Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Hawa dingin merayap di sudut kamar yang senyap, hanya menyisakan gema tawa lemah yang terdengar menyedihkan. Di pojokan kamar, dekat jendela yang tertutup rapat, seorang laki-laki meringkuk. Bau tajam alkohol menyeruak dari nafasnya yang pendek, menjadi saksi atas beberapa botol yang kini tergeletak kosong di lantai. Ia menatap kosong ke seisi ruangan yang gelap gulita; dunianya terasa berputar, terdistorsi oleh cairan pahit yang baru saja ia tenggak habis untuk membunuh ingatannya. Pandangannya buram dan berkunang-kunang, membuat setiap bayangan di dinding tampak seperti monster yang siap menerkam.
Laki-laki itu tampak kehilangan kemanusiaannya. Ia hanya diam, layaknya makhluk yang sudah lama melupakan cara hidup normal. Bola matanya yang merah dan sayu perlahan melirik ke arah kasur. Di sana, ia melihat sebuah siluet wanita yang sangat ia kenali, duduk diam membeku di tengah kekacauan tersebut.
“Kenapa kau masih di sini?” ucap sang lelaki dengan suara serak yang menyeret, seolah setiap kata yang keluar adalah beban berat.
“Aku akan menemanimu Martin.”
“Untuk apa? Tinggalkan saja aku sendiri,” balasnya pedih.
“Aku ingin membantumu untuk tetap hidup.”
“Aku tidak menginginkan bantuanmu. Kembali saja!” Ia mengusir dengan nada lemas, mencoba memutus ikatan yang sudah terjalin.
“Aku tak akan meninggalkanmu. Aku perlu memastikan semuanya baik-baik saja.”
“Jangan terus membantahku. Kau sangat menyebalkan!” Suaranya terdengar terganggu, seolah ada tekanan mental yang sangat besar menghimpit batinnya.
“Baiklah. Tapi aku masih ingin bersamamu. Jangan usir aku.”
“Terserah kau saja.”
Ia bangkit dari ringkukannya dengan susah payah. Langkahnya sempoyongan saat ia berjalan menuju pintu kamar. “Jangan mengikutiku ke mana-mana. Tetap di sana.”
“Aku ingin memastikan kau aman.”bisik rendah wanita itu.
“Aku tidak akan kenapa-napa! Aku hanya keluar untuk membasuh wajahku. Berhenti mengoceh, kepalaku sakit!”
“Baiklah, aku akan menunggu di sini.”
Laki-laki itu melangkah dengan kaki yang terasa ringan, seolah ia tak tahu apakah ia benar-benar menapak pada lantai atau tidak. Sesampainya di depan wastafel kamar mandi, ia menatap cermin. Wajah yang terpantul di sana sudah tidak layak disebut milik manusia hidup; pucat, hancur, dan mengerikan. Ia membenci monster yang menatapnya balik itu. Ia mengangkat tangannya, menghantam cermin itu hingga pecah berkeping-keping.
PRANGGG!
“Jangan lakukan itu. Aku yang terluka melihatmu seperti ini.”
Wanita itu kini berdiri tepat di belakang tubuhnya, terlihat dari pantulan sisa-sisa pecahan kaca di dinding.
“Kenapa kau kemari? Aku bilang tetap di kamar!”
“Aku mengkhawatirkanmu.”
“Jangan terus membantahku! Aku tidak ingin memakimu!” Pria itu mendadak luruh. Air matanya jatuh bersamaan dengan ia menyembunyikan wajah di balik telapak tangan yang terluka.“Pergilah... aku akan mencobanya, namun tidak secepat ini.”
“Aku akan mendampingimu selama berproses. Aku tak bisa meninggalkanmu yang sedang hancur.”
Setiap kalimat yang terucap dari kehampaan itu justru mengiris luka di hati sang pria semakin dalam.
Laki-laki itu terduduk lemas di lantai kamar mandi yang dingin, terus menangis hingga suaranya serak. Racauannya menyayat kesunyian, penuh dengan penyesalan yang tak berujung.
“Maafkan aku... aku mohon maafkan aku... ini salahku...”
Isak tangisnya seolah beresonansi dengan udara kosong di belakangnya, hingga segalanya perlahan memudar menjadi gelap. Pria itu kehilangan kesadarannya, terkubur dalam kehampaan yang nyata.
