Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Komedi
Perang Dingin Melawan Mbak Google
1
Suka
351
Dibaca

Minggu pagi yang indah, tenang, dan damai. jiwaku yang introvert tapi mendadak adventurous karena kebanyakan nonton My Trip My Adventure, ketenangan ini membosankan.

Aku butuh tantangan. Aku butuh adrenalin. Aku menatap motor kesayanganku, "Si Belalang Asma". Sebuah motor bebek keluaran tahun jebot yang getaran mesinnya bisa merontokkan karang gigi tanpa perlu ke dokter gigi.

"Lang," kataku pada motor itu sambil mengelus spionnya yang sudah retak seribu (estetik, katanya). "Hari ini kita tidak akan lewat jalan biasa, kita akan mencari Hidden Gem. Kita akan mencari surga tersembunyi yang belum terjamah manusia, dinas pariwisata, apalagi influencer."

Aku mengeluarkan HP. Membuka aplikasi Google Maps. Tujuanku random: Sebuah curug (air terjun) antah-berantah di lereng selatan Gunung Slamet yang ratingnya di Google Maps cuma 3,5. Review-nya pun mencurigakan: "Tempat bagus, tapi akses jalan hanya untuk yang beriman kuat."

Aku menekan tombol Start. Suara Mbak Google yang datar dan tanpa emosi terdengar: "Head northwest toward Jalan Jenderal Soedirman..."

"Ah, berisik," gumamku. Aku melihat ada dua opsi rute.

  1. Jalur Biru (Rute Utama): Lewat jalan aspal besar, waktu tempuh 45 menit. Aman, nyaman, membosankan.
  2. Jalur Abu-abu (Rute Alternatif): Lewat garis-garis tipis yang membelah sawah dan hutan, waktu tempuh tertulis "Similar ETA".

Sebagai pria yang merasa memiliki darah Christopher Columbus bercampur Dora The Explorer, aku memilih opsi ketiga yang tidak ada di layar: Jalur Tikus Improvisasi.

"Mbak Google," kataku pada HP yang kujepit di holder stang. "Kamu itu robot. Kamu mainnya logika, aku ini manusia, punya intuisi, kita lewat jalan pintas!"

Aku memutar gas. Si Belalang Asma batuk-batuk sedikit sebelum melaju. Aku meninggalkan jalan aspal Purwokerto yang mulus, berbelok tajam ke sebuah gang kecil di daerah Baturraden yang lebarnya hanya cukup untuk satu motor dan setengah badan kucing.

Di sinilah petaka itu dimulai.

Lima menit pertama, aku merasa jenius. Jalanan kampung ini sepi, udaranya sejuk, pemandangannya sawah hijau membentang. Aku merasa seperti bintang video klip lagu indie. Angin menerpa wajahku yang (merasa) tampan di balik helm full-face murah.

Namun, Mbak Google mulai rewel. "Turn left," katanya. Aku melihat ke kiri. Itu jalan aspal bagus. Aku melihat lurus. Itu jalan cor-coran semen yang menanjak curam menembus hutan pinus. "Nggak. Lurus lebih cepet. Liat tuh, garisnya motong kompas," bantahku. Aku gas lurus.

"Rerouting..." kata Mbak Google. Nada suaranya terdengar seperti guru TK yang sabar menghadapi murid yang makan lem kertas. "Make a U-turn when possible."

"Nggak mau... Puter balik itu tanda menyerah!!" teriakku melawan angin. Aku terus melaju. Jalanan cor semen mulai habis, berganti menjadi jalan makadam (batu-batu kali yang disusun sembarangan oleh kuli bangunan yang mungkin sedang sakit hati).

Gluduk... gluduk... kletak... Si Belalang Asma mulai protes. Shockbreaker-nya yang sudah mati membuat setiap guncangan langsung dihantarkan ke tulang ekorku. Rasanya seperti dipijat oleh Hulk yang sedang emosi. Ginjal dan usus besarku seperti sedang dikocok dalam blender.

