Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Penjaga Mimpi
0
Suka
14
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Revan mendapatkan pekerjaan itu dari sebuah iklan yang seharusnya tidak pernah muncul.

Tidak ada logo perusahaan.

Tidak ada nomor telepon.

Hanya sebuah halaman hitam dengan tulisan putih di tengahnya.

DIBUTUHKAN PENJAGA MIMPI.

Jam kerja: 22.00 – 05.00

Pekerjaan: Memastikan mimpi klien berjalan dengan aman.

Gaji: Dibayar setiap pagi.

Di bagian paling bawah hanya ada satu kalimat:

Jika Anda melihat iklan ini, berarti Anda memenuhi syarat.

Revan awalnya mengira itu lelucon internet. Atau mungkin iklan rekrutmen dari perusahaan yang terlalu kreatif mencari karyawan. Tapi malam berikutnya, iklan yang sama muncul lagi.

Di laptop.

Di ponselnya.

Bahkan di layar mesin ATM ketika ia sedang mengambil uang.

Anehnya, setiap kali ia mencoba memotret layar tersebut, tulisan itu menghilang.

Akhirnya, karena penasaran sekaligus sedang butuh uang, Revan menekan tombol LAMAR.

Tidak ada formulir.

Tidak ada wawancara.

Hanya sebuah alamat yang muncul selama tiga detik sebelum menghilang.

Dan sebuah pesan:

Datang pukul 21.45. Jangan terlambat. Jangan membawa siapa pun.

***

Revan tetap datang. Dan sejak malam pertama, ia tahu bahwa pekerjaan itu benar-benar nyata.

Gedung tempat Revan bekerja tidak memiliki nama. Dari luar, bangunannya terlihat seperti kantor tua yang sudah lama ditinggalkan. Tidak ada papan perusahaan. Tidak ada lampu di lantai atas. Bahkan satpam pun tidak terlihat. Namun begitu Revan masuk melalui pintu besi di lantai dasar, suasananya berubah.

Lorong panjang membentang tanpa ujung.

Lampu-lampu kecil menyala di sepanjang dinding, berwarna biru pucat.

Tidak ada suara manusia.

Hanya suara mesin yang berdengung pelan dari balik dinding.

Di ujung lorong terdapat sebuah ruangan dengan pintu kaca. Di dalamnya hanya ada satu kursi.

Satu meja.

Satu monitor.

Dan sebuah mesin berbentuk seperti helm dengan kabel-kabel tipis yang menjuntai ke belakangnya.

Seorang perempuan sudah menunggu di sana. Rambutnya diikat sederhana. Wajahnya terlihat tenang, tetapi matanya seperti seseorang yang sudah terlalu lama tidak tidur.

“Revan?”

“Iya.”

“Aku Nina.”

Perempuan itu tidak menjabat tangannya. Ia hanya menunjuk kursi. “Duduk.”

Revan menurut.

Nina mengambil helm tersebut dan memeriksa kabelnya satu per satu.

“Pekerjaanmu sederhana.”

“Menjaga mimpi?”

Nina menatapnya. “Lebih tepatnya, menjaga pemimpi.”

Revan tertawa kecil. “Bedanya?”

“Banyak.” Nina memasangkan alat itu di kepalanya.

Layar di depan mereka menyala. Puluhan nama muncul. Setiap nama memiliki grafik yang berbeda-beda. Ada yang berwarna hijau. Ada yang kuning. Ada yang merah. Dan beberapa hanya berupa garis tipis yang hampir tidak terlihat.

“Setiap orang punya mimpi yang berbeda. Ada yang indah. Ada yang buruk. Ada yang bahkan tidak masuk akal,” kata Nina.

“Kalau mimpi buruk?”

“Kamu boleh mengubahnya.”

“Bebas?”

“Tidak.”

Nina menatapnya serius. “Kamu tidak boleh mengubah alasan seseorang bermimpi.”

Revan mengernyit. “Bedanya apa?”

“Kamu boleh menghilangkan monster.” Nina menunjuk layar. “Tapi kamu tidak boleh menghilangkan kenapa orang itu takut pada monster tersebut.”

Kalimat itu membuat Revan terdiam. Untuk pertama kalinya, pekerjaan tersebut terdengar jauh lebih serius daripada yang ia bayangkan.

***

Malam pertama Revan masuk ke mimpi seorang anak kecil berusia tujuh tahun. Anak itu bermimpi menjadi astronot. Ia melayang di antara planet-planet yang terbuat dari permen.

