atas bak terbuka itu, dua puluh anggota Pramuka SMA Tunas Bangsa duduk berdesakan di atas tumpukan tas carrier dan gulungan tenda. Angin laut yang asin mulai menyapu wajah mereka, membawa aroma kebebasan yang sudah lama dinanti.

“Jangan berdiri, woi! Nanti diciduk polisi!” teriak Andi, suaranya hampir kalah oleh suara angin. Ia tertawa lebar, tangannya berpegangan erat pada besi pembatas bak sembari sesekali menggoda siswi-siswi yang duduk di pojok.

Sabtu pagi itu terasa sempurna. Langit biru bersih tanpa awan, dan semangat mereka sedang tinggi-tingginya. Setelah tiga jam perjalanan yang melelahkan namun penuh tawa, garis pantai selatan yang legendaris itu mulai terlihat. Ombaknya yang besar bergulung-gulung seperti raksasa putih yang menyapa dari kejauhan.

Setibanya di lokasi perkemahan sebuah tanah lapang berpasir yang hanya berjarak seratus meter dari bibir pantai rutinitas kedisiplinan langsung dimulai. Tidak ada waktu untuk bersantai.

“Siap, grak!”

Suara lantang Kak Satria, pembina mereka, memecah kesunyian pantai. Apel pembukaan berlangsung khidmat di bawah terik matahari pukul sepuluh pagi. Meskipun peluh mulai membanjiri seragam cokelat mereka, kebanggaan terpancar dari wajah-wajah muda itu. Bagi mereka, ini bukan sekadar berkemah, ini adalah ujian kemandirian.

Begitu apel dibubarkan, suasana berubah menjadi sibuk yang teratur.

* Regu Elang (regu Andi) bertugas mendirikan tenda dome.

* Regu Mawar mulai menyiapkan area tungku untuk memasak.

* Sisanya sibuk mengambil air bersih dari sumur penduduk yang terletak agak jauh di balik bukit kecil.

“Ndi, pasak yang sebelah sini kurang dalam!” teriak Bayu, ketua regu mereka.

Andi mengusap keringat di dahi dengan punggung tangan yang kotor oleh tanah. “Sabar, Bos. Tanah di sini banyak batunya, keras!”

Menjelang sore, agenda berlanjut ke sesi penjelajahan. Mereka dibagi menjadi kelompok kecil untuk menyusuri garis pantai dan masuk sedikit ke arah hutan bakau di sisi timur. Kak Satria memberikan instruksi tentang teknik navigasi darat dan membaca tanda alam.

“Ingat,” pesan Kak Satria sebelum mereka berangkat, “kita ini tamu. Alam punya aturannya sendiri. Jangan merusak, jangan bicara kotor, dan jaga sikap.”

Andi hanya mengangguk malas. Baginya, itu hanya formalitas kolot yang selalu diucapkan setiap kali mereka berkemah di tempat baru.

Selama penjelajahan, mereka melakukan berbagai simulasi:

* Pemberian Pertolongan Pertama (P3K): Menangani simulasi kaki terkilir akibat karang tajam.

* Sandi Morse dan Semaphore: Mengirimkan pesan dari atas bukit ke area perkemahan.

* Games Ketangkasan: Tarik tambang di pasir pantai yang membuat semua orang basah kuyup dan tertawa lepas.

Semuanya terasa menyenangkan, seru dan seakan terukir di kepala mereka bagai lukisan indah.

Sore mulai meredup, mengubah langit menjadi jingga keunguan. Saat regunya sedang bersiap untuk makan malam, Andi merasakan dorongan mendadak di kandung kemihnya.

“Gue kebelet, Yu. Ke toilet warga dulu ya,” pamit Andi.

“Toilet jauh, Ndi. Lewat situ tuh, ada semak-semak,” sahut salah satu temannya sambil bercanda.

Andi melirik ke arah sumur warga yang memang cukup jauh. Malas berjalan, ia memutuskan untuk mencari tempat tersembunyi di balik pohon ketapang besar yang tumbuh menyendiri di batas antara area perkemahan dan hutan kecil.

Di balik pohon itu, terdapat sebuah formasi batu hitam yang tertata rapi, hampir menyerupai altar kecil. Batu itu tampak berbeda dari karang di sekitarnya, lebih halus, gelap, dan terasa dingin meski seharian disengat matahari. Di atasnya tertumpuk beberapa bunga kamboja yang sudah layu dan sisa kemenyan yang aromanya masih samar tertinggal.