•••
Saat matanya kembali terbuka, ia mendapati dirinya tergeletak di antara puing-puing kaca yang menancap di kulitnya. Darah mengering di beberapa tempat, namun ia baru bisa merasakan perih yang menusuk setelah efek alkohol dalam darahnya menguap.
Namun, luka-luka itu tampak tak berguna untuk mengimbangi rasa sakit di hatinya. Ia memukul dadanya berkali-kali, mencoba mengusir sesak yang terasa mencekik. Untuk kesekian kalinya, ia menangis dalam keadaan sadar sepenuhnya. Kesadaran adalah siksaan yang paling kejam baginya.
Dengan sisa tenaga, Martin hanya mengusap kulitnya yang terdapat darah kering dengan air seadanya, mencabut kaca yang menancap satu persatu tanpa rasa sakit. Setelah semuanya selesai ia kembali ke kamar, mengenakan jaketnya secara asal-asalan, lalu bergegas keluar rumah menuju mobil. Pikirannya hanya satu: ia butuh alkohol untuk kembali matikan perasanya.
Namun, di sepanjang perjalanan, memori yang paling ia benci justru berputar tanpa permisi di kepalanya—kilas balik yang menghancurkan. Ia mendadak meminggirkan mobil ke tepi jalan yang sepi. Tangannya meninju setir mobil dengan kencang, disertai geraman-geraman kecil yang liar. Ia tampak seperti orang yang telah kehilangan kewarasan.
“Cukup, Martin. Aku tidak ingin hidupmu hancur. Jangan salahkan dirimu lagi. Ini bukan salahmu.”
Suara itu terdengar sangat dekat. Martin yang sedang frustrasi meremas kuat kain jaket di dadanya, lalu berteriak ke arah sumber suara tersebut.
“Aku tidak bisa, Lili! Aku membutuhkanmu! Aku tidak bisa hidup sendiri di atas kematianmu!”
“Berusahalah. Aku akan selalu berada di sisimu, Martin.”
“Tapi aku butuh kamu! Kamu yang bisa memelukku, Lili! Aku tak bisa hidup seperti ini, terus-menerus melihatmu seperti ini adalah hukuman bagiku!”
Tangisnya pecah, makin mengencang hingga ia tak lagi sanggup mengeluarkan suara. Segala penderitaan itu datang bertubi-tubi, tak memberinya ruang sedikit pun untuk bernapas.
Setelah badai emosi itu mereda dan suasana kembali sunyi, Martin perlahan mendongak. Melalui kaca spion tengah yang sedikit buram, ia melihat wajah wanita itu. Lili duduk di sana, menatapnya dengan raut wajah penuh kesedihan, sementara air mata darah terus mengalir di pipinya yang pucat.
•••
Clinggg...
Suara lonceng di atas pintu toko terdengar nyaring, memecah kesunyian malam saat Martin melangkah masuk. Ia berjalan merunduk, menghindari kontak mata dengan siapa pun. Tujuannya hanya satu: rak pojok tempat deretan botol Absinthe—minuman dengan kadar alkohol paling tinggi yang mampu membuat otaknya berhenti berpikir.
Sepuluh botol ia ambil sekaligus. Karyawan toko yang bertugas membantu membawa belanjaan itu ke mobil dengan tatapan heran sekaligus cemas. Belum lama ini Martin datang membeli minuman yang sama, dan kini ia kembali seolah-olah botol-botol sebelumnya hanyalah air mineral yang habis dalam sekejap.
Saat Martin berbalik untuk membuka pintu mobil, karyawan itu tersentak.
Astaga, apa itu? batinnya sambil mengusap matanya, mencoba memastikan penglihatannya di bawah temaram lampu jalan.
Karyawan itu bergidik ngeri. Ia melihat dengan jelas sosok wanita yang menatap sendu Martin dan mengeluarkan cairan merah pekat mengalir perlahan dari sudut matanya, membasahi wajahnya yang sudah sepucat kertas. Dia mengeluarkan darah dari matanya? Mukanya pucat sekali... Bilang tidak ya ke masnya? Ah, tidak mungkin, ini tidak nyata, mungkin aku kelelahan.
