Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Marno menatap kandang kambingnya yang mulai sepi.
Tiga ekor kambing terbaring di atas jerami. Dua lainnya berdiri malas di dekat tempat pakan yang hampir kosong. Di luar kandang, petak sawah miliknya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari hidupnya, selain sepasang tangan yang setiap hari bekerja sejak matahari belum muncul sampai tubuhnya tak lagi sanggup diajak berdiri.
Ia mengusap wajah.
“Capek...” gumamnya.
Bukan karena kambing-kambing itu.
Bukan pula karena sawahnya.
Marno hanya lelah melihat hidupnya berjalan di tempat.
Setiap tahun ia bekerja. Setiap tahun pula hasilnya habis untuk kebutuhan rumah, pakan ternak, pupuk, dan keperluan sekolah Bima, anak lelakinya.
Ia pernah membayangkan memiliki kandang kambing yang penuh.
Puluhan ekor.
Bahkan mungkin ratusan.
Memiliki sawah yang luas.
Rumah yang tidak lagi berdinding papan.
Namun setiap kali membayangkan semua itu, ia selalu kembali melihat kandang ke...