Andi tidak peduli. Ia hanya ingin cepat selesai.

“Ah, lega...” desisnya.

Tanpa rasa bersalah, ia membuang air kecil tepat di celah antara batu hitam tersebut. Andi tidak tahu bahwa air seninya mengalir membasahi permukaan batu yang dianggap sakral oleh penduduk lokal. Sesaat setelah ia selesai, angin laut yang tadinya hangat tiba-tiba berhembus sangat kencang dan dingin, menusuk hingga ke tulang sumsumnya.

Andi merinding. Bulu kuduknya berdiri tegak. Ia merasa seolah ada belasan pasang mata yang menatapnya dari kegelapan hutan di depannya, meski ia tidak melihat siapa pun.

“Ndi! Buruan! Makanannya sudah siap!” teriak Bayu dari kejauhan.

Andi segera merapikan celananya dan berlari kembali ke arah api unggun yang mulai dinyalakan. Ia berusaha mengabaikan perasaan tidak enak itu. Namun, ia tidak menyadari satu hal, air seni yang ia buang ke batu itu perlahan terserap ke dalam pori-pori batu seolah-olah batu itu sedang “minum”.

Dan di kejauhan, ombak pantai selatan menghantam karang dengan suara yang lebih keras dari biasanya, seperti sebuah peringatan yang terlambat didengar.

Malam puncak perkemahan SMA Tunas Bangsa tiba. Langit di atas pantai selatan malam itu pekat, tanpa bintang, seolah-olah awan hitam sengaja berkumpul untuk menutupi apa pun yang ada di bawahnya. Namun, di tengah lapang, sebuah api unggun besar berkobar, mengirimkan percikan jingga ke udara dan menciptakan lingkaran cahaya yang hangat.

Semua siswa duduk melingkar di atas pasir. Wajah-wajah mereka yang letih mendadak cerah terkena pantulan cahaya api.

"Ayo, Regu Mawar! Maju!" teriak Kak Satria penuh semangat.

Gitar akustik mulai berdenting. Beberapa siswi maju ke tengah lingkaran, menyanyikan lagu-lagu populer dengan harmonisasi yang jujur meski sesekali sumbang. Suara mereka bersahutan dengan deru ombak yang menghantam karang di kegelapan, menciptakan simfoni alam yang magis.

Andi duduk di barisan depan Regu Elang. Ia tertawa paling keras, bertepuk tangan paling semangat, seolah-olah kejadian di balik pohon ketapang sore tadi sudah menguap dari ingatannya. Namun, sesekali ia menggaruk lehernya yang terasa gatal, sebuah rasa gatal yang aneh, seolah ada butiran pasir yang masuk ke bawah kulitnya.

"Ndi, lu kenapa? Cacingan?" sindir Bayu melihat Andi yang gelisah.

"Enggak, gerah aja. Perasaan tadi sore dingin banget, sekarang kok pengap ya?" jawab Andi sambil menarik-narik kerah baju pramukanya.

Acara berlanjut dengan berbagai penampilan:

* Drama Komedi: Regu Elang menampilkan parodi tentang guru killer di sekolah yang mengundang gelak tawa.

Regu Elang, yang dipimpin oleh Andi dan Bayu, memutuskan untuk memparodikan para guru SMA Tunas Bangsa yang paling ditakuti. Mereka menggunakan peralatan pramuka seadanya sebagai properti.

Andi sebagai Pak Bambang (Guru BP): Andi mengenakan kacamata hitam yang ditaruh di ujung hidung, membawa penggaris kayu panjang sebagai “tongkat sakti”, dan memasukkan bantal kecil ke dalam seragamnya agar perutnya terlihat buncit.

Bayu sebagai Bu Lastri (Guru Matematika): Bayu memakai jilbab dari handuk pramuka berwarna cokelat dan memegang penghapus papan tulis. Ia terus-menerus berakting seolah sedang mencari kesalahan sekecil apa pun.

Eko sebagai Murid “Si Raja Telat”: Eko berperan sebagai dirinya sendiri, namun dengan akting yang didramatisir habis-habisan.

Cerita dimulai dengan “Pak Bambang” (Andi) yang sedang melakukan razia rambut di depan kelas.

Andi (Pak Bambang): “Kamu! Eko! Kenapa rambutmu panjang sekali? Ini sudah bisa buat sarang burung emprit!”

