Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Pernikahan Impian
0
Suka
8
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Aku tidak pernah mengira, bahwa hidup akan berbalik seratu delapan puluh derajat dalam sekejap mata. Semua yang telah kuperjuangkan tiba-tiba lenyap tak bersisa. Ingin rasanya aku berteriak, memaki, atau mengumpat, namun tak kulakukan semuanya. Lagi pula percuma. Keadaan tak akan berubah menjadi lebih baik karenanya.

Telepon selulerku berbunyi. Nomor tak dikenal yang terpampang di layar. Kudiamkan saja di atas meja hingga akhirnya panggilan itu berhenti sendiri.

“Kenapa tak diangkat?” tanya wanita di depanku. “Dari siapa?” lanjutnya.

“Nanti saja,” jawabku singkat.

Kania, seseorang yang sudah kupacari selama lima tahun ini sepertinya tak terlalu mengambil pusing dengan jawabanku. Ia kembali hanyut dalam katalog berisi foto-foto gaun pengantin yang didominasi warna putih. Sesekali ia memekik histeris ketika mendapati gaun yang menurutnya cantik. Mulutnya kembali menyerocos tentang konsep pernikahan impiannya. Ia sudah memikirkan semuanya, bagaimana upacara resepsinya, gaun, dekorasi, gedung, katering, hingga berapa banyak tamu yang akan diundang.

“Yang lengan panjang dengan hiasan kristal ini bagus. Kesannya nikah itu acara yang sakral banget. Tapi yang kerahnya bentuk V ini juga elegan meskipun modelnya simple.” Kania bergumam. Ia sedang menimbang-nimbang gaun mana yang akan dipilihnya.

“Kalau menurutmu bagus yang mana, Mas?” Kania menolehlalu menyodorkan buku katalog gaun pengantin itu padaku. “Yang ini mirip yang dipakai Jesicca Mila, kalau yang itu mirip yang dipakai Putri Marino.” Ia menyebutkan nama-nama artis Indonesia. Informasi tambahan yang bagiku tidak terlalu membantu. Terus terang aku memang sedang tidak bisa diajak berpikir. Terlalu banyak hal yang memenuhi kepalaku.

“Terserah kamu saja. Sukanya yang mana.” Jawabku.

“Kamu kenapa sih?” tanya Kania dengan pandangan mata menyeludik.

“Nggak kenapa-kenapa.” Sahutku cepat. Aku mencoba bersikap seperti biasa.

“Kok dari tadi kayak nggak semangat gitu. Kita ini sedang mempersiapkan pernikahan lho.” Ada nada kesal dari suaranya.

“Aku ini cuma..” ku hela napas panjang.

Belum sempat kuselesaikan kalimatku, telepon genggamku kembali berbunyi. Nomor asing yang sama yang menghubungi. Tanpa berpamitan pada Kania, aku berjalan keluar dari butik untuk menerima panggilan tersebut. Di ujung telepon, suara laki-laki membentak-bentak dengan ancaman.

“Iya, iya. Akan saya usahakan! Anda tidak perlu menelpon saya terus-terusan!” aku mengakhiri panggilan telepon ini dengan setengah berteriak.

Kania sudah ada di sampingku. Kurasa ia sempat mendengar obrolan teleponku tadi. Ia menunggu penjelasanku.

“Kita bicarakan di rumah ya..” aku menggandeng tangannyalalu berjalan menuju mobil.

Semestinya setelah dari butik persewaan gaun pengantin kami berencana berkeliling melihat-lihat gedung untuk resepsi pernikahan. Namun semua rencana itu batal. Kami sedang dalam perjalanan kembali ke rumah Kania dengan pikiranku yang berkecamuk. Aku sedang mencari-cari kalimat yang tepat bagaimana akan memulai pembicaraan nanti.

“Tadi yang menelepon itu dari pinjol.” Aku membuka obrolan begitu sampai di rumah.

“Kamu utang ke pinjol?” tanya Kania dengan tatapan takpercaya. “Buat apa?”

Aku menggeleng. “Ibu,” jawabku.

Aku tidak tahu bagaimana awal mulanya. Tiba-tiba kemarin bapak di kampung yang mengabari kalau rumah harus dijual untuk melunasi utang-utang ibu. Dan itu pun masih belum cukup. 

Tentu saja, aku masih sulit untuk percaya. Selama ini kupikirkehidupanku baik-baik saja. Kedua orang tuaku menikmatimasa-masa pensiun yang tenang. Kakak sudah bekerja lalumenikah dan membangun rumah tangga sendiri. Begitupundengan diriku, menabung mengumpulkan uang untukpersiapan menikah sambil membantu membiayai kuliahadikku. Ternyata dalam ketenangan itu, ada palung yang menenggelamkan semua yang kumiliki tanpa sisa.