"In 200 meters, turn right," perintah Mbak Google lagi. Aku melihat ke kanan. Itu bukan jalan. Itu pematang sawah. "Gila kamu ya, Mbak? Itu jalan buat cacing, bukan buat motor!" Aku tetap lurus.

"Rerouting..." Kali ini ada jeda lama. Aku membayangkan di server Google sana, algoritma Mbak Google sedang merokok kretek sambil memijat pelipisnya, frustrasi melihat titik GPS-ku yang bergerak liar menjauhi peradaban.

Jalanan semakin menyempit. Kiri tebing tanah liat, kanan jurang yang ditumbuhi pohon bambu rimbun. Sinar matahari mulai terhalang. Suasana berubah dari "Video Klip Indie" menjadi "Film Horor Suzanna".

Tiba-tiba, di depan ada pertigaan tanpa petunjuk arah. Kiri: Jalan tanah becek. Kanan: Jalan berbatu tajam menanjak 45 derajat. Aku berhenti. Membuka helm. Mengambil HP. Sinyal: E (Edge). Satu bar. Kembang kempis seperti nyawa ikan di darat.

"Mbak Google? Halo?" Layar loading berputar-putar. Lalu muncul suara putus-putus: "Ter... terus... lurus... menuju... kebinasaan..." (Oke, itu imajinasiku. Aslinya dia cuma bilang "Continue straight").

Aku memilih kanan. Alasannya sederhana: Karena di kiri ada seekor soang (angsa) raksasa yang sedang berdiri berkacak pinggang dan menatapku dengan tatapan pembunuh berdarah dingin. Aku lebih takut soang daripada tanjakan maut.

Keputusanku mengambil jalur kanan adalah kesalahan terbesar dalam sejarah hidupku setelah keputusan memotong poni sendiri saat pandemi.

Tanjakan itu bukan tanjakan biasa. Itu adalah tembok vertikal yang disamarkan sebagai jalan. Kemiringannya mungkin sekitar 70 derajat. Kalau aku berhenti di tengah, aku pasti akan menggelinding ke bawah sampai ke inti bumi.

Aku oper gigi ke 1. Si Belalang Asma menderu. NGUUUUUUUUUUUUUUUNNNGGGGG.... Suaranya bukan lagi suara motor, tapi suara teriakan minta tolong. Knalpotnya mengepulkan asap hitam pekat, tanda pembakaran tidak sempurna (sama seperti otakku saat ini).

Setengah jalan, motor mulai kehilangan tenaga. Kecepatan: 5 km/jam. 4 km/jam. 2 km/jam. Hampir berhenti.

Aku panik. Kalau berhenti, aku jatuh ke jurang bambu. Akhirnya, aku melakukan teknik terlarang: Teknik Kaki Mendayung. Kedua kakiku turun ke tanah, ikut mendayung sekuat tenaga membantu mesin motor. "AYO LANG! KAMU BISA! JANGAN MEMALUKAN PABRIKAN JEPANG!" teriakku menyemangati benda mati.

Keringat bercucuran sebesar biji jagung. Betisku kram. Jantungku berdetak di tenggorokan. Tiba-tiba, dari arah berlawanan (turunan), lewat seorang Bapak-bapak tua naik sepeda onthel. Dia membawa rumput gajah segunung di boncengannya. Dia turun dengan santai, satu tangan memegang stang, satu tangan memegang rokok klobot. Wajahnya datar, tanpa helm, tanpa jaket touring.

Dia menatapku, seorang pemuda dengan outfit lengkap ala rider tapi motornya ngeden dan kakinya mendayung-dayung putus asa. "Monggo, Mas..." sapanya halus sambil lewat. "Nggih, Pak..." jawabku dengan napas tersengal hampir pingsan.

Harga diriku hancur lebur. Bapak itu turun dengan gaya gravitasi. Aku naik dengan gaya depresi.

Sampai di puncak tanjakan, aku berhenti. Napas Si Belalang Asma bau gosong. Bau kampas kopling yang terpanggang. Aku mengecek HP lagi. Mbak Google tiba-tiba bersuara riang: "You are on the fastest route."

