Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Pemerkosa Akal
2
Suka
1,318
Dibaca

Bermula dari kecil.

‘Ayah selalu mengajariku untuk melompat, apa pun caranya dilakukan agar mendapatkan lompatan yang teramat tinggi, namun apakah ayah tahu jika fisik dan akal pikiranku belum sanggup mengangkat beban di atas udara? Pernahkah ayah berpikir mengapa aku seperti ini?’

Slamet bertubuh ringkih itu mengulang-ulang kalimat yang dibacanya di sebuah lembaran kertas lusuh, yang dikirimnya beberapa minggu lalu dari sel tahanan. Pesan tersurat itu mengandung makna tersirat yang belum Slamet mengerti. Ia mencerna dalam-dalam setiap inci huruf yang dituangkan, kemudian meneropong langit, hingga menembus dimesi ruang yang tak mampu dikasap mata. Ia, melipat masa sekarang, sementara zaman dulu dilebarkan di depan wajahnya. 

Ya, sebuah wajah keriput yang dipenuhi dengan tonjolan otot-otot. Ketampanan dan kegagahan Slamet di usia muda telah menjadi dongeng dan hanya layak dinostalgiakan. Slamet yang sekarang, terbatuk-batuk di kursi roda, menjadi penikmat senja dan kehampaan sepanjang waktu gelap menjemput. Istrinya telah meninggalkannya ke alam barzah. 

Ia diciptakan Tuhan seorang diri di masa tua, tanpa anak di rumah sebab semua anak-anaknya menjadi orang penting di kursi-kursi negeri ini. Tanpa cucu, tak seorang pun bocah kecil yang mau berlama-lama di pangkuannya, sebab orangtua mereka tak mempunyai waktu senggang untuk berkunjung menjenguknya. Tanpa teman yang berarti, jika pun ada yang membuatnya ramai, hanyalah runtutan persoalan-persoalan anak-anaknya yang tak pernah masuk akal. 

Ia mengemas keterasingannya, membawanya pergi menjemput rindu di masa-masa purba dahulu. 

***

Sori mendorong tangan Slamet, ia geram karena kakinya dipaksa masuk ke dalam sepatu. Tas yang digendong dilempar di teras begitu saja. Ia cemberut dan tak mau diganggugugat. 

“Ayah, Sori tidak mau sekolah! Sori mau bikin pesawat!” ungkapnya mengutarakan keinginannya. Ia yang baru berumur empat tahun lebih setengah belum bernafsu dengan bangku sekolah dan buku-buku. Menyebalkan sekali, setiap malam disuguhi buku-buku dengan tulisan kecil-kecil. Sori kecil diarahkan agar bisa membaca dan berhitung lebih cepat dari umur normalnya anak-anak. 

Mainan anak-anak di kamar Sori tidak begitu banyak, kamarnya dipenuhi peraga-peraga pembelajaran, seperti kerangka tubuh manusia, aneka macam gambar flora dan fauna, bentangan peta-peta, gambaran pulau-pulau Indonesia, serta lukisan-lukisan bergaya surealis yang tak ia pahami. 

Dunia Sori dicuri keegoisan Slamet. Dan pagi itu, Sori dipaksa masuk ke sekolah tingkat dasar, tanpa mengenyam bangku Taman Kanak-Kanak terlebih dahulu, seminggu yang lalu dengan modal uang beberapa lembar ratusan, ia mengemis-ngemis agar anaknya, Sori, dapat diterima di sebuah sekolah favorit, sampai keringat-keringat di keningnya mengalir deras, kepala sekolah juga belum mengizinkan, pada akhirnya ia memberikan jaminan akan membangunkan satu fasilitas mewah di sekolahan itu. Beruntung jiwa kepala sekolah akhirnya luluh lantah. 

“Anakku sayang, kau ini ditakdirkan menjadi orang yang cerdas! Kau sudah bisa membaca tulisan banyak di usiamu yang kecil, untuk itu Ayah memilihkan sekolah terbaik bagimu,”

Sori tidak mengerti. Ia lari ke halaman teras, membuang sepatunya. Tangannya menggali lumpur di sela-sela rumput. 

