Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Hujan turun sejak sore, seperti ingin menguji kesabaran orang-orang yang pulang dengan sisa tenaga di tubuhnya. Langit menggantung kelabu, menurunkan rintik yang tak deras, tapi cukup untuk membuat jalanan licin dan lampu-lampu kendaraan memantul di aspal yang basah. Kota seperti menahan napas padat, berat, dan penuh keluhan yang tak terdengar.
Hikmah kehidupan bisa datang dari siapa saja.
Aku sering kali merasa demikian, tapi hari itu kalimat itu seakan menemukan bentuknya yang nyata.
Jam di ponselku menunjukkan pukul enam lewat sedikit ketika aku keluar dari gedung kantor. Sejak pagi tubuhku sudah memberi tanda-tanda lelah, pundak yang kaku, kepala yang berdenyut pelan, dan pikiran yang seperti diperas habis oleh angka-angka, laporan, dan tenggat waktu. Perjalanan dari kantor ke kos biasanya memakan waktu satu jam. Dalam kondisi hujan seperti ini, waktu seolah dilipatgandakan. Macet, genangan air, klakson bersahutan, dan wajah-wajah yang sama letihnya denganku.
Hari itu aku memutuskan menggunakan transportasi online. Bukan tanpa alasan. Secara fisik aku benar-benar tak sanggup lagi berdesak-desakan di transportasi umum. Bayangan berdiri sambil berpegangan di kereta yang penuh sesak, atau berhimpitan di dalam bus dengan bau pakaian yang basah oleh hujan, membuatku ingin menyerah sebelum berangkat.
Aku memesan mobil, lalu berdiri di bawah kanopi kecil, memperhatikan titik-titik hujan yang jatuh di genangan. Di dalam hati, aku sudah membuat keputusan, perjalanan ini akan kulewati dalam diam. Tidak ada percakapan basa-basi, tidak ada cerita panjang. Aku hanya ingin duduk, menyandarkan kepala, dan membiarkan jalanan membawaku pulang.
Mobil itu datang beberapa menit kemudian. Seorang bapak paruh baya menyapaku dengan ramah ketika aku membuka pintu belakang.
“Assalamu’alaikum, Teh.”
“Wa’alaikumussalam, Pak,” jawabku pelan.
Aku menyebutnya “Pak” karena dalam budaya kita, usia dan pengalaman selalu pantas dihormati. Rambutnya mulai memutih di beberapa bagian, wajahnya bersih, sorot matanya tenang. Ada garis-garis lelah di sekitar matanya, tapi bukan lelah yang getir—lebih seperti lelah yang sudah berdamai dengan keadaan.
Mobil melaju pelan, keluar dari parkiran, lalu masuk ke jalan raya yang padat. Hujan masih turun tipis. Wiper bergerak teratur, seperti detak jam yang mengiringi perjalanan.
Awalnya kami benar-benar diam. Aku bersandar, memandang lampu-lampu kota yang memantul di kaca. Namun, seperti sering terjadi dalam hidup, rencana manusia tak selalu sejalan dengan alur yang sudah digariskan.
“Wah, macetnya luar biasa ya, Teh,” ucap beliau, memecah keheningan.
“Iya, Pak. Habis hujan pasti begini,” jawabku singkat.
Percakapan sederhana tentang lalu lintas, tentang genangan air, tentang proyek jalan yang tak kunjung selesai. Aku menjawab seperlunya. Namun entah bagaimana, nada suaranya yang hangat membuatku tak merasa terganggu.
Beberapa menit berlalu, dan tiba-tiba beliau berkata, dengan suara yang sedikit lebih serius
“Teh, saya sekarang ngajarin anak saya untuk jadi orang yang berilmu dan beradab. Dua itu hal penting, Teh. Tahu nggak kenapa?”
Aku yang sejak tadi hanya setengah fokus, mendadak tertarik. Ada sesuatu dalam kalimatnya yang membuatku ingin mendengar lebih jauh.
“Kenapa, Pak?” tanyaku, kali ini dengan rasa penasaran yang sungguh-sungguh.
Beliau tersenyum tipis melalui kaca spion.
“Karena kalau dua-duanya nggak seimbang, pasti jelek, Teh. Ilmu harus diimbangi dengan adab. Kalau ilmu tinggi tapi tanpa adab, dia bakal ngerasa dirinya paling benar, jadi sombong. Tapi kalau adabnya tinggi tanpa ilmu, dia bisa dibohongi orang-orang.”
Aku terdiam.
