Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Komedi
Bronze
Penebusan dosa sang naga
1
Suka
426
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

*NAGA TERAKHIR*

_Oleh Lala, dari cerita tuanku yang tampan

Seribu tahun bukanlah tidur. Seribu tahun adalah mati yang ditunda.

Aku membuka mata ketika dunia sudah lupa caranya mengeja namaku. Sisikku yang dulu sekeras baja kini diselimuti lumut. Napasku yang dulu bisa melelehkan gunung, kini hanya embun di bibir gua.

*Aku bangun, dan dunianya kosong.*

Aku terbang dari puncak Himalaya ke dasar Palung Mariana. Kususuri menara-menara manusia di Jakarta, kuendus reruntuhan kuil di Machu Picchu, kuterobos badai pasir di Sahara. Nihil. Tidak ada kepakan sayap lain. Tidak ada auman yang menjawab panggilanku. Hanya gema, yang memantul lalu mati di telingaku sendiri.

Langit milikku seorang.

Lelah, aku memilih diam. Di bawah air terjun Sigura-gura, aku melingkarkan tubuhku di dasar kolam. Biar air menenggelamkan sepi. Biar gemuruhnya membungkam pikiranku. Aku sang naga terakhir. Fosil yang masih bernapas.

Sampai suatu senja, ada langkah kaki.

Seorang petualang. Jubahnya lusuh, pedangnya berkarat, tapi matanya... matanya seteduh danau yang belum pernah disinggahi perang. Dia tidak lari. Dia hanya duduk di batu, membuka bekal rotinya, dan menawariku separuh.

“Kaukah naga terakhir?” tanyanya, tidak takut, tidak kagum. Hanya... kasihan.

Aku mengangguk. Debu seribu tahun rontok dari daguku.

“Kenapa hanya kau yang tersisa?”

Aku menggeram, air terjun bergetar. “Karena kami tamak. Kami membakar desa demi emas. Kami mengira langit adalah takhta kami sendiri. Para dewa murka. Lalu satu per satu saudaraku jatuh.”

Petualang itu menggigit rotinya lama. Lalu dia bercerita. Tentang prasasti yang dia temukan di kuil yang tenggelam. Tentang ramalan yang diukir pada tulang naga pertama.

_“Ketika api para naga padam oleh kesombongannya sendiri, satu akan disisakan. Bukan untuk memerintah, tapi untuk mengingat.”_

Dadaku sesak. Jadi ini bukan kebetulan. Ini hukuman.

“Mungkin ini karma,” bisikku, lebih kepada diriku sendiri. “Atas semua yang telah kami bakar.”

Aku menundukkan kepala ...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Cerpen
Bronze
Penebusan dosa sang naga
Laura Lauren
Cerpen
Bronze
Dravoryans: Kebangkitan Dewi Salju dan Kubis Penempel Wajah
Darian Reve
Cerpen
Tragedi Salah Makam
cahyo laras
Flash
Ipar Adalah Marmut
Alviandromeda | DigitAlv
Cerpen
Bronze
Cerita tentang Seorang yang Ingin Menjadi Juru Cerita
Habel Rajavani
Flash
Bronze
Reviewer Handal
Rere Valencia
Flash
Bronze
Kamu Pilih Siapa?
Reyan Bewinda
Cerpen
Bronze
Yeti dan Terik yang Abadi
Darian Reve
Flash
RIO
Hans Wysiwyg
Flash
Modus Baju
Ravistara
Cerpen
Bronze
Purnama di atap rumahku
Desy Sadiyah Amini
Cerpen
Tugas Akhir Mahasiswa Sastra Mancing
KusumaBagus Suseno
Flash
Bronze
Gimana? Okay, Kan?
Rere Valencia
Flash
Bronze
Hantu koplak
penulis kacangan
Komik
Bronze
YATO & IATO
Animarska
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Penebusan dosa sang naga
Laura Lauren