Meskipun takut, rasa kemanusiaannya membuat ia tetap bergumam pelan saat Martin hendak masuk ke mobil.
“Hati-hati ya, Mas...” ucap karyawan itu dengan suara lirih. Ia tampak khawatir melihat raut wajah Martin yang suram.
Martin tidak menjawab. Ia hanya menyerahkan sejumlah uang tip ke tangan karyawan tersebut, lalu segera masuk ke balik kemudi dan melesat pergi. Di dalam mobil, sesekali Martin melirik ke arah kaca spion tengahnya. Memberikan tatapan sendu yang kosong ke arah wanita tercintanya.
Mobil Martin menderu masuk ke halaman rumah. Dengan napas memburu, ia membawa keranjang berisi deretan botol Absinthe itu, melangkah tergopoh-gopoh memasuki rumah yang dingin dan sepi. Ia segera menjejalkan sebagian besar botol ke dalam kulkas, namun tangannya dengan cepat menyambar dua botol untuk dibawa langsung ke kamar.
Saat pintu kamar terbuka, sosok Lili sudah di sana, duduk tenang di atas tempat tidur seolah-olah ia tak pernah pergi. Martin mengabaikannya, melangkah menuju pojokan kamar—tempat favoritnya untuk meringkuk dan menatap dunia luar dari balik jendela yang buram.
Ia mulai menenggak cairan keras itu tanpa jeda. Martin tidak ingin sadar lebih lama; ia hanya ingin membunuh rasa sakit yang terus menggerogoti jiwanya. Ia meminumnya seakan-akan nyawanya adalah harga yang murah, siap untuk dijemput maut kapan pun ia mau.
Namun, tubuh manusianya memiliki batas. Efek keras dari alkohol itu mulai menyerang balik, menciptakan rasa sakit yang tajam di perutnya. Martin mengerang, namun ia terlalu lemah untuk melawan. Tubuhnya terkulai, jatuh tak sadarkan diri di atas lantai dingin, meninggalkan botol kosong yang menggelinding di sampingnya.
Melihat kekasihnya sekarat, Lili didera kepanikan. Ia mencoba menggenggam tangan Martin, namun jemarinya hanya menembus udara. Ia terus mencoba berulang kali, mengeluarkan rintihan pedih yang terdengar mengerikan—sebuah frekuensi tajam yang hanya bisa ditangkap oleh keheningan malam.
Didorong oleh rasa sedih dan amarah yang meluap, batasan antara dunia mereka seolah retak. Lili berhasil. Jemarinya yang pucat kini mampu menyentuh kulit Martin yang dingin. Dengan kekuatan yang dimilikinya sekarang, ia menyambar ponsel Martin yang tergeletak di lantai, mencari daftar kontak ibunya martin.
Tuuutt.. tuuttt...tuuttt...
“Ya, Martin? Kenapa, Nak?” sahut suara sang ibu di balik telepon.
Lili, yang menyadari kekuatannya di dunia fisik mempunyai batasan, hanya sanggup mengeluarkan bebereapa kata di antara isak tangisnya yang tak kasat mata.
“Tolong...” rintihnya pelan, sangat pelan.
Ibu Martin yang tidak mengerti situasi itu bertanya dengan nada bingung sekaligus khawatir. “Halo? Martin kenapa? Bisa kasih teleponnya ke Martin?”
“Tolong... Martin... dia...” suara Lili kembali tercekik.
“Halo? Martin kenapa?”
Sambungan itu masih terhubung, namun suara Lili lenyap. Yang tersisa hanyalah keheningan yang mencekam dan suara tangis sedih yang sangat kecil—sebuah gema dari balik ponselnya.
•••
Di seberang kota, ibu Martin mematung dengan ponsel yang masih menempel di telinga. Sudah lama ia tidak mendengar kabar dari putranya sejak Martin pindah demi pekerjaan, namun getaran suara tangis dan rintihan "tolong" tadi langsung mengirimkan gelombang kegelisahan yang hebat ke dadanya. Atmosfer yang ia tangkap melalui sambungan telepon itu terasa sangat ganjil dan mencekam.
Tanpa membuang waktu, ia mematikan telepon dengan tangan gemetar. Ia segera menghampiri suaminya, menceritakan firasat buruk yang mendadak menghantamnya. Ia bersikeras bahwa mereka harus segera menengok Martin saat itu juga.