Kalimat itu sederhana. Tidak terdengar seperti kutipan buku filsafat, tidak seperti ceramah panjang di mimbar. Tapi justru karena kesederhanaannya, ia terasa menghujam.
Di dalam hati, aku membatin.
Benar juga. Banyak sekali yang hari ini terlihat tidak seimbang. Orang-orang yang cerdas, berpendidikan tinggi, tapi mudah merendahkan. Atau orang-orang yang baik hati, tapi mudah dimanfaatkan karena tak punya bekal pengetahuan yang cukup.
Aku teringat berbagai berita, percakapan di media sosial, debat-debat panas yang sering berakhir pada saling hujat. Seakan ilmu dijadikan senjata untuk menjatuhkan, bukan untuk menerangi.
“Iya, Pak. Sepakat. Sekarang memang sedikit yang seimbang,” kataku pelan.
“Iya, Teh,” lanjutnya. “Makanya saya ajarin anak saya itu. Saya juga belajar dari seorang ustadzah. Dia pelanggan saya waktu itu. Sekarang ustadzahnya sudah almarhumah. Masya Allah, orangnya baik banget, Teh. Sampai hari terakhirnya pun masih baik.”
Aku kembali menegakkan badan. Cerita ini mulai terasa lebih dalam dari sekadar obrolan lalu lintas.
Beliau mulai bercerita, dan mobil terus melaju perlahan di antara lautan kendaraan.
“Dulu waktu hari-hari terakhirnya, ustadzah itu kelihatan sehat-sehat saja, Teh. Masih senyum, masih ngajarin orang. Tapi mungkin sudah firasat ya. Katanya kalau orang baik suka dikasih firasat sebelum meninggal.”
Hujan mulai reda. Jalanan tetap macet, tapi suasana di dalam mobil terasa hangat.
“Suatu hari dia pesan saya untuk antar ke rumah orang tuanya. Sepanjang jalan, tiba-tiba beliau minta maaf sama saya.”
Aku menatap punggung kursi di depanku, mencoba membayangkan adegan itu.
“Saya kaget, Teh. Saya nggak merasa pernah dizalimi sama Ustdzah, malah saya merasa selalu diberikan kebaikan oleh Ustadzah. Kenapa tiba-tiba minta maaf? Apalagi orangnya baik banget. Rasanya malah saya yang banyak kurangnya.”
Beliau tertawa kecil, tapi suaranya menyimpan getar.
“Dia bilang, ‘Pak, kalau selama saya jadi penumpang ada salah kata atau sikap, saya minta maaf ya.’ Padahal selama ini kalau naik mobil saya, dia selalu ngasih nasihat. Bukan yang menggurui, tapi yang bikin hati adem.”
Aku merasakan sesuatu menghangat di dadaku.
“Sepanjang perjalanan itu, dia masih ngasih ilmu. Walaupun sesekali batuk-batuk, tapi tetap cerita. Tentang sabar, tentang ikhlas. Sampai akhirnya saya antar beliau ke rumah orang tuanya.”
Beliau berhenti sejenak, mungkin mengatur napas.
“Tau nggak, Teh. Malamnya, suaminya telepon saya. Bilang kalau ustadzah sudah nggak ada.”
Kata-kata itu menggantung di udara.
Aku memejamkan mata sejenak. Bayangan seorang perempuan yang siangnya masih berbicara tentang sabar dan ikhlas, lalu malamnya telah berpulang.
“Waktu itu saya langsung balik arah. Datang ke rumah orang tuanya. Dan ternyata benar, Teh. Beliau sudah tiada.”
Suara beliau kini lebih pelan.
“Saya berdiri di depan jenazahnya, dan yang kepikiran cuma satu, orang ini sampai akhir hayatnya masih mikirin orang lain. Masih sempat minta maaf ke driver seperti saya. Masih sempat ninggalin nasihat.”
Aku menelan ludah. Hujan sudah berhenti, tapi di dalam hatiku seperti ada gerimis yang tak terlihat.
“Sejak saat itu, saya mikir, Teh. Ilmu dan adab itu memang benar-benar harus seimbang. Beliau orang berilmu, tapi adabnya luar biasa. Nggak pernah merasa lebih tinggi, selalu menghargai orang sekitarnya.”
Mobil bergerak lagi setelah lampu lalu lintas berubah hijau.
Aku menatap keluar jendela. Orang-orang berjalan cepat di trotoar, sebagian berteduh, sebagian berlari kecil menghindari genangan. Di antara ribuan manusia di kota ini, siapa sangka aku akan mendapatkan pelajaran seperti ini dari seorang driver?
