Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Sejak kau dinobatkan menjadi perempuan janda—satu hari dinikahi paginya langsung diceraikan, langkahmu begitu ringan menapaki jalan di waktu esok. Tidak pernah kau bersungut sekalipun langit penuh kabut. Kalaupun wajahmu cemberut lantaran hidungmu disumbat flu, kau tetap bangkit sebelum fajar pergi, kau bersama langit pagi tanpa mimpi. Barangkali mimpi telah punah dari akalmu. Tugasmu hari ini dan hari esok hanyalah berjalan, memberikan jejak di atas aspal lagi dan lagi. Kata warga kau beruntung pria yang kau temui di Gunung Tidar ketika langkah kecilmu mendaki tangga-tangga menuju makam itu bukanlah pria bangsat. Lantas senyummu mekar sepanjang perjalanan. Kau telusuri rimbunan rumput dan semak belukar di Bukit Salam Bandongan—gunung kecil yang wajib kau turuni demi mendaki Gunung Tidar, lalu lompat ke angkutan umum, lebih sering menengok jendela mobil menikmati langit yang mendadak memelukmu hangat sekalipun hujan turun mendayu-dayu. Alam raya adalah secuil keindahan yang melekat dalam matamu, sebab indah sempurna ada pada pria di Gunung Tidar, pria yang berdagu runcing dengan senyum mempesona sampai-sampai jantungmu dibuat berdentum hebat. Karenanya monyet yang bergelantungan di pohon pinus tidak membuat langkahmu gentar menanjaki tangga menuju puncak gunung. Satu botol perfume telah kau tumpahkan supaya tubuhmu lebih wangi dari mawar-mawar yang ditaburkan di atas makam Kyai Sepanjang. Suara desahanmu menyatu dengan embun-embun pagi yang tak mau kering. Gigil membuatmu kalut dan enggan pulang. Seolah jika ditakdirkan mampu kau terus ingin menetap bersama monyet-monyet dan guguran bunga pinus itu. Sayangnya senja yang ranum di barat tidak mau diajak kompromi untuk memperlambat tenggelam, dia justru lebih cepat membuat langit malam. Kau akhirnya pulang ke pangkuan kampung, tidur di balik bilik-bilik bambu, bangun kembali usai ayam melolong panjang membangunkan umat manusia. Lantas kabar penuh luka itu datang, kau dipinang, perawanmu rontok tetapi esoknya kau mendapat status janda. Tangismu pecah sampai telinga tetangga terganggu. Akan tetapi tak seorang pun menaruh iba padamu.
Katanya adanya hidupmu adalah aib keluarga—kampung halaman pula.
Rumah yang hanya serupa gubuk itu dibagi dua, kau diasingkan, makanmu harus sendiri, tidak diperkenankan menyatu dengan saudaramu sendiri. Bahagiamu telah terkubur di Gunung Tidar. Senyummu hilang. Dunia indah, mendadak jadi neraka jahanam. Setiap kau keluar dari rumah, umpatan-umpatan penuh hina itu terlontar bak kobaran api yang siap membakar apa saja. Dadamu panas tetapi tiada air jernih yang mau menyiramkannya untukmu. Perlahan perutmu membuncit. Mulut yang biasa menyantap makanan dengan nikmat lupa cara menyesap. Ada ruh yang bersarang di tubuhmu, ia butuh kasih tetapi kasihmu meninggalkanmu di waktu pagi. Maka matahari terbit bagimu adalah luka yang ingin kau tinggalkan. Tiada lagi embun menyejukkan, semesta terasa mengutukmu hidup-hidup. Kau terpisah dari keluargamu, disekat dekat dengan kandang kambing, aroma kotoran menyatu dengan makanan, lalu kau muntah berkali-kali. Tidak ada uluran tangan yang mau usap kening berkeringatmu lantaran tak sanggup kuasai mual. Pernah malammu begitu linu hingga langit bertabur bintang pun menjadi pilu. Perut besarmu semakin menjadi-jadi, tendangan bayimu sangat kuat, tetapi ketika jeritan tangis itu akhirnya tiba di bumi, tiada ucapan selamat, semuanya berbau nyinyiran bahkan umpat. Bukankah kau tetap manusia yang juga berhak melanjutkan kehidupan? Lagi pula bukan hanya kau pendosa di dunia ini. Karena kau miskin, tak ada kekuasaan di tanganmu, kau dimaki bagaikan kotoran yang layak dibuang jauh-jauh ke Kali Progo.
