Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Bronze
Penjaga Istana
0
Suka
494
Dibaca

Aku adalah lelaki yang tinggal di dalam istana. Bukan panglima, bukan patih, lebih-lebih lagi seorang raja. Orang-orang memanggilku tetap dengan namaku, terlebih jika di hadapan raja, mereka memanggilku dengan pujian-pujian khas penjilat kekuasaan. Tak ada gelar untuk segenap pekerjaan yang kulakukan. Bukan permaisuri, bukan harem, terlebih kasim. Sebab kerajaan hanya punya kata selir bagi perempuan, sementara bagiku, bahasa memilih diam. 

Sekalipun aku berangkat dari dunia keprajuritan, gelar prajurit nyatanya tak pernah memberikanku kedudukan yang sempurna. Oleh karena itu, jangan bertanya berapa medan laga yang pernah kulalui, memegang pedang pun aku masih kagok. Jangan tanya berapa peluru yang menembus tubuhku, buktinya kulitku terlalu halus untuk menyimpan jejak perang. Bajuku lebih sering dicuci oleh harum ruangan berpendingin, dibandingkan basah oleh lumpur parit pertahanan dalam hutan. Tanganku sendiri lebih akrab dengan segel kerajaan yang bernafas, tak lain dan tak bukan, ya pemilik kerajaan itu sendiri. 

Namun anehnya, setiap kali raja di singgasana, aku selalu diminta untuk berada disampingnya. Mungkin karena raja masih belum menemukan “pasangan” yang tepat, tempatnya bercerita, berceloteh, dan mungkin meluapkan perasaannya setelah berakting ria dari pagi hingga ke petang. Aku sendiri juga masih berkelindan dengan kebingungan, orang yang sangat mulia, tempatku ngenger dan mengabdikan hidup itu, harus hidup tanpa pasangan. Tentunya bukan kerana dia tidak dilimpahi kemelaratan, apalagi ketakutan tidak bisa memberi makan. Nyatanya, jauh setelah perceraiannya yang penuh drama, raja satu ini hampir jarang sekali diisukan dekat dengan perempuan. Sedikit berbeda dengan pendahulunya. Ada yang gila wanita, ada yang takut dengan wanita, dan sejarah juga mencatat wanita dalam takhta. 

Tetapi beberapa orang juga menjulukiku sebagai “Intan Prabu”, entahlah apa maksudnya. Intan adalah permata dan permata mahal harganya. Artinya aku mahal dan berharga. Dan kenyataannya memang begitu. Aku dekat dengan raja, selalu disampingnya, bahkan raja akan mencariku ketika tahu batang hidungku tak nampak dalam pandangannya. Siapapun yang ingin “berurusan” dengan raja, harus lewat persetujuanku. Dan uniknya, ini jabatan yang cukup cepat, layaknya pengiriman kilat yang dipesan hari ini dan besok kita langsung menerimanya.

“Indriya, ya, kesini” raja memanggilku selepas makan siang dengan duta kerajaan sahabat.

“Iya, Yang Mulia. Kehendak apa yang perlu hamba kerjakan?” tanyaku.

“Tidak, kenalkan ini Tuan Chiang dari Negeri Padma Boga” Sang Prabu mengenalkanku dengan duta kerajaan sahabat.

“Tuan Indriya, hmm sedikit berbelit ya,” Tuan Chiang Kai menjeda ucapannya, matanya yang sepet menelisik lurus ke jemariku yang tak berkapalan. Ia tersenyum, jenis senyum formal diplomatik yang dibeli dari kursus-kursus etiket luar negeri. Sembari bersalaman denganku, Tuan Chiang turut mengusap beberapa ruas jarinya pada telapak tanganku yang berujung rasa geli.. 

“Tapi saya tahu, di tangan yang halus begini, titah paling keras dari Prabu Girindra justru kerap dilahirkan.”

Aku hanya menunduk. Di sampin...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp10.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
PAPA
Hanna Khoiruzzahro
Cerpen
Bronze
Penjaga Istana
Muhammad Reza Satria Dewangga
Novel
Kalut
Abe Ruhsam
Novel
Menunggu Di Bandara El Tari
DENI WIJAYA
Novel
DAYRENT
Putri Amelia Solehah
Flash
Bronze
Sampan Tua
Afri Meldam
Novel
Pramugari Berseragam Orange
Bebekz Hijau
Flash
Gadis Tercantik di Sekolahku-Elissa
Elisabet Erlias Purba
Novel
MASA
Tiara Elsabila
Cerpen
Kemboja Kelopak Empat
Suryawan W.P
Skrip Film
DENDAM
Nova Lindah
Skrip Film
LIFT: Ketika Masa Lalu Berdiri di Hadapanmu
Ade Ubaidil
Novel
Kisah Klasik Untuk Sherly
NonaAns
Skrip Film
Pusaka
Prima Merdeka
Novel
Qodrat Merancang Tuhan Karyawala
Lilis Alfina Suryaningsih
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Penjaga Istana
Muhammad Reza Satria Dewangga
Cerpen
Bronze
Surat Yang Tak Pernah Hendak Kubaca
Muhammad Reza Satria Dewangga