“Sori! Ayo berangkat! Jika tidak, sore ini kau tidak boleh bermain pesawat!” ancam Slamet. Sori masih asyik dengan permainannya membangun istana dengan lumpur. Tanah itu ditumpuk-tumpuk menjadi sebuah gundukan yang ia imajinasikan sebagai sebuah kastel seorang pangeran. Slamet mengambil jalan pintas, ia membopong Sori kemudian memasukkannya ke dalam mobil. Sori menjerit dan meraung-raung ingin keluar, namun Slamet tak mengindahkan. 

Sori kecil akhirnya sekolah di SD yang Slamet inginkan, setiap pagi ia berangkat dengan bibir manyun. Jika di dalam kelas sering tidur dan melamun, bahkan jarang bersosialisasi dengan teman-teman yang bukan sebayanya. Ia seringkali menyendiri di sudut perpustakaan kelas, tidak membaca buku, melainkan menggambar sesuai gerak imajinasinya. Walaupun begitu ia lulus dengan nilai yang memuaskan, membuat hati Slamet bangga. 

“Ayah itu tidak salah memberikan kepercayaan kepadamu, Sori!” 

Sori yang dipuji hanya membanting pintu kamar. 

Sori kecil pergi, kini waktu dihadapkan dengan sesok pemuda tinggi yang tampan menyerupai ayahnya. Ia telah menyelesaikan SMP dengan sistem akselerasi. Nilainya jarang jatuh meskipun ia tak pernah belajar, hal yang paling sering Sori lakukan adalah membaca, namun bukan buku-buku pelajaran yang sesuai dengan usianya. Semua itu berkat paksaan Slamet yang setiap hari membelikan buku-buku kepadanya, seringkali ia menolak dan membantah jika disuruh membaca, namun Slamet akan murka, membanting segala benda yang ada di hadapannya, hal tersebut membuat Sori tak bisa berbuat apa-apa. 

Ia hanya bertekad, setelah lulus SMA ia tidak ingin menuruti permintaan ayahnya lagi, Sori ingin pergi ke luar negeri untuk kuliah di universitas seni. Dalam diamnya, dalam ketaatannya kepada Slamet ia memendam sebuah impian dan ketertarikan di bidang lukisan serta segala obyek yang berbau dengan keindahan. Setiap di kelas ia sering mengimjinasikan bentuk-bentuk aneh di kepalanya. Matanya menciptakan sketsa-sketsa abstrak yang hanya bisa dilihat olehnya, juga diartikan dirinya sendiri. 

“Ayah ingin kau mendalami ilmu kepemimpinan dan pemerintahan, Sori. Ayah telah menyiapkanmu sejak kecil, untuk itu Ayah tidak memberimu izin menjadi seniman. Buat apa menjadi seniman? Ia identik dengan rambut gondrong dan pakaian lusuh, tak pantas untuk anak hebat sepertimu, Sori!”

“Yah! Aku sudah besar, aku sudah berhak menentukan arah hidupku! Aku sama sekali tidak tertarik di dunia akademik, apalagi dunia pemerintahan!”

“Ke mana kau akan menggunakan otak brilianmu itu?Menjadi pemimpin itu terhormat juga pekerjaan bergengsi, Sori!”

“Semua ini tak ada sangkutpautnya dengan kemampuan otakku! Seni adalah keinginan mutlakku yang lahir dari jiwaku tanpa sebuah paksaan, Ayah! Aku sama sekali tidak tertarik dengan kehormatan!”

“Ayah telah mendaftarkan kuliahmu, Sori!” 

Sori muntab, ia membanting pintu dan melempar semua buku-buku yang ada di kamarnya. Ia merasa tak butuh dengan semua benda itu. Ia menyesal, mengapa sejak dulu selalu menuruti permintaan ayahnya untuk rajin membaca buku. Ia ingin menjadi bodoh, agar orangtuanya tak memperbudak pikirannya dengan sebuah orientasi kehidupan yang tiada guna. Ia muak, sangat muak! 