Aldi, kakakku meminta maaf. Ia angkat tangan untukpersoalan yang dialami keluarga kami. Aku maklum. Akumengerti dengan kondisinya. Keponakanku yang besar sedangbersiap masuk SD. Tentu biayanya tak sedikit. Keponakankuyang kecil baru beberapa bulan yang lalu lahir. Ada susu formula yang harus dibeli setiap minggunya karena kakakiparku tak keluar asi. Belum lagi dengan cicilan KPR yang ditanggungnya. Tanggung jawab ini serta merta jatuh padaku. Mau tak mau harus kurelakan tabungan yang sekian lama kukumpulkan.

“Bagaimana kalau pernikahan kita ditunda?” Aku bertanyapada Kania. Ia diam tak menjawab.

***

“Uang untuk bayar kuliah dan makan sudah Mas transfer. Maaf jumlahnya nggak banyak. Kamu pinter-pinter ngaturuang ya,” obrolanku di telepon dengan Alya, adikku.

“Iya, makasih. Mas nggak usah khawatir. Aku sudah dapatkerjaan sampingan. Lumayan bisa buat jajan kopi susu,” jawab Alya.

“Kerja boleh, tapi jangan lupa istirahat ya. Kuliah juga nggakboleh keteteran!” pesanku.

“Iya, Mas..” ada jeda napas panjang sebelum adikkumelanjutkan dengan pertanyaan, “Ibu gimana, Mas?”

“Masih seperti biasa. Apa kamu mau ngobrol sama ibu? Sudah lama lho ibu nggak dengar suara kamu.” 

“Nggak usah, Mas. Aku juga nggak tahu mau ngomong apa.”Suara Alya terdengar lirih. “Jahat nggak sih, kalau aku bencisama ibu?” lanjutnya.

“Alya, kamu harus belajar untuk maafin ibu ya..” pintakupada adikku sebelum kuakhiri panggilan telepon itu.

Memaafkan. Seringkali memaafkan hanya mudah diucapkannamun sulit dilakukan. Sampai hari ini aku sering berandai-andai jika masalah keluarga kami tidak terjadi. Aku masihmerasa tak layak untuk menerima semua kemalangan ini. Kenapa aku harus menanggung akibat dari perbuatan yang takkulakukan? Bagaimana jika ku bersikap masa bodoh dan takpeduli pada semuanya? Seperti kakakku, aku pun punya kebutuhan yang harus dipenuhi. Aku masih punya keinginandan mimpi-mimpi yang ingin kuraih. Aku ingin menikah. Akumasih ingin jalan-jalan keliling Indonesia hingga luar negeri. Aku juga punya mimpi untuk buka bisnis sendiri. Dan tentunya itu semua tidak gratis.

Tapi apa iya, aku akan tega, membiarkan ibuku kebingunganmemikirkan masalahnya sendiri? Berkali-kali para penagihutang itu datang ke rumah. Ponsel ibu tak henti-hentinyaberbunyi, mendapatkan teror dari orang-orang pinjol. Ibusempat luntang-lantung ke sana ke mari mencari pinjamanuang dari teman-temannya. Sekadar untuk gali lobang tutuplobang.

Namun pada akhirnya, putaran-putaran pikiran tetap sajaberakhir pada satu muara. Semua ini salahku. Seandainya sajaaku tak terlalu sibuk dan sering menghubungi orang rumah, mungkin aku bisa mencegah ibu agar tak kena bujuk rayukenalannya untuk ikut investasi abal-abal berkedok kriptosialan itu.

Satu tahun berselang, ternyata roda belum jauh berputar. Akumasih tertatih-tatih menjalani kehidupan. Setelah rumah di kampung dijual, ibu dan bapak harus terpisah. Ibu ikutbersamaku di Jakarta. Sedangkan bapak tinggal bersamaadikku yang menyewa kamar kos tak jauh dari kampusnya di Jogja. Meskipun itu tak berlangsung lama. Bapak meninggalbeberapa bulan setelahnya. Ia sakit. Badannya kurus kering. Barangkali kekecewaan yang telah menggerogoti tubuhnya.

Aku tak akan menyalahkan jika sampai hari ini, adikku belumbisa memaafkan kesalahan ibu. Dalam waktu yang sesingkatitu, Alya kehilangan semuanya. Tiba-tiba ia harus bekerja di sela-sela waktu kuliahnya untuk menambah uang jajan. Tiba-tiba kehilangan keluarga bahagia yang dibanggakan. Titikpuncaknya, ketika ia harus kehilangan bapak.

Beberapa waktu lalu saat libur lebaran, tak henti-hentinyakami menjadi bulan-bulanan keluarga besar. Bukannyadibantu, namun malah ditambah persoalan. Keluarga bapakmenyalahkan ibu. Keluarga ibu menyalahkan bapak. Aku pun tak luput jadi sasaran. Seperti itulah tiap kali merekamenghubungiku. Sampai-sampai aku malas untuk menjawabtiap kali ada yang meneleponku.

“Dimakan dulu sarapannya, Bu”

Seseorang yang sedang kuajak bicara hanya diam saja. Duduk melamun di pinggir jendela. Pandangan matanya jauhmenatap jalanan luar rumah. 

