Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Perayaan Paling Sunyi
0
Suka
19
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Pesta paling Sunyi.

Sunyi, hening, hampa, sepi, dan gelap. Itu yang aku alami dan rasakan di dalam rumah seorang diri sepanjang hari selama berbulan-bulan. Seolah aku terdiam di antara waktu yang terus bergerak maju, bagai seorang yang berdiri di tepi jalan menyaksikan kendaraan bergantian melewatinya. Aku telah tertinggal jauh, terpaku, tak bergerak. Pagi setelah Kak Rina pergi bekerja hingga dia pulang lagi di sore hari, atau bahkan hingga larut malam. Sudah sejak puluhan tahun yang lalu, rumah ini terakhir kali riuh dengan jeritan, tangisan, dan tawa anak-anak; tentu saja, mereka adalah kami, aku dan Kak Rina, semasa kanak-kanak.

Suara langkah kaki sepatu hak tinggi terdengar jelas mendekat menuju rumah setelah sebelumnya suara seseorang membuka gembok pagar memecah kesunyian sore menuju petangku. Tentu saja itu, Kak Rina, karena tak pernah ada yang datang lagi ke rumah kami. Aku membayangkan kedua tangannya kerepotan membawa bungkusan makanan yang baru saja dia beli untuk makan malam dan tas kerja yang berisi kertas-kertas pekerjaannya yang biasa dibawa pulang dan dijadikan kesibukan malam harinya. Gawainya dia jepit di antara telinga dan pundak sambil membuka kunci pintu rumah. Sampai di sofa ruang tamu, dia melepas kedua sepatunya begitu saja dan meletakkan sekujur tubuhnya di atas sofa bersama semua yang dibawa di tangan, kecuali gawai tentu saja. Aku tahu Kak Rina sedang berbicara dengan seorang lelaki yang telah mengencaninya sejak Kak Rina duduk di bangku SMA. Aku mengenali secara samar suara dan bahasa yang Kak Rina gunakan. Tetapi kali ini, sepertinya sedang terjadi perdebatan cukup serius. Kak Rina memelankan suaranya, namun dengan penekanan, dia tak ingin aku mendengarkan pembicaraan dengan kekasihnya tersebut sepertinya.

“Tolong kasih aku waktu sebentar lagi, dong! Keadaanku lagi susah sekarang.” Alisnya mengernyit dengan nada bicara meninggi tak terkontrol adalah kebiasaan Kak Rina ketika berdebat. Mataku melirik sebisaku untuk melihat apa yang terjadi padanya.

“Terserah kamu saja. Yang jelas, aku tidak ingin kita buru-buru menikah. Jika keluarga kamu menuntut macam-macam, silakan cari saja wanita lain yang mau menikah denganmu segera.” Suaranya semakin mengeras sebelum akhirnya Kak Rina mengakhiri pembicaraan dan membanting gawainya ke atas meja. Usianya sudah lebih dari dua puluh sembilan tahun sekarang. Memang sudah sepantasnya pacarnya mengajak Kak Rina untuk segera menikah. Terlebih lagi, umur pacaran mereka sudah lebih dari tenor untuk mencicil satu unit sepeda motor. Lagi pula, mereka terlihat saling mencintai dan jarang sekali bertengkar sejauh ini. Mungkin hari ini pertama kali aku melihatnya. Aku masih diam terpaku di tempatku, tak bisa menenangkan ataupun memberi saran apa pun padanya. Kak Rina menyibak rambutnya dengan jari-jari dari depan ke belakang. Rambut hitam berkilau terurai berantakan karena ikat rambutnya entah ke mana. Dia terlihat sangat tertekan, pusing, dan entah apa lagi yang dia rasakan sampai melupakan bungkusan makanan yang sepertinya itu adalah sate ayam kesukaannya di depan gang, lengkap dengan lontong yang belum dipotong karena Kak Rina lebih suka menggigit lontong langsung dari bungkusnya yang dikupas seperti makan pisang.

Suara dialog sepasang cicak di belakang bingkai foto keluarga lusuh yang masih terpasang di ruang tengah terdengar jelas di telingaku, bergantian dengan detak jarum jam yang terus bergeser maju menyelesaikan hari. Kak Rina sudah melakukan semua aktivitas sepulang kerjanya, termasuk memberiku makan, dan pasti sudah terlelap di kamarnya yang sunyi. Aku tak bisa melihat dengan pasti pukul berapa sekarang. Yang jelas, aku juga harus segera tidur dengan harapan esok hari terjadi sebuah keajaiban untukku, atau untuk keluarga yang tersisa, hanya dua orang ini. Namun hujan mendera gelap malam begitu deras. Isi kepalaku semakin sunyi di antara riuh suara hujan menari di atas rumah tua ini, memikirkan banyak kata seandainya yang seharusnya terjadi di masa lalu hingga tak sadar kapan mataku mulai terpejam.

