Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
"Meskipun aku tidak bisa melihat masa depan dan seringkali ingin menyerah, fakta bahwa kamu ada di sini cukup meberiku alasan untuk terus melangkah"
----
Matahari mulai menampakan diri. Curi-curi pandang, cahayanya secara senyap menyelinap.
Anak perempuan yang sedang dalam tahapan mempersiapkan diri untuk menyambut pertempuran melawan dinding beras perguran tinggi kini sedang berdiri. Dengan seragam yang melekat rapih pada tubuhnya, Sayu, menatap kosong mejam makan di hadapnnya.
Dua lembar dua berwarna ungu tergeletak dengan apik. Uang itu dipandangnya sudah sejak 5 menit yang lalu. Jangankan sekedar menghela napas, menarik napas saja terasa sangat berat untuk Sayu.
Tangan kanannya memasukan uang itu kedalan saku rok. Ia berjalan menuju kulkas, mengambil 2 butir telur yang kemudin menjadi bahan sarapannya bersama sang nasi.
Rumah berukuran 18x18 itu bergitu sunyi. 16 derajat celsius. Begitu pikir Sayu. Bahkan tanpa pendingin ruangan, rumah itu sangat tidak membutuhkannya.
Amunisi terpenuhi, perutnya tidak lagi meronta. Isi kepala mulai siap untuk meghadapin tumpukan kertas. Bahu yang kaku, semakin hari semakin terkekang oleh tumpukan dunia.
Sayu meletahan piringnya di atas wastafel, bersiap untuk berangkat sekolah. Di jalan menuju jalur ambigu yang dipenuhi kekecewaan, Sayu berdiri di depan sebuah pintu. Pintu berwarna merah tua yang hanya setengah baru di cat. Bagian bawahnya masih menampakan sayu sejati yang mulai menggelap. Penuh dihiasi dengan cap tangan anak kecil.
Jantungnya bedegup kencang. Saat ini seperti ada bayangan besar yang memeluknya dari belakang, memeluknya dengan sangat erat. Pelukan hangat yang membuat suhu udara semakin menurun. Kening Sayu tertekuk, membuat banyak lipatan yang sangat dalam.
Sayu harus bergerak. Sayu harus beranjak. Ia tidak mau seperti itu. Ia tiddak mau menjadi seperti itu. kakinya yang terasa sangat berat, ia paksa untuk kembali melangkah. Sakit, rumit, pahit, namun ia behasil sampai di pintu utama rumah. Membuka pintu dan mengambil langkah pertamanya di hari ini. Bukan hal yang mudah tentu. Tapi harus.
***
Selesai makan malam, Sayu duduk di sofa. Membaca ranguman materi yang seharian ini ia tulis. Bau wewangian menyengat sedikit mengganggu fokusnya, kepalanya berdenyut. Bunyi dari caira parfum yang disemprotkan beberapa kali memancing emosinya. Kekesalan yang sebenarnya bisa ia hilangkan hanya dengan beranjak pergi.
Suhu saat ini, 20 derajat celcius.
Sayu menatap ke arah dapur. Rambut panjang, gaun berhias bunga, wanita yang berumur 16 tahun lebih muda dari Sayu Sedang asik merias diri. Tangan wanita itu dengan lihai terlihat lentur menebalkan bulu mata, dengan mulutnya yang sedikit terbuka.
18 derajat celcius.
Sangat fokus, menatap cermin tangan di atas meja makan yang dibawanya dari ruangan berpintu cat merah tua tidak sempurna. Selesai dengan bulu mata kannya, wanita itu tesenyum cerah. Sedikit bergaya lalu kembali fokus memakaikan pada yang sebelah kiri.
11 derajat celcius.
Sayu tersentak. Ia berdiri, dengan ragu berdiri di hadapan wanita itu. Tanpa gubrisan. Ya, tentu. Kalau tidak Riasannya akan rusak. Sisi lain dari maskara yang tergeletak di atas meja, Sayu hempaskan dengan kencang. Wanita itu tersentak, pecahan kaca menusuk relung wanita itu. Ibu Sayu mematung.
Sadar anaknya hendak melangkah ke kamar, dengan cepat wanita itu berdiri menahan lengan anaknya. Sayu menutar badan, dengan mudahnya mendorong sang ibu hingga terseungkur. Jantung berpacu, napas memburu, tangnnya tidak berhenti begetar. Ada sesuatu yang mengganjal pada tenggorokannya. Kedua tangan yang bergetar itu saling bergandengan dengan erat. Lagi-lagi langkah beratnya ia paksa, ia seret untuk pergi ke dalam ruangannya.
Di atas ranjang, dari ujung kepala sampai ujung kaki, Sayu tetutup selimut tebal. Di kepalanya kembali terputar perkataan wanita yang disayanginya. Wanita yang selalu menyisiri rambutnya sehabis mandi dulu.