Kelumu tidak biasa dibawa tidur melulu, kau perlu bangkit demi menyongsong terbitnya matahari yang membuatmu sakit. Sekali kau keluar menatap langit, lalu larik sinar matahari menerpa wajahmu kau mendengar suara pria Gunung Tidar itu.
“Kau kutalak! Kau tidak lagi suci!” ucapnya.
Suci—memangnya apa itu kesucian? Kau tenggelamkan wajahmu di dalam bak air. Melarungkan airmatamu di esok kelabu—esok yang harusnya penuh cerita dari masalalu perihal suka ataupun kenang-kenangan manis tawamu yang berserak di lembah Gunung Tidar. Kini, langkahmu harus terus dituntun menjemput kehidupan lain. Jika kau berhenti maka bayimu akan merengek di pangkuan, bukan kedinginan, tak peduli pula pada kecup bapak, tak tahu di mana bapaknya. Kau hanya butuh makanan supaya ASI-mu keluar lancar. Sambil kau gendong bayimu, kau cari pekerjaan. Kau telan urat malumu dalam-dalam. Kau bungkam gendang telinga yang bolong lebar mendengar usik tetangga. Kau bantu orang mencuci, menyetrika, menggosok pakaian, bahkan menggosok punggung wanita tua yang mengeluh punggungnya linu. Tiada sempat kau mengeluh, semua hidupmu adalah peluh. Rumpun-rumpun cerita bahagiamu telah terbang menembus langit ke tujuh, maka tidak perlu lagi kau cemberut apalagi merengut, sebab begitulah hidup bagimu, perlumu melaluinya dengan datar—tidak tersenyum pun tiada tangisan. Itulah kau yang benci matahari terbit.
Kalau saja bisa kau telan bola pijar api di angkasa itu, pasti sudah kau lakukan. Kalaupun bisa diinjak, pasti sudah kau mainkan serupa menggiring bola untuk dijebloskan ke gawang. Takdirmu kini berjalan, jika dulu ke Gunung Tidar, maka lain usai tugas menyusui anakmu purna. Kau butuh uang lebih untuk memberinya jajan, makan bahkan sandang. Tak mau kau biarkan senyumnya pudar serupa milikmu, tatkala dia yang tidur di bawah gubuk nyaris reyot sempit itu, yang kadang hujan membuatnya berbau busuk tak layak ditinggali, mirip kandang kambing, bercampur lumpur dan tetesan air hujan dari asbes bocor—terbelenggu dengan keinginan yang tak mampu ia gapai. Kau akan merasa dunia mencengkeram urat lehermu. Boleh saja hidupmu terasa sangat basah ketika hujan membuat sekujur tubuhmu menjadi kuyup dan pori tubuhmu membiru, biarlah bibirmu yang dahulu dilabeli pandai merayu membeku, asal kau masih bisa berjalan menuju kampung Junjungan, mengais-ngais rizki supaya anakmu bisa tersenyum lebar. Kalau saja senyum-senyum masa kanak itu bisa kau beli di Pasar Kaliangkrik. Barangkali kau akan gadaikan seluruh kehormatanmu demi bisa membeli sepuluh kilogram senyum untuk anakmu. Sayangnya senyum itu terlampau mahal sampai tiada harta layak termasuk kehormatanmu sendiri. Kau tak butuh banyak senyum anakmu, cukup satu terbit ketika matahari bertengger di balik Bukit Salam. Kau ingin mencuci murungnya, tetapi anak laki-lakimu itu tidak bisa dikelabui. Berkali-kali kau dongengkan kisah heroik supaya dewasanya ia menjadi pahlawan untuk hatimu yang terlalu hitam. Mampu membangun gelombang-gelombang harapan di jiwamu yang datar. Sayangnya dia serupamu, tidak pula tersenyum, tidak pula menangis. Hanya pernah sesekali dia berontak, berteriak ketika bedug di langgar dibunyikan menyambut hari lebaran. Ia melempar sandal murah yang kau belikan.