Sinar matahari yang menerobos sela-sela ventilasi udara tepat mengenai wajah seakan sengaja membuatku terbangun. Aku mengira-ngira lagi. Sekarang sudah pukul sembilan pagi jika dilihat dari kemiringan cahaya matahari yang tepat mengenai kelopak mataku. Tapi aku masih mendengar suara mesin cuci berputar di belakang. Kak Rina berjalan dari dapur menuju kursi makan dan menyalakan TV jika aku meraba dari suara langkah kakinya. Dia masih belum berangkat kerja. Aku berusaha mengingat apakah sekarang hari Minggu atau ada tanggal merah. Sepertinya ingatanku masih baik-baik saja. Hari ini masih hari Kamis dan tidak ada perayaan apa pun. Kenapa Kak Rina tidak pergi bekerja? Gawainya berdering. Dia berlari ke dapur lalu kembali ke ruang tengah di depan TV. Aku memasang telinga, berusaha memperhatikan dengan saksama siapa yang sedang menelepon. Suara Kak Rina yang saling bersahut dengan seorang pembawa berita di TV membuatku tak cukup jelas mendengarnya. Tetapi seolah dia sangat memahami bahwa aku ingin menguping pembicaraannya. Kak Rina mengecilkan suara TV. Lagi pula, suara di dalam telepon tidak akan terdengar jelas jika harus bersaing dengan suara TV.

“Iya, Pak. Iya, Pak. Iya, Pak.” Sekitar tiga kali atau lebih dia terus mengucapkan kata yang sama, sepertinya atasannya menelepon dan sedang menanyakan tentang pekerjaan. Tapi aku masih bertanya-tanya mengapa Kak Rina tidak masuk kerja hari ini. Tak seperti biasanya, meski hujan badai bahkan sakit pun, dia tetap berusaha untuk pergi.

“Iya, Pak, terima kasih banyak. Bukannya saya tidak tahu terima kasih dengan menolak promosi jabatan yang Bapak tawarkan. Saya hanya tidak ingin dipindahkan ke cabang, Pak. Saya ingin tetap bekerja dekat dengan rumah, Pak. Keputusan saya sudah bulat untuk mengundurkan diri dari pekerjaan ini. Terima kasih banyak sekali lagi.” Kata-katanya sangat tegas dan jelas. Aku baru saja mengetahui alasan mengapa Kak Rina tidak pergi bekerja hari ini. Dia mengundurkan diri dari pekerjaannya hanya karena tidak ingin dipindahkan ke cabang, padahal dia sedang dipromosikan. Bekerja sebagai seorang arsitek di perusahaan besar adalah mimpi masa kecilnya, bahkan coretan gambar gedung bertingkat Kak Rina yang memenuhi dinding ruang tengah sejak puluhan tahun yang lalu masih belum terhapus. Ayah sengaja tak pernah mengecat ulang dinding itu karena ia tak ingin menghapus mimpi anak gadisnya.

“Saya akan datang ke kantor minggu depan untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan terakhir saya, Pak. Sekali lagi, terima kasih banyak atas tawarannya.” Begitu kata-kata terakhirnya sebelum dia menutup telepon.

Setelah sekitar satu jam di depan TV menghabiskan makan dan bermain gawai. Kak Rina keluar-masuk kamar-ruang tengah lebih dari tiga kali, atau lima kali jika ada yang terlewat aku menghitungnya. Dia membawa tumpukan berkas lama dari dalam kamar ayah. Membukanya satu per satu seperti sedang mencari sesuatu. Setelah tumpukan kertas berserakan di atas meja, dia menelepon seseorang.

“Luas tanah kami ada tiga ratus lima puluh meter, Pak. Tempatnya juga sangat strategis. Saya ingin menjualnya dengan cepat. Jika Bapak ada waktu, kita bisa melihatnya bersama-sama.” Kak Rina sedang membicarakan tanah milik keluarga kami yang ada di desa sebelah.

“Saya menginginkan harga segitu, Pak. Terserah kalau bapak ingin menaikkan harganya. Yang jelas, uang yang akan saya terima harus seperti yang sudah saya sebutkan tadi. Bagaimana, Pak?” Sepertinya Kak Rina sedang berbicara dengan seorang makelar tanah. Apakah dia akan menjual satu-satunya warisan yang ditinggalkan ayah untuknya? Bagaimana ini? Ayah sudah melarang Kak Rina dan aku menjual tanah dan rumah ini. Kenapa Kak Rina melakukan itu? Ingin rasanya kuberlari dan merebut gawainya lalu menutup telepon. Tanah itu satu-satunya tabungan masa depan Kak Rina. Seharusnya dia tak gegabah untuk menjualnya. Seharusnya dia meminta pendapatku, atau paling tidak, bicara saja padaku karena aku tetap bisa mendengarkannya.

Setelah merapikan kembali berkas-berkas yang dia ambil, dia meninggalkan satu map di atas meja yang sepertinya adalah sertifikat tanah tersebut. Kak Rina datang mendekatiku dengan membawa handuk dan baskom, tentu saja berisi air hangat. Dia duduk di samping ranjang tempatku terkapar tak berdaya selama lebih dari enam bulan. Senyuman tipis dari bibirnya telah menggores luka berkali-kali dalam relung hatiku. Sungguh begitu tegar dia menghadapi cobaan hidup yang tak ada hentinya ini. Meski dia terus mencoba terlihat baik-baik saja, aku selalu mengerti bahwa hidup kita sedang di sisi yang paling sulit.

