Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Perjalanan impian Toni part 2
0
Suka
215
Dibaca

Aroma tanah basah dan embun pagi selalu menjadi menu pembuka yang menyegarkan bagi Toni. Pemuda berusia dua puluh tahun itu sudah berdiri di pematang sawah sejak matahari belum sepenuhnya menampakkan diri. Bagi Toni, sawah seluas satu hektare milik orang tuanya adalah sumber kehidupan sekaligus ruang bermain yang tak pernah membosankan.

Tahun ini, Tuhan sedang sangat baik pada keluarganya. Hasil panen padi melimpah ruah, menguning sempurna tanpa ada satu petak pun yang diserang hama atau mengalami gagal panen. Senyum selalu mengembang di wajah ayah dan ibu Toni setiap kali membahas lumbung padi mereka yang penuh.

Aktivitas Toni tidak hanya terpaku pada lumpur sawah. Sebagai anak kampung yang rajin, ia memiliki tanggung jawab lain: lima ekor kambing yang gemuk dan dua puluh ekor bebek yang cerewet. Setiap pagi, rutinitas Toni selalu sama. Ia akan menggiring pasukannya yaitu dua puluh ekor bebek menuju sawah. Bebek-bebek itu dilepaskan di petak sawah yang sudah dipanen agar bisa mencari cacing atau sisa-sisa butir padi. Hadiah terbaik dari para bebek itu adalah sepuluh butir telur yang hampir setiap hari konsisten mereka hasilkan, menjadi lauk sarapan atau tambahan uang belanja bagi ibunya.

Setelah seharian memantau sawah dan memastikan bebek-bebeknya kenyang, sore harinya Toni akan beralih tugas. Dengan sabit di tangan kanan dan karung goni di tangan kiri, ia berjalan ke area perbukitan kecil yang tidak jauh dari rumahnya untuk mencari rumput segar. Lima ekor kambingnya sudah mengembik tidak sabar di dalam kandang belakang rumah, menunggu jatah makan malam mereka.

Namun, minggu ini agenda Toni sedikit lebih padat dari biasanya. Musim tanam baru telah tiba. Selama satu minggu penuh, Toni bersama ayah, ibu, dan warga desa lainnya bahu-membahu dalam tradisi sambatan atau gotong royong menanam bibit padi di area sawah yang baru dibajak. Kakinya terbenam di dalam lumpur hangat, tangannya dengan cekatan menancapkan sejumput demi sejumput warna hijau ke dalam tanah rahim bumi. Lelah? Tentu saja. Namun, di balik rasa lelah itu, ada sebuah rencana besar yang sudah Toni susun di dalam kepalanya. Sebuah rencana yang membuatnya tetap bersemangat meski punggungnya terasa kaku.

Setelah satu minggu penuh peluh berlalu dan urusan sawah selesai, Toni memberanikan diri menemui kedua orang tuanya di teras rumah malam itu. Di bawah temaram lampu gantung, ia mengutarakan maksudnya.

“Pak, Bu, mumpung urusan tanam padi sudah senggang, Toni boleh meminta izin?” tanya Toni hati-hati.

“Izin ke mana, Le?” tanya Ayahnya sambil menyeruput kopi hitam.

“Toni ingin berkunjung ke rumah Nenek di kota. Sudah lama rasanya tidak mencium tangan Nenek. Dan... Toni sebenarnya rindu naik kereta api lagi,” aku Toni jujur, sedikit malu-malu.

Ibunya tersenyum maklum. Mereka tahu betul betapa Toni sangat terkesan dengan pengalaman pertamanya naik kereta api beberapa tahun lalu. Saat itu, Toni hanya naik kereta lokal komuter selama tiga puluh menit untuk pergi ke pasar besar di kabupaten sebelah. Pengalaman singkat itu rupanya membekas begitu dalam di hatinya. Suara klakson kereta yang menggelegar, sensasi roda besi yang beradu dengan rel, dan pemandangan yang bergerak cepat di luar jendela adalah keajaiban bagi anak kampung seperti dia.

“Ya sudah, berangkatlah. Kamu sudah bekerja keras membantu Bapak dan Ibu. Ini uang untuk ongkos bus ke kota,” kata Ayahnya sambil menyodorkan beberapa lembar uang.

Keesokan harinya, dengan tas ransel tua yang berisi beberapa potong baju, Toni memulai perjalanannya. Ia naik bus antar kota menuju kota tempat tinggal neneknya. Perjalanan memakan waktu beberapa hari karena jarak yang cukup jauh dan bus beberapa kali harus berhenti di terminal-terminal kecil untuk menaikan penumpang. Namun, rasa jenuh itu terkalahkan oleh rasa tidak sabar yang membuncah di dada Toni.

Sesampainya di rumah Nenek, Toni disambut dengan pelukan hangat dan hidangan makan malam yang lezat. Selama dua hari pertama, Toni benar-benar memanfaatkan waktunya untuk beristirahat total, memulihkan otot-ototnya yang tegang setelah seminggu menanam padi dan berhari-hari duduk di dalam bus.