"Kamu belajar yang rajin, biar bisa kerja yang bener. Nggak kayak ibu kamu. Sibuk dandan, pulang malem terus." perkataan wanita yang sudah beruban banyak itu sering menghantui Sayu.
Sayu menangis. Sesak, sakit, tapi yang Sayu bisa hanya menangis
***
Lira berdiri depan pintu sebuah rumah yang terlihat sangat mewah. Menepis segala kejadian yang terjadi, mengabaikan rasa sakit pad akakinya akibat terjatuh tadi. Malam ini dingin, sangat dingin. Bahkan, celana training dan jaket tebalnya saja kalah saing.
Pintu perlahan terbuka, menampilkan pria seumuran dengannya. "Wihh, udah sampe. Masih ambil jam malem aja?"
"Bayarannya lebih banyak kalau malam. Ada tip juga."
Lira tersenyum, tangannya terulur memberikan eco-bag ukuran sedang yang terasa cukup hangat yang diterima pria di depannya.
"Kak Lira," panggil seorang wanita dari dalam rumah. Datang seorang wanita hamil dengan senyum cerianya. Ia memberikan dua lembar uang merah meda kepada Lira. "mampir dulu, Kak."
Lira tersenyum, "Masih banyak yang harus diantar ini. Nggak ada uang kecil?"
Masih dengan senyum yang melekat wnaita itu menggeleng, "Ambil aja, Kak. Buat jajan Sayu."
Lira tersenyum, sedikit ia paksakan. Tapi jujur, ia sangat berterima kasih. setelah berpamitan Lira lanjut menuju sepedanya. Masih banyak makanan yang harus ia kirim. Beruntungnya restoran rumahan yang baru buka mengizinkan Lira bekerja. Mengantarkan makanan untuk wilayah sekitar. Tidak terpotong e-comers atau bensin untuk biaya transport, untung yang didapat jadi lebih besar.
Lewat dari tengah malam, jalanan malam tidak beda jauh dengan kota mati. Makanan yang dikirim tinggal satu bungkus. Beruntung hari ini Lira bisa pulang lebih cepat. Selesai menuntaskan pekerjaannya, dengan tas selempang yang agak tebal itu Lira mengunjungi minimarket terdekat. Meminjam area toilet untuk mengganti pakaian.
Tidak adalagi jaket tebal kumuh yang dipadankan dengan celana training kebesaran. Lira keluar dari bilik, berjalan menuju cermin untuk kembali memakai riasannya yang cukup tebal itu. Dengan wajah angkuhnya, Lira dengan tegap berjalan keluar dari minimarket. Langkah yang berat dan sangat perih itu berjalan kembali menuju rumah. Kembali pada buah hatinya.
Di persimpangan jalan, Sayu melambaikan tangan kepada para temannya. Kegiatan kelompok membuatnya baru bisa pulang setelah jam makan malam. Udara diluar terasa dingin. Tapi Sayu dapat berjalan dengan gagah walau hanya dengan seragam sekolah. Tanpa ada bahan tebal lain yang memeluknya.
"Eh?" tanpa sengaja ia melihat tali sepatunya yang telepas. Sayu berjongkok, kembali melepas simpul lama dan mengikatnya kembali. Tempat tinggalnya sudah tidak jauh lagi, ia bisa berjalan dengan santai di lingkungan yang minim tindak kejahatan ini.
Masih berjongkok, Sayu perlahan mengangkat kepalanya ketika mendengar tipis suara roda yang sedang berseluncur. Sayu terdiam. Rasanya hampa dan tidak bisa ia pahami. Seolah dirinya dibawa melayang dalam dunnia yang senyap. Air matanya menunjukan diri. Tetes demi tetes. Bahkan mereka meronta, mengalis deras tanpa bisa berhenti. Sayu menutup mulutnya. Ia menunduk dalam. Pelukan yang selalu ia rasa semakin mengerat, sesuatu mengganjal tenggorokannya. Ditengah keheningan malam, dia berteriak dengan senyap.
***
Sayu sudah kembali siap dengan seragam, menaruh piring yang ia gunakan untuk sarapan. Ia melangkah, menunggalkan sepiring nasi dengan telur dadar di atas meja.
Kaki Sayu berhenti di depan pintu merah yang bagian bawahnya di penuhi oleh cap tangan Sayu kecil.
Sayu tersenyum. Pelukan yang ia rasa ringan tapi hangat. Mungkin rumahnya mulai membutuhkan pendingin ruangan.
Sayu meletakan kedua tangnnya di sisi bibir, sambil berbisik ia berkata. "Berangkat ya, Bu."
TAMAT