Delapan bulan yang lalu, aku dan kedua orang tua kami mengalami kecelakaan beruntun di sebuah jalan tol menuju Jawa Tengah. Ayah dan ibu meninggal seketika di tempat, dan aku mengalami kelumpuhan total hingga saat ini. Kak Rina terlalu mencintai pekerjaannya sehingga dia jarang sekali ikut bepergian bersama keluarga, tapi itu juga yang menyelamatkannya dari maut. Apa jadinya jika dia ikut berada di dalam mobil bersama kami? Aku benar-benar tak bisa membayangkan. Tapi kadang aku berpikir, seharusnya aku juga pergi bersama ayah dan ibu agar Kak Rina tak perlu merawatku setiap hari dan mengorbankan segala kehidupannya untuk diriku seperti ini. Bahkan sekarang dia sudah kehilangan kekasih, pekerjaan idamannya, dan sebentar lagi tanah warisan ayah yang menjadi harta satu-satunya.

“Bagaimana perasaanmu? Kakak selalu berdoa dan berharap kamu semakin pulih dan bangun. Setidaknya, ada seseorang yang bisa kakak ajak bicara untuk memutuskan banyak hal atau sekadar menemani sarapan. Kau pasti sudah mendengar semuanya, kan? Maafkan kakak telah memutuskan semuanya sendirian. Walau bagaimana pun. Kau adalah satu-satunya keluarga kakak yang tersisa. Kau adalah harta peninggalan ayah dan ibu yang sangat berharga. Dan kakak akan merelakan apa pun agar bisa terus merawatmu sampai sembuh, sampai kau bangun. Kau harus semangat dan terus berjuang. Segeralah bangun dan berjalan mengejar hidupmu yang tertinggal.” Tangan kirinya menarik lenganku dan tangan kanannya mengelap dengan handuk yang dicelupkan ke dalam air hangat. Matanya berkaca-kaca, namun air matanya enggan menetes. Dia tak ingin terlihat sedih atau putus asa di depanku. Aku paham betul itu. Usia kami hanya berjarak dua tahun dan kami dididik dengan baik hingga menjadi sangat dekat. Setelah mencelupkan kembali handuk dan memerasnya, dia berganti ke tangan kiriku, kemudian kaki, leher, dan wajahku, lalu melepaskan bajuku dan menggantinya dengan yang baru.

“Hari ini dokter akan datang jam tiga sore untuk memeriksa keadaanmu. Tabungan kakak sudah semakin menipis. Kakak harap kamu bisa mengerti mengapa kakak harus menjual tanah warisan dari ayah. Semoga ayah dan ibu juga mengerti dan memaafkan kakak. Ini demi kamu, demi kita berdua. Kita harus berjuang bersama-sama sampai akhir. Kakak tidak akan pernah meninggalkan kamu apa pun yang terjadi. Jadi, lekaslah pulih.” Kak Rina melanjutkan bicaranya dengan wajah begitu kusut. Entah kapan terakhir dia melakukan perawatan wajah dan memikirkan dirinya sendiri. Sungguh aku tak kuasa mendengarnya. Air mataku menetes untuk pertama kalinya semenjak aku terkapar di atas ranjang yang disimpan di tengah antara ruang tamu dan ruang keluarga. Aku harap itu cukup menggantikan segala bentuk ungkapan cintaku padanya dalam keheningan hatiku yang tak mampu terucap. Kak Rina mendekatkan mulutnya ke keningku lalu menciumku, tapi dia segera memalingkan wajahnya untuk menyekat air mata dan pergi membawa baskom berisi air bekas tubuhku ke dapur.

Dokter datang dan memeriksa semua keadaanku yang sama sekali tak ada kemajuan. Dia hanya terus memberi harapan padaku dan Kak Rina bahwa aku masih memiliki banyak kesempatan, bahkan untuk kembali berjalan seperti sedia kala. Tapi rasanya, harapan hanyalah sebatas harapan. Tak pernah ada yang berubah sedikit pun, selain keadaan Kak Rina yang semakin memburuk. Hidupnya hancur hanya karena seorang adik yang menyusahkan.

Matahari berganti, bulan berganti, siang berganti malam. Semerbak wangi bunga melati mengudara hingga menyusup ke dalam rumah. Gerimis pagi hari sudah pasti menggugurkan kelopak-kelopak flamboyan dan bunga-bunga ranum di halaman rumah kami yang ditanami banyak macam tumbuhan hias dan bunga-bunga. Ibu sangat menyukai berkebun dan meninggalkan taman kecil yang indah untuk kami. Di antara banyak perubahan alam yang terjadi, aku masih diam tak berdaya di atas tempat tidur. Bahkan kondisiku semakin memburuk; tubuhku menyisakan kulit yang membungkus tulang belulang.