(Andi memotong rambut imajiner Eko dengan gunting rumput besar milik penjaga sekolah yang mereka pinjam, membuat penonton tertawa terpingkal-pingkal)

Lalu datanglah “Bu Lastri” (Bayu) yang marah-marah karena kelas gaduh.

Bayu (Bu Lastri): “Diam! Kalau tidak diam, ibu kasih PR menghitung jumlah butir pasir di pantai ini sampai besok pagi! Pak Bambang, kenapa Bapak malah ikut main karet sama siswa?!”

Puncaknya adalah saat Andi (sebagai Pak Bambang) mencoba meniru gaya jalan Pak Bambang yang khas, sedikit menyeret kaki dan selalu berdeham keras sebelum bicara. Andi melakukannya dengan sangat akurat sampai-sampai Kak Satria dan pembina lainnya ikut tertawa geli.

Andi kemudian berimprovisasi dengan mengambil sebotol air mineral dan meminumnya dengan gaya “berwibawa”, lalu menyemburkannya sedikit ke udara layaknya atraksi debus, yang disambut sorakan meriah dari regu-regu lain.

Di tengah tawa itu, ada satu momen kecil yang luput dari perhatian. Saat Andi sedang memerankan Pak Bambang yang “marah-marah” sambil menunjuk-nunjuk ke arah hutan, gerakannya tiba-tiba terhenti sesaat. Matanya terpaku ke arah kegelapan di balik barisan penonton, seolah melihat seseorang yang tidak seharusnya ada di sana. Namun, ia segera kembali ke karakternya, menganggap itu hanya siluet pohon.

“Terima kasih dari Regu Elang! Hidup kebebasan!” teriak Andi menutup drama tersebut, disambut tepuk tangan riuh yang menggema di sepanjang bibir pantai.

* Pembacaan Puisi: Seorang siswi membacakan puisi tentang alam.

Setelah drama komedi Regu Elang yang meriah, suasana berubah menjadi lebih melankolis saat seorang siswi bernama Maya maju ke depan api unggun. Ia membacakan puisi berjudul “Nyanyian Penjaga Samudra”.

Saat Maya mulai membacakan bait kedua yang berbunyi, “Di sini karang berdiri saksi, pada ombak yang tak pernah ingkar...”. Namun, di sela-sela suara statis itu, para siswa yang duduk di barisan belakang mendengar suara ganda. Setiap kata yang diucapkan Maya diikuti oleh suara serak yang basah, seolah-olah ada seseorang yang ikut membaca puisi itu tepat di belakang punggungnya.

Tepat saat Maya membacakan bagian tentang “penghormatan kepada penguasa”, api unggun yang tadinya berkobar setinggi dua meter mendadak meredup drastis hingga hampir padam. Anehnya, asapnya tidak naik ke langit, melainkan merayap di atas pasir, mengepung lingkaran tempat para siswa duduk seperti tangan-tangan hitam yang mencoba meraba kaki mereka.

Di tengah pembacaan, Maya tiba-tiba berhenti. Matanya melotot menatap ke arah kegelapan di belakang barisan guru. Wajahnya yang terkena pantulan cahaya api yang redup tampak sangat pucat. Ia menjatuhkan kertas puisinya karena tangannya mendadak kaku dan dingin.

“Ada... ada orang di belakang sana,” bisik Maya dengan suara bergetar, membuat seluruh lapangan menjadi sunyi senyap.

Beberapa siswa di Regu Mawar merasa ujung baju pramuka mereka ditarik pelan dari bawah, padahal tidak ada siapa-siapa di belakang mereka. Saat mereka menoleh, mereka hanya menemukan pasir yang basah dan beberapa helai rambut hitam panjang yang tersangkut di rumput, padahal lokasi tersebut jauh dari jangkauan air laut.

Kejadian itu segera dialihkan oleh Kak Satria dengan candaan tentang “angin laut yang cemburu pada puisi Maya”, sehingga suasana kembali cair. Namun, bagi mereka yang peka, itu adalah momen di mana “batas” antara dunia mereka dan penghuni pantai mulai menipis.

* Menyanyi Bersama: Seluruh peserta berdiri, bergandengan tangan, dan menyanyikan lagu perpisahan.

Malam itu ditutup dengan doa bersama. Kak Satria memimpin doa dengan nada yang lebih berat dari biasanya, berkali-kali memohon keselamatan untuk perjalanan pulang esok hari.

Minggu pagi menyapa dengan kabut tipis yang menyelimuti area perkemahan. Anehnya, burung-burung yang biasanya berisik di hutan bakau kali ini diam seribu bahasa. Hanya suara ombak yang terdengar konstan, berat, dan mengancam.