Cermin di kamarnya dihantam. Serpihan kaca mengenai kakinya. Bulir hangat perlahan mengallir. Lampu padam. Hujan turun di luar rumah. Alam paham suasana batin Sori, ia ikut prihatin, dan malam itu, adalah hujan pertama yang dinantikan tanah-tanah kering usai kemarau panjang. Slamet mematung di depan pintu kamar Sori. I amenghela napas, kemudian mendesah. 

“Jika sudah besar, kau akan mengerti kehidupan yang sesungguhnya, Sori!” ungkap Slamet kemudian pergi meninggalkan kamar Sori yang sedang diamuk kepedihan. Rintik hujan turun dengan deras, asbes rumah seperti dilempari dengan batu kerikil dari atas langit. 

‘Ayah, lalu apa arti kehidupan yang sesungguhnya itu? Saat ini aku sudah dewasa, bahkan telah memiliki dua putri yang cantik-cantik. Tapi sampai saat ini, aku belum mengerti arti kehidupan yang sesungguhnya! Apakah hidup hanya untuk meraih pujian dari orang lain, Ayah? Apakah hidup untuk menimbun kecerdasan diri sendiri tanpa menghiraukan orang lain, Ayah? Atau mungkinkah hidup untuk menjadi orang yang dinomor satukan oleh publik? Sementara aku tak tahu apa-apa tentang arti kepedulian, memahami, mendengarkan keinginan orang lain, juga memaknai kesederhanaan! Ayah beritahu aku akan hal yang pasti mengenai kehidupan. Selama ini, yang kutahu adalah pemerkosaan otak dan keinginan yang tak sejalan.’

Hingga berita itu disenandungkan di tengah-tengah pagi yang tenang, di sela-sela senja yang indah, di malam-malam yang penuh keharmonisan, Slamet masih berdiam diri, merenungi kegagalan yang ia ciptakan. Ia baru saja menelan pil pahit yang membuat batinnya terlunta-lunta. Surat Sori, menggoreskan nganga luka tajam hingga jiwanya merintih kesakitan. 

Sori diviralkan menjadi pemimpin terkorup di Indonesia, ia menggelapkan triliunan uang negara untuk membangun fasilitas-fasilitas yang tidak tercantum dalam proyek negara. Slamet tak habis pikir, anak kebanggaannya yang cerdas, yang dipuji-puji guru dan teman-teman sebayanya jenius itu, diam-diam menghanyutkan bebatuan besar di sungai yang tenang. 

“Bagaimana bisa kau melakukan semua itu? Bagaimana selama ini otakmu berpikir, Sori?”

Angin malam mendesis perlahan. Tirai jendela bergoyang-goyang. Slamet menatap pilu ke luar rumah. Malam mencekam. Duan-daun mangga di halaman berguguran. Saat itu, ia meraba-raba kenangan. 

“Ayah, jika kau selalu memaksakan kehendakku untukmu! Suatu saat nanti aku akan balas dendam!” di malam ketika hujan turun mendayu-dayu, ketika kamarnya berantakan, ketika cerminnya pecah menjadi kepingan yang memotret lara hatinya, ia bersumpah. 

Setelah menyelesaikan S2-nya di universitas dalam negeri yang bergengsi, tak perlu disebutkan namanya, ia menjadi politikus dan aktif dalam berbagai organisasi. Sayangnya ia tak pernah berniat berjalan pada jalur yang tepat, semuanya ia lakcukan demi membuat puas ayahnya, jika sudah kelar dan ia berdiri pada titik teratas, ia telah bertekad ingin menghancurkannya secara menyeluruh. 

Ia mendapatkan hukuman penjara selama bertahun-tahun atas kasus korupsinya, namun tak ada sebersit rasa sesal di hatinya, ia merasa menang karena membuat Slamet, ayahnya itu terpelanting ke jurang penyesalan salah mengarahkan anak tersayangnya. Di akhir suratnya ia menulis sebuah kalimat tajam yang amat memukul batin Slamet. 