Tak hanya aku, keadaan Kak Rina juga semakin menyedihkan. Di ulang tahunnya yang ketiga puluh, dia masih melajang dan hidup sendiri. Kekasihnya telah meninggalkan Kak Rina dan menikahi perempuan lain. Dia juga telah kehilangan pekerjaan impiannya dan beralih menjadi pengajar honorer yang gajinya tak sebanding dengan pekerjaan lamanya. Tanah warisan dari ayah juga sudah dia jual untuk kebutuhan hidup kami sehari-hari dan biaya pengobatanku yang masih terus dia lakukan. Berlibur dan bertemu dengan teman-teman sudah tak pernah dia lakukan lagi. Hidupnya hanya menyisakan aku yang menjadi beban.

Kak Rina mendekat ke tempatku berbaring dengan membawa sepotong kue ulang tahun dengan lilin menyala. Matanya berkaca-kaca, lalu terpejam meneteskan air mata. Malam ini adalah perayaan ulang tahun paling sunyi dalam hidup kami. Ibu dan ayah selalu mengadakan pesta paling meriah dengan badut sulap dan petasan, apalagi saat ulang tahun anak sulung kesayangan ayah.

“Selamat ulang tahun untukku. Aku berdoa semoga kita berdua bisa melewati cobaan ini dengan sebaik mungkin. Bangunlah.” Suara Kak Rina bergetar setelah dia membuka mata dan meniup lilin yang sudah setengah meleleh. Air mataku berderai tanpa suara isak tangis. Perayaan tetaplah perayaan. Meriah ataupun sunyi, malam ini kuanggap sebagai pesta ulang tahun Kak Rina yang ketiga puluh. Semoga suatu hari dia bisa merasakan sebuah pesta yang meriah seperti yang pernah ayah dan ibu berikan. Bahagia selalu kakakku tercinta.

Malam ini, aku mengunjungi Kak Rina dalam mimpi, berjalan mendekat seperti sedia kala dengan gagah, memeluknya sangat erat, dan memanggil namanya. Kak Rina menatap wajahku dengan pilu, kemudian menangis sejadi-jadinya. Aku berpesan padanya untuk kembali pada kehidupan yang layak yang pernah dia jalani sebelum aku sakit. Aku menginginkan kebahagiaan selalu menyertai hari-harinya. Aku ingin dia melanjutkan kehidupan kami sampai begitu jauh hingga masa depan membawanya pergi. Menemui ayah dan ibu. Dan aku yang takkan pernah terbangun lagi dari mimpi ini.

Aku melihatnya lebih tegar sekarang. Duduk tanpa bersandar pada apa pun yang ada di sekitarnya. Matanya merah lebam setelah menangisi tubuhku yang telah terbujur kaku tertutup kain batik cokelat di sebelahnya meratap. Aku akan segera bertemu ayah dan ibu. Meninggalkan Kak Rina seorang diri tanpa sisa apa pun dari kami. Semoga Kak Rina bisa meneruskan keluarga ini dengan suka cita di dalam rumah penuh kenangan ini. Semoga seorang pangeran segera datang menjemput Kak Rina-ku yang berparas menawan. Selamat tinggal, Kak! Sampai jumpa di waktu yang baik. Kami menunggumu. Kami akan membuat pesta penyambutan yang paling meriah saat kau datang nanti.

 

 

Perayaan Paling Sepi.

Hening membangunkanku dari lelapnya letih bersama riuh irama kereta api yang menenggelamkanku ke dalam mimpi yang jauh. Aku melihat jam pada layar ponsel. Baru dua jam kereta membawaku meninggalkan ibu kota. Aku tertidur sangat pulas hingga para penumpang baru berdatangan mencari nomor kursi yang tercatat di tiket yang telah mereka pesan saat kereta berlabuh di sebuah stasiun.

Perjalanan ini tanpa rencana yang panjang. Seorang laki-laki yang terlelap di depanku memutuskan hanya dalam waktu satu malam. Setelah melihatku lemah dan kesakitan karena kehamilan pertamaku ini. Dia segera memutuskan untuk membawaku ke rumahnya di Jawa Tengah. Agar ada seseorang yang mengurus dan menjaga selama kehamilanku hingga aku melahirkan nanti.

Alan menikahiku tiga bulan yang lalu, atau tepat empat bulan setelah aku kehilangan adikku tercinta, orang terakhir dalam keluarga yang menemaniku. Pertemuan kami sangatlah singkat. Dia laki-laki yang matang dan siap untuk membangun sebuah rumah tangga, sementara aku seorang perempuan yang hampir saja hancur karena ditinggal mati seluruh anggota keluarganya. Aku hampir saja putus asa dan menyusul orang tua dan saudaraku. Setelah terakhir adikku pergi karena lumpuh total akibat kecelakaan yang juga menewaskan kedua orang tuaku.