Pada malam ketiga, sambil berbaring di kamar berkasur tipis, Toni membuka ponsel pintarnya. Ia mengunduh aplikasi pemesanan tiket kereta api yang pernah diberi tahu oleh temannya di desa. Dengan jempol yang sedikit kasar akibat kerja sawah, ia mulai mengulik aplikasi tersebut. Ia mencoba melihat-lihat jadwal keberangkatan dan kedatangan dari stasiun terdekat, yaitu Stasiun Wonokromo.

Saat itulah mata Toni terbelalak. Ia menemukan sesuatu yang menurutnya sangat aneh, sekaligus luar biasa. Di layar ponselnya tertera sebuah rute kereta api lokal yang unik. Jadwal aktifnya menunjukkan stasiun keberangkatan adalah Stasiun Wonokromo, dan stasiun tujuannya... juga Stasiun Wonokromo! Kereta itu berjalan memutar melintasi beberapa kabupaten di Jawa Timur sebelum akhirnya kembali ke tempat semula.

Toni membaca detailnya berulang kali untuk memastikan ia tidak salah lihat.

Detail Perjalanan:

Stasiun Asal: Wonokromo

Stasiun Tujuan: Wonokromo (Via Jalur Lingkar)

Durasi Perjalanan: Sekitar 10 Jam

Harga Tiket: Rp30.000,-

“Sepuluh jam perjalanan hanya tiga puluh ribu rupiah?” bisik Toni tidak percaya. Matanya berbinar. Ini adalah jawaban atas kerinduannya. Bagi Toni, uang tiga puluh ribu untuk sebuah petualangan selama sepuluh jam di atas rel kereta adalah sebuah kemewahan yang sangat murah. Tanpa berpikir panjang, Toni langsung memesan satu kursi untuk jadwal dua hari ke depan.

Hari yang dinanti akhirnya tiba. Dengan langkah seringan kapas, Toni berjalan menuju Stasiun Wonokromo. Suasana stasiun yang ramai dengan pengumuman yang menggema lewat pelantang suara membuat jantungnya berdegup kencang karena antusias. Setelah mencetak tiket fisik dan melewati pemeriksaan petugas, Toni berdiri di peron.

Beberapa menit menunggu, kereta api lokal yang dinantinya datang, mendesing pelan sebelum akhirnya berhenti sempurna di depannya. Toni segera naik dan mencari nomor kursi yang tertera di tiketnya. Begitu bokongnya menyentuh kursi kereta, perasaan senang yang luar biasa membuncah di dadanya. Impiannya untuk kembali merasakan sensasi naik kereta api kini benar-benar terwujud, dan kali ini bukan hanya untuk tiga puluh menit!

Kereta mulai bergerak perlahan, meninggalkan stasiun. Toni duduk di dekat jendela. Sepanjang perjalanan, ia seolah terhipnotis. Matanya tidak pernah beralih dari pemandangan di luar jendela. Ia melihat gedung-gedung tinggi kota yang perlahan berganti menjadi hamparan perumahan, lalu berubah lagi menjadi jajaran pohon jati, pegunungan di kejauhan, dan sungai-sungai besar yang mengalir tenang. Setiap kali kereta melewati jembatan tinggi, Toni menahan napasnya karena takjub. Ia benar-benar menikmati setiap detik detak ritme kereta.

Untuk melengkapi petualangan besarnya, Toni memanggil petugas restorasi yang lewat di koridor gerbong. Ia memesan secangkir kopi hangat dan sebungkus nasi goreng khas kereta api. Menikmati makanan di atas kereta yang sedang melaju kencang, sambil memandang panorama alam yang berganti-ganti, memberikan sensasi kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan uang bagi Toni. Ini adalah puncak dari liburan yang ia impikan sejak lama.

Setelah beberapa jam perjalanan, kereta api yang dinaiki Toni perlahan melambat dan memasuki Stasiun Blitar. Di stasiun ini, kereta dijadwalkan berhenti cukup lama, sekitar dua puluh menit, untuk menunggu persilangan dengan kereta lain.

“Penumpang sekalian, kereta api Anda akan berhenti di Stasiun Blitar selama dua puluh menit...” terdengar suara pengumuman dari pengeras suara gerbong.

Toni memutuskan untuk keluar sejenak. Ia ingin meregangkan kakinya sekaligus mencari camilan tambahan di peron stasiun. Sambil mengunyah jajanan pasar yang dibelinya, Toni berdiri di tepi peron, mengamati suasana sekitar.

Saat itulah, matanya tertuju pada sebuah kereta api yang berhenti tepat di jalur sebelah. Kereta itu tampak sangat megah dengan papan nama digital bertuliskan kelas “Eksekutif”. Penasaran, Toni berjalan sedikit mendekat dan memperhatikan dari luar gerbong. Karena kaca keretanya yang besar dan jernih, Toni bisa melihat dengan sangat jelas bagian dalamnya.