“Mamak, mana Bapakku? Aku malu dianggap anak tak punya Bapak! Di mana kau sembunyikan Bapak?”
Lalu sepi panjang memelukmu di tengah malam. Anak laki-lakimu tertidur lelap di dalam ketiakmu yang beraroma kecut. Kau tidak punya air mata, semuanya sudah kering dan hanyut dibawa derasnya hujan. Wajahmu pun tiada kerut cemberut, kau enggan merengut, jelasnya ekspresimu datar menatap kusen jendela yang dimakani rayap.
“Kalau Bapakku sudah mati, ceritakan di mana kuburnya!”
Anak laki-lakimu sudah baligh. Dia banyak diam ketika menyaksikan lebaran tahun lalu anak-anak sepantarannya keliling silaturahmi dalam gandengan tangan kedua orang tua. Matanya menatap nanar, sementara hatinya seolah sedang terkoyak-koyak.
“Mak, ijinkan aku merindukan Bapak yang tidak bisa kulihat wajahnya.”
“Bisa diam!” bentakmu.
Kau alihkan emosimu dengan meniup tungku api. Kau masukkan potongan kayu-kayu kering supaya kobarannya bertambah garang. Di luar sana hujan menabuh permukaan asbes penduduk. Dingin melambai-lambai di depan pintu, bertamu dengan ramah sementara tuan rumah tak mau mempersilakan gigil duduk di ruang tamu.
Esok paginya sebelum matahari terbit, kau kuak pintu reot itu, menarik kakimu keluar—kaki yang tumitnya retak-retak seperti sambaran petir di langit. Usiamu tak lagi muda, rambut sekusut bunga betina jagung siap panen. Wajahmu dipenuhi bintik hitam barangkali karena terlalu sering berkeliaran. Debu dan polisi menjadi karak pada kulitmu. Di Sabtu yang membelenggu sebab kau tetap harus berjalan 9 KM kali dua maka 18 KM sehari sementara keluarga yang lain utuh di bawah atap atau langit cerah di alun-alun kota—dirimu bergerilya dengan keringat di pinggiran kota. Bahkan kau bergerak ketika udara begitu pekat masuk ke rongga dada. Suara angkutan, laju roda-roda dan rupa manusia tak mau datang terlambat menjadi pelipur lukamu. Jika langit berkabung kau jadikan mendung sebagai penasihat ulung—bahwa kau bukan pemilik kabut sendirian melainkan masih ada kabut-kabut lain yang lebih dingin di angkasa. Dirimu si wanita bertubuh gempal yang memiliki lemak-lemak berlipat di perut, lalu di bawah ketiakmu juga di bawah dagumu tak lagi menjadi rupawan di pandangan orang-orang. Tiada lagi yang mau mesum, cantikmu sudah masuk museum. Musim kawin tiba, janur-janur melengkung di jalan masuk kampung. Kau pandang nanar tumitmu yang makin keras, sementara anak laki-lakimu itu—Danu ingin menyapa wajah bapaknya. Mendadak hatimu begitu berisik, ‘Sari, bagaimana jika Bapak baru?’
Sebuah solusi yang membuatmu semakin diberi label wanita jalang paling ulung. Rupamu yang dahulu datar, perlahan disunggingkan. Tak lagi ada kata abai selagi ada pria agak tua melintas di depanmu. Barangkali orang pulang dari sawah yang kakinya penuh lumpur, boleh juga pedagang kasur keliling, bahkan tukang parkir toko dekat tempat kerjamu itu pun tidak mengapa—asalkan Danu bisa melenturkan lidahnya menyebut nama ‘Bapak.’ Danu tak bisa dibodohi lagi, dia bukan hanya pandai menggiring bola, tetapi juga banyak mendengar cerita.