“Dicoba dulu, Bu. Satu suap saja.” Aku kembalimembujuknya, “Kalau tidak makan nanti ibu sakit.”

Percuma. Ibu menggelengkan kepalanya. Usahaku sia-sia. Akhirnya aku berangkat ke kantor dengan membawa perasaancemas. Aku terpaksa meninggalkan ibu dengan perut kosong. Aku cuma bisa berharap agar ibu mau makan selagi ku tinggalbekerja. Kalau tidak, aku baru bisa membujuknya lagi saathari sudah sore. Aku mengkhawatirkan kesehatannya. Aku takbisa menghubunginya karena ibu menolak kuberi telepongenggam. Gara-gara penagih utang, ibu sering gelisah jikamendengar telepon berbunyi. Begitupun jika ada orang mengetuk pintu. Aku harus selalu menenangkannya tiap adakurir pengantar paket datang.

Kadang aku bertanya kenapa beban yang kupikul terasa begituberat. Setelah tabungan habis untuk membayar utang, kini akupunya persoalan baru. Aku mesti membagi waktuku untukmengurus ibuku seorang diri. Ibu lebih sering menghabiskanhari-harinya dengan diam. Aku sudah mencoba mengajaknyangobrol dan bercerita seperti waktu kecilku dulu, namunsayangnya ibu seperti tak tertarik. Kuajak ibu jalan-jalankeluar, namun ia juga menolak.

Sekali waktu muncul rasa kesal dalam hatiku. Ku hela napasdan berusaha menepisnya. Tiba-tiba terlintas di ingatanku, saat kecilku dulu, di suatu sore ibu mengendongku ke pinggirjalan raya untuk membujukku makan sambil melihatkendaraan yang lalu lalang. Apakah ibu dulu juga kesal saataku susah makan?

***

Setelah semua yang kualami, aku sudah mengikhlaskanseluruh impian dan cita-citaku. Saat ini yang terpenting adalahmengembalikan semangat hidup ibu. Kebahagiaan ibu adalahkebahagiaanku. Aku masih ingin menikah, tapi entah kapan. Sejak gagalnya pernikahanku dengan Kania, sampai hari iniaku belum mulai menjalin hubungan baru. Terus terang akuagak pesimis. Sepertinya akan sulit mendapatkan seseorangyang mau menerima kondisiku sekarang. 

Sore itu, tidak seperti biasa. Aku pulang ke rumah dan mendapati ibuku sedang tertawa bersama wanita yang pernahmenjadi calon mantunya. Setelah setahun lebih tak berkabar, Kania datang membawa sebuah harapan. Kupikir kisah kami berdua telah selesai. Aku tak pernah menyangka, ia maumerelakan pernikahan impiannya yang tak jadi kenyataan. Kania mengajakku menikah secara sederhana di KUA. 

Magelang, 4 Desember 2023

 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Bronze
Berhenti Ceritakan Mereka Kepadaku dan Jangan Ceritakan Aku Kepada Mereka
Silvarani
Cerpen
Bronze
Malam Itu Laut Sedang Surut
Habel Rajavani
Cerpen
Pernikahan Impian
Suryawan W.P
Novel
Bakti Senja
Ayu Atikha Reinaty
Novel
ORANG PALING KUAT
hrznia
Novel
Bronze
SALWA-AZIS
Imajinasiku
Novel
TANPA TAPI
Rahma Pangestuti
Novel
Bronze
Mission 98
Rahma Pangestuti
Komik
Nilai
Mnemonik M
Skrip Film
Satu Hari untuk Ayah
HANIFAH IKWAN PUTRI
Flash
Tanpa Restu
Reynha
Flash
Bronze
Tiket Mahal Say!
Emma Kulzum
Flash
Bronze
Cinta Maya Yang Nyata
Sunarti
Novel
Si Batu Penjuru
Chyntia Bella Br. Sitepu
Novel
Bronze
Tentangmu Ibu
Rosidawati
Rekomendasi
Cerpen
Pernikahan Impian
Suryawan W.P
Cerpen
Apakah di Luar Hujan Sudah Reda?
Suryawan W.P
Cerpen
Kenangan Akan Selalu Sama
Suryawan W.P
Cerpen
Restu Majene
Suryawan W.P
Cerpen
Kemboja Kelopak Empat
Suryawan W.P
Cerpen
Ratri Menari
Suryawan W.P
Cerpen
Sampai Bertemu di Garis Finis
Suryawan W.P
Cerpen
Tentang Burung dan Pohon Kersen
Suryawan W.P
Cerpen
Lelaki Jambu Air
Suryawan W.P
Cerpen
Akhir Bahagia
Suryawan W.P
Cerpen
Yang Fana Adalah Kamu
Suryawan W.P
Cerpen
Kejutan
Suryawan W.P
Cerpen
Gelembung Sabun
Suryawan W.P
Cerpen
Megat Ruhing Asmara
Suryawan W.P
Cerpen
Surat untuk Ding Jun
Suryawan W.P