"FASTEST NDASMU!" teriakku pada layar HP. "Ini bukan rute tercepat! Ini rute mendekatkan diri kepada Tuhan!"

 

Setelah tanjakan neraka, aku pikir penderitaan selesai. Ternyata itu baru appetizer. Main course-nya adalah Hutan Bambu.

Jalanan yang tadinya berbatu sekarang berubah menjadi tanah liat basah yang licinnya ngalahin lantai masjid abis dipel. Ban motorku yang semi-slick (baca: botak karena nggak punya duit ganti) menari-nari indah seperti penari balet mabuk.

Srett... srett... gubrak! Aku jatuh ke kiri. Spion kiriku patah. Aku bangun, mendirikan motor. Jalan lagi 5 meter. Srett... srett... gubrak! Jatuh ke kanan. Spion kananku patah. Sekarang motorku jadi motor balap aerodinamis tanpa spion.

Aku berlumuran lumpur. Celana jeans high-end (beli di pasar Wage) yang kupakai sekarang warnanya coklat abstrak. Di tengah hutan bambu yang sunyi itu, terdengar suara kresek-kresek. Pikiranku langsung traveling. Macan? Babi hutan? Kuntilanak yang lagi nyari wifi?

Ternyata seekor monyet. Dia duduk di dahan pohon, menatapku, lalu... dia melempar kulit pisang ke arahku. Demi Tuhan, ini beneran terjadi (atau mungkin aku halusinasi karena dehidrasi). Monyet itu seolah berkata: "Mampus lu, manusia sok tau."

Aku melanjutkan perjalanan dengan mental yang sudah di ambang batas kewarasan. Tiba-tiba jalan buntu. Benar-benar buntu. Di depan ada gerbang bambu yang dipalang. Di balik gerbang itu bukan jalan, tapi kebun singkong milik warga.

Aku cek Google Maps lagi. Panah biruku menunjuk lurus menembus kebun singkong itu. "Continue straight for 500 meters," kata Mbak Google. "Lewat mana, Maemunah?! Itu singkong orang! Masa aku harus trabas ladang orang? Nanti dikira hama babi ngepet!"

Aku melihat sekeliling. Tidak ada jalan lain. Kecuali... jalan setapak super kecil di pinggir jurang yang lebarnya cuma 30 cm. Itu bukan jalan motor. Itu jalan tikus beneran. Tikus pun mungkin mikir dua kali lewat situ.

Tapi karena putar balik berarti harus melewati tanjakan maut (yang sekarang jadi turunan maut) dan lumpur tadi, aku memilih nekat. "Bismillah, Skill Valentino Rossi mode on."

Aku menuntun motor melewati jalan setapak itu. Satu langkah salah, aku dan motor terjun bebas ke sungai berbatu di bawah sana. Napasku tertahan. Keringat dingin mengucur di celana dalam. Ban belakangku sempat tergelincir, menggantung di bibir jurang. "AAAAKKKKHHH!!!" teriakku (dalam hati, biar nggak malu sama monyet tadi). Aku menarik behel belakang motor sekuat tenaga manusia purba. Urat leherku mau putus. Berhasil. Motor kembali ke tanah. Aku lemas. Aku duduk di tanah, memeluk ban motor yang penuh lumpur. "Aku mau pulang... Aku kangen kasur... Aku kangen Ibu..."

Setelah dua jam (yang terasa seperti dua abad) bergelut dengan lumpur, tanjakan, dan monyet bully, akhirnya aku melihat aspal. ASPAL! Benda hitam, keras, dan datar itu terlihat lebih indah daripada emas permata. Aku ingin sujud sukur mencium aspal itu, tapi aspalnya panas.

Mbak Google bersuara lagi: "Your destination is on the right."

Aku menengok ke kanan. Sesuai titik di peta. Inilah "Surga Tersembunyi" itu. Apa yang kulihat? Apakah air terjun megah dengan bidadari yang sedang mandi? Apakah pemandangan alam yang instagramable?