Pernah di Bulan Maulid, ketika orang-orang kampung sibuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, kau duduk di teras rumah tetanggamu, libur tidak berjalan 18 KM ke Junjungan lantaran ingin ikut menggugurkan dosa-dosa dengan dengarkan pengajian, anakmu menatap ke arah pria dewasa yang kulitnya sudah berkerut lantaran terpanggang terik matahari juga gelap sekelam malam karena terus-terusan beradu dengan kebutuhan. Manik matanya seolah sedang menerka-nerka, adalah Bapak Danu di tempat itu?
Setelah talakmu jatuh tak lagi ada kabar perihal pria Gunung Tidar itu. Rahimmu persinggahan yang hangat, lalu ditinggalkan setelah lubangnya kesakitan.
Hari selanjutnya tubuhmu terasa berat, berkubik-kubik tanah di Bukit Salam seolah menguburmu hidup-hidup. Kau tak mau berjalan, zaman sudah bertambah tua, kemudahan demi kemudahan dapat kau tatap di depan mata. Tetapi untuk mendaki punggung sepeda motor dalam benakmu terasa mustahil—pulangmu masih menyusuri jalan—pinggiran aspal yang kadang dipayungi rerimbunan daun-daun trembesi. Kau pulang ketika langit berwarna kuning tembaga di bagian barat, lamat-lamat kau terpukau dengan kecantikan langit, lelahmu berangsur pudar seiring tenggelamnya sinar. Kau ingin menggapai langit, terbang bebas tanpa banyak bayang-bayang kehidupan. Bagimu langit merupakan pernyataan, sementara bumi yang dipijak menaruh banyak pertanyaan. Perihal makan apa pagi nanti? Bahkan menyebut getir saja ada satu pertanyaan yang menyelinap masuk ke hatimu, kenapa pagi dulu pria Gunung Tidar itu datang pada hidupmu? Lalu mengoyak seolah kau daging sudah tidak layak. Matahari terbit benar-benar ingin kau ungsikan dari pandangan. Wajahmu benar-benar lupa mendung, sebab ia lebih dari mendung itu sendiri. Sampai titik-titik hitam itu bertambah kau tetap benci matahari. Akan tetapi kau harus menyongsong langkah bersama pagi ketika embun-embun masih memeluk gigil dalam ringkuk permukaan daun-daun. Dan … bagaimanapun juga kau harus menyukai matahari, sebab cantikmu menjadi terang ketika sinarnya membelai lembut wajah kusutmu. Ayumu yang pudar akan tampil kembali di waktu pagi. Malam adalah gelap yang membuat rupamu pun disetubuhi gelap. Jika Danu ingin Bapak, maka kau perlu mencintai matahari serupa kau merawat tubuhmu. Tetapi sejak kapan tubuh yang katanya tak lagi suci itu dirawat? Tidak ada cermin di rumahmu. Obyek di rumahmu adalah suram dan kemuraman. Kau tak pernah mematut diri di depan kaca. Lupa caranya bersolek bahkan sekadar mengoleskan gincu di bibirmu yang kehitam-hitaman serupa badai di atas gunung. Noda itu harus kau tutup supaya ada pria yang bersedia memberimu kasih—demi Danu. Tak kau pedulikan suara-suara sumbang yang mengalir deras membasahi bilik-bilik bambumu. Rumahmu nyaris roboh, tak lagi pantas dihuni. Kau butuh tangan pria untuk mengokohkan tiang-tiangnya. Gotong royong tetanggamu di hari minggu sepekan yang lalu, membuat telingamu seperti dibakar bara api. Pertolongan mereka mendirikan rumahmu seolah-olah formalitas kemanusiaan, tiada maknanya yang nyangkut. Ada bualan yang mendera batinmu, ada gurauan yang penuh dengan luka-luka. Kau telan dengan matang, serupa memakan nasi panas karena lapar. Akan tetapi kau tak tega dengan batin Danu, jiwa ranumnya masih butuh welas asih, bukan malah merasa tersisih. Danu menyingkir dari kerumunan kerja bakti, dia bermain sendirian di sungai, duduk di atas batu cadas, melempar umpan ke kali, bukan harap ikan dapat dibawa pulang, tetapi semoga duka-dukamu tenggelam. Ketika Danu pulang dia langsung meringkuk di atas amben seolah sedang mengutuk nasibnya yang tak berpeluk bapak. Apalagi ada hal paling menyakitkan batinmu ketika kemarin guru SD Danu memintamu mengumpulkan data Akta Kelahiran dan Kartu Keluarga, katanya untuk menyinkronkan data guna penulisan nama di ijazah kelulusan.
