Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Sejarah
Penjarahan Pejuang
1
Suka
1,910
Dibaca

Lonceng tua memekik seperti jerit luka yang dipaksakan tenang. Tanda belajar telah usai. Di ruang kelas, aku merapikan sisa-sisa kesabaran yang tertinggal di antara buku catatan dan kapur yang usang.

Murid-murid bubar, berjalan pulang seperti biasa: riang, tergesa, atau biasa saja. Sementara aku melangkah menuju beranda, langkahku terantuk pada diam yang tidak biasa.

Ia duduk di sudut halaman, di bawah bayang pohon ketapang yang tak pernah benar-benar teduh.

Tubuh kecil itu memeluk lututnya sendiri, seperti hendak menyembunyikan luka dari dunia yang terlalu ramai untuk peduli.

Aku mendekat. Dunia seperti menahan napas.

"Nak… kenapa belum pulang?"

tanyaku lirih, seolah takut mengganggu duka yang belum selesai.

Ia menoleh. Wajahnya basah oleh air mata yang tak bisa dibendung, seperti bendungan kejujuran yang jebol di tengah kota para pembohong.

"Pak…" suaranya terputus-putus,

"Kenapa semua orang jahat padaku? Aku salah apa?"

Tangisnya bukan sekadar sedih. Itu jerit batin seorang anak yang baru saja dihadang kenyataan:

bahwa kejujuran tak selalu menang, dan keberhasilan bisa dirampok, bahkan sebelum sempat dirayakan.

"Aku menang lomba menulis, Pak… di media sosial. Namaku diumumkan, aku bahagia. Tapi tak lama, akunku hilang.

Dilaporkan. Dihujat. Dituduh curang. Akun-akun palsu bermunculan, mengaku sebagai aku. Semua jadi abu. Hadiah menguap. Pengakuan pun dipelintir. Mereka… menjatuhkanku, Pak…"

Ia menggigil, bukan karena dingin, tapi karena dunia yang tak adil sudah terlalu dini menggigit kulit tipisnya.

Aku mendekapnya. Tak banyak kata bisa menghapus luka serupa ini. Tapi pelukan, mungkin, bisa menjadi jeda kecil sebelum ia kembali berjuang.

“Nak… itu hakmu. Kebenaran memang sering dibungkam, tapi layak diperjuangkan. Bapak akan bantu semampu bapak. Jangan biarkan penjarah mengakhiri jalanmu.”

**

Aku menatap langit. Kosong. Atau terlalu penuh. Di negeri ini, matahari pun sering tak adil: hanya menyinari mereka yang punya jendela besar.

Iri telah menjadi ibadah baru. Dengki dijadikan mata kuliah wajib sejak usia dini. Mereka tak mampu menang, tapi enggan melihat orang lain berhasil.

Maka dilaporkannya prestasi, dihujatnya bakat, dibakar habis nasib baik orang lain—seolah keberuntungan hanya sah dimiliki oleh mereka yang bersuara paling nyaring, walau batinnya busuk.

Sudah banyak anak ditumbangkan sebelum sempat berdiri. Bukan karena tak cerdas, tapi karena terlalu jujur di tengah pasar tipu daya.

Ada yang gagal beasiswa karena fitnah, ada yang dicoret karena "tidak cocok citra", ada yang dibungkam karena tak bisa diajak bersandiwara.

Dan seperti biasa, kita semua tahu, tapi memilih bungkam. Mungkin karena kita takut jadi korban berikutnya. Atau karena kita sedang ikut mengantri giliran merampas impian orang lain.

Penjarah tak selalu datang membawa senjata. Kadang, ia hadir dengan akun palsu, mulut manis, dan jempol yang gemar membunuh reputasi.

Yang mereka benci bukan kamu, tapi keberhasilanmu. Karena cerminmu terlalu jujur, memantulkan betapa kecilnya mereka. Dan karena mereka tak mau tumbuh, mereka ingin kamu juga layu.