Sang suami, yang lebih tenang dan mulai menyadari bahwa jarak kota mereka sangat jauh, segera mengambil tindakan cepat. Ia menelepon salah satu kerabatnya yang bekerja di kepolisian setempat di kota Martin tinggal. Ia meminta tolong agar rumah putranya segera dicek, sementara mereka bersiap untuk melakukan perjalanan panjang melintasi kota menuju kediaman Martin.
•••
Teeeeetttt...
Bunyi bel rumah Martin memecah keheningan malam, namun tak ada jawaban. Polisi yang ditugaskan untuk mengecek mulai menyapu area rumah yang gelap gulita dengan cahaya senter. Ia segera melapor kepada atasannya bahwa kediaman tersebut tampak kosong dan tanpa penghuni, menunggu perintah lebih lanjut.
Di seberang telepon, atasan polisi tersebut—yang merupakan kerabat jauh ayah Martin—langsung mengabarkan situasi itu. Ibu Martin yang didera kecemasan hebat segera merebut ponsel suaminya. "Masuk saja, Pak! Cek ke dalam, firasat saya benar-benar tidak enak. Tolong ya!" ucapnya dengan suara bergetar.
Mendapat izin resmi, perintah segera turun. Polisi itu melangkah masuk melewati halaman depan, cahaya senternya menari-nari di dinding rumah yang bisu. Saat ia berhasil masuk ke ruang tamu, jantungnya berdegup kencang ketika melihat sesosok bayangan wanita berjalan dengan tenang di kegelapan.
"Permisi, Mbak? Saya dari kepolisian, mau mengecek keadaan," tegur polisi itu.
Namun, sosok itu tidak bergeming. Ia mengabaikan panggilan tersebut dan terus berjalan menuju ke sebuah kamar. Polisi itu segera mengejar, namun langkahnya terhenti di depan pintu kamar yang tertutup; bayangan wanita itu lenyap, seolah menembus kayu pintu yang kokoh.
Meski bulu kuduknya berdiri, polisi itu tetap memutar kenop pintu. Di dalam, ia mendapati pemandangan yang memilukan: seorang laki-laki tergeletak tak berdaya di pojokan kamar, dikelilingi oleh belasan botol alkohol kosong. Laporan darurat segera dikirimkan. Atasannya merespons cepat dengan menghubungi pihak rumah sakit untuk mengirim ambulans, sementara instruksi diberikan agar polisi tersebut tetap di tempat menjaga Martin.
Di tengah keheningan kamar yang pengap, polisi itu mencoba mengecek denyut nadi di pergelangan tangan Martin yang terasa dingin. Berdenyut, namun sangat lemah. Tiba-tiba, suasana berubah drastis. Tengkuknya terasa dingin seakan ada napas yang menyapu lehernya, diikuti oleh sebuah bisikan lirih yang membelah sunyi:
"Tolong Martin..."
Polisi itu tersentak, kepalanya menoleh cepat ke arah sumber suara, namun ia hanya menemukan kekosongan. Tanpa membuang waktu, ia segera keluar menuju halaman, tak sanggup lagi berada di dalam ruangan yang terasa "bernyawa" itu, menunggu hingga lampu strobo ambulans akhirnya muncul di ujung jalan
Atasan kepolisian itu segera menghubungi orang tua Martin, mengabarkan bahwa putra mereka sedang dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis darurat. Tanpa banyak bicara, pasangan suami istri itu langsung memacu kendaraan menuju rumah sakit yang diinfokan, dihantui oleh ketakutan yang paling buruk.
Di kediaman Martin, sirene ambulans membelah kesunyian malam. Begitu mobil berhenti, seorang petugas medis melompat turun sambil menarik troli darurat dengan cekatan.
"Di mana pasiennya, Pak?" tanya petugas itu dengan nada mendesak.
"Di dalam kamar, Pak. Ayo, cepat!" sahut polisi yang berjaga, mengarahkan mereka menembus lorong rumah yang terasa pengap dan suram.
Mereka bersama-sama memasuki kamar tersebut, mengangkat tubuh Martin yang sudah tidak berdaya dan sangat dingin ke atas troli. Tanpa membuang waktu satu detik pun, mereka mengangkutnya kembali ke mobil. Pintu ambulans tertutup rapat, dan kendaraan itu segera lepas landas, melaju kencang membelah kegelapan menuju rumah sakit, meninggalkan rumah yang kini benar-benar kosong.