Alan adalah rekan kerjaku di perusahaan kontraktor, namun kami tak pernah saling mengenal. Dia datang ke rumah saat adikku meninggal, bersama beberapa teman-temanku tentu saja. Alan merasa iba melihat keadaanku yang mengenaskan. Dia datang lagi ke rumah setelah dua minggu sejak hari kematian adikku. Dia mengatakan segala tujuan yang telah direncanakan untuk membina sebuah rumah tangga, dan dia memilihku karena aku tak memiliki siapapun lagi di dunia ini. Hanya karena itu, hanya karena rasa iba. Alan mengatakan rasa cinta akan tumbuh karena waktu yang kita habiskan bersama-sama kelak. Aku? Tak berpikir lama tentu saja. Aku sudah tak tahu lagi ke mana arah hidupku saat itu sehingga aku menerima dan menyetujui apa yang telah direncanakan Alan tanpa berpikir panjang. Perihal masalah di depan, aku bahkan pernah mengalami masalah hidup yang paling sulit yang tak pernah terbayangkan.

Dia masih terlelap di depanku sekarang, melipat tangan kirinya untuk dijadikan bantal dan menggeser kakinya ke sudut agar kakiku bisa diluruskan. Kereta kembali melaju ke arah timur. Aku menatap sayup-sayup wajahnya yang manis dengan kulit tak begitu putih. Betapa aku sangat berterima kasih kepada Tuhan yang telah mengirimkan sosok Alan di tengah hidupku yang hampir saja melebur. Alan adalah malaikat penyelamat hidupku. Alan adalah sosok dewa yang diutus untuk menolongku. Alan adalah pelangi setelah hujan. Alan adalah musim semi yang menghangatkan sukmaku yang telah membeku. Alan adalah seorang yang memiliki diriku seutuhnya di sisa hidupku ini. Aku berjanji akan mengikuti apa pun yang dia inginkan. Aku akan mencintai dan menyerahkan seluruh hidupku padanya. Aku berjanji ke mana pun Alan pergi, aku akan ikut bersamanya. Jika kematian tiba-tiba menjemput, dia sedang bersamaku atau aku sedang bersamanya. Seperti ayah dan ibu, sungguh aku ingin seperti mereka yang pada saat dikuburkan tetap bersanding.

Puluhan tahun yang lalu, sebelum Alan datang. Hidupku adalah sebaik-baiknya hidup yang didapatkan oleh seorang anak perempuan. Aku memiliki orang tua yang memberiku kehidupan yang sangat baik. Ibu memperhatikan pertumbuhan dan kesehatanku secara detail. Ibu mendidikku menjadi seorang perempuan cantik dan kuat. Ibu selalu mengajariku cara berpenampilan dan berbicara dengan anggun. Ayah? Ayahku seorang arsitek yang sangat ahli dalam bidangnya. Dia menuntunku pada mimpi-mimpinya hingga aku menjadi sangat menyukai apa yang ayahku kerjakan. Ayah memenuhi semua kebutuhanku hingga aku tak pernah merasa kekurangan apa pun lagi. Ayah melindungiku hingga aku tak pernah merasa takut dengan apa pun di dunia ini.

Seorang adik laki-laki menyempurnakan hidupku saat itu. Dia adalah lentera yang menerangi isi rumah. Dia adalah musik yang memecah keheningan di dalam rumah. Dia adalah aku dalam wujud orang lain. Dalam perjalanan kami tumbuh, kami saling menyayangi satu sama lain hingga hidup ini terasa sangat sempurna. Bahkan setiap hari ulang tahunku, aku selalu berdoa agar orang tua dan adikku hidup sangat lama, bahkan lebih lama daripada hidupku sendiri. Aku tak pernah membayangkan bagaimana rasanya jika mereka pergi dari hidupku hingga kenyataan pahit itu datang padaku. Aku benar-benar tak ingin hidup lagi. Aku benar-benar ingin mengakhiri hidupku. Aku benar-benar merasa telah berakhir, hingga Alan datang menuntunku untuk berdiri lagi.

Usia kehamilanku enam minggu saat aku tahu aku sedang mengandung. Aku memberi hadiah kepada Alan yang telah menyelamatkan hidupku sekaligus memberi harapan baru pada hidupku yang sebelumnya seakan terlihat kelam. Alan sangat bahagia. Setiap hari dia membelai dan mencium perutku yang di dalamnya hidup sebuah masa depan yang indah. Setiap saat selalu ada kejutan untukku. Tapi kadang, aku merasa sangat pilu karena bayiku tak akan pernah melihat kakek, nenek, dan pamannya kecuali hanya dari sebuah foto keluarga usang yang kubawa ke mana pun aku pergi.

Dalam heningnya, ruang-ruang kehidupanku selalu menyeimbangkan riuh isi kepalaku tentang kehidupan anakku kelak. Sejak aku tahu aku sedang mengandungnya, aku terus menyisipkan doa-doa agar aku dan Alan bisa hidup selama mungkin agar anakku tak kesepian seperti aku. Sejak saat itu aku tak pernah lagi ingin menyusul ayah dan ibuku karena aku harus menuntun cucu mereka pada masa depan yang baik. Aku berjanji akan memberikan seluruh kebaikan dalam hidupku padanya seperti yang pernah ayah dan ibu berikan padaku. Aku berjanji dia tak akan pernah kekurangan cinta di sepanjang hidupnya. Aku berjanji, aku berjanji, dan aku berjanji. Air mataku berderai tanpa kusadari. Kehidupan ini sungguhlah memilukan, bukan?