Tapi jangan tunduk, Nak.

Karena di negeri yang penuh penjarah, keberanian adalah satu-satunya cara agar kejujuran tak punah.

*****

Epilog:

Ia akhirnya pulang. Bukan karena luka telah sembuh, tapi karena tangis tak bisa selamanya ditinggal di halaman sekolah.

Dunia menuntut kita tetap berjalan, meski kaki terseret-seret oleh kecewa.

Besok, mungkin ia akan kembali tersenyum, entah karena lupa atau karena terpaksa. Anak-anak memang sering diajari cara menyembunyikan luka lebih dulu ketimbang menyembuhkan.

Sementara itu, penjarah-penjarah kecil itu terus tumbuh besar, diberi panggung, dibayar tawa, disanjung oleh sesama perampas makna.

Mereka bukan pengecualian, mereka sistem. Dan sistem tak bisa ditangisi, hanya bisa dilalui—atau dilawan, dengan risiko dilumat habis.

Dan aku? Aku guru. Bukan dewa. Tak bisa menyelamatkan semuanya. Tapi aku tahu satu hal:

Negeri ini sedang hamil tua dengan kebusukan, dan kelahirannya akan terus melahirkan duka baru yang diberi nama “biasa saja”.

Kita sedang menua di antara reruntuhan yang dipoles menjadi prestasi. Kita sedang hidup di tengah parade kemenangan yang dibangun di atas jasad harapan orang lain.

Tak perlu berharap.

Karena di sini, kejujuran memang lahir prematur—dan sering tak sempat tumbuh dewasa.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Sejarah
Cerpen
Kopi Peradaban
Temu Sunyi
Cerpen
Penjarahan Pejuang
Temu Sunyi
Cerpen
Hari Ketujuh Belas di Padang Kurusetra
Suryawan W.P
Novel
Gold
Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto
Mizan Publishing
Flash
Bronze
Melek Dong!
Reyan Bewinda
Flash
Bronze
#2. Langit Berbintang dan Rasa Takdir
Tourtaleslights
Novel
Setelah 1999
Pintu Belakang
Flash
Asal Usul Wingko Babat
d Curly Author
Cerpen
Anak Siapa Kau?
Adinda Amalia
Novel
Gold
Fields of Blood
Mizan Publishing
Flash
Bronze
Mengukir Mesir Di 3150 Sebelum Masehi
Erena Agapi
Flash
Jangan Menungguku
Laila NF
Novel
Bronze
EMPAT JEJAK DI KYOTO Kunci Amaterasu dan Takdir Dua Dunia
Mochammad Ikhsan Maulana
Flash
Lycoris Radiata
Rein
Novel
Pondok Kecil di Lembah Celosia
Rafael Yanuar
Rekomendasi
Cerpen
Kopi Peradaban
Temu Sunyi
Cerpen
Penjarahan Pejuang
Temu Sunyi
Novel
Bronze
Kenangan Yang Terbenam
Temu Sunyi
Novel
Tubuhku Tak Salah, Tapi Dunia Menghakimi
Temu Sunyi
Novel
Pelita Luka Menanti Senja
Temu Sunyi
Novel
Anak Diujung Pelukan
Temu Sunyi
Cerpen
Tangan Kasar Pendidik
Temu Sunyi
Cerpen
Pencari Kursi Suapan
Temu Sunyi
Cerpen
Takdir Dari Rahim
Temu Sunyi
Novel
Bersalah Sebelum Bernapas
Temu Sunyi
Novel
Bronze
Keheningan Ditikam Jeruji
Temu Sunyi
Cerpen
Pembisuan Sang Orator
Temu Sunyi
Cerpen
Parade Para Domba
Temu Sunyi
Novel
Malam Yang Menghapus Nama
Temu Sunyi
Novel
Langit Menolak Jelita
Temu Sunyi