Kontras sekali dengan kereta lokal yang ia naiki. Kereta yang ia naiki saat ini memiliki kursi-kursi tegak berlapis kulit imitasi yang saling berhadapan, di mana ia harus berbagi ruang kaki secara cermat dengan penumpang lain di depannya. Sedangkan di dalam kereta eksekutif itu, kursinya terlihat sangat empuk seperti sofa mewah, bisa direbahkan, memiliki sandaran kaki, dan setiap penumpang menghadap ke arah yang sama dengan ruang yang sangat lega. Ada televisi mini di setiap gerbong dan lampu baca pribadi.

Toni tidak merasa iri, melainkan merasa kagum dan termotivasi. Ia tersenyum kecil sambil menatap keindahan interior kereta eksekutif itu. “Suatu saat nanti,” bisik Toni dalam hati dengan penuh keyakinan, “kalau ada rezeki lebih dari hasil panen atau ternak bebek, aku harus mencoba naik kereta kelas eksekutif ini.”

Sebuah peluit panjang berbunyi, menandakan kereta lokalnya akan segera berangkat. Toni bergegas kembali ke gerbongnya, membawa serta impian baru yang tersimpan rapi di dalam benaknya. Kereta kembali melaju, membelah senja yang mulai turun, melewati stasiun demi stasiun, hingga akhirnya roda besi itu kembali membawa Toni masuk ke Stasiun Wonokromo tepat saat malam telah larut. Sepuluh jam telah berlalu, dan Toni merasa menjadi orang paling bahagia malam itu. Ia pun segera memesan ojek daring untuk kembali ke rumah neneknya.

 

 

Satu minggu kemudian, liburan Toni di kota pun usai. Ia sudah sangat merindu pada sawah, bisingnya suara dua puluh bebeknya, dan embikan lima kambingnya di desa. Toni berpamitan kepada neneknya sambil mencium takzim tangan wanita tua itu. Sesuai tradisi, ia tidak pulang dengan tangan hampa; sekeranjang oleh-oleh khas kota sudah siap ia bawa pulang untuk ayah dan ibunya di desa.

Di dalam bus perjalanan pulang, Toni kembali merenungi petualangannya. Bagi orang-orang kota yang setiap hari menggunakan kereta api untuk bekerja, atau bagi mereka yang menganggap perjalanan kereta lokal sepuluh jam adalah hal yang melelahkan dan menjemukan, apa yang dilakukan Toni mungkin dianggap sebagai hal yang konyol atau biasa saja. Uang tiga puluh ribu rupiah bagi mereka mungkin hanya seharga segelas kopi kekinian di kedai waralaba.

Namun, bagi seorang anak kampung seperti Toni, uang tiga puluh ribu rupiah dan waktu sepuluh jam di atas kereta api adalah sebuah pengalaman spiritual yang luar biasa indah. Perjalanan itu mengajarinya tentang cara bersyukur, tentang cara menikmati hidup dari hal-hal yang paling sederhana, dan tentang bagaimana sebuah impian kecil bisa memberi kebahagiaan yang begitu megah di dalam hati.

Sebab pada akhirnya, apa yang dianggap orang lain sebagai hal yang biasa saja, bisa jadi bagi sebagian orang adalah sebuah kemewahan yang sangat luar biasa. Dan Toni pulang ke desanya dengan hati yang penuh, siap menyambut pagi di sawah dengan semangat yang baru.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Cerpen
Perjalanan impian Toni part 2
Azis Sulaeman
Novel
Bronze
Beyond the broken smile
Alifia Ananda
Novel
My Happy Ending
Nisa Fitria Zahra
Novel
Rumah Yang Dijaga Ayah
Marlon Anaka
Novel
Mi Jowo
Bla
Novel
Bronze
Tetes Embun
Elawati
Flash
Bronze
Sebilah Lidah
Silvarani
Novel
MEI & JUNI
Vina Amelia Rosida
Flash
Cinta di Negeri 1001 Malam
annastasia
Flash
Semut dan Gerombolannya
Binaarr
Flash
Bronze
Pelampung Terakhir
Best Siallagan
Cerpen
Perihal Pot dan Tanaman
Ayumi Hara
Novel
A Withering Iris
Alline Elia
Novel
Rush Hour
NarayaAlina
Novel
Batas Tabu
Yuditeha
Rekomendasi
Cerpen
Perjalanan impian Toni part 2
Azis Sulaeman
Cerpen
Masjid Istiqlal
Azis Sulaeman
Cerpen
Bobi si Kucing
Azis Sulaeman
Cerpen
Ku terpanah dengan suara mu
Azis Sulaeman
Cerpen
Za Za Za
Azis Sulaeman
Cerpen
Perjalanan impian Toni
Azis Sulaeman
Cerpen
Selamat jalan Gendut
Azis Sulaeman
Cerpen
Keluarga besar Nenek
Azis Sulaeman
Cerpen
Abon Kering
Azis Sulaeman
Cerpen
Ukhti Naila
Azis Sulaeman
Cerpen
Cahaya itu adalah F
Azis Sulaeman
Cerpen
Oren
Azis Sulaeman
Novel
Damar dan Hana
Azis Sulaeman
Novel
Rumah sejati Ahmad Sadikin
Azis Sulaeman