Aku masih bergeming di tempat dudukku, di depan Alan yang masih terlelap. Aku tahu dia kurang istirahat sejak dua hari yang lalu. Aku terus merasa kesakitan, hingga dia memutuskan untuk membawaku ke rumahnya. Aku belum terlalu mengenal keluarganya dengan baik. Tapi aku yakin mereka akan baik padaku. Di dalam rumah Alan ada ibu dan ayahnya yang hampir setiap hari meneleponku dan menanyakan keadaanku semenjak aku hamil. Lalu ada adik perempuan Alan yang baru saja lulus dari sekolah kebidanan yang pastinya akan sangat membantuku. Kakak perempuan Alan dan anak laki-lakinya berumur tiga tahun juga mengisi rumah tersebut. Kata Alan, kakaknya baru saja bercerai dari seorang laki-laki yang menghabiskan semua hartanya untuk perempuan lain, hingga kakaknya memutuskan untuk kembali ke rumah. Tapi siapa pun yang ada di dalam rumahnya, aku harap mereka bisa menerima kehadiranku dan calon anakku dengan baik. Aku harap mereka bisa menjadi pengganti keluargaku yang telah pergi meski tidak benar-benar menggantikan. Semoga siapa pun yang akan hadir dalam hidupku kelak hanya membawa kebahagiaan tanpa air mata.

Seorang pramugara kereta memecah sepinya lamunanku, menawarkan bantal dan makanan. Aku membeli mi seduh dan menyewa bantal untuk Alan. Kulepaskan tangan kirinya lalu kuselipkan bantal itu perlahan agar tidurnya semakin pulas dan tangannya tak kebas karena terhimpit. Aku telah mencintai Alan karena semua kebaikan-kebaikannya. Semoga dalam menyelesaikan takdir kehidupan, dia selalu dipertemukan dengan kebaikan-kebaikan seperti apa yang selalu dia lakukan pada orang lain, terutama padaku.

Mi seduhku sudah matang setelah air panas merendamnya selama sepuluh menit. Aku menyantap mi seduh bersama seorang gadis yang duduk di sebelahku yang juga membeli mi seduh. “Makan mbak.” Katanya basa-basi menawarkan makan padaku, memulai perbincangan. Aku menjawab dengan mengangkat mangkuk mi-ku tanpa berkata-kata.

“Mau ke mana, Mbak?” Dia kembali bertanya padaku setelah suapan pertama habis di mulutnya, seakan tertarik untuk berbincang denganku.

“Solo.” Jawabku singkat setelah aku mencicipi kuah mi dalam mangkuk gelasku.

“Mbaknya sendiri mau ke mana?” Tanyaku balik padanya setelah beberapa kali kusuapkan mi ke dalam mulutku.

“Kediri mbak. Aku kuliah di Jakarta. Sekarang kan libur semester, jadi aku pulang.” Dia menjawab lebih dari apa yang kutanyakan.

Kami mulai berbincang tentang banyak hal hingga suapan terakhir mi seduh masuk ke dalam perutku. Aku jarang sekali bepergian jauh seperti adikku yang senang mengunjungi tempat-tempat baru. Biasanya aku hanya mendengar cerita dari pengalamannya saja. Hari ini aku merasakan duduk di dalam kereta ekonomi dengan kursi berhadapan. Duduk bersanding dengan orang asing dan bercerita apa saja ternyata tidak terlalu buruk. Untung saja Alan buru-buru mengajakku pulang ke rumahnya hingga kami kehabisan kursi kereta yang lebih bagus dari ini. Jika tidak, aku tak akan pernah mendapatkan pengalaman seperti sekarang.

Bukan hanya aku yang sedari tadi kesepian dalam pikiran sendiri, gadis di sampingku bernama Nur juga sedang dalam kegalauannya untuk membuat sebuah pilihan. Kuliahnya sudah menginjak semester lima dan sudah setengah perjalanannya menuju akhir. Ayah Nur yang jatuh sakit membuat perekonomian keluarga mereka menurun hingga Nur tak lagi mendapat kiriman uang dari ayahnya untuk biaya kuliah. Tak hanya itu, Ibu Nur mulai berjualan jajanan keliling untuk membiayai sekolah kedua adiknya.

Saat ini Nur dalam perjalanan pulang untuk memastikan kondisi ayah dan keadaan keluarganya. Matanya sembab ketika aku melirik ke arah wajah pucatnya. Seakan isi kepalanya tak pernah kosong dan terus dipenuhi rencana-rencana terbaik yang bisa mengubah keadaan keluarganya. Kuliahnya terancam tak selesai. Nur adalah anak pertama yang mau tak mau harus membantu keluarganya. Lagi pula, uang kuliahnya sudah menunggak beberapa bulan ini, waktu terus mendesaknya untuk segera memutuskan sesuatu yang pasti saja akan berdampak pada perjalanan hidupnya.