"Ayo, bongkar tenda! Jangan ada sampah tertinggal!" perintah Bayu.

Proses pembersihan berlangsung cepat. Sesuai jadwal, mereka harus meninggalkan lokasi sebelum tengah siang.

Kegiatan yang seharusnya hanya memunguti sampah plastik dan sisa makanan ini berubah menjadi momen yang membuat bulu kuduk berdiri bagi beberapa siswa.

Saat Regu Elang menyisir area di dekat pohon ketapang, Andi menemukan sebuah bungkus makanan ringan yang tertimbun pasir. Saat ia menariknya, yang terangkat bukan hanya plastik, melainkan segumpal rambut hitam panjang yang melilit plastik tersebut. Rambut itu terasa basah dan berbau amis garam yang sangat tajam.

Eko menemukan sebuah kaleng minuman yang terasa sangat berat. Ketika dikosongkan, yang keluar bukan air, melainkan pasir hitam yang bergerak-gerak seperti ribuan serangga kecil yang mencoba merayap kembali ke arah kaki Eko.

Suara tawa siswa yang biasanya riuh saat operasi semut mendadak senyap setiap kali mereka mendekati batas hutan bakau. Mereka merasa seperti sedang “diawasi” oleh ribuan mata dari balik rimbunnya daun ketapang.

Tiba saatnya upacara penutupan yang seharusnya menjadi momen khidmat, namun suasana justru terasa sangat berat, seolah-olah gravitasi di tempat itu berlipat ganda.

Saat lagu Sukur dinyanyikan, tiang bendera bambu yang tertancap kuat tiba-tiba berderit keras. Padahal, saat itu angin sedang tenang. Bambu itu melengkung ke arah laut, seolah-olah ada kekuatan besar yang menarik talinya dari bawah tanah.

Petugas pembawa bendera, Rina, merasa tangannya mendadak kaku dan dingin saat melipat kain merah putih. Ia berbisik kepada temannya bahwa ia merasakan embusan napas dingin di tengkuknya, tepat saat ia memberikan penghormatan terakhir.

Bayangan tiang bendera di atas tanah tampak tidak sinkron dengan pergerakan aslinya. Bayangan itu terlihat bergetar hebat, sementara tiangnya sendiri berdiri tegak membeku.

Semua kejadian aneh itu seperti tidak ada artinya bagi sebagian siswa-siswi yang mengabaikannya hingga tiba saatnya pulang.

Proses memasukkan barang ke dalam mobil kol bak menjadi ujian fisik dan mental bagi para anggota pramuka.

Saat mengangkat tas carrier milik Andi ke atas bak mobil, Bayu dan Eko sampai harus dibantu dua orang lagi. “Ndi, lu bawa batu ya? Berat banget ini!” keluh Bayu. Padahal, isi tas Andi hanya pakaian kotor. Mereka tidak sadar bahwa di dasar tas itu, terdapat endapan lumpur hitam yang terus bertambah meskipun tas tersebut tertutup rapat.

Saat menyusun tenda-tenda yang sudah dilipat, salah seorang siswa menjerit kecil karena tangannya terjepit di antara gulungan tenda. Ia bersumpah melihat jemari pucat dan keriput yang mencoba menarik ujung tenda itu masuk ke celah-celah tas.

Begitu semua barang masuk ke kol bak, bau amis yang sebelumnya samar kini menjadi sangat nyata. Bau itu bukan berasal dari luar, melainkan seolah-olah menguar dari sela-sela perlengkapan mereka, seakan ada “penumpang gelap” yang ikut terkemas di dalam tumpukan logistik mereka.

Andi tampak pucat. Wajahnya sedikit sembab, dan ia terus-menerus membasuh leher dan tangannya dengan air botol.

"Ndi, lu sakit? Muka lu kayak kertas," tanya Rina, sekretaris regu yang memperhatikannya sejak tadi.

"Cuma kurang tidur, Rin. Pengen cepet sampai rumah terus mandi," sahut Andi singkat. Ia tidak berani bilang kalau semalam ia bermimpi tentang air laut yang berwarna merah merembes masuk ke dalam tendanya, yang entah mengapa andi merasa hal itu adalah pertanda buruk.

Tepat pukul sebelas siang, mobil kol bak terbuka itu kembali menderu. Para siswa naik dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Beberapa langsung tertidur bersandar pada tas carrier, sementara yang lain masih asyik mengobrolkan keseruan selama dua hari terakhir.