‘Kenapa tidak ada nama Bapaknya, Bu Sari? Apakah petugas capilnya yang lupa?’
Itu pertanyaan bodoh! Guru itu belum berpengalaman atau memang ingin mematahkan semangatnya bertahan hidup? Bunga-bunga kapas di belakang sekolah yang sedang menari-nari diembus angin mendadak ingin diruntuhkan pada tubuhnya, biar dia merasakan engapnya hidup menjadi dirimu.
“Mak, apakah aku keturunan Nabi Isa? Yang lahir tanpa seorang Bapak?”
Itu pertanyaan mengerikan, sebuah satire karena langkahmu tak pernah dituntun ke masjid kampung. Meski perempuan tak wajib sembahyang di sana, tetapi warga-warga kaum hawa di tempatmu yang ubannya sudah memutih itu tak pernah cuti sujud di masjid. Baru kau sadar rambutmu bahkan sudah memutih. Jika dipikir, kau butuh cermin supaya bisa menilai kerut-kerut di wajahmu.
Apa ada pria yang mau dengan perempuan keriput? Sementara rahimnya tak lagi rapat?
***
Oktober, hujan menari-nari di atas kepalamu. Rambutmu yang dibungkus jilbab tipis itu ditembus ratusan titik air. Kau lupa membawa payung. Jas hujan plastik yang robek bagian perut kau kenakan. Kakimu dibungkus kantong kresek yang tadi dipungut dari selokan. Sungguh ironi, perempuan tak bersuami melangkahkan kaki di pinggir trotoar, turun dari kaki gunung menuju kampung di dekat Bukit Salam. Berjalan dan terus berjalan sekalipun matahari sudah tak berpijar. Tadi kau tunggu hujan reda, sayangnya langit justru memuntahkan berliter-liter kepedihan. Kau teringat Danu, anakmu akan ketakutan jika petir menyambar-nyambar dengan suara menggelegar. Selama bertahun-tahun kau melangkah tak seorang pun mau berhenti membersamaimu, menaikkan tubuhmu pada sepeda motor mereka, bahkan jika itu saudara di kampungmu sendiri. Adanya dirimu serupa beban yang membuat orang lain merasa keberatan. Kau melihat para perempuan muda—pulang kerja di toko terdekat, memakai sepatu pantofel dengan kemeja rapi dipadukan jilbab pashmina kekinian. Dia dijemput seorang pria bertubuh kurus yang rambutnya gondrong menitikkan air hujan. Mereka pergi tanpa memberimu sapaan. Gelap semakin pekat dan tiada yang jadi kawan. Gigil menusuk sampai ke sumsum tulang. Kau berdoa ada payung yang memayungi kepalamu, setidaknya langkah kakimu memiliki rekan sampai tiba di depan rumah. Lalu di sana, kau tumpahkan seluruh lelah. Berjalan terus-menerus rasanya menguras tenagamu. Dari pagi ketika ayam kokok bangun sampai hari berganti tanggal. Alih-alih payung di atas kepalamu, justru daun pisang robek-robek yang bertengger. Dadamu bergemuruh, antara ngeri atau takjub dengan pria tua di sebelahmu. Dia mengenakan kain batik yang rapi sekalipun nyaris keseluruhan basah terkena hujan, kakinya yang panjang dibungkus celana hitam—serupa celana-celana orang kantoran, lipatannya garis pinggirnya tajam sekalipun basah kuyup. Rahangnya yang tajam dengan bentuk wajah square (persegi) membuatmu berhenti bernapas sebentar. Alam raya yang temaram tak menghalangi manik matamu bergerilya meneliti keutuhan sosok pria tersebut—memakai pecis hitam dan ransel kecil di punggung, lalu ada arloji melingkar di lengan kiri. Kakinya menapak di atas bumi, ia manusia! Jantungmu bergemuruh seiring bertambah derasnya hujan yang turun. Air dari langit mendramatisir suasana. Kau yang mengenakan jas hujan bolong, dia yang menjadikan payung sebagai penolong.