Semoga apa pun keputusan yang dia ambil adalah yang terbaik untuk keluarga dan dirinya sendiri. Aku tak bisa memberi masukan apa pun selain mendengarkan keluh kesahnya. Bahkan jiwaku sendiri belum sepenuhnya sembuh dari semua yang baru saja menimpa hidupku. Lagi pula, tak semua curahan hati seseorang harus berbalas dengan sebuah jalan keluar, kan? Kadang seseorang hanya ingin memuntahkan segala yang membuat sesak di dalam dada. Kadang seseorang hanya ingin ada yang mendengarkannya bercerita. Kadang seseorang hanya ingin didengarkan. Seperti Nur, bagaimana bisa dia menceritakan segala kesulitan hidupnya padaku, orang asing yang baru saja dia kenal, jika bukan untuk didengarkan? Aku mengusap-usap perutku. Dalam hatiku, aku berdoa semoga Nur selalu kuat dalam melewati takdirnya, dan aku berharap semoga anakku selalu diberi kemudahan dalam kehidupannya kelak.

Nur tertidur setelah menghabiskan makanannya. Kepalanya tersandar pada pundakku, namun kubiarkan dia terlelap dalam mimpinya, melepas segala peliknya hidup yang sedang singgah padanya sekarang. Hari menggelap seiring terus melajunya kereta yang mengantarkan kami ke stasiun tujuan masing-masing. Alan terbangun setelah beberapa jam tertidur pulas. Dia memastikan aku masih duduk di depannya dalam keadaan baik, lalu pergi ke toilet dan meminta makanan padaku.

Aku mengeluarkan beberapa roti dan susu kaleng dari kantong plastik yang kami beli di minimarket sebelum berangkat ke stasiun. Alan sangat menyukai roti olesan mentega yang ditaburi dengan cokelat. Aku sengaja tak membuka plastik yang kugantung di jendela itu karena menunggu Alan.

“Kamu nggak tidur, sayang?” Tanya Alan begitu lembut setelah kusodorkan roti dan kaleng susu yang telah kubuka.

“Sudah tadi.” Jawabku dengan senyuman terbaik yang selalu kuberikan padanya.

Perbincangan kami membangunkan pasangan di usia senja yang duduk di sebelah Alan. Padahal sejak tadi aku berbincang dengan Nur, mereka begitu lelap saling bersandar.

“Roti bu, Pak.” Alan mengambil plastik di tanganku, kemudian menyodorkannya kepada mereka. Dia mengeluarkan semua sisa makanan di dalam plastik untuk dibagikan dan dimakan bersama-sama.

“Ayo, Pak! Kita makan sama-sama…” Lanjut Alan tak menarik tangannya sebelum mereka mengambil rotinya. Dengan terpaksa, si Bapak yang duduk di sebelah Alan mengambil roti dari tangan Alan dan memberikannya kepada istrinya yang duduk di sampingnya serta anaknya di sebelah Nur.

“Kalian ini pengantin baru ya!” Kata si Bapak sambil menjuju roti ke dalam mulutnya, mengawali cengkerama kami untuk membunuh waktu.

Alan tersipu melirik padaku. Mata kami bertemu sejenak, lalu aku segera membuang pandanganku.

“Kalau Bapak dari mana mau ke mana, Pak?” Tanya Alan menghidupkan suasana malam.

“Kami dari Jakarta, nengokin anak yang merantau. Rasanya rindu sekali. Kok anak ndak pulang-pulang. Pas dikirimin uang ya udah kita nekat nyusul saja.” Jawab si bapak dengan ciri khas suara seraknya. Sementara istrinya hanya terus melempar senyum padaku.

Alan memang pandai menghangatkan suasana sekali pun dengan orang yang baru dia temui. Mereka terus berbincang, entah sampai sejauh mana. Aku tak mengikuti lagi setelah aku masuk ke ambang dunia nyata dan alam mimpi.

Perjalanan kami masih beberapa jam sampai tiba di stasiun. Suasana kian sepi hingga ke dalam isi kepalaku yang tak lagi riuh. Betapa aku baru menyadari setelah sekian lama bahwa setiap manusia yang hidup memiliki jalan takdir yang tak pernah sama dengan yang lainnya. Semua memikul beban berat sesuai kadar kekuatan masing-masing. Adikku selalu lebih tabah dariku karena dia tahu tentang itu semua. Sedangkan aku yang sebelumnya hidup dalam sibuknya duniaku sendiri baru menyadari sekarang saat aku bertemu Nur dan orang-orang dengan kisah hidup yang luar biasa. Termasuk Alan.

Saat ini, aku akan terus memperjuangkan hidupku untuk Alan dan anakku kelak. Aku akan hidup dalam mimpi-mimpi mereka hingga mimpi tersebut terwujud. Aku akan terus berada dalam doa-doa yang mereka langitkan, dan mereka akan terus kubawa sejauh takdir memberiku kehidupan. Seperti keluargaku sebelumnya yang takdir telah membawa mereka pergi. Aku, Alan, anakku, dan siapa pun yang hidup bersama kami akan menjadi satu kesatuan, saling memiliki, dan saling melengkapi.