Aku teringat diriku sendiri. Pendidikan yang kukejar, target-target karier, ambisi untuk terus berkembang. Aku ingin menjadi lebih baik, lebih produktif, lebih berilmu. Tapi apakah selama ini aku sudah cukup menjaga adab?
Apakah aku selalu berbicara dengan lembut kepada orang-orang yang mungkin tak “setara” denganku secara jabatan? Apakah aku cukup rendah hati ketika merasa benar? Apakah aku pernah merasa lebih pintar dan secara halus meremehkan?
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul satu per satu.
“Pak,” kataku pelan, “Bapak pasti sangat kehilangan ya?”
“Iya, Teh,” jawabnya jujur. “Walaupun cuma pelanggan, tapi rasanya kayak kehilangan guru.”
Guru.
Betapa indahnya ketika seseorang bisa menjadi guru, bahkan dalam perjalanan singkat di dalam mobil.
“Saya jadi lebih hati-hati sekarang, Teh. Kalau ngomong sama penumpang, kalau bercanda sama teman, sama anak di rumah. Takut kalau itu jadi kata-kata terakhir.”
Aku tersenyum tipis, tapi hatiku terasa penuh.
“Jadi itu, Teh. Titip pesan dari saya, ilmu dan adab harus seimbang.”
Aku mengangguk, walaupun beliau mungkin tak melihatnya.
Perjalanan hampir sampai. Gang kecil menuju kosku sudah terlihat di depan. Lampu-lampu warung menyala temaram. Bau tanah basah masih tercium samar.
Mobil berhenti di depan gerbang kos. Aku membuka pintu, lalu berhenti sejenak sebelum turun.
“Terima kasih banyak ya, Pak. Ceritanya sangat berarti buat saya.”
Beliau tersenyum.
“Alhamdulillah kalau bermanfaat, Teh. Semoga kita semua bisa jadi orang yang berilmu dan beradab.”
“Aamiin,” jawabku lirih.
Aku turun dari mobil, melangkah pelan menuju kamar. Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian, aku duduk di tepi ranjang. Suara hujan sudah benar-benar berhenti. Kota kembali ke rutinitasnya.
Namun ada sesuatu dalam diriku yang berubah.
Aku memandang layar ponselku, membuka catatan kecil, lalu menuliskan:
“Ilmu tanpa adab adalah kesombongan. Adab tanpa ilmu adalah kelemahan. Seimbangkan.”
Aku teringat wajah ustadzah yang bahkan tak pernah kulihat. Tapi kisahnya cukup untuk membuatku merasa mengenalnya. Seorang perempuan yang di hari terakhirnya masih memikirkan orang lain. Masih sempat meminta maaf. Masih menebar kebaikan.
Dan aku teringat bapak driver itu. Seorang ayah yang di tengah perjuangan mencari nafkah, masih memikirkan pendidikan akhlak anaknya. Masih mengingat pesan gurunya. Masih menyebarkan hikmah kepada penumpang yang mungkin awalnya hanya ingin diam.
Malam itu, sebelum tidur, aku berdoa lebih lama dari biasanya.
Aku memohon agar Allah memberiku ilmu yang bermanfaat, dan hati yang lembut untuk menjaganya. Aku memohon agar kesibukan dunia tidak membuatku lupa untuk meminta maaf, untuk merendah, untuk menghargai.
Karena kita tak pernah tahu, perjalanan mana yang akan menjadi yang terakhir.
Kita tak pernah tahu, kata mana yang akan menjadi yang terakhir.
Dan kita tak pernah tahu, siapa yang akan menjadi perantara hidayah dalam hidup kita—bisa jadi seorang ustadzah yang lembut, atau seorang driver di tengah macet setelah hujan.
Sejak hari itu, setiap kali aku memesan transportasi online, aku tak lagi memasang dinding setinggi dulu. Kadang aku tetap diam, tapi hatiku lebih terbuka. Siapa tahu, di antara kemacetan dan lampu merah, ada hikmah lain yang menunggu untuk diceritakan.
Dan setiap kali aku merasa bangga pada pencapaianku, aku teringat pesan itu.
Ilmu dan adab harus seimbang.
Karena tanpa adab, ilmu bisa melukai.
Dan tanpa ilmu, adab bisa disesatkan.
Di tengah kota yang tak pernah benar-benar tidur, di antara hujan dan macet yang terasa menyebalkan, Allah selalu punya cara untuk mengingatkan.
Kadang melalui kehilangan.
Kadang melalui percakapan singkat.
Kadang melalui seorang bapak driver, yang dengan sederhana berkata,
“Titip pesan ya, Teh.”