Pukul 05.00 tepat, Revan terbangun.

Di meja, sudah ada amplop berisi uang. Revan membukanya. Jumlahnya lebih besar daripada gaji bulanannya.

Ia menatap Nina. “Ini serius?”

Nina sedang membuat kopi. “Sayangnya.”

Revan tertawa. “Kalau begitu, aku kerja di sini sampai tua.”

Nina tidak tertawa. “Jangan terlalu cepat membuat janji.”

***

Malam berikutnya, seorang pria bermimpi kembali ke restoran tempat ia pertama kali bertemu istrinya.

Malam berikutnya lagi, seorang wanita bermimpi menjadi penyanyi di hadapan ribuan orang.

Pekerjaan itu menyenangkan.

Setidaknya sampai malam ke-17.

Malam itu, sistem memberinya satu nama.

MIRA.

Revan mengernyit. Ia membuka profilnya.

Usia: 19 tahun.

Status: koma.

Durasi tidak sadar: 743 hari.

Risiko: tinggi.

Revan menatap layar. “Orang koma bisa bermimpi?”

Nina menjawab dari belakangnya. “Selama otaknya masih aktif, seseorang masih bisa bermimpi.”

“Lalu kenapa risikonya tinggi?”

Nina diam. Kemudian berkata: “Karena orang yang terlalu lama tinggal di dalam mimpi bisa lupa bahwa dunia nyata masih ada.”

***

Begitu Revan memasuki mimpi Mira, awalnya gelap.

Gelap yang begitu pekat sampai Revan tidak bisa membedakan mana atas, mana bawah. Tidak ada lantai di bawah kakinya. Tidak ada langit di atas kepalanya. Bahkan suara napasnya sendiri terdengar seperti datang dari tempat yang jauh.

Lalu— TIK.

Satu lampu menyala.

TIK.

Lampu kedua menyusul.

Kemudian satu demi satu lampu di sepanjang peron menyala, membentuk garis cahaya yang memanjang ke kejauhan. Revan perlahan melihat sekeliling.

Tidak ada kota.

Tidak ada gedung.

Tidak ada rumah.

Tidak ada jalan.

Tidak ada suara kendaraan.

Tidak ada manusia lain.

Hanya sebuah stasiun kecil yang berdiri sendirian di tengah ruang kosong.

Di atas bangunan stasiun itu terdapat sebuah papan nama tua. Tulisan di atasnya berwarna putih, sedikit pudar, tetapi masih bisa dibaca dengan jelas.

STASIUN SENJA

Revan melangkah maju. Sepatunya menyentuh lantai peron dengan suara pelan.

Tok.

Tok.

Tok.

Semakin jauh ia berjalan, semakin jelas suara angin terdengar.

Aneh.

Karena tidak ada tempat lain di sekitar stasiun itu. Hanya hamparan kosong. Namun anginnya terasa nyata. Dingin.

Revan melihat jam besar di atas peron. Jarumnya menunjuk angka: 18.17

Ia menunggu beberapa detik.

Tidak bergerak.

Satu menit.

Tetap sama.

Lima menit.

Masih sama.

Revan mengangkat alis. “Jamnya rusak?”

Dari kejauhan terdengar suara seorang gadis. “Bukan.”

Revan menoleh.

Di salah satu bangku kayu, Mira sedang duduk sendirian. Rambutnya tertiup angin pelan. Ia mengenakan pakaian sederhana berwarna pucat. Kedua tangannya memegang selembar tiket yang sudah sedikit kusut. Mira menatap rel di depannya. Seolah-olah sedang menunggu sesuatu. Atau seseorang.

Revan berjalan mendekat. Ia berhenti beberapa langkah dari gadis itu.

“Hai.”

Mira menoleh. “Oh.”

Ia tidak terlihat terkejut. “Kamu petugas baru?”

Revan terdiam. “Kamu tahu aku?”

“Penjaga mimpi.” Mira tersenyum. “Yang sebelumnya lebih cerewet.”

“Berapa banyak penjaga sebelum aku?”

“Entahlah.”

Mira melihat rel. “Mereka biasanya bosan.”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak pernah mau pergi dari sini.”

Revan memperhatikan wajahnya. Ada sesuatu dalam senyum itu. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Seperti seseorang yang sedang tersenyum sambil menyembunyikan luka yang sudah terlalu lama dibawa.

Revan akhirnya bertanya, “Kamu sudah berapa lama di sini?”