“Kenapa jalan sendirian, Mbak?”
Suaranya tegas dan membuat jantungmu bergetar. Jujur tak pantas kau merasa terkesima dengan pria tua yang umurnya bertaut agak jauh, kau tafsir sekitar lima belas tahun lebih. Danu tidak pantas memanggilnya ‘Bapak’ Danu lebih luwes menyebutnya ‘Kakek.’ Rupanya jika gelap mulai memeluk aspal, ada pejalan kaki yang lain. Pria yang lebih tua dari si pria tua Gunung Tidar. Bibir tipis agak kehitam-hitaman sebab terlalu sering mengisap nikotin. Ah, tapi tak apalah perokok aktif, terpenting ada sayang dan kasih yang mampu kau tampung. Sebab sejak pertemuan di hujan yang deras itu, kau akhirnya lebih suka pulang agak malam. Menunggu di pinggiran jalan, tepat di bawah pohon asem, menanti pria itu datang melintasi jalan yang sama.
“Kau mau kemana, Mas?”
“Saya adalah pengembara. Jalan dari satu kampung satu ke kampung lainnya untuk bertapa.”
Itu ambigu sekali. Hati kecilmu merasa aneh dan heran, tetapi hawa nafsumu membuat semuanya menjadi abu-abu. Bagimu mau pengembara atau apa pun pekerjaannya yang jelas Danu butuh Bapak. Kau akan merayunya serupa dulu kau dirayu pria Gunung Tidar. Kau tunggu dirinya di bawah pohon asem setiap hari menjelang maghrib datang. Kemudian kau tersenyum amat manis—setelah bertahun-tahun senyummu lenyap diangkut kelam, kali itu senyummu terbit kembali. Matahari pagikau songsong dengan riang.
“Danu, sebentar lagi kau akan memiliki bapak!” teriakmu sambil bercermin di suatu pagi.
Danu kurang mengerti, rupanya bapak mampu dicari setelah dirinya lahir ke bumi. Teman-temannya selalu berkisah bahwa sepasang manusia bertemu, berhubungan, lalu ada kehidupan. Kenapa dia sudah ada lalu bapaknya baru ditemukan? Danu ingin berontak, tetapi demi melihatmu yang senyummu, pertanyaan asing itu dia kubur rapat-rapat. Dia murung tetapi kau tak mampu menangkap auranya. Kau fokus dengan pria pengembara. Pagimu meracik rempah makanan, dimasukkan ke dalam rantang untuk bekal lalu disuapkan kepada sang pengembara. Kau nikmati senja yang menggantung di ufuk barat itu di bawah pohon asem sambil mendiskusikan masa depan. Hidupmu kali ini penuh getaran. Obrolan perihal perempuan jalang semakin tidak kau pedulikan, semuanya terdengar telinga kiri, keluar telinga kanan. Tidak ada yang menyakiti, tidak ada luka-luka lagi selama bisa bertemu dengan pria sang pengembara. Pria yang entah di mana alamat aslinya. Dia selalu berjalan dari daerah satu ke daerah lain. Bertapa di sebelah gundukan tanah makam para wali. Bagimu itu menakjubkan sampai membuatmu terkagum-kagum. Di matamu sang pengembara merupakan pria shaleh. Kau merengek untuk dihalalkan. Tak mau terus-terusan bertemu di bawah pohon asem bersaksikan tenggelamnya hari yang sibuk. Kau ingin bertemu di dalam ruang yang sah—sah untuk berbuat apa pun.