Bukan. Yang ada di depanku adalah Kuburan Desa. Ya. Tempat Pemakaman Umum. Di gerbangnya ada tulisan pudar: "TPU Desa Suka Maju (Mundurnya Susah)".

Aku mengecek HP. Memastikan aku tidak salah input. Ternyata titik "Curug Indah" yang kutuju ada di belakang kuburan ini. Jauh di bawah jurang di belakang makam. Dan tidak ada jalan turun. Satu-satunya cara ke sana adalah dengan melompat dari tebing kuburan, yang mana akan membuatku langsung menjadi penghuni tetap TPU tersebut.

"Jadi..." gumamku hampa. "Perjuangan dua jam... Hampir mati di tanjakan... Dihina monyet... Spion patah... Celana penuh lumpur... Cuma buat nyampe ke kuburan?"

Ini sangat filosofis. Mungkin Tuhan ingin mengingatkan, seberapapun jauh dan sulitnya perjalanan hidup, ujung-ujungnya ya ke kuburan juga. Tapi nggak gini juga caranya, Tuhan! Aku belum kawin!

Aku duduk di pos ronda dekat kuburan. Seorang warga lokal, Mbah-mbah yang sedang ngarit rumput, menghampiriku. "Mas, ngapain di sini? Mau ziarah?" tanyanya dalam bahasa Jawa krama inggil. "Enggak Mbah. Saya tersesat. Ini bener jalan ke Curug?" Si Mbah tertawa. Giginya tinggal dua, tapi tawanya renyah. "Oalah Mas, Mas. Curug itu udah tutup lima tahun lalu karena longsor. Jalannya udah ilang. Sampeyan ngikutin HP ya?"

JLEB. Tutup lima tahun lalu. Longsor. Google Maps sialan. Dia memberiku rute ke tempat yang sudah tidak eksis.

"Terus kalau mau balik ke Purwokerto lewat mana Mbah? Jangan bilang lewat jalan tadi," tanyaku memelas. "Lho, itu lurus dikit, belok kiri, udah jalan raya besar. Paling 15 menit sampe alun-alun."

Mataku melotot. "Lima belas menit?" "Iya. Jalannya aspal mulus. Masnya tadi lewat mana emang?" "Lewat... jalur penderitaan, Mbah."

Ternyata, selama ini ada jalan aspal mulus yang memutar sedikit tapi nyaman. Tapi karena aku sok ide minta "jalan tikus" dan menolak "jalur biru" dari awal, Google Maps (atau karmaku sendiri) membawaku memutari gunung, menembus hutan, hanya untuk sampai di titik yang sebenarnya dekat.

Aku menyalakan motor. Si Belalang Asma suaranya makin kasar, kayak orang batuk berdahak. Aku mengikuti petunjuk Si Mbah. Benar saja. Dua ratus meter dari kuburan, jalan aspal lebar terbentang. Aku merasa bodoh. Level kebodohanku hari ini sudah off the charts.

Tapi tunggu, kesialan belum berakhir. Semesta belum puas tertawa. Baru jalan 1 km di aspal mulus, motor tiba-tiba brebet. Pus... pus... pyaar! Mesin mati. Aku menepi. Mengecek tangki bensin. Kering. Kerontang. Saharanya Afrika kalah kering sama tangki motorku. Perjuangan di tanjakan maut tadi rupanya menyedot bensin lebih banyak daripada mobil F1.

Aku melihat sekeliling. Sawah. Hutan. Tidak ada Pertamini. Tidak ada penjual bensin eceran. Aku mengecek HP untuk cari pom bensin terdekat. Layar HP gelap. Baterai habis.

Lengkap sudah.

  1. Tersesat di kuburan.
  2. Motor rusak (spion patah, shockbreaker wasalam).
  3. Baju penuh lumpur.
  4. Bensin habis.
  5. HP mati.
  6. Dompet... (aku merogoh saku). Dompetku tertinggal di laci meja kamar.

Aku berdiri di pinggir jalan raya yang sepi. Matahari mulai terbenam, menyisakan warna oranye yang mengejek. Angin sore berhembus dingin menusuk tulang. Aku menatap Si Belalang Asma. Dia menatapku balik dengan lampu depannya yang redup. "Maafin aku, Lang. Aku janji nggak akan sok ide lagi."