Mira menatap jam besar di atas peron. 18.17.

“Nggak tahu.”

“Sehari?”

Mira menggeleng.

“Seminggu?”

“Entahlah.”

“Sebulan?”

Mira tersenyum. “Mungkin lebih lama.”

Revan menatap jam itu lagi. “Jamnya nggak bergerak.”

“Memang.”

***

Revan duduk di sampingnya. “Jadi kamu sebenarnya sedang menunggu siapa?”

“Dia.”

“Siapa?”

“Orang yang selalu datang terlambat.”

Revan hendak bertanya lagi. Namun tiba-tiba—

TUUUUUUT!

Suara klakson kereta terdengar dari kejauhan.

Revan langsung berdiri.

Mira tidak bergerak.

Suara roda besi semakin dekat.

Grrrrrrrrr—

Rel bergetar.

Angin bertiup lebih kencang.

Dari kejauhan, cahaya dua lampu kereta mulai terlihat.

Revan menatap Mira. “Dia datang?”

Mira menggeleng. “Bukan.”

Kereta melewati stasiun tanpa berhenti. Mira tersenyum sedih. “Belum waktunya.”

“Belum waktunya untuk apa?”

Mira tidak menjawab.

Revan duduk kembali di sampingnya. Matanya jatuh pada tiket yang sejak tadi digenggam Mira. Kali ini ia bisa melihatnya dengan jelas. Ada tulisan di sana. Sederhana. Hanya dua kata.

MIRA → RUMAH

Namun tanggal keberangkatannya kosong.

“Kenapa kamu nggak pulang?”

Mira menatapnya.

“Karena kalau aku pulang…” Ia tersenyum. “…aku tidak akan bertemu kakakku lagi.”

***

Malam berikutnya, Revan kembali.

Mira masih di sana.

Kali ini sebuah kereta berhenti.

Seorang pemuda turun. Usianya mungkin sekitar dua puluh tiga tahun. Ia mengenakan jaket biru tua yang sedikit kusam. Rambutnya berantakan seperti seseorang yang baru saja bangun tidur. Senyumnya hangat.

Mira langsung berdiri. “Kak.”

Senyumnya berubah. Bukan lagi senyum kecil yang selama ini selalu ia tunjukkan kepada Revan.

Mira berlari kecil menghampirinya.

Pemuda itu membuka kedua tangannya.

Mereka berpelukan.

Revan hanya berdiri beberapa meter dari sana. Diam.

Entah kenapa pemandangan itu terasa terlalu nyata untuk disebut mimpi.

Pemuda itu mengusap kepala Mira. “Kamu masih di sini?”

Mira tertawa. “Ya.”

“Bukannya udah dibilang jangan nungguin?”

“Aku nggak denger.”

“Kamu dari kecil memang susah dibilangin.”

Mira memukul lengannya pelan. “Berisik.”

Pemuda itu tertawa. Tawa yang hangat. Tawa yang membuat stasiun yang dingin itu terasa sedikit lebih hidup.

Mereka kemudian duduk di bangku. Berbicara tentang hal-hal kecil. Tentang makanan. Tentang sekolah. Tentang rumah. Tentang sesuatu yang Revan tidak mengerti. Sesekali bahkan mereka bertengkar kecil.

Tak lama kemudian, suara peluit kereta terdengar.

Pemuda itu berdiri.

Mira ikut berdiri. “Udah?”

“Iya.”

“Besok datang lagi?”

Pemuda itu tersenyum. Kemudian ia masuk ke dalam kereta.

Pintu tertutup.

Kereta mulai bergerak.

Perlahan.

Semakin jauh.

Sampai cahaya lampunya menghilang di balik kabut.

***

Setelah kereta pergi, Revan bertanya: “Namanya siapa?”

Mira tersenyum. “Reza.”

“Kakakmu?”

Mira mengangguk. “Dia meninggal dua tahun lalu.”

Revan terdiam. “Lalu…” Ia tidak tahu bagaimana harus menyelesaikan kalimatnya.

“Ini mimpi.” Mira menunjuk stasiun. “Di sini dia masih hidup.”

Revan akhirnya mengerti. Mira bukan sekadar takut bangun. Ia takut kehilangan Reza untuk kedua kalinya.

***

Malam itu, Revan memutuskan untuk mencoba sesuatu. Ia menciptakan sebuah rumah.

Sebuah taman.

Sebuah kota.

“Jangan.”

Revan berhenti. “Kamu tidak ingin keluar?”