“Nikahi aku, Mas!”
Bagai mendapat harta karun, sang pengembara mengiyakan sekalipun nikah siri dengan penghulu tidak dari KUA. Perjuanganmu tidak mudah, untuk menjadi halal kau merengek-rengek kepada pemuka agama di kampung, memohon untuk dinikahkan. Ada yang menolak, ada yang tidak terima. Keluargamu ingin kau langsung menikah resmi di KUA, tetapi sang pengembara memang unik, katanya belum bisa ke KUA, sebab tidak memiliki Kartu tanda penduduk. Keluargamu tak memberi restu, sayang kau nekad. Cintamu tak bisa dipangkas. Sayangmu tak mau lagi ditahan-tahan. Kau ingin hidup di bawah atap reyot bersama sang pengembara dan Danu—anak entah di mana bapaknya itu. Maka akad pun tunai.
Satu bulan, dua bulan semuanya berjalan baik-baik saja. Kau bahkan kali ini selalu mengelus perutmu, ingin ada janin yang singgah di sana. Kau tersenyum berjalan membersamai matahari menjadi terik di ubun manusia. Kau memakai jilbab agak lebar, supaya sang pengembara makin sayang. Sang pengembara menetap beberapa bulan, tak lagi bertapa di makam wali, dia rajin ke masjid. Subuh sebelum warga bangun dia sudah duduk bersila menghadap kiblat. Selepas maghrib dia akan merapalkan dzikir dan doa-doa. Pengembara alim yang terkenal shaleh. Perlahan doa-doanya menghasilkan uang. Beberapa orang kampung tetangga sebelah memintanya mengobati luka-luka batin, kena santet, kena sihir atau kesambet setan! Kau makin terpesona.
Akan tetapi, ingat Danumu Sari. Tatapan matanya kosong. Dia tidak memiliki semangat menyambut hari. Entah apa sebabnya diamnya menjadi bungkam sementara kau berbahagia sepanjang malam. Tetapi masalah itu datang. Protes keluargamu yang ingin kau disahkan di KUA. Kau harus punya buku nikah supaya semuanya jelas. Sang pengembara lupa memakai sandal slopnya ke masjid. Entah karena malu atau memang benar-benar lupa. Tidak ada lagi pria tua yang duduk dengan dzikirnya. Warga tetangga juga mulai berkasak-kusuk. Seorang tukang keliling yang mendapatimu dan dirinya serumah terperangah.
“Loh, kau kan penipu yang dicari-cari wargamu!”
Penipu? Kau tersentak. Marah pada tukang sayur itu. Mengusir secara sepihak tidak boleh mangkal lagi di dekat rumahmu yang doyong ke barat.
Sang pengembara orang terbaik dalam hidupmu, dia bapak Danu. Dia bukan penipu. Tidak kau hiraukan omongan-omongan warga kampung, kau tetap membelenggukan perasaanmu kepada sang pengembara. Suatu pagi yang cerah, ketika tidurmu tanak sebab tubuhmu baru saja dicumbu mesra, tak kau dapati pengembaramu. Pintu yang dimakan rayap itu tak ditutup rapat, engselnya berdecit diembus angin. Sejak itu sang pengembara tak lagi pulang. Kembali kau mengutuk matahari terbit. Tidak ingin ada hari berganti dalam hidupmu. Langkahmu layu, tetapi kau tetap berjalan dan terus berjalan sebab Danu harus makan.
Magelang, 28 Oktober 2025.