Ambulans telah jauh meninggalkan halaman, namun polisi itu masih berdiri mematung. Rasa penasaran yang ganjil mendorongnya untuk kembali menyisir kediaman tersebut dengan cahaya senternya. Ia ingin membuktikan bahwa apa yang ia dengar dan lihat tadi hanyalah kelelahan mental, bukan sesuatu yang nyata.
Cahaya senternya menari-nari di dinding luar, hingga akhirnya berhenti tepat di jendela kamar Martin. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Di sana, di balik kaca yang buram, ia mendapati sesosok wanita sedang berdiri diam mematung. Wanita itu tidak bergerak sedikit pun, hanya menatapnya dengan pandangan yang kosong namun sangat tajam.
Tanpa menunggu sedetik pun, polisi itu memutar badan. Ia berlari secepat mungkin menuju mobil patrolinya, mengabaikan segala prosedur kepolisian yang tersisa. Dengan tangan gemetar, ia menyalakan mesin dan menginjak gas kuat-kuat, meninggalkan rumah itu dengan debu yang berterbangan. Benar dugaannya; ada eksistensi tak kasat mata yang menghuni rumah itu
•••
Langkah kaki yang terburu-buru menggema di lorong rumah sakit yang dingin. Orang tua Martin tiba dengan napas tersengal, wajah mereka memucat saat melihat pintu ruang gawat darurat tertutup rapat. Tak lama, seorang dokter keluar dengan raut wajah yang sulit diartikan, langsung menuntun mereka menuju ruang konsultasi pribadi untuk menjelaskan situasi yang sebenarnya.
"Bagaimana keadaan putra saya, Dok?" tanya sang ibu, suaranya bergetar hebat.
Dokter itu menghela napas panjang, meletakkan hasil diagnosa di atas meja. "Martin melakukan tindakan yang sangat ekstrem pada tubuhnya sendiri. Kadar alkohol dalam darahnya berada di level yang mematikan. Berdasarkan pemeriksaan, ususnya mengalami peradangan hebat dan pendarahan internal akibat menenggak minuman keras berkadar tinggi selama berhari-hari tanpa jeda."
Sang ayah tertegun, "Dia... dia mencoba membunuh dirinya sendiri?"
"Hasil observasi kami menunjukkan bahwa Martin berada dalam kondisi Delirium yang cukup parah, Pak, Bu," jelas Dokter sambil menunjukkan grafik monitor. "Tubuhnya tertekan akibat alkohol, namun otaknya terjebak dalam fase Twilight State, sebuah kondisi ambang di mana ia tidak sepenuhnya sadar namun jiwanya terus merespons trauma masa lalu."
Dokter kemudian menoleh ke arah rekan di sampingnya yang sudah duduk di ruangan tersebut lebih lama, sang ahli hipnoterapi.
"Karena itulah saya memanggil rekan saya ini. Dalam kondisi twilight state tersebut, pintu komunikasi ke alam bawah sadar Martin sedang terbuka lebar. Melalui stimulasi suara, ahli hipnoterapi kita akan mencoba masuk dan menuntun Martin keluar dari labirin traumanya sebelum Delirium ini merusak fungsi otaknya lebih jauh."
Mereka kemudian diizinkan melihat Martin didalam kamar rawat. Di sana, di atas ranjangnya, Martin tampak sangat rapuh. Tubuhnya yang biasanya tegap kini terlihat seperti cangkang yang mengerut. Di balik masker oksigen, gumaman lirih terus keluar dari mulutnya, menciptakan kabut tipis di plastik masker tersebut.
"Lili... maafkan aku..." racau Martin, suaranya serak dan menyayat. "Seharusnya aku menjemputmu... maafkan aku, Lili..."
Permintaan maaf itu diucapkan berulang-ulang, seolah-olah ia sedang bersimpuh di depan seseorang yang hanya bisa dilihatnya di balik kegelapan matanya yang terpejam. Setiap kali ia menyebut nama itu, monitor jantungnya berdetak liar, menunjukkan bahwa di dalam tidurnya, Martin sedang berada di tengah badai ingatan yang menghancurkan.