Mira menatapnya. “Aku pernah mencoba.”

“Lalu?”

“Aku bangun.”

“Bukankah itu bagus?”

Mira tersenyum. “Aku bangun di rumah sakit.” Ia menunduk. “Dan aku mendengar ibuku menangis.”

Revan tidak menjawab.

“Aku juga mendengar dokter bilang kalau kakakku sudah dua tahun meninggal.”

Mira menggenggam tiketnya. “Di sini dia masih bisa memanggil namaku.” Ia menatap Revan. “Kalau kamu jadi aku…” Suaranya pelan. “Apakah kamu mau bangun?”

***

Beberapa hari kemudian, sesuatu berubah. Stasiun mulai rusak. Lampu-lampu di Stasiun Senja mulai berkedip. Revan mengira itu hanya bagian dari mimpi. Sampai suatu malam, ia melihat sebuah retakan tipis di lantai peron. Retakan itu tidak seharusnya ada. Revan berjongkok. Ia menyentuhnya. Dingin. Begitu dingin sampai ujung jarinya terasa mati rasa. Ada sesuatu yang berbeda. Rel kereta memanjang ke tempat yang tidak seharusnya ada.

Mira memeluk kedua lengannya.

“Revan…”

“Hmm?”

“Kenapa tempat ini rusak?”

Revan tidak menjawab. Karena ia sendiri tidak tahu. Dan yang paling mengkhawatirkan—

Mira mulai berubah.

Bukan tubuhnya. Wajahnya. Wajah Mira terlihat sedikit lebih kabur. Seperti foto yang terlalu sering disentuh.

“Mira.”

Gadis itu menoleh. “Kenapa?”

Revan menatapnya lama. “Kamu nggak apa-apa?”

Mira tersenyum. “Aku baik-baik aja.”

“Kamu yakin?”

“Iya.”

“Wajahmu…”

Mira menyentuh pipinya. “Kenapa?”

“Sedikit…” Revan berhenti. Ia tidak ingin membuatnya takut. “Sedikit aneh.”

Mira tertawa kecil. “Mungkin aku emang jelek.”

“Bukan itu.”

“Terus?”

Revan tidak menjawab. Karena saat itu ia baru sadar, bukan hanya stasiunnya yang mulai rusak. Mira juga mulai terhapus dari mimpinya sendiri.

***

Beberapa menit kemudian, Revan terbangun di dunia nyata. Ia menemui Nina.

“Berapa lama Mira bisa bertahan?”

Nina tidak menjawab.

“Nina,” suara Revan mulai meninggi.

“Tidak ada angka pasti.”

“Tapi?”

Nina membuka data medis. “Otaknya mulai beradaptasi dengan pola mimpi.”

“Artinya?”

“Tubuhnya mulai menganggap dunia mimpi sebagai lingkungan normal.”

Revan terdiam. “Kalau begitu dia bisa terus di sana?”

“Bisa.”

“Selamanya?”

Nina menatapnya. “Secara teori.”

“Kalau begitu, kenapa kita harus menariknya keluar?”

“Karena tubuh manusia tidak bisa hidup selamanya tanpa sadar.”

“Dia kan masih hidup.”

“Untuk sekarang.”

Revan terdiam.

Nina berjalan mendekati layar. “Dia akan mati karena tubuhnya perlahan berhenti menganggap dunia nyata sebagai sesuatu yang perlu dipertahankan.”

Revan kembali menatap layar Mira. “Jadi dia harus bangun?”

“Ya.”

“Tapi dia tidak mau.”

“Ya.”

“Lalu bagaimana?”

Nina terdiam. “Kamu harus membuatnya ingin pulang.”

***

Malam berikutnya, Revan kembali ke Stasiun Senja. Namun kali ini, Mira tidak ada di bangku. Tidak ada di ujung peron. Tidak ada di dekat rel. Stasiun itu terlalu sunyi. Lampu-lampu yang biasanya menyala terang kini berkedip tidak beraturan. Beberapa bahkan sudah mati. Kabut tipis menggantung di sepanjang rel, membuat ujung peron tidak terlihat.

Revan berjalan perlahan. “Mira?”

Tidak ada jawaban.

“Mira!”

Tetap sunyi.

Kemudian— “Dia tidak ada di sini.”

Revan berhenti. Suara itu datang dari belakangnya. Revan langsung berbalik. Seseorang berdiri beberapa meter darinya. Jaket biru tua. Rambut berantakan. Wajah yang sama. Senyum yang sama. Reza.