Saat mobil mulai bergerak meninggalkan area pantai, Andi sempat menoleh ke belakang. Dari kejauhan, ia melihat pohon ketapang besar itu. Di bawahnya, di dekat batu hitam yang ia kencingi, ia melihat sesosok bayangan hitam tinggi tegak berdiri. Bayangan itu tidak bergerak, hanya berdiri menatap ke arah mobil mereka.

Andi mengucek matanya. Saat ia melihat lagi, bayangan itu hilang.

"Cuma halusinasi..." bisiknya menenangkan diri sendiri.

Mobil terus melaju, menjauhi pantai selatan yang tenang di permukaan, namun menyimpan amarah di kedalamannya. Mereka semua merasa lega karena kegiatan telah usai dengan lancar. Mereka tidak tahu bahwa "sesuatu" dari pantai itu tidak membiarkan mereka pulang sendirian.

Ada bau amis yang tiba-tiba tercium dari balik tumpukan tas di bak mobil, namun semua orang terlalu lelah untuk menyadarinya.

Setelah tawa di api unggun meredup dan debu perjalanan pulang mengendap, SMA Tunas Bangsa kembali ke rutinitas Senin pagi yang biasa. Namun, bagi Andi dan anggota Regu Elang, “biasa” adalah kata yang mulai kehilangan maknanya.

Upacara bendera hari Senin biasanya membosankan, tapi bagi Andi, ini adalah siksaan fisik. Berdiri di tengah barisan, ia merasa seolah-olah matahari membakar tengkuknya lebih panas dari biasanya. Namun, saat ia meraba lehernya, kulitnya justru terasa sedingin es.

“Ndi, lu kenapa gerak-gerak mulu?” bisik Bayu yang berdiri di belakangnya.

“Kaki gue... kayak ada yang megangin, Yu,” jawab Andi pelan, suaranya bergetar.

Ia menunduk. Di atas aspal lapangan upacara yang panas, ia melihat bayangan kakinya sendiri. Tapi ada yang aneh. Bayangan itu tidak sendirian. Ada bayangan tangan kurus panjang yang tampak melingkar di pergelangan kaki bayangan Andi. Saat ia berkedip, tangan hitam itu hilang, menyisakan rasa kesemutan yang hebat di kakinya.

Kejadian aneh mulai merembet ke dalam jam pelajaran. Di kelas XI-IPA 2, saat Bu Lastri sedang menjelaskan rumus logaritma di papan tulis, suasana mendadak senyap. Bukan karena murid-murid menyimak, tapi karena suhu ruangan turun drastis secara tiba-tiba.

Tiba-tiba, loker kayu di belakang kelas bergetar hebat selama lima detik. Semua mata menoleh, tapi getaran itu berhenti tepat saat Pak Bambang, sang guru BP, melintas di depan kelas.

Rina, yang duduk di barisan depan Andi, menutup hidungnya. “Bau apa sih ini? Kayak ikan busuk campur lumpur.”

Andi, yang sedang mencoba fokus mencatat, mendengar suara bisikan tepat di lubang telinganya. Suara itu bukan bahasa manusia, itu adalah suara serak seperti gesekan karang yang ditarik di atas aspal. “...kembalikan...”

Andi menjatuhkan pulpennya. Saat ia membungkuk untuk mengambilnya di bawah meja, ia membeku. Di kolong mejanya, ada jejak air yang masih basah, membentuk pola telapak kaki anak kecil yang hanya memiliki tiga jari. Jejak itu masih mengeluarkan uap dingin.

Puncaknya terjadi saat istirahat kedua. Andi pergi ke kamar mandi sekolah untuk membasuh wajahnya yang pucat. Saat ia menunduk di depan wastafel, keran air tiba-tiba mengeluarkan air berwarna cokelat keruh yang berbau garam pekat.

Andi segera mematikan keran, tapi air itu terus mengalir keluar, tumpah ke lantai. Ia menoleh ke arah cermin. Di pantulan cermin, di belakang pundaknya, berdiri sesosok wanita dengan baju compang-camping berwarna hijau lumut. Wajahnya tertutup rambut hitam yang panjang dan basah kuyup.

Wanita itu tidak memiliki wajah, hanya lubang hitam besar di tempat yang seharusnya menjadi mulut.

Andi berteriak, namun suaranya seolah tertahan di tenggorokan. Saat ia berbalik, tidak ada siapa-siapa. Namun, di pintu kamar mandi yang tadinya bersih, kini terdapat tulisan yang digoreskan dengan lumpur hitam:

“TANAH KAMI BUKAN TEMPAT SAMPAHMU.”