Ibunya hanya bisa menutup mulut dengan tangan, terisak melihat putranya yang kini hancur lebur—bukan hanya karena alkohol, tapi karena rasa bersalah yang telah membusuk di dalam jiwanya selama ini.
Dokter memberikan isyarat agar kedua orang tua Martin tetap tenang. Di tengah suara mesin medis yang terus berdenting, ia menatap ayah dan ibu Martin dengan sungguh-sungguh.
"Putra Anda sedang terjebak dalam kondisi Delirium yang sangat dalam. Tubuhnya di sini, tapi jiwanya tertinggal di sebuah tempat yang kita tidak tahu. Melalui metode hipnoterapi ini, kita akan mencoba masuk ke dalam Twilight State—zona ambang antara sadar dan tidak—untuk menjemputnya kembali," jelas Dokter dengan suara rendah.
Ia berhenti sejenak, memastikan orang tua Martin memahami risikonya. "Namun, proses ini akan membuka kembali luka lamanya secara paksa. Dia mungkin akan sangat menderita saat mengingat kembali traumanya sebelum akhirnya bisa sembuh. Apakah Bapak dan Ibu menyetujui terapi ini?"
Hening sejenak. Sang ibu menggenggam tangan suaminya dengan erat, mencari kekuatan. Setelah saling bertatapan, mereka akhirnya mengangguk mantap, mempercayakan semuanya pada dokter dan ahli yang berdiri di depan mereka.
"Lakukan apa pun yang terbaik, Dok. Kami hanya ingin Martin kembali," ucap sang ayah dengan suara parau.
Dokter mengangguk kecil, lalu memberikan tanda kepada sang ahli hipnoterapi untuk segera memulai. "Baik. Sekarang, mari kita dengar apa yang sebenarnya disembunyikan Martin di balik racauan itu, saya akan menggunakan teknik stimulasi suara untuk memancing Martin bercerita lebih dalam.
“Martin, dengarkan suaraku,” ucap sang terapis pelan. “Buka pintu yang kau kunci itu. Ceritakan padaku, di mana kau sekarang?”
Martin mengerang. Keringat dingin mengucur di dahinya. Di monitor, detak jantungnya meningkat. Melalui pengeras suara di ruangan itu, racauan Martin yang tadinya tidak jelas mulai terbentuk menjadi narasi yang mengerikan.
“Gelap... lampu jalanan berkedip,” suara Martin terdengar serak, namun kini lebih jernih, seolah jiwanya sedang dipaksa memutar kaset lama. “Aku masih di kantor... berkas ini... kenapa banyak sekali berkas ini?! Ponselku bergetar.”
Kedua orang tua Martin saling pandang, mereka mulai menyadari ini adalah rekaman memorinya.
“Lili... dia mengirim pesan. Dia bilang dia sudah di taksi. Dia tidak mau menunggu,” Martin mulai terisak dalam tidurnya. Tubuhnya bergetar hebat. “Jangan, Li... tunggu aku! Aku bilang tunggu aku!”
Terapis itu terus memandu, “Apa yang kau lihat selanjutnya, Martin?”
“ Rapat usai aku langsung menyusulnya... aku memacu mobilku. Tapi di perempatan itu... jalanan tertutup. Banyak lampu biru dan merah... ambulans... banyak sekali ambulans.” Martin mulai berteriak, suaranya melengking penuh penderitaan. “Aku berjalan menyusuri keramaian … satu mobil... dua... tiga... ada tujuh mobil hancur di sana! Dan di paling belakang... taksi itu...”
Ibu Martin menutup mulutnya, air matanya tumpah. Ia baru tahu detail ini sekarang.
“Taksi itu... truk itu menghancurkannya. Lili di sana! Dia menungguku menjemputnya, tapi aku terlambat! Aku terlambat!” Martin meronta di atas ranjang, kabel-kabel medis hampir terlepas. “Aku melihatnya... dia tidak bergerak... tapi matanya menatapku dari balik kaca yang pecah. Kenapa bukan aku saja yang mati? Kenapa harus dia?!”
Tiba-tiba, suhu ruangan merosot tajam. Sang terapis terdiam ketika ia melihat bayangan wanita di jendela kamar—bayangan yang sama dengan yang dilihat polisi—perlahan mendekat ke arah Martin.