Revan memperhatikannya beberapa detik. “Kamu…”

Reza tersenyum kecil. “Kamu penjaga baru?”

Revan mengangguk. “Kamu tahu Mira harus bangun?”

Reza tidak menjawab. Ia hanya menatap rel. “Aku tahu.”

“Kalau begitu bantu aku.”

Reza menggeleng. “Aku tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Karena aku bukan Reza.”

Revan membeku. “Apa?”

Reza menunjuk dirinya sendiri. “Aku adalah bagian dari ingatan Mira tentang Reza.”

Revan menatapnya. “Jadi kamu tahu kalau kamu tidak nyata?”

“Sejak awal.”

Jawaban itu begitu tenang. Tidak ada ketakutan. Tidak ada penolakan. Seolah Reza sudah menerima kenyataan bahwa keberadaannya memang memiliki batas.

Revan memandang wajahnya. “Dan kamu nggak masalah dengan itu?”

Reza mengangguk.

"Kalau begitu, kamu tahu cara membuat Mira bangun?”

Reza berjalan mendekat. “Masalahnya bukan Mira tidak mau bangun.”

“Lalu?”

“Dia takut.”

“Takut apa?”

“Takut setelah bangun…” Reza menunjuk ke arah jalur kereta. “…tidak ada lagi alasan untuk menungguku.”

Revan mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”

Reza menatapnya. “Selama dia tidur, hidupnya sederhana.”

“Dia datang ke sini.”

“Menunggu kereta.”

“Menunggu aku turun.”

“Berbicara denganku.”

“Lalu menungguku pergi lagi.”

Reza tersenyum sedih. “Besoknya dia melakukan hal yang sama. Selama dia masih bisa menungguku, dia merasa hidupnya masih punya sesuatu untuk dilakukan.”

Revan terdiam.

Ia teringat Mira yang selalu duduk di bangku itu. Menatap rel. Memegang tiket. Menunggu kereta. Itu adalah satu-satunya hal yang masih membuatnya merasa dekat dengan kakaknya.

***

Malam berikutnya, Revan akhirnya melihat ingatan asli Mira.

Bukan stasiun.

Bukan kereta.

Bukan Reza yang tersenyum.

Melainkan sebuah jalan.

Hujan deras.

Sebuah mobil.

Reza sedang mengemudi.

Mira duduk di sampingnya.

Mereka bertengkar.

Mobil tergelincir.

Suara rem.

Kaca pecah.

Kemudian gelap.

Revan melihat Mira terbangun di rumah sakit. Dan melihat dokter mengatakan: “Kakakmu tidak berhasil diselamatkan.”

Sejak saat itu, Mira percaya bahwa kematian Reza adalah kesalahannya. Ia menyalahkan dirinya sendiri. Dan rasa bersalah itu tumbuh. Sampai akhirnya otaknya menemukan satu tempat untuk menyimpan semua yang tidak sanggup ia hadapi.

Sebuah tempat yang tidak pernah hujan.

Sebuah tempat di mana Reza selalu datang.

Sebuah tempat di mana kecelakaan tidak pernah terjadi.

Stasiun Senja.

Revan akhirnya mengerti. Stasiun itu bukan tempat Mira menunggu Reza. Stasiun itu adalah tempat Mira menghukum dirinya sendiri.

Setiap hari ia menunggu kereta.

Setiap hari Reza datang.

Setiap hari Reza pergi.

Dan setiap hari Mira mengulang semuanya.

***

Revan kembali ke stasiun. “Mira.”

Gadis itu menoleh. “Aku tahu.” Mira langsung mengerti. “Kamu melihatnya.”

Revan mengangguk. “Kenapa kamu tidak pernah bilang?”

“Aku tidak mau mimpi ini berubah.”

Revan duduk di sebelahnya. “Mira, kakakmu sudah meninggal.”

“Aku tahu.”

“Dia tidak akan kembali.”

“Aku tahu.”

“Kalau begitu kenapa?”

Mira menangis. “Karena mengetahui sesuatu bukan berarti kita sudah siap menerimanya.”

Hening.

Mira mengusap pipinya. “Semua orang bilang aku harus ikhlas. Seolah-olah kehilangan orang yang kita sayang itu cuma kayak kehilangan barang.”

Mira menunduk. “Dicari sebentar. Terus kalau nggak ketemu… Ya udah.”

Revan menatapnya.