Bukan hanya Andi yang mengalami hal ini. Bayu bercerita bahwa semalam ia melihat tas carriernya bergerak sendiri di dalam kamar, dan Eko bersumpah ia melihat pasir pantai keluar dari sela-sela keyboard laptopnya saat ia sedang mengerjakan tugas.

Mereka berkumpul di kantin dengan wajah tegang.

“Ini gara-gara lu, Ndi,” desis Bayu sambil memukul meja. “Lu kencing di batu itu, kan? Gue lihat lu sore itu!”

“Gue... gue nggak tahu kalau bakal kayak gini, Yu! Itu Cuma batu!” bela Andi, meski suaranya mencicit ketakutan. “masa iya cuma gara-gara gue ke kencing?”

Tiba-tiba, bel sekolah berbunyi. Namun, bunyinya tidak seperti bel biasanya. Bunyinya terdengar seperti suara lonceng kapal tua yang tenggelam, bergema panjang dan menyakitkan telinga. Seluruh siswa di kantin terdiam, tapi hanya Regu Elang yang tampak kesakitan sambil menutup telinga mereka.

Di sudut kantin, seorang penjaga sekolah tua yang biasanya pendiam, menatap mereka dengan tatapan ngeri. Ia membujuk mereka mendekat.

“Kalian membawa ‘oleh-oleh’ dari pantai selatan, ya?” tanyanya dengan suara serak. “Sesuatu telah menempel di punggung kalian, dan ia tidak akan pergi sebelum ia mendapatkan apa yang ia inginkan.”

Andi merasakan punggungnya tiba-tiba menjadi sangat berat, seolah-olah ia sedang menggendong seseorang yang sangat besar dan basah. Ia berusaha mengabaikan perkataan penjaga sekolah yang tidak masuk akal itu.

Teror yang bermula di pantai dan merambat ke sekolah, kini akhirnya mendobrak pintu rumah mereka. Rumah yang seharusnya menjadi benteng perlindungan, justru menjadi penjara yang mencekam.

Rumah Andi terletak di sebuah perumahan yang tenang, namun malam itu, ketenangan tersebut terasa mencekik. Sejak pulang sekolah, Andi mengurung diri di kamar. Ia merasa seolah-olah seluruh tubuhnya ditaburi garam, perih, panas, dan gatal yang luar biasa.

Saat ia melepas seragamnya di depan cermin, Andi tersentak. Di punggungnya, tepat di area tulang belikat, muncul memar kebiruan yang membentuk pola telapak tangan besar. Bukan tangan manusia, karena jari-jarinya terlalu panjang dan memiliki selaput tipis di antaranya.

Pukul sembilan malam, orang tua Andi belum pulang dari menghadiri acara keluarga, meninggalkannya sendirian. Saat itulah, keganjilan dimulai.

Awalnya adalah suara air. Andi mendengar suara kecipak air dari arah ruang tamu, seolah-olah seseorang sedang berjalan dengan kaki basah kuyup di atas lantai keramik. Plok... plok... plok...

Andi memberanikan diri mengintip dari celah pintu kamarnya. Di bawah cahaya lampu ruang tamu yang temaram, ia melihat jejak air berwarna hitam pekat yang berbau amis menyengat, memanjang dari pintu depan menuju dapur. Yang lebih mengerikan, jejak itu bukan hanya air, tapi juga meninggalkan serpihan teritip dan cangkang kerang kecil yang tajam di atas karpet.

“Siapa di sana?” teriak Andi, suaranya pecah karena ketakutan.

Tidak ada jawaban. Hanya suara mesin cuci di belakang yang tiba-tiba menyala sendiri, berputar dengan bunyi berderit keras seolah-olah ada batu-batu besar di dalamnya.

Karena rasa gatal di lehernya sudah tak tertahankan, Andi memutuskan untuk mandi dengan air hangat, berharap itu akan menenangkan sarafnya. Namun, saat ia sedang menyabuni tubuhnya, lampu kamar mandi berkedip-kedip lalu mati total.

Dalam kegelapan, Andi merasakan sesuatu yang dingin dan licin menyentuh kakinya. Sesuatu itu melilit pergelangan kakinya seperti tentakel atau akar pohon yang basah.

“Aakh!” Andi terjatuh, bahunya menghantam pinggiran bak mandi yang keras.