Akhirnya, aku melakukan satu-satunya hal yang bisa dilakukan oleh pria sejati dalam kondisi seperti ini: Aku menuntun motor. Menuntun motor sejauh 5 km menuju peradaban terdekat. Setiap langkah adalah penyesalan. Setiap putaran roda adalah hukuman.

Di tengah jalan, sebuah mobil Alphard hitam lewat pelan. Kaca jendelanya terbuka. Di dalamnya, ada anak kecil menunjuk ke arahku. "Ma, liat itu om-om kasian banget ya. Kayak orang gila baru main lumpur." Ibunya menjawab, "Hush, jangan ditunjuk. Makanya kamu belajar yang pinter, biar gedenya nggak kayak gitu." Kaca jendela ditutup. Mobil itu melaju, menyipratkan genangan air sisa hujan tepat ke wajahku.

Aku berdiri diam. Air comberan menetes dari hidungku. Aku tersenyum. Senyum orang yang sudah putus urat malunya.

"Mbak Google..." bisikku pada HP yang mati di saku. "Kamu menang. Kamu menang mutlak."

Hari itu aku belajar sebuah pelajaran hidup yang sangat berharga: Terkadang, jalan pintas adalah jalan tercepat menuju kesengsaraan. Dan kalau Google Maps bilang "Lewat jalan biru", turutilah, wahai manusia yang lemah. Jangan sok jadi Ninja Hatori mendaki gunung lewati lembah kalau motor lu cuma Honda Supra yang cicilannya belum lunas.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Komedi
Cerpen
Perang Dingin Melawan Mbak Google
cahyo laras
Cerpen
Bronze
pak m pengusung nomor di Jordan188
Jordan188
Flash
Kampung Suka Salah
Penulis N
Flash
VIRAL! SEKOLAH TERAPKAN TIDUR SIANG BERBALUT KAIN KAFAN UNTUK SISWA. KEPALA SEKOLAH: SUDAH WAKTUNYA ANAK-ANAK MEMIKIRKAN MASA DEPAN.
Ade Anugrah
Komik
Lelaki Koin
Ockto Baringbing
Cerpen
Hari-hari Sial buat Linda
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Bronze
Sebuah Cinta dan pesan yang tidak pernah dibalas
Ron Nee Soo
Cerpen
Strange Day
129_
Cerpen
Mancing gaya. Ikan Raya
Bang Jay
Flash
Bronze
Taruhan
Faizah Salsabila
Komik
Bronze
HIRO
Ady Setiiawan
Komik
Gold
Si Jenaka Nasrudin
Kwikku Creator
Flash
Menjadi Gagal Pun Masih Gagal
T. Filla
Komik
Gold
KOMIK RETJEH
Kwikku Creator
Cerpen
Celana Pensil
Astromancer
Rekomendasi
Cerpen
Perang Dingin Melawan Mbak Google
cahyo laras
Cerpen
Senjata Biologis Buatan Gebetan
cahyo laras
Cerpen
Percaya Mitos Yang Kurang Lengkap
cahyo laras
Cerpen
Tragedi Salah Makam
cahyo laras
Cerpen
Angkat Galon 12 Lantai
cahyo laras
Cerpen
Me Vs Trio Mokondo Sok Kaya
cahyo laras
Cerpen
Pitak Di Kepala Suami
cahyo laras
Cerpen
Dituduh Penculik
cahyo laras
Cerpen
Pencitraan Di Depan Mertua
cahyo laras
Cerpen
Jangan Ge-Er, Dia gitu ke semua orang
cahyo laras
Cerpen
Mission Impossible : Protocol Cepirit
cahyo laras
Cerpen
Butuh Healing gara gara Healing
cahyo laras
Cerpen
Belajar Nyetir
cahyo laras
Cerpen
Kossan Angker vs Tekanan Finansial
cahyo laras
Cerpen
Celana Sobek Di Kondangan
cahyo laras