‘Ayah, hidup bukan tentang siapa aku dan ini milikku. Hidup bukan sebatas inilah kekuasaanku, inilah kekayaanku. Jika semua itu menjadi orientasi sebuah kehidupan, tak akan pernah kita temukan kepuasan dan arti kehidupan itu sendiri perlahan akan kabur. Ayah, sepemahamanku, hidup itu bukan tentang berdiri di atas mimbar yang tinggi dengan sorotan kehormatan atas nama harga diri, namun hidup adalah untuk memahami siapa mereka dan bagaimana kehidupan mereka. Kau paham bukan siapa mereka yang aku maksud di sini? Lihatlah rakyat-rakyatmu Ayah! Pemimpin macam apa kau ini!  Kau pilah pilih dalam memberikan kesejahteraan atau kemakmuran pada rakyat, hanya orang-orang tertentu yang dapat mengakses fasilitas dan kemudahan-kemudahan yang kau berikan, sementara mereka yang jauh di sana, entah kau ingat wajah melas mereka atau mengabaikan dengan keseluruhan! Aku sengaja mengorupsi uang-uang negara untuk mereka, Yah! Apakah aku salah jika aku mencuri uang negara? Bukankah uang itu dari mereka? Mengapa yang memakai bukan mereka? Sudahlah, Yah! Aku harap kau sabar dengan penderitaan hidup yang diciptakan oleh anakmu sendiri. 

Ingat Yah! Semua ini salahmu yang ingin aku cepat-cepat menyelesaikan sekolah. Kau tak memberiku waktu untuk bermain dengan teman-teman yang lain, kau hanya menyuruhku belajar dan belajar, tanpa kudapatkan guru yang sanggup membina karakterku! Dan karenamu pula, aku buta arti toleransi! Aku hanya berpikir mencari uang, uang dan jabatan selamanya agar kau puas Ayah! Agar kau mengerti jika hal yang berharga bukan hanya uang juga jabatan! Semua ini aku lakukan untukmu, demi menyadarkan kebutaan otakmu!

Maafkan anakmu, I am Sori. Semoga kau menjadi orang yang slamet, Yah!

Magelang, 4 Oktober 2018. 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Pemerkosa Akal
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
Cerita Tentang Kota Yang Dipenuhi Spanduk & Janji
Bumi Bercerita
Cerpen
Bronze
Salah Jalan
Fitri Yeni Musollini
Cerpen
Mekarnya Mahkota Anggrek Larat
Angelica Eleyda Hitjahubessy
Cerpen
Bronze
Pelukan Ibu
Lely Saidah Al Aslamiyah
Cerpen
Bronze
panana paapa nanaada panapapana
Marhaeny Benedikta Tinggogoy
Cerpen
Bronze
Bittersweet life
Sleplesswriter
Cerpen
ABADI
Lili Selfiana
Cerpen
Empat Babak Menuju Kenyamanan
lidhamaul
Cerpen
Kisah Aksara
Alda Kusmono
Cerpen
Bronze
Pelanggan Terbaik
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
Memecat Bos
Ravistara
Cerpen
Lovely Family
choiron nikmah
Cerpen
Beruntungnya
Noer Eka
Cerpen
Bronze
Submerge
Faisal Susandi
Rekomendasi
Cerpen
Pemerkosa Akal
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
Pelanggan Terbaik
Titin Widyawati
Flash
Bronze
Dunia Tanpa Sapu
Titin Widyawati
Cerpen
Lampu
Titin Widyawati
Cerpen
Alibi
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
Pemuda Pemburu Sunyi, Tiga Kucing dan Seekor Kelabang
Titin Widyawati
Cerpen
Punggung Wanita
Titin Widyawati
Flash
Bronze
Musim Baru
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
Lelaki Kenangan dan Kupu-Kupu di Lampu Merah
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
Payung Hitam
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
Pergi
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
Sebuah Sampah
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
Tubuhmu, Tubuh Orang Lain
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
Pelangi Transparan
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
Gagal Sembunyi
Titin Widyawati