“Padahal bukan begitu.” Mira menggeleng. “Bukan.”

Lalu Ia berjalan menuju ujung peron.

Kereta datang.

Pintu terbuka.

Reza berdiri di sana.

Mira menangis. “Kak.”

Reza tersenyum. “Kamu mau pulang?”

Mira mengangguk. “Aku minta maaf.”

Reza menggeleng. “Jangan.” Lalu menyentuh kepalanya. “Jangan gunakan seluruh hidupmu untuk meminta maaf kepada orang yang sudah tidak bisa menjawab.”

Mira menatapnya.

“Gunakan hidupmu untuk melakukan sesuatu yang akan membuatku tidak khawatir.”

Kereta mulai bergerak.

Mira menggenggam tangan Reza. “Kak!”

“Ya?”

“Aku sayang Kakak.”

Reza tersenyum. “Aku tahu.”

Pintu tertutup.

Klik.

Mira tersenyum sambil menangis. “Selamat jalan, Kak.”

***

Monitor di rumah sakit berbunyi.

Dokter berlari masuk.

Mata Mira bergerak.

Jarinya bergerak.

Kemudian perlahan— matanya terbuka. Cahaya putih memenuhi pandangannya. Hal pertama yang ia dengar adalah suara ibunya.

“Mira?”

Mira mencoba berbicara. Suaranya hampir tidak terdengar. “Bu…”

Ibunya menangis. “Ya.”

Mira menatap langit-langit. Kemudian tersenyum kecil. “Capek…”

Ibunya tertawa sambil menangis. “Ya Tuhan…”

Mira memejamkan mata sebentar.

***

Di ruangan lain, Revan melepaskan alat dari kepalanya.

Nina berdiri di sampingnya. “Berhasil.”

Revan mengangguk. “Dia sudah bangun?”

“Ya.”

Revan tersenyum.

Namun tiba-tiba Nina berkata: “Ada sesuatu yang aneh.”

“Apa?”

“Data mimpi Mira hilang.”

Revan menatap layar. “Bukannya memang harus begitu?”

“Bukan.” Nina menunjuk satu bagian. “Biasanya setelah seseorang bangun, mimpi mereka tetap tersimpan selama beberapa jam.”

“Tapi?”

“Semua data Mira kosong.”

Revan terdiam. Kemudian ia melihat sesuatu.

Sebuah tiket kereta muncul di layar.

STASIUN SENJA

Di bawahnya tertulis:

Penumpang berikutnya: Revan.

***

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Persimpangan
Panca Lotus
Cerpen
Penjaga Mimpi
Fredhi Lavelle
Flash
BOKU NI DEKIRU KOTO
Yattis Ai
Flash
Bronze
Jangan Tebang Pohon Sawo Itu
Sulistiyo Suparno
Cerpen
Bekasi Seperempat Abad
Rizki Mubarok
Novel
Always Be My Home
Meloghy
Flash
Rahasia
Binar Bestari
Flash
Bagaimana Jika Aku Tidak Menikah?
Jasma Ryadi
Flash
Cerita hujan
tita agnesti
Cerpen
Tawar-Menawar
Nada Niken Anggraeni
Novel
Integritas Penyelenggara Pemilu
Yovinus
Novel
HELLOVE
aya widjaja
Flash
Hai... Orang Asing.
Anisah Ani06
Flash
Bronze
Harapan Baru
Ron Nee Soo
Cerpen
Kinasih
Maisa
Rekomendasi
Cerpen
Penjaga Mimpi
Fredhi Lavelle
Cerpen
LILIN
Fredhi Lavelle
Cerpen
Kalender Terbalik
Fredhi Lavelle
Cerpen
AfterChat
Fredhi Lavelle
Cerpen
Pengarsip Kenangan
Fredhi Lavelle
Cerpen
Hujan yang Tak Pernah Turun di Hari Selasa
Fredhi Lavelle
Cerpen
Perpustakaan Bayangan - Perpustakaan yang Menyimpan Hari-Hari yang Tidak Pernah Terjadi
Fredhi Lavelle
Cerpen
Stasiun Terakhir Sebelum Pagi
Fredhi Lavelle
Cerpen
Pasar Emosi
Fredhi Lavelle
Cerpen
LANGIT YANG TIDAK PERNAH BERNAMA
Fredhi Lavelle
Cerpen
Taman di Atap Sekolah
Fredhi Lavelle
Cerpen
Di Balik Meja Nomor 17
Fredhi Lavelle