Ia mencoba bangkit, namun lantai kamar mandi yang tadinya rata kini terasa seperti lumpur hisap. Saat ia meraba dinding untuk mencari pegangan, tangannya justru menyentuh sesuatu yang bertekstur kasar dan berlendir seperti kulit ikan raksasa.

Tiba-tiba, sebuah kekuatan besar menjambak rambutnya dan membenturkan kepalanya ke cermin wastafel. Prang! Cermin itu pecah berkeping-keping.

Andi merintih. Darah mulai mengalir dari dahinya. Di tengah kesakitan itu, ia melihat bayangan di lantai melalui sisa cahaya dari luar. Sosok itu bukan lagi bayangan wanita berbaju hijau, melainkan sesuatu yang lebih maskulin, besar, dan berwibawa namun penuh amarah. Sosok itu mengenakan pakaian prajurit kuno yang sudah koyak-moyak, dengan mata yang bersinar hijau redup.

Sosok itu menunjuk ke arah kemaluan Andi dengan jarinya yang kuku-kukunya hitam tajam, lalu berbisik dengan suara yang menggetarkan seisi ruangan:

“Najis yang kau berikan... akan kau bayar dengan darahmu.”

Andi berhasil merangkak keluar dari kamar mandi, napasnya tersengal-sengal. Ia menyalakan lampu kamar dengan tangan gemetar. Saat ia melihat ke bawah, ia berteriak histeris.

Kaki kanannya kaki yang ia gunakan untuk berdiri saat kencing di batu keramat itu kini dipenuhi luka sayatan kecil namun dalam, seolah-olah ia baru saja berjalan di atas ribuan pecahan kaca atau karang tajam. Darah yang keluar dari luka itu tidak berwarna merah segar, melainkan merah gelap cenderung hitam dan berbau belerang.

Ponselnya bergetar di atas tempat tidur. Sebuah pesan di grup WhatsApp “Regu Elang” masuk.

> Bayu: “Ndi! Tolong! Rumah gue banjir air laut! Pintunya nggak bisa dibuka!”

> Eko: “Gue baru saja muntah... isinya pasir dan paku karat. Ndi, kita harus balik ke pantai itu sekarang juga!”

Andi mencoba membalas pesan itu, namun layarnya mendadak dipenuhi air dari dalam mesin ponselnya. Layar itu retak, dan dari retakannya keluar seekor kelabang laut kecil yang merayap cepat ke arah tangannya.

Andi jatuh terduduk di pojok kamar, menangis sejadi-jadinya. Ia sadar, ini bukan lagi sekadar gangguan “setan” biasa. Ini adalah kutukan yang sedang menjemput nyawa mereka satu per satu.

Malam itu, rumah Andi berubah menjadi medan pertempuran batin. Orang tua Andi yang baru saja pulang, menjerit histeris menemukan putra mereka tergeletak di pojok kamar dengan dahi berdarah dan kaki yang dipenuhi luka sayatan hitam yang berbau busuk dengan penuh belatung yang tidak wajar. Tanpa membuang waktu, dan merasa ini bukan hal yang wajar sang ayah memanggil Ustaz Mansur, seorang tokoh agama yang dikenal sering menangani gangguan-gangguan tak kasat mata di desa mereka.

Di ruang tamu yang kini tercium aroma gaharu, Andi dibaringkan di atas permadani. Ustaz Mansur duduk di kepala Andi, wajahnya tenang namun waspada. Saat Ustaz mulai melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, tubuh Andi tiba-tiba melenting tinggi seolah ditarik oleh tali yang tak terlihat.

“Aaakhhh! Hentikan! Panas!” suara yang keluar dari mulut Andi bukan lagi suaranya. Itu adalah suara serak yang berat, seperti deburan ombak yang menghantam gua karang.

Mata Andi mendelik putih. Ia mulai mencakar-cakar lantai keramik hingga kukunya berdarah. Ustaz Mansur tidak berhenti, suaranya semakin lantang menjangkau setiap sudut ruangan.

“Siapa kau? Mengapa kau menyakiti anak ini?” tanya Ustaz Mansur dengan tegas di sela-sela doanya.

Andi tertawa melengking, tawa yang membuat bulu kuduk orang tuanya berdiri. “Dia telah mengotori istanaku! Dia membawa najis ke atas kepala leluhurku!” teriak sosok di dalam tubuh Andi. “Bersihkan rumahku! Kembalikan kehormatannya, atau nyawa bocah ini akan menjadi tumbal di dasar laut!”