Untuk Nur dan keluarganya, untuk keluarga yang duduk di samping Alan, dan seluruh keluarga di dunia ini. Semoga kebahagiaan selalu menyertai isi rumah kita semua. Semoga ke mana pun takdir membawa kita, kita tetap selalu saling mencintai satu sama lain.

Seorang petugas kereta api memberi peringatan melalui pengeras suara, seketika melenyapkan duniaku dalam bayangan. Aku segera menyeka air mata. Kami telah sampai di tujuan. Aku membangunkan Alan untuk bersiap-siap. Mengucapkan salam perpisahan kepada Nur dan meninggalkannya begitu saja seperti orang-orang yang meninggalkanku sebelumnya.

Kami sampai di rumah Alan setelah menempuh perjalanan setengah jam dengan taksi online. Semua orang masih terjaga menunggu kedatanganku dan calon bayi kami. Adik Alan berlari membukakan pintu dan membantuku berjalan menuju rumah sederhana yang dikelilingi kebun. Sama seperti rumah ayah dan ibu yang telah kutinggalkan.

Kedua jarum jam hampir bertemu di angka dua belas. Sudah larut malam. Ibu mertua menghampiriku di dalam kamar ketika Alan menemui ayah dan keluarganya yang lain.

“Selamat datang di rumah ini ya, nduk, Rin. Semoga kamu betah di sini. Anggap saja ini seperti rumah kamu sendiri, dan memang ini adalah rumah kamu karena kamu adalah istri Alan.” Kata ibu mertua yang mengelus perutku penuh kelembutan membuatku seketika mengingat ibuku.

“Iya, Bu, terima kasih banyak ya, Bu, sudah mau menerima Rina di sini.” Jawabku dengan mata berkaca-kaca. Ibu mertua menarik tanganku untuk duduk, lalu ia mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. Itu adalah sebuah kalung emas yang indah.

“Sini biar ibu pakaikan.” Katanya memintaku untuk berbalik badan.

“Anggap saja ini perayaan penyambutan dua keluarga baru di rumah ini sekaligus. Semoga pernikahanmu dan Alan langgeng hingga maut memisahkan. Semoga bahagia selalu.” Sungguh aku tak bisa membendung lagi air mataku mendengar wejangan seorang ibu. Sudah lama sekali ibuku meninggalkanku.

“Terima kasih banyak ya, Bu.” Kataku memeluk ibunya Alan. Kuanggap ini adalah perayaan paling sepi yang pernah kurayakan. Anggap saja begitu, kata ibu mertua. Pesta tak selalu harus ramai, bukan? Yang terpenting adalah seseorang yang merayakan kehadiran dalam pesta tersebut. Aku sudah di sini, merayakan pesta untuk segala harapan hidup yang baik di masa depan, bersama ibunya Alan yang juga ingin merayakan kehadiranku dan calon cucunya di sini.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Perayaan Paling Sunyi
Mochamad Rozikin
Cerpen
Bronze
Terima Dan Kembali Maju
Nabilla Shafira
Cerpen
Bronze
Tangis Hujan
Arsya
Cerpen
Bronze
Pelarian
Wafiqah
Cerpen
Beruntungnya
Noer Eka
Cerpen
Bronze
Enchanted
Lady Queen
Cerpen
Mbak Jamu
Siska Sekar Arum Sumulyo
Cerpen
Aku Manusia Perak
Alwi Hamida
Cerpen
Mencintai Dalam Sunyi
Hans Wysiwyg
Cerpen
1/2 Nakal & 1/2 Polos (Tetangga Ku)
muhamad fahmi fadillah
Cerpen
Bronze
Malu
Imajinasiku
Cerpen
Bronze
Warisan Dari Bapak
Shinta Larasati Hardjono
Cerpen
Sebatang Lidi
Titin Widyawati
Cerpen
Tumbuh dengan caraku
Aris Setiawan
Cerpen
Kencan Buta
Hans Wysiwyg
Rekomendasi
Cerpen
Perayaan Paling Sunyi
Mochamad Rozikin
Novel
THE WAY HOME
Mochamad Rozikin
Cerpen
Yang Kubawa ke Mandalika
Mochamad Rozikin
Novel
Juli Selepas Senja
Mochamad Rozikin
Cerpen
Yang Kutinggalkan di Mengwi
Mochamad Rozikin
Cerpen
Rangkaian Duka Cita
Mochamad Rozikin
Cerpen
Surat Yang Tak Pernah Selesai Ditulis
Mochamad Rozikin
Cerpen
Yang Kau Tinggalkan Saat Pergi
Mochamad Rozikin
Novel
Biru
Mochamad Rozikin
Cerpen
Luka-luka Yang Disembuhkan Dari Perjalanan
Mochamad Rozikin
Cerpen
Tumbuh dari Patahan
Mochamad Rozikin
Cerpen
Di Antara Luka Kehilangan
Mochamad Rozikin