Martin masih meronta di atas ranjang rumah sakit, terjebak dalam memori tabrakan beruntun dan menghancurkan taksi Lili. Isakannya memenuhi ruangan, membuat orang tuanya hancur melihat beban rasa bersalah yang selama ini dipendam anak mereka sendirian.
"Aku terlambat... maafkan aku, Lili..." rintih Martin dalam kondisi trance-nya.
Namun, suasana ruangan yang tadinya mencekam tiba-tiba berubah. Hawa dingin yang menusuk perlahan berganti menjadi kehangatan yang lembut. Sang terapis terdiam, ia merasakan frekuensi di ruangan itu menjadi sangat tenang.
Dalam tidurnya, racauan Martin melambat. Wajahnya yang tegang perlahan menjadi rileks. Bibir Martin bergerak, namun kali ini ia seolah sedang mendengarkan seseorang berbicara di telinganya.
"Lili...?" gumam Martin pelan, hampir tersenyum. "Kau... kau menyuruhku berhenti?"
Di alam bawah sadarnya, Martin tidak lagi melihat aspal yang bersimbah darah. Ia melihat Lili yang berdiri dengan pakaian yang indah, bukan lagi sosok yang pucat. Di dalam labirin bawah sadarnya, Martin berdiri di tengah persimpangan yang sunyi. Di depannya, Lili berdiri dengan cahaya yang lembut, tampak begitu nyata hingga Martin ingin segera berlari mendekat.
"Ajak aku bersamamu, Li..." isak Martin dengan suara yang pecah. "Aku tidak sanggup hidup sendiri di dunia yang begitu dingin ini. Bawa aku pergi."
Lili menggelengkan kepalanya perlahan. Tatapannya penuh kasih, namun tegas. Ia membisikkan sesuatu yang mengguncang jiwa Martin: "Hidup untukku, Martin. Jangan jadikan kematianku sebagai alasanmu untuk ikut mati. Lepaskan botol-botol itu, kembalilah pada ayah dan ibumu."
"Tapi bagaimana?" Martin jatuh berlutut, menutupi wajahnya dengan telapak tangan yang gemetar. "Bagaimana aku harus hidup? Aku sudah kehilangan arah. Duniamu adalah satu-satunya arah yang kupunya."
Lili melangkah maju, suaranya terdengar seperti simfoni yang menenangkan badai di hati Martin. "Kamu masih bisa mencintai dirimu sendiri, Martin. Berikan kehidupan yang indah seperti saat kita bersama. Biarkan cintamu terhadapku kau alihkan ke hidupmu. Maka aku akan selalu bisa merasakannya di setiap perjalanan hidupmu... melalui setiap nafas yang kau ambil."
Martin mendongak, matanya yang basah mencari kepastian. "Benarkah... kau akan selalu ada di sana?"
Lili mengangguk pelan. Ia mendekat, aroma mawar yang samar menyelimuti indra penciuman Martin. Dengan gerakan yang sangat lembut, Lili merengkuh tubuh Martin dalam sebuah pelukan yang hangat—pelukan yang selama ini Martin cari di dalam botol-botol alkoholnya. Lili menunduk, mendaratkan sebuah ciuman terakhir di kening Martin.
Begitu bibir Lili menyentuh kulitnya, sebuah cahaya putih yang terang benderang menyapu segala rasa sakit dan ingatan tentang aspal yang dingin.
Di dunia nyata, di atas bangsal rumah sakit, tubuh Martin yang tadinya kaku perlahan-lahan rileks. Napasnya kini dalam dan teratur. Saat ia perlahan membuka matanya, ia tidak lagi melihat bayangan pucat di jendela. Ia melihat ibunya yang menggenggam tangannya erat.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Martin merasa benar-benar hidup. Kini Martin menarik napas dalam, merasakan paru-parunya terisi udara kehidupan, bukan lagi uap alkohol. Ia tahu, Lili akan selalu ada di hatinya.
"Ibu... Ayah..." bisik Martin lemah. "Aku ingin pulang."
Ibu Martin menangis haru, menciumi tangan putranya yang kini mulai menghangat. Sang ayah hanya mampu menepuk bahu Martin dengan bangga, sebuah beban berat seolah terangkat dari pundak keluarga itu.