Setelah pergulatan batin yang melelahkan selama hampir dua jam, Andi akhirnya terkulai lemas. Sosok itu pergi, namun pesan itu jelas, mereka harus kembali ke tempat asal petaka itu.

Tanpa berpikir panjang, pagi itu meski tubuhnya masih lemah dan kakinya diperban, Andi bersama kedua orang tuanya dan Ustaz Mansur berkendara menuju pantai selatan. Cuaca di sana tampak muram, awan hitam menggantung rendah dan angin bertiup kencang, seolah-olah alam sedang menunggu kedatangan mereka.

Setibanya di lokasi perkemahan yang kini sepi, Andi langsung menuju pohon ketapang besar itu. Batu hitam keramat itu masih di sana, tampak lebih gelap dan lembap.

Dengan tangan gemetar, Andi berlutut di depan batu tersebut. Atas arahan Ustaz Mansur, ia mulai membersihkan batu itu.

Andi menyiramkan air suci yang telah didoakan ke seluruh permukaan batu, membilas sisa-sisa “kenakalan” yang ia lakukan tempo hari.

Dengan air mata yang mengalir, Andi bersujud. “Maafkan kelancangan saya... saya tidak bermaksud menghina tempat ini. Tolong, lepaskan saya dan teman-teman saya.”

Ayah Andi membantu memunguti sampah di sekitar area tersebut, menunjukkan rasa hormat kembali kepada alam.

Sesaat setelah ritual pembersihan selesai, keajaiban terjadi. Angin kencang yang tadi menderu tiba-tiba mereda menjadi semilir sepoi-sepoi yang sejuk. Kabut hitam di atas laut perlahan tersingkap, membiarkan cahaya matahari menyentuh permukaan air yang biru.

Andi merasakan beban berat di punggungnya yang selama ini ia rasakan tiba-tiba terangkat. Rasa perih di kakinya pun berangsur-angsur hilang, digantikan oleh sensasi dingin yang menenangkan.

Di kejauhan, ia melihat sosok bayangan besar yang sebelumnya menerornya. Namun kali ini, sosok itu tidak lagi tampak mengancam. Sosok itu hanya mengangguk pelan sebelum akhirnya memudar menjadi buih ombak yang hilang ditelan pasir.

“Sudah selesai, Nak,” ucap Ustaz Mansur sambil menepuk bahu Andi. “Ingat, di mana pun kakimu berpijak, ada adab yang harus dijaga. Alam ini punya penjaga, dan kita hanyalah tamu.”

Andi mengangguk mantap. Ia pulang dengan sebuah pelajaran berharga yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya. Sejak hari itu, SMA Tunas Bangsa tidak pernah lagi mengadakan perkemahan tanpa memberikan arahan ketat tentang penghormatan terhadap adat setempat.

Kutukan itu berakhir, namun bekas luka di kaki Andi tetap ada, sebuah pengingat permanen bahwa beberapa tempat memang tidak boleh dianggap remeh.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Skrip Film
'AIN
Sastra Introvert
Cerpen
Persami
OvioviO
Novel
Gold
Fantasteen: Ivore dan Akoya
Mizan Publishing
Cerpen
Bronze
5 Kisah dari Desa Kami
Rico Tsiau
Flash
Bronze
Gadis Bersenandung
Sunarti
Novel
SONGKO
M A R U T A M I
Novel
Gold
Fantasteen The Lagaziv School of Vathana
Mizan Publishing
Cerpen
Bronze
Tamu si Anak Kunti
Silvarani
Cerpen
Bronze
Teka Teki Pembunuh Misterius
Saputra
Novel
Gold
Sleepy Hollow and Other Horror Stories
Mizan Publishing
Cerpen
Arina, Sang Pembalas
Ian Hendrawan
Novel
Gold
Fantasteen Scary: Noroi
Mizan Publishing
Flash
TETANGGA BARU
ni ketut yuni suastini
Novel
Bronze
ARWAH PENJEMPUT KENANGAN (5 Kisah Misteri di Masa Pandemi)
Darryllah Itoe
Skrip Film
BURUNG KECIL DI HUTAN KEGELAPAN
Reiga Sanskara
Rekomendasi
Cerpen
Persami
OvioviO
Cerpen
Tulis!!!
OvioviO
Cerpen
Buah Hatiku
OvioviO
Novel
Suami
OvioviO
Cerpen
Mawar Senja
OvioviO
Novel
